Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 13: Ke Perguruan Jari Hitam


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Senja itu, Alma Fatara pergi seorang diri dengan berkuda menuju Perguruan Jari Hitam.


Setibanya di depan Perguruan Jari Hitam, Alma melihat tidak banyak perubahan dari pagar bambu tinggi yang mengelilingi area depan perguruan. Gerbang gapuranya masih sama dengan dua tahun yang lalu, hanya terlihat sedikit lebih tua.


Gapura itu tertutup dan tidak terlihat ada murid yang bertugas menjaga. Namun, ketika Alma Fatara memandang ke atas menara yang berdiri tinggi di dalam lingkungan perguruan. Alma melihat keberadaan seorang lelaki berbaju biru yang kemudian bergerak menuruni tangga menara dengan tergesa-gesa.


Alma tiba di depan gerbang gapura yang tertutup. Alma tidak merasakan adanya manusia di belakang pintu yang mungkin bertugas berjaga.


Alma menggerakkan sedikit jari-jari tangan kirinya, mengirim angin kecil.


Krek!


Daun pintu gerbang hanya bergerak mengayun kecil oleh terpaan angin kiriman Alma, tetapi tidak terbuka yang menunjukkan bahwa ada kuncian dari sisi dalam.


Alma Fatara memutuskan menunggu di punggung kudanya. Ia menduga, penjaga di atas menara akan datang membuka pintu karena tahu ada tamu yang datang.


Memang, tidak begitu lama menunggu, Alma mendengar suara langkah lari seseorang. Dari irama langkahnya, Alma bisa menerka bahwa orang yang berlari adalah seorang lelaki.


Klek!


Akhirnya daun pintu gerbang kayu yang besar tersebut dibuka dari dalam. Hanya satu daun pintu yang dibuka. Satu buah kepala seorang pemuda muncul melongo dengan tetap menyembunyikan tubuh dan identitasnya.


“Hah! Alma?! Hahaha! Alma!” pekik gembira wajah pemuda itu ketika dengan cepat mengenali siapa tamu berkuda itu. Ia sampai tertawa dan mengeluarkan seluruh tubuhnya dari balik pintu.


Ternyata dia bukan lelaki yang tadi berada di atas menara bambu, karena pemuda ini berbaju warna putih, tidak berbaju biru.


Sementara Alma tidak langsung merespon. Memorinya untuk sementara loading guna mengingat-ingat siapa nama pemilik kepala itu.


Akhirnya Alma mengingat kejadian dua tahun lalu, kejadian ketika dia pertama kali bertemu dengan Nyi Bungkir dan pemuda itu.


Kala itu rombongan pedati kuda Alma berhenti karena melihat keramaian di pinggir jalan Kademangan Dulangwesi.


“Ayo mengaku! Jika tetap tidak mau mengaku, akan kami gantung!” teriak seorang lelaki di antara kerumunan orang tersebut.


Ada belasan lelaki berseragam prajurit yang sedang menggantung seorang lelaki, meski belum digantung. Pemuda berusia sekitar dua puluhan tahun sedang diikat di atas pohon. Kedua tangannya diikat di belakang punggungnya dan di lehernya melingkar tali yang terusannya mengulur ke atas dahan pohon. Ujung tali itu diikat kuat pada batang pohon. Sementara kedua kaki si lelaki berbaju biru masih menginjak cabang pohon yang lebih rendah, tetapi kedua kakinya diikat dengan tali yang panjang. Ujung talinya dipegang oleh salah satu prajurit yang berkerumun.


Jika tali pengikat kaki itu ditarik, otomatis lelaki tersebut akan jatuh dan lehernya akan menggantung di dahan atas.


“Aku berani bersumpah! Bukan aku yang menculik atau menyembunyikan Gelis Sibening!” teriak pemuda itu, ketakutan. Wajahnya sudah meneteskan keringat.


“Ada saksi yang melihatmu berkeliaran di depan kediaman Nyi Bungkir tadi malam, Gibas Madar!” kata lelaki berpakaian hitam bagus dan berbadan tegap. Lelaki berkumis itu yang sejak tadi menginterogasi pemuda yang bernama Gibas Madar. Ia adalah tangan kanan Nyi Bungkir yang bernama Dengkul Geni.


Nyi Bungkir sendiri ada di tempat itu. Selain berpakaian bagus, di tubuh cantiknya melekat sejumlah perhiasan emas. Cincin, gelang, kalung hingga giwang, melekat indah dan mewah padanya.


Nyi Bungkir sendiri adalah istri muda Demang Baremowo. Ia seorang berkesaktian, karenanya Demang Baremowo sering memerintahkannya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Termasuk saat itu.


Nyi Bungkir termasuk tipe sedikit bicara. Karena itu, yang banyak bicara adalah Dengkul Geni.

__ADS_1


“Iya, tadi malam aku memang lewat depan rumah Demang, tetapi aku tidak menculik siapa pun!” teriak Gibas Madar seraya mengerenyit pasrah.


“Ada apa ini? Ada apa ini?” tanya Alma Fatara yang tiba-tiba muncul menyeruak di antara para prajurit kademangan sambil mendongak melihat pemuda yang siap digantung.


Kemunculan Alma Fatara membuat semua orang yang ada di bawah pohon itu memperhatikannya. Nyi Bungkir hanya memandangi Alma yang saat itu belum dikenalnya.


“Hei, siapa kau, Nisanak?!” tanya Dengkul Geni setengah menghardik.


“Namaku Alma Fatara,” jawab Alma santai sambil fokus mendongak memandangi pemuda di atas.


“Jika kau hanya sekedar lewat, lebih baik pergilah. Ini urusan Kademangan, jangan ikut campur!” tandas Dengkul Geni.


“Aku itu belum pernah melihat orang mati digantung. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk melihat orang mati digantung,” kata Alma lalu menatap kepada Dengkul Geni seraya tersenyum kuda nil. “Ada yang pernah mengatakan kepadaku, jika seseorang mati digantung, lidahnya pasti menjulur. Tapi, ada juga yang mengatakan, kalau mati digantung, lidahnya keluarnya miring ke samping. Aku penasaran, apakah lidah orang di atas akan menjulur ke depan atau ke samping. Hahaha!”


Dengkul Geni beralih memandang kepada Nyi Bungkir. Wanita cantik dan megah itu mengangguk, entah apa maksudnya, mungkin hanya Dengkul Geni yang tahu.


“Tapi, kau harus beri tahu kami lebih dulu. Kalian dari mana dan mau ke mana?” tanya Dengkul Geni, masih belum percaya kepada Alma, sekalian untuk memperlama durasi menatap wajah cantiknya.


“Kami dari desa pesisir Iwaklelet. Kami mau ke Gunung Alasan untuk mencari seorang tabib. Nenekku menderita racun aneh dan tidak bisa diobati. Jadi kami melakukan perjalanan,” jawab Alma jujur merujuk pada rombongannya saat itu yang mengawal Ratu Warna Mekararum bersama Debur Angkara, Magar Kepang, Garam Sakti, dan Ayu Wicara.


Dengkul Geni sejenak melemparkan pandangannya ke arah rombongan Alma Fatara yang berhenti agak jauh dari lokasi itu. Ia lalu kembali beralih kepada pemuda di atas pohon.


“Kau tetap tidak mau mengaku, Gibas Madar?” tanya Dengkul Geni kepada pemuda di atas pohon.


“Bukan aku yang melakukannya! Huuu!” teriak Gibas Madar lalu menangis ala lelaki.


“Gantung!” perintah Dengkul Geni kepada prajurit yang memegang tali.


Namun sayang, lehernya langsung terjerat pada tali karena tubuhnya jatuh menggantung setelah prajurit menarik tali pengikat kaki. Tarikan itu membuat kedua kaki Gibas Madar tidak berpijak lagi.


Tubuh Gibas Madar langsung mengejang dengan mata melotot dan lidah terjulur lurus ke luar. Alma yang melihat pemuda itu kejang dan lidahnya menjulur, jadi kerenyitkan wajah. Uniknya, Gibas Madar tidak pakai acara kelojotan lagi, langsung kejang dan diam menggantung.


Melihat Alma Fatara mengerenyit, Dengkul Geni jadi tertawa. Sementara Nyi Bungkir hanya tersenyum tipis.


“Hahaha! Kau jadi tidak penasaran lagi, bukan? Kau sudah melihat seperti apa lidah orang digantung!” kata Dengkul Geni.


Nyi Bungkir lalu melangkah pergi menuju kereta kudanya yang terparkir di pinggir jalan. Dengkul Geni dan para prajurit kademangan segera mengikuti meninggalkan pohon itu. Alma masih berdiri mendongak memandangi mayat di atas.


“Hei, Alma! Buat apa kau menungguinya, dia tidak akan berbuah mangga! Hahaha!” kata Dengkul Geni seraya naik ke punggung kudanya.


“Hahaha!” tawa para prajurit menertawakan Alma.


Seraya tersenyum kuda, Alma lalu berbalik dan pergi ke arah rombongannya.


Rombongan Nyi Bungkir yang dikawal oleh Dengkul Geni dan belasan prajurit yang berlari, segera meninggalkan jalan besar yang ada di sisi selatan Kadipaten Dulangwesi itu.


Ketika rombongan Nyonya Demang itu melewati rombongan Alma, Dengkul Geni mencoba melihat siapa orang yang terbaring di dalam pedati beratap. Dengkul Geni melihat keberadaan seorang wanita tua yang memejamkan mata di atas bak pedati. Itu sebagai bukti bahwa Alma tidak berdusta.


“Maju sedikit!” perintah Alma kepada rombongannya.

__ADS_1


Rombongan Alma pun mulai berjalan, agar terlihat bahwa mereka pergi meninggalkan tempat itu.


Namun, ketika rombongan Nyi Bungkir sudah menghilang di ujung jalan, tiba-tiba Alma cepat melompat dari atas pedati dan berkelebat ke bawah pohon tempat Gibas Madar digantung.


Set!


Alma melesatkan satu tenaga dalam tajam yang memutus tali penggantung leher Gibas Madar. Namun anehnya, ketika tali yang menggantung leher putus, tubuh mayat Gibas Madar masih menggantung tanpa terlihat ada tali yang menggantungnya. Jadi mayat itu seperti sedang melayang di bawah pohon.


Tuk tuk tuk!


Alma lalu meloncat dan mendaratkan beberapa tusukan pada bagian tubuh mayat.


“Haaap!” pekik payat itu tiba-tiba sambil menarik udara sebanyak-banyaknya.


Tiba-tiba Gibas Madar bergerak dan hidup kembali. Tubuhnya sudah tidak kejang. Namun anehnya, tubuhnya masih melayang di udara bawah pohon.


Debur Angkara dan Magar Kepang sudah tiba pula di bawah pohon. Keduanya keheranan.


“Tangkap, Kang Debur!” kata Alma.


Alma lalu menggapai sesuatu pada celana Gibas Madar dan menariknya.  Ia menarik seutas benang agak tebal berwarna merah. Benang itu tidak lain adalah senjata pusaka Alma yang bernama Benang Darah Dewa.


Rupanya, benang itu mengikat tubuh Gibas Madar dan menggantungnya di pohon. Dengan ditariknya benang itu ke dalam lengan jubah Alma, maka tubuh Gibas Madar jatuh ke bawah. Debur Angkara sigap menangkapnya.


“Bagaimana bisa kau menyelamatkannya, Alma?” tanya Magar Kepang yang tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Hahaha!” tawa Alma karena Magar Kepang bingung melihat apa yang terjadi. Ia lalu menjelaskan dengan rinci. “Saat aku datang ke sini, aku melepas senjata benangku yang tidak mereka lihat. Benangku mengikat tubuh dia juga. Jadi selain tali itu yang mengikat tubuhnya, benangku juga menggantungnya. Ketika kakinya ditarik, benangku menotok tubuhnya sehingga kejang. Lehernya memang tercekik tali, sampai lidahnya menjulur, tetapi tidak sampai cekikan terkuat karena yang benar-benar menggantung tubuhnya adalah benangku. Jadi puncaknya adalah, benangku yang menggantung tubuhnya, bukan tali itu. Makanya dia tidak meronta ketika tergantung, karena langsung ditotok oleh benangku. Apakah kalian mengerti?”


Magar Kepang dan Debur Angkara menjawab dengan gelengan.


“Hahaha!” Alma justru tertawa. “Aku sudah menjelaskan sejelas kalian melihat telapak tangan kalian, tetapi kalian tetap tidak mengerti. Pokoknya, aku menyelamatkan dirinya menggunakan benangku.”


“Terima kasih, Nisanak. Terima kasih, Kisanak!” ucap Gibas Madar, setelah pernapasannya kembali normal.


“Siapa namamu?” tanya Alma.


“Gibas Madar.”


“Kenapa kau digantung?” tanya Magar Kepang penasaran.


“Aku dituduh menculik Gelis Sibening. Padahal sumpah, bukan aku penculiknya!” jawab Gibas Madar.


“Siapa Gelis Sibening?” tanya Debur Angkara.


“Putri Demang Baremowo. Wanita tadi adalah istri mudanya Demang,” jawab Gibas Madar lagi. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!

__ADS_1



__ADS_2