
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Ctas! Blet!
Ineng Santi melesatkan ujung cemeti sinar ungunya yang langsung membelit leher Bandar Bumi dengan kuat.
Selanjutnya, Ineng Santi melompat bersalto ke sana dan ke sini, bergeser ke sana dan ke sini, juga sesekali memutari Bandar Bumi sambil cemeti sinarnya disangkutkan dan dibelitkan pada tubuh, tangan dan kaki Bandar Bumi.
Bandar Bumi hanya bisa kebingungan menghadapi pengikatan yang kuat itu. Ketika dia coba memutus dengan pisau kecilnya, ternyata tumpul. Hingga akhirnya, pergelangan kedua tangannya juga diikat tuntas.
Ineng Santi berhenti. Kondisi Bandar Bumi sudah tidak berkutik terikat rapi lagi rumit, serumit nasib keluarganya.
Lelaki yang masih berwajah peta urat dan bermata hitam seperti setan kelilipan itu, tidak sanggup memutuskan tali sinar ungu tersebut.
“Aaarrg!” teriak Bandar Bumi sambil berusaha mengembangkan kedua lengannya untuk memutus tali sinar pada tubuhnya.
Namun kali ini, kekuatan Pisau Anak Iblis tidak bisa berbuat banyak.
Ineng Santi lalu lebih mendekat kepada Bandar Bumi yang berdiri kaku dalam ikatan “asmara” ala Cemeti Jerat Asmara.
Zess!
Tiba-tiba pada telapak tangan kanan Ineng Santi bercokol sinar putih kecil sekecil telur puyuh. Dengan gerakan pelan, Ineng Santi melesatkan sinar itu dari dekat mengenai tangan Bandar Bumi yang memegang pisau hitam.
Ctar!
Satu ledakan nyaring terdengar saat sinar putih mengenai jari-jari tangan Bandar Bumi. Jari-jari tangan Bandar Bumi memang tidak terluka, tetapi itu membuat pisau hitam terlepas dan jatuh dari genggaman.
Saat Ineng Santi menjatuhkan Pisau Anak Iblis tersebut, Nining Pelangi dan pasukannya bisa langsung menerka arah pikiran Ineng Santi yang bisa mereka nilai masuk akal. Namun, tetap butuh pembuktian, apakah dugaan Ineng Santi dan mereka benar adanya.
Ineng Santi memungut Pisau Anak Iblis. Terkejutlah Bandar Bumi. Matanya yang total berwarna hitam tanpa putih, mendelik lebar.
Karena Bandar Bumi tidak bisa berkutik dalam jeratan Cemeti Jerat Asmara, Ineng Santi dengan santainya menusukkan pisau kecil di tangannya ke perut lelaki itu.
“Aaakk!”
Kali ini jeritan Bandar Bumi bukan raungan kemarahan, tetapi sudah masuk pasal jerit kesakitan yang akan menuntunnya kepada hukuman mati.
Tsuk!
“Aaarrk!” jerit kencang dan panjang Bandar Bumi lagi, saat Ineng Santi tiba-tiba menyarangkan Pisau Anak Iblis ke leher lelaki itu lalu mencabutnya.
Darah berwarna hitam langsung memancur melalui lubang tusukan tersebut. Ineng Santi cepat mundur agar tidak terkena darah hitam.
__ADS_1
Tubuh Bandar Bumi bergetar hebat dalam lilitan tali sinar. Jeritannya terus berkepanjangan. Namun tidak lama kemudian, getaran tubuhnya melemah seiring jeritannya juga melemah.
Bluk!
Bandar Bumi akhirnya tumbang dalam kondisi tubuh tetap terlilit dan warna kulit perlahan berubah kian menghitam.
“Ayaaah!” teriak histeris Tenggak Telaga yang terduduk di bawah pohon kopi ditemani oleh Murai Ranum, tapi mereka berdua tidak minum kopi bersama.
Tenggak Telaga dalam kondisi ditotok dan Murai Ranum dengan santainya duduk pula bersandar mesra pada tubuh pemuda itu.
“Aku akan membalas kematian ayahku! Huuu huuu …!” kata Tenggak Telaga sambil menangis tersedu-sedu.
“Oooh, anak malang,” ucap Murai Ranum sambil membelai kepala Tenggak Telaga yang tidak bisa bergerak.
Tangis kencang Tenggak Telaga membuat para wanita itu sejenak memandang kepadanya.
“Ada yang mau memungut anak angkat?” tanya Murai Ranum menawarkan kepada teman-temannya, bermaksud berkelakar.
“Kau saja!” sahut Roro Wiro.
“Hihihi!” tawa Murai Ranum.
Sementara itu, tali sinar ungu pada tubuh Bandar Bumi sudah hilang. Ia sudah mati dalam kondisi kulit dan wajah sudah tidak berurat-urat lagi, tetapi kulitnya menjadi hitam legam seperti usai mendapat azab kubur.
