
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Akkk!” erang Cucum Mili sambil menggeliatkan tubuhnya yang kesakitan. Tiba-tiba dia muntah menyemburkan darah lewat mulutnya, “Fukrr!”
“Ketua!” sebut Udang Karang sambil buru-buru bangun, tapi bingung harus berbuat apa.
“Jangan sentuh aku! Biarkan aku!” teriak Cucum Mili dengan mulut penuh darah.
Udang Karang pun menahan diri dalam kecemasan. Anak buah Cucum Mili juga khawatir. Sebab bukan hanya darah keluar dari mulut, tetapi juga darah banjir lewat perut yang memiliki banyak luka tusukan sebesar jarum.
Namun, Cucum Mili adalah wanita kuat. Pada akhirnya dia bergerak bangun juga, meski berdiri dengan gontai.
“Aku tahu Kakak Cucum masih memiliki banyak kesaktian, karena itu aku buru-buru merobohkanmu!” seru Alma Fatara.
Lalu ….
Buss! Jbugs!
Dari jarak jauh, Alma melesatkan sinar ungu berpijar yang tidak bisa dihindari oleh Cucum Mili yang sudah lemah. Cucum Mili terpaksa memaksa dirinya mengeluarkan ilmu Telapak Roh Laut guna menangkis Tinju Roh Bumi Alma.
Telapak tangan Cucum Mili yang bersinar ungu menangkis sinar ungu berpijar Alma di depan tubuhnya. Namun, yang menjadi masalah adalah kini kondisi Cucum Mili sangat lemah dan tenaga dalamnya juga melemah.
“Hukr!”
Cucum Mili kembali terlempar jauh dan jatuh keras menghantam pagar jalan yang terbuat dari pohon-pohon kecil.
“Ketuaaa!” teriak para anak buah Cucum Mili sambil berhamburan panik ke arah jatuhnya ketua mereka.
Namun, Udang Karang menghentikan para rekan-rekannya.
“Berhenti!” seru Udang Karang.
Seketika sebelas orang rekannya berhenti menuju posisi Cucum Mili. Mereka menatap heran kepada Udang Karang.
“Seraaang!” teriak Udang Karang sambil menunjuk Alma Fatara.
“Seraaang!” teriak mereka ramai-ramai sambil berubah arah menjadi menyerang Alma dengan senjata terangkat dan siap membunuh.
Swiit!
Alma cepat merendahkan kuda-kudanya dengan tangan kiri lurus ke belakang. Ia menyedot udara sehingga pakaiannya mengembang seperti balon gas. Lalu tangan kanan menghentak.
Wuss!
Angin dahsyat menderu keras dan langsung menerbangkan para anggota bajak laut.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara setelah melepaskan ilmu Sedot Tiup-nya.
Melihat rekan-rekannya bergelimpangan di tanah yang berantakan, Udang Karang akhirnya berubah pikiran.
“Sudah biarkan Anak Setan itu, ayo cepat bawa Ketua!” perintah Udang Karang kepada rekan-rekannya.
__ADS_1
Paus Ijo yang langsung datang menghampiri tubuh Cucum Mili. Ketuanya belum mati, tapi mungkin bisa disebut sekarat. Paus Ijo dengan entengnya mengangkat tubuh ketuanya.
Mereka lalu beramai-ramai mengiringi Paus Ijo membawa Cucum Mili. Alma Fatara dan keempat sahabatnya ditinggalkan.
“Alma, apakah perempuan itu mati?” tanya Anjengan sambil mendatangi Alma dari samping.
“Belum, tapi jika tidak segera diobati, aku bisa pastikan akan mati,” jawab Alma.
“La-la-lalu bagaimana?” tanya Gagap Ayu.
“Kita harus segera ke kediaman Demang Baremowo,” kata Alma lalu berjalan ke arah yang sama dengan kepergian rombongan bajak laut itu. “Apakah kalian terluka?”
“Hanya leher yang sakit. Mereka kuat sekali mencekik kami,” jawab Juling Jitu.
“Gara-gara Ayu yang memberi komandonya gagap, jadi kita ditangkap!” tukas Anjengan.
“Se-se-sembarangan setan!” maki Gagap Ayu. “Se-se-sejak kapan ka-ka-kalian berpatokan kepada ko-ko-ko ….”
“Kodok?” terka Iwak Ngasin memotong.
“Ko-ko-komandokuuu!” teriak Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma.
“Tapi, apa yang Bajak Laut Kepiting Batu lakukan di sini? Bukankah ini jauh dari laut?” tanya Iwak Ngasin.
“Mungkin mau membajak sawah,” celetuk Juling Jitu.
“Kalau bicara yang masuk otak!” hardik Anjengan sambil menepuk kepala Juling Jitu dari belakang.
“Kepalaaa!” teriak semuanya serentak meluruskan kesesatan lidah Juling Jitu.
“Iyaaa!” teriak Juling Jitu tidak kalah gas. “Jangan suka memukul kepala, nanti otakku tambah cedera. Kalian sudah lihat mataku cedera seperti ini? Ini karena keseringan dipukul Emak.”
“Hahahak …!” tawa Alma dan yang lainnya, kecuali Juling Jitu.
“Justru harus banyak-banyak dipukul supaya matamu kembali normal! Hahaha!” kata Alma Fatara.
“Pukul!” teriak Iwak Ngasin sambil duluan memukuli kepala Juling Jitu dengan kekuatan level kasih sayang.
