
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Alma Fatara dan kudanya berhenti di depan ketujuh orang tua anggota Keluarga Tengkorak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara santai.
Sementara itu, Pasukan Genggam Jagad tetap berada di punggung kuda-kudanya masing-masing agar bisa menyaksikan apa yang terjadi di seberang pagar api yang cukup tinggi.
Alma segera turun dari kudanya dan menjura hormat kepada para tetua yang beberapa di antaranya menaruh dendam kepadanya.
“Hormatku yang terlalu muda ini kepada para tetua dari Keluarga Tengkorak!” ucap Alma Fatara sambil menjura hormat.
“Apakah kau sudah siap mati, Ratu Siluman?” tanya Tengkorak Ratu Maut, orang yang paling bernafsu ingin membunuh Alma Fatara.
“Maafkan aku, Nek. Aku belum siap untuk mati muda. Aku belum memiliki kekasih. Aku menjadi ratu baru kurang dari satu purnama. Jadi aku belum siap mati,” jawab Alma Fatara. Lalu katanya kepada Tengkorak Sabit Putih, “Aku menagih janji, Kek.”
“Huh!” dengus Tengkorak Sabit Putih kesal. Lalu katanya kepada Tengkorak Manis Putih, “Bebaskan tawanan yang ada di dalam gua!”
“Baik,” ucap Tengkorak Manis Putih.
Clap!
Nenek pesolek itu tiba-tiba menghilang seperti setan.
Alma Fatara berdiri tenang sambil tetap memegangi tali kudanya.
“Maafkan aku, para Tetua. Apakah kalian semua akan bertarung melawanku? Atau satu lawan satu, atau satu lawan tujuh?” tanya Alma Fatar.
“Satu lawan satu, satu lawan satu!” sahut Bocor, burung di bahu kanan Tengkorak Burung Putih.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar ada burung bisa bicara. Biasanya burung itu pendiam dan hanya suka memberi kode lewat kicauannya.
“Hahahak! Ratu Siluman ompong!” tawa Tengkorak Pengendali Sukma.
“Hahahak!” tawa Tengkorak Sentuh Lenyap dan Tengkorak Burung Putih.
“Hihihi!” tawa Tengkorak Tongkat Kepang pula.
“Siluman Ompong, Siluman Ompong!” kata Bocor lagi dengan gerakan badan yang lebih lincah.
“Hahahak …!” Alma Fatara lebih keras tertawa, tanpa risih memperlihatkan dua ompongnya. “Burungmu lucu sekali, Kek. Pasti tidak bisa terbang.”
“Sembarangan. Bocor bisa terbang,” sergah Tengkorak Burung Putih. Lalu perintahnya kepada Bocor, “Bocor, tunjukkan bahwa kau bisa terbang!”
“Tidak mau terbang, tidak mau terbang!” sahut Bocor sambil menggeleng-geleng.
“Dasar burung putih!” maki Tengkorak Burung Putih kesal.
“Bocor burung putih, burungmu hitam, burungmu hitam!” balas Bocor.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara lagi.
__ADS_1
Keenam orang keriput itu hanya terdiam memandangi Alma Fatara tertawa lepas, pamer-pamer ompong. Kok ada ratu seperti ini? Padahal sebentar lagi mau mati. Pikir mereka.
“Diam kau, Bocor!” bentak Tengkorak Burung Putih agak keras kepada burungnya. “Kau mempermalukanku!”
“Bocor diam, Bocor diam!” sahut Bocor lagi sambil manggut-manggut seperti dukun pelet.
“Maafkan aku, para Tetua. Karena kedatanganku ke mari, kalian bertemu dengan wanita aneh. Hahaha!” ujar Alma Fatara lalu kembali menjura hormat. Lalu tanyanya lagi, “Lalu bagaimana aturan mainnya?”
“Kami Keluarga Tengkorak menganggap nyawa Tengkorak Pedang Kilat harus dibayar pula dengan nyawamu. Maka itu tidak perlu memandang cara pendekar atau cara memalukan untuk membunuhmu. Di antara kami hanya empat orang yang sepakat untuk membunuhmu. Jadi kau harus berhadapan dengan empat orang sekaligus!” seru Tengkorak Ratu Maut.
“Hahaha!” Alma Fatara malah tertawa. Lalu katanya dengan santai, “Aaah, itu hanya alasan Nenek saja. Padahal sesungguhnya Nenek takut jika bertarung seorang diri denganku. Hahaha!”
“Kurang ajar!” teriak Tengkorak Ratu Maut begitu marah.
Bruss!
Tiba-tiba api besar menyala di mana-mana di sekeliling mereka, ketika Tengkorak Ratu Maut berteriak. Meski tidak bersambung antara sesama titik api, tetapi formasinya membentuk lingkaran besar. Suasana malam pun menjadi terang benderang oleh nyala api-api besar tersebut.
Tengkorak Ratu Maut menatap Alma Fatara dengan sepasang mata yang memerah. Kemarahannya membuat wajahnya terlihat kian menakutkan.
Beruntung sejak kecil Alma Fatara adalah anak yang pemberani, nakal dan saya bapak emak, jadi ia tidak gentar melihat ekspresi si nenek yang over dosis.
“Baik, aku akan menghukummu seorang diri!” teriak Tengkorak Ratu Maut sambil menunjuk wajah Ratu Siluman.
“Ratu Maut terpancing,” kata Tengkorak Tongkat Kepang kepada Tengkorak Sentuh Lenyap.
“Tapi, jika Nenek mau berdua melawanku, aku tidak keberatan,” kata Alma Fatara tenang, tanpa merasa tertekan atau terintimidasi.
“Sombongmu keterlaluan, Ratu Siluman!” bentak Tengkorak Ratu Maut. Lalu ucapnya pelan, “Baru kali ini aku bertemu bocak ingusan sombongnya selangit.”
Bruss!
Melihat Alma Fatara justru tertawa, Tengkorak Ratu Maut sudah tidak bisa membendung emosinya. Ia langsung menyalakan api pada tongkatnya. Tengkorak kepala kerbau pada kepala tongkatnya bersinar kuning terang.
“Eh, tunggu, Nek!” seru Alma Fatara cepat agar si nenek tidak langsung menyerang. “Aku masih punya pesan yang harus aku sampaikan sebelum bertarung. Jika aku langsung mati, nanti justru setanku yang menyampaikan pesanku. Hahaha!”
Tengkorak Pengendali Sukma hanya senyum-senyum melihat tingkah wanita cantik lagi muda itu. Berbeda dengan Tengkorak Ratu Maut yang langsung ingin membakar Alma Fatara jika mendengar suara tawanya.
“Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan!” bentak Tengkorak Sabit Putih pula.
“Pertama, aku butuh perkenalan, agar kita bisa lebih saling sayang. Aku tidak mau rohku gentayangan hanya karena dibunuh oleh orang yang tidak aku kenal,” kata Alma Fatara.
“Benar-benar lancang kau, Anak Tikus!” geram Tengkorak Sabit Putih.
“Hahahak! Kakek suka bercanda. Secantik Ratu Dunia seperti ini dibilang anak tikus. Hahaha!”
“Hahaha!” tawa para kakek, kecuali Tengkorak Sabit Putih.
“Aku Tengkorak Ratu Maut yang akan menjadi lawan pertamamu!” seru Tengkorak Ratu Maut yang sudah tidak sabaran.
“Pasti aku yang kau incar, Ratu Siluman. Aku Tengkorak Sabit Putih!”
“Oooh ya, aku datang ke sini karena kau, Kek,” kata Alma Fatara. “Lalu siapa lagi yang akan melawanku?”
__ADS_1
“Aku. Namaku Tengkorak Burung Putih!” sahut Tengkorak Burung Putih.
“Hahaha. Iya iya iya. Siapa lagi, Kek?” tanya Alma Fatara lagi, seperti sedang obral jualan.
“Aku,” jawab seorang nenek bernada datar.
Alma Fatara segera berpaling memandang ke arah rumah. Dilihatnya Tengkorak Manis Putih keluar yang di depannya berjalan tiga orang perempuan berbeda generasi.
Ketiga wanita itu adalah seorang nenek, wanita separuh baya dan gadis belia seumuran Alma Fatara. Dialah nenek, ibu dan adik dari Tenggak Telaga. Kondisi mereka terlihat lesu tidak bergairah, tapi tidak terluka.
“Aku Tengkorak Manis Putih,” kata si nenek pesolek.
“Baik. Itu yang pertama. Yang kedua, aku harus memastikan kebebasan keluarga dari Bandar Bumi,” kata Alma Fatara lagi.
Wajah ketiga wanita yang baru keluar itu berubah takut ketika melihat kepada Tengkorak Sabit Putih. Mereka segera menunduk, tidak berani beradu pandang dengan kakek serba putih itu.
Alma Fatara lalu pergi menyongsong ketiga wanita tersebut.
“Nenek, Bibi, apakah kalian tidak apa-apa?” tanya Alma Fatara sambil meraih tangan wanita yang tua.
“Iya, kami hanya takut,” jawab ibu dari Tenggak Telaga.
“Ibuuu!” teriak Tenggak Telaga dari seberang garis api.
“Tenggak, apakah itu kau?” teriak si ibu yang mengenali suara anaknya. Dia tidak bisa melihat jelas keberadaan Tenggak Telaga.
“Iya, Ibu. Aku di sini untuk menyelamatkanmu!” sahut Tenggak Telaga.
“Kalian sudah bebas. Hati-hati!” kata Alma Fatara sambil menuntun si nenek agar tidak terjilat api yang berserakan di mana-mana, membuat suhu menjadi panas.
Alma Fatara menuntun keluarga Bandar Bumi ke kudanya.
“Naiklah. Nek. Aku bantu,” kata Alma Fatara.
Alma Fatara membantu si nenek naik ke punggung kuda dengan telaten. Ia pun menyuruh si ibu juga naik. Sementara adik Tenggak Telaga ia ajak berjalan.
“Nanti aku akan kembali kepada kalian, Nek,” kata Alma Fatara kepada Tengkorak Ratu Maut yang sejak tadi menunggu untuk bertarung.
“Berusaha lari pun kau tidak akan luput dari kami!” kata Tengkorak Ratu Maut.
“Tenang saja, Nek. Aku ini anak baik. Hahaha!” sahut Alma Fatara.
Alma Fatara lalu menuntun kuda menuju garis api. Dengan menggunakan tenaga dalamnya, Alma Fatara memadamkan garis api hanya sekitar dua meter, kemudian menyeberangkan kuda dan adik Tenggak Telaga kepada Pasukan Genggam Jagad.
“Ibuuu!” sambut Tenggak Telaga yang sudah turun dari kudanya.
Di saat keluarga Bandar Bumi itu berpelukan, Alma Fatara kembali berjalan ke hadapan para tetua.
“Yang ketiga, aku ingin menyampaikan kepada Kakek Sabit Putih bahwa aku hanya akan membunuhmu, Kek. Anggota Keluarga Tengkorak yang lain tidak akan aku bunuh. Ini janjiku kepada Raja Tanpa Gerak. Karena itu, aku tidak akan menggunakan Bola Hitam, kecuali aku terpaksa,” ujar Alma Fatara.
“Sombongmu keterlaluan, Bocah!” desis Tengkorak Sabit Putih.
“Hahaha!” Alma Fatara tertawa ringan. Lalu katanya lagi, “Keempat, aku minta kepada Tetua sekalian, jangan libatkan pasukanku, karena aku akan bertarung berdua saja.”
__ADS_1
“Apa maksudmu bertarung berdua?” tanya Tengkorak Sabit Putih.
“Hahaha! Nanti kalian akan tahu. Jika kalian boleh berempat demi bisa menang, maka aku boleh berdua demi bisa hidup,” jawab Alma Fatara. Lalu katanya kepada Tengkorak Ratu Maut, “Ayo kita mulai, Nek!” (RH)