Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 1: Pentingnya Guling Nikmat


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Malam itu, satu ketegangan terjadi di dalam lingkungan Perguruan Bulan Emas. Murid-murid perguruan sudah berkumpul mengepung posisi Giling Saga yang ketahuan mumpet gelap-gelapan bersama Guling Nikmat. Ada sekitar tiga puluh murid perguruan berseragam kuning-kuning yang memegang senjata berupa sebuah piringan logam.


Para murid perguruan belum berani maju menyerang Giling Saga, pasalnya pemuda tampan yang sedang panik dan tegang atas bawa itu, menyandera Guling Nikmat dalam pelukan mautnya.


Tangan kiri Giling Saga merangkul lengan dan dada Guling Nikmat, sementara jari-jari tangan kirinya yang membara api mengancam di dekat leher Guling Nikmat. Wanita yang sejak tadi merasa diobok-obok oleh si orang asing itu, juga dalam kondisi ketakutan. Kulit lehernya bisa merasakan panas yang sangat menyengat dari jari-jari Giling Saga.


Pengepungan itu dipimpin oleh buto Renggut, Gudibara dan Juyung Sawa yang masih duduk di atas kudanya.


“Kau tahu di mana letak air terjun berada?” tanya Giling Saga, berbisik di telinga Guling Nikmat.


Dalam kondisi di ambang kematian seperti itu, Guling Nikmat tidak bisa menikmati rasa sensasi kegelian di telinganya saat dibisiki.


“I-i-iya,” jawab Guling Nikmat benar-benar ketakutan.


“Ke arah mana?” tanya Giling Saga lagi berbisik.


“Ke belakang,” jawab Guling Nikmat.


Giling Saga lalu menarik tubuh Guling Nikmat agar ikut melangkah mundur. Ketika Giling Saga dan Guling Nikmat melangkah mundur, para murid yang mengepung juga ikut bergeser.


Melihat para murid itu belum juga menyerang Giling Saga, Buto Renggut dan dua rekannya kian kesal.


“Hei! Kenapa kalian tidak juga menyerangnya?!” teriak Buto Renggut.


“Nanti Guling Nikmat bisa bahaya, Kakak!” sahut pemimpin dari murid-murid tingkat rendah itu.


“Kita memiliki banyak tukang masak. Mati satu lebih baik daripada kehormatan perguruan jatuh karena berhasil disusupi seekor tikur parit!” kata Gudibara.


“Awas, jika sampai orang itu lolos, kalian semua akan dihukum!” ancam Juyung Sawa pula.


Maka bingunglah murid-murid itu mendengar ancaman Juyung Sawa.


“Murid Jari Hitam, apakah kau datang dengan membawa Telur Gelap?” tanya Buto Renggut yang kenal wajah dengan Giling Saga, tapi tidak kenal nama.


“Aku tidak tahu sedikit pun tentang Telur Gelap. Permintaan kalian tidak masuk akal karena meminta yang kami tidak tahu!” teriak Giling Saga.


“Jika begitu, matilah!” teriak Juyung Sawa lalu mengayunkan tangan kanannya.

__ADS_1


Seet!


Satu piringan besi melesat cepat di udara lewat di antara para murid yang mengepung.


Sing!


Namun, piringan besi yang mengincar leher belakang Giling Saga, ditangkis oleh jari-jari tangan kiri Giling Saga yang membara merah. Tangkisan itu membuat piringan tersebut memantul lalu melesat pulang kepada tuannya. Sementara jari-jari membara Giling Saga tidak mengalami luka sedikit pun.


“Ampuh juga jari-jarinya,” ucap Buto Renggut sambil tersenyum setan.


“Ayo, kita harus terus ke belakang!” bisik Giling Saga ke telinga Guling Nikmat.


Giling Saga terus bergerak mundur, para murid hanya terus mengikuti dalam formasi tetap mengepung. Buto Renggut dan kedua rekannya bergerak maju dengan pelan, juga mengikuti. Sementara itu, kondisi semakin ramai karena para petinggi perguruan dan murid-murid yang lain turut bermunculan untuk melihat keributan yang tercipta di lingkungan perguruan.


Beberapa petinggi perguruan terlihat hanya menonton, tanpa ikut campur. Para petinggi perguruan bisa dilihat dari model pakaian seragamnya yang berbeda dari murid-murid pada umumnya, juga beda dari model seragam yang dikenakan Buto Renggut dan murid utama lainnya.


“Lakukan formasi Jaring Jerat Kematian!” perintah Gudibara.


“Formasi Jaring Jerat Kematian!” seru pemimpin murid yang mengepung.


Set set set …!


Bahkan secara bergantian, piringan-piringan itu lewat hanya sejengkal dari tubuh Giling dan Guling. Memang, tujuan dari formasi Jaring Jerat Kematian hanya untuk membuat musuh mati langkah, sama seperti yang dialami oleh Giling Saga saat ini. Ia tidak berani melangkah, takut tersambar piringan-piringan terbang yang diterbangkan berulang-ulang oleh pemiliknya.


“Hahaha!” tawa Buto Renggut, Gudibara dan Juyung Sawa melihat Giling Saga kebingungan.


Berulang kali Giling Saga berniat menangkis karena menyangka ada piringan yang menyerangnya, tetapi tidak. Sedemikian banyaknya piringan yang berseliweran, mungkin saja secara bersamaan bisa menggeser trek lesatannya jadi memangsa Giling Saga berjemaah. Karena itu, Giling Saga memperkuat ancamannya terhadap Guling Nikmat.


“Sudah, cukup. Bunuh saja keduanya!” perinta Buto Renggut.


“Formasi Maut Bersayap!” seru Gudibara yang memerintahkan serangan pengeksekusi.


“Formasi …!” teriak pemimpin murid. Namun, seruannya terpotong oleh perintah seseorang.


“Tahan!” seru seorang lelaki tua yang berdiri di balkon lantai dua bangunan batu utama. Lelaki tua berjubah kuning itu berikat kepala kuning, yang pada bagian dahi ada kepingan logam emas dengan ukuran yang sesuai di dahi.


“Wakil Ketua!” sebut seluruh orang Perguruan Bulan Emas sambil menghormat kepada lelaki tua di atas.


Buto Renggut, Gudibara dan Juyung Sawa juga menghormat dari atas kudanya.


“Hentikan formasi kalian!” perintah Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas yang bermana Silang Kanga. Lalu ancamnya, “Jika ada yang melukai Guling Nikmat, akan dihukum!”

__ADS_1


Maka, semua murid menghentikan permaianan piringannya yang semarak itu. Agak tenanglah Giling Saga dan Guling Nikmat, meski mereka tetap tidak aman.


“Bagi Ketua, nyawa Guling Nikmat lebih berharga dibanding kalian semua. Turuti apa maunya, asalkan dia melepas Guling Nikmat!” perintah Silang Kanga.


“Aku menginginkan guruku dilepas!” teriak Giling Saga cepat setelah mendengar perkataan Silang Kanga. “Jika tidak, wanita berharga ini akan aku bunuh!”


“Permintaanmu tidak mungkin diberikan. Terpaksa aku yang harus turun tangan,” kata Silang Kanga.


Clap!


Tiba-tiba Silang Kanga lenyap begitu saja dari tempatnya berdiri. Melihat hal itu, Giling Saga bersiaga dengan mendekatkan jari tangan panasnya ke dekat leher Guling Nikmat.


Tuk tuk tuk!


Namun, tiba-tiba Giling Saga merasakan ada yang menotok tubuhnya beberapa kali, tapi tidak terlihat wujudnya. Seketika Giling Saga kaku dan tidak bisa berbicara. Untuk menggerakkan jari-jarinya pun ia tidak bisa. Jari-jari panasnya mendadak padam.


Setelah totokan itu, tiba-tiba kakek berjubah kuning muncul seperti setan di sisi Giling Saga yang sudah tidak berdaya. Silang Kanga dengan lembut meraih tangan Guling Nikmat dan membantunya lepas dari pelukan Giling Saga yang mematung.


“Apakah kau terluka, Guling?” tanya Silang Kanga lembut.


“Ti-ti-tidak, Guru,” jawab Guling Nikmat yang sudah merasa lega. “Terima kasih, Guru.”


“Aku tidak akan membiarkan Guling Nikmat sampai celaka. Jika Guling Nikmat sampai celaka, maka perut-perut kita juga bisa celaka. Hahaha!” kata Silang Kanga santai dan berseloroh, mencairkan suasana tegang itu.


“Bawa penyusup ini. Jangan dibunuh, tapi berikan sedikit rasa sakit sebagai hukuman jika penyusup tertangkap!” perintah Silang Kanga kepada pemimpin murid tingkat rendah.


Dengan turunnya Wakil Ketua Perguruan, maka Buto Renggut, Gudibara dan Juyung Sawa harus turun dari kuda mereka.


“Kalian bertiga, besok pagi langsung lakukan penyisiran. Kemungkinan murid-murid Jari Hitam sudah berdatangan di wilayah kita!” perintah Silang Kanga kepada ketiga murid utama itu.


“Baik, Guru!” ucap ketiganya patuh.


“Tapi, Guru,” ucap Buto Renggut. “Bukankah lebih baik penyusup itu dibunuh?”


“Apakah kau menganggap aku salah mengabil keputusan, Buto?” tanya balik Silang Kanga.


“Tidak. Maafkan aku, Guru,” ucap Buto Renggut cepat sambil menjura hormat.


Dengan santainya Silang Kanga melangkah pergi bersama Guling Nikmat yang ia rangkul bahu belakangnya.


Giling Saga sudah dibawa pergi untuk dijebloskan ke penjara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2