“Seharusnya kita membawa lelaki,” kata Ineng Santi sambil memandang kepada Nining Pelangi yang kini berdiri dipapah oleh Alis Gaib.
“Kucing tampanku bisa digunakan sebagai lelaki yang kau maksud, Ineng. Hihihi” sahut Murai Ranum lalu tertawa.
Ia lalu membebaskan totokan pada tubuh Tenggak Telaga, tapi tetap mengancam dengan ujung pedang menempel di leher.
“Jalan!” perintah Murai Ranum sambil menusuk bokong Tenggak Telaga dengan kuku telunjuknya.
“Ayaaah!” ratap Tenggak Telaga sambil berjalan mendekati mayat ayahnya.
Blet!
Tiba-tiba seujung tali sinar ungu melesat dan membelit leher Tenggak Telaga. Ineng Santi kembali mengeluarkan Cemeti Jerat Asmara-nya. Namun, lilitan ujung tali sinar ungu itu tidak membuat Tenggak Telaga merasa tercekik.
“Lepaskan saja,” kata Ineng Santi kepada Murai Ranum.
Murai Ranum pun melepaskan ancaman pedangnya dan kembali menyarungkannya.
“Jika kau berusaha kabur, cemetiku akan mencekikmu dengan kuat,” ancam Ineng Santi. “Angkat mayat ayahmu!”
“Ayaaah!” ratap Tenggak Telaga menangis, tapi tidak sekencang tadi.
__ADS_1
“Tidak usah cengeng seperti itu. Jika kalian tega membunuh orang, tidak pantas menangis jika kalian juga dibunuh!” hardik Mayang Wangi yang kesal mendengar tangisan orang besar itu.
“Masalahnya yang mati adalah ayahku. Jika kau yang mati, aku tidak akan menangis!” kilah Tenggak Telaga. Lalu ratapnya lagi, “Ayaaah!”
“Ayo cepat angkat ayahmu!” perintah Ineng Santi lembut.
Tenggak Telaga lalu meraih tubuh hitam milik Bandar Bumi.
“Haccin!” Tenggak Telaga bersin karena bau menyengat pada tubuh ayahnya.
Pemuda itu lalu mengangkat dan memanggul mayat ayahnya yang banjir darah hitam yang telah berhenti keluar dari lubang leher.
“Kita kembali!” seru Nining Pelangi.
Untuk mempermudah, Roro Wiro lalu menggendong Nining Pelangi di punggungnya. Perawakan tomboy Roro Wiro membuatnya persis seorang pemuda menggendong sang kekasih.
Ineng Santi dan Pasukan Sayap Pelangi lalu bergerak pergi untuk keluar dari kebun kopi tersebut.
Namun, sebelum mereka keluar dari kebun kopi, mereka berpapasan dengan Bandar Langit yang berbekal golok di pinggangnya.
“Paman Bandar Langit! Tolong aku!” teriak Tenggak Telaga.
Bandar Langit berhenti dan memandang kepada Tenggak Telaga dan mayat kakaknya.
“Kau dan ayahmu sudah tahu apa bahaya dari perbuatan kalian. Jika kalian sekarang merasakan bahaya itu, jangan mengeluh, hadapi saja,” kata Bandar Langit dengan ekspresi wajah yang datar dan dingin.
“Paman, apakah kau tega membiarkanku mati?!” teriak Tenggak Telaga.
Bandar Langit tidak menjawab. Dia justru berjalan tenang untuk pergi ke titik tempat kerjanya.
“Ayo jalan, terima nasibmu!” perintah Ineng Santi yang memegang ujung lain dari Cemeti Jerat Asmara.
Akhirnya Tenggak Telaga terima nasib. Ia pun berjalan. Namun di dalam hati, perasaannya hancur tidak berbentuk menyaksikan ketegaan yang dipertunjukkan oleh pamannya.
“Apa dosa aku dan ayahku?” tanya Tenggak Telaga di dalam hati.
“Aku punya kereta kuda di sebelah sana!” kata Tenggak Telaga tiba-tiba sambil menunjuk ke arah samping.
“Baguslah. Ayo!” kata Ineng Santi.
Tenggak Telaga lalu berbelok arah. Nining Pelangi dan sebagian dari Pasukan Sayap Pelangi mengikuti, sementara sebagian lagi langsung pergi menuju ke tempat kuda-kuda ditambatkan.
Ternyata Tenggak Telaga tidak berdusta. Pada satu titik di dalam kebun kopi itu, ada sebuah kereta terbuka lengkap dengan kudanya, sedang parkir bersama empat kuda tunggal lainnya.
Maka, kereta kuda dan empat kuda lainnya menjadi harta rampasan bagi Pasukan Sayap Pelangi. Dengan kereta kuda, Nining Pelangi pun lebih mudah untuk dibawa dan Tenggak Telaga tidak perlu berlelah-lelah duka memanggul mayat ayahnya. (RH)
__ADS_1