Anjengan dan Gagap Ayu cepat memukuli pula kepala Juling Jitu seolah berebut garis finish.
“Eh, apa-apaan kalian! Hentikan!” teriak Juling Jitu gelagapan.
“Co-co-coba lihat!” kata Gagap Ayu sambil maju ke depan wajah Juling Jitu untuk melongoki sepasang matanya.
“Kau pikir itu ada hubungannya?!” bentak Juling Jitu sambil tangannya mengobok wajah Gagap Ayu lalu mendorongnya.
Nyaris saja Gagap Ayu terjengkang. Namun, ia hanya tertawa terkikik seperti kuntilanak.
“Ah percuma memukuli kepalamu, sepertinya otak dan matamu tidak punya ikatan kekeluargaan,” kata Iwak Ngasin.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa-tawa mendengar senda gurau keempat sahabatnya.
__ADS_1
Sementara itu, rombongan yang dipimpin oleh Udang Karang tiba di sebuah rumah besar berpagar. Di bagian luar rumah, teras, halaman, hingga gerbang pagar, ada orang-orang berpenampilan sekomunitas dengan Cucum Mili dan anak buahnya. Jumlah mereka ada belasan orang. Mereka memang masih termasuk anak buah Cucum Mili atau anggota Bajak Laut Kepiting Batu.
Mereka semua terkejut ketika melihat kedatangan rombongan Udang Karang membawa tubuh ketua mereka yang bersimbah darah.
“Apa yang terjadi dengan Ketua, Udang Karang?” tanya seorang wanita berkulit hitam. Karena terlalu hitam, jadi manisnya hilang dan terkesan pahit jika dipandang. Ia mengenakan baju warna ungu dan celana hitam. Ia menyandang senjata berupa dua kapak mini berbahan total dari metal. Ia bernama Mutiara Laut Hitam. Selama tiga tahun terakhir, dia adalah anggota wanita yang paling dekat dengan Cucum Mili.
“Ketua bertarung dengan pemilik Bola Hitam!” jawab Udang Karang.
“Raja Tanpa Tahta?” terka beberapa anggota bersamaan.
“Bukaaan! Raja Tanpa Tahta sudah mati!” bantah Udang Karang.
“Lalu siapa?” tanya beberapa anggota lagi bersamaan, seolah mereka memang bajak laut yang kompak.
“Bocah cantik yang bernama Alma, bocah Desa Iwaklelet yang empat tahun lalu kita kejar-kejar sampai melompat ke jurang ramai-ramai!” jelas Udang Karang berapi-api.
“Oooh, yang itu!” ucap separuh dari mereka manggut-manggut setelah langsung ingat dengan peristiwa empat tahun yang lalu.
“Cepat bawa Ketua ke dalam!” perintah Udang Karang kepada Paus Ijo.
Mutiara Laut Hitam cepat mendahului masuk dan bekerja cepat menyiapkan pembaringan untuk Cucum Mili.
“Gingsul Camar, Tonggos Walet, cepat buatkan air hangat dan ambilkan kain-kain bersih!” perintah Mutiara Laut Hitam kepada dua anggota perempuan lain.
“Baik!” sahut wanita bajak laut yang bernama Gingsul Camar dan Tonggos Walet. Keduanya memang memiliki gigi yang gingsul dan tonggos.
Keduanya segera masuk ke dalam.
“Aku tidak bisa masuk!” teriak Paus Ijo karena besar badannya tidak muat untuk melewati pintu rumah.
Mutiara Laut Hitam cepat mengambil alih tubuh ketuanya dan membawanya masuk ke kamar yang tergolong cukup mewah.
“Laki-laki keluar! Panggil Dukun Sirip!” perintah Mutiara Laut Hitam. Meski ia terbilang anggota baru, tetapi dia sudah memiliki kekuatan suara dalam kelompok itu, bahkan dia bisa disebut sebagai orang nomor lima dalam Bajak Laut Kepiting Batu setelah Cucum Mili, Udang Karang, Gurita Bongkok, dan Dukun Sirip.
Udang Karang dan anggota bajak laut lelaki yang berjubel di pintu kamar, segera keluar.
“Tapi Dukun Sirip sedang pergi minum kopi di kedai, Hitam!” sahut Bulak Balok, anggota yang berperut gendut.
“Cepat panggiiil! Nanti Ketua buru-buru mati!” teriak Mutiara Laut Hitam agak kesal.
“Siaaap!” teriak Bulak Balok dari ruang depan. Lalu ia cepat berlari ke luar sambil berteriak sendiri, “Hua hua hua!”
Seperginya Bulak Balok, dari arah jalan yang lain muncul Alma dan keempat sahabatnya menuju rumah besar itu.
“Ada yang dataaang!” teriak anggota bajak laut yang berjaga di luar pagar.
“Alma si Anak Setan dataaang!” teriak Gede Gaya panik, setelah melihat siapa yang datang.
Teriakan Gede Gaya cepat direspon oleh Udang Karang.
“Bersiap bertempuuur!” teriak Udang Karang keras.
Terkejut anggota lainnya mendengar seruan itu. Suasana seketika berubah menjadi tegang dan genting, seolah mereka sedang didatangi satu pasukan besar.
__ADS_1
Alma Fatara dkk yang mendengar teriakan Udang Karang dari kejauhan, justru merasa heran. (RH)