
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Berat hati bagi Pasukan Genggam Jagad untuk melepas Iwak Ngasin, terutama bagi Anjengan, Gagap Ayu dan Juling Jitu. Iwak Ngasin adalah sahabat lengket yang bersama mereka sejak masih sama-sama suka ngompol.
Pelukan yang begitu hangat sampai ketiganya berikan kepada Iwak Ngasin yang harus menangis karena kelilipan rambut Anjengan. Namun apa daya, itu sudah keputusan Alma Fatara sebagai ratu mereka dan Iwak Ngasin sendiri sudah berbagi Cinci Dua Jantung.
Berdasarkan keterangan Rogo Sogo, dua insan yang telah memakai Cincin Dua Jantung, akan menderita secara fisik dan psikis jika terpisah jauh, yang jika berlangsung selama satu purnama, keduanya bisa mati.
“Gusti Ratu!” panggil Anjengan sambil menyusulkan kudanya ke dekat kuda Alma.
Alma bertanya dengan wajahnya saat Anjengan berada tidak jauh darinya.
“Kenapa Gusti Ratu begitu percaya dengan siluman itu? Kita baru mengenalnya sesaat, tetapi Gusti Ratu begitu percaya kepadanya. Aku khawatir, setelah kita pergi, Siluman Gagak Biru justru akan mematuk Iwak Ngasin,” tanya Anjengan, mewakili kekhawatiran Juling Jitu dan Gagap Ayu pula.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar pertanyaan kakak angkatnya itu. Lalu jelasnya, “Siluman Gagak Biru tidak akan membunuh Iwak Ngasin, sebab Iwak Ngasin akan berguna baginya sebagai pelayan. Apalagi Siluman Gagak Biru tidak akan mau putri kesayangannya mati dengan membunuh Iwak Ngasin. Justru seharusnya kalian iri, karena dalam waktu cepat Iwak Ngasin akan mewarisi kesaktian Siluman Gagak Biru.”
“Oh,” desah Anjengan, baru benar-benar mengerti strategi Alma Fatara.
“Jika tidak ada Cincin Dua Jantung, mungkin aku akan memilih cara yang berbeda,” tambah Alma Fatara.
Rombongan Alma Fatara tidak berlama-lama di tempat Siluman Gagak Biru, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Menurut siluman bernama asli Ugel itu, kediaman Pendekar Tongkat Roda tidak jauh lagi, tapi mereka akan tiba pada waktu malam.
Ketika malam tiba, beberapa dari Pasukan Genggam Jagad membuat obor. Lari kuda mereka diperlambat. Mereka terus menyusuri pinggir sungai.
“Di sana ada gubuk, di tengah sungai!” tunjuk Penombak Manis tibat-tiba.
Alma Fatara dan yang lainnya untuk sementara bingung. Yang mereka lihat hanyalah kegelapan, meski mereka mendengar suara aliran air sungai yang begitu jelas berhias suara binatang malam. Namun kemudian mereka harus percaya, sebab Penombak Manis memiliki Sisik Putri Samudera di antara matanya.
“Manis, berjalanlah di depan!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Penombak Manis patuh.
Wanita berhidung pesek itu lalu memajukan langkah kudanya untuk berjalan di depan rombongan. Penombak Manis tidak perlu penerangan obor lagi. Matanya benar-benar manjadi awas di dalam gelap, seperti menggunakan infra merah di dalam gelap.
Tidak berapa lama, mereka tiba di pertemuan dua sungai yang disebut tempuran atau kuala. Cahaya obor tidak begitu berguna untuk menerangi sampai ke tengah sungai yang besar. Kondisi tengah sungai begitu gelap, hanya memberikan suara arus yang deras. Namun, Alma dan yang lainnya belum bisa melihat keberadaan gubuk yang dimaksud oleh Penombak Manis.
__ADS_1
“Di mana gubuknya, Manis?” tanya Alma Fatara lagi.
“Ada di tengah-tengah sungai. Meski kecil, tetapi gubuk itu tidak hanyut oleh derasnya air sungai,” jelas Penombak Manis sambil menunjuk.
“Berarti gubuknya sakti,” celetuk Juling Jitu.
“Bu-bu-bu ….”
“Buntut?” tanya Anjengan dan Juling Jitu memotong perkataan Gagap Ayu.
“Bukaaan!” sentak Gagap Ayu.
“Bunting?” tanya Tampang Garang, Alis Gaib, Geranda, dan Kembang Bulan kompak menerka.
“Bukaaan!” sentak Gagap Ayu lagi.
“Hahaha …!” tawa mereka ramai-ramai.
“Bu-bu-bukan gubuknya yang sakti, te-te-tetapi pendekarnya yang sa-sa-sakti,” jelas Gagap Ayu.
“Tampang Garang, panah api!” perintah Alma Fatara.
Ia lalu mengambil anak panah khusus yang letaknya di tabung lain di kudanya. Ujung panah lalu dibakar menggunakan obor yang dipegang Juling Jitu.
Set!
Tampang Garang lalu memanah ke tengah sungai sesuai arah yang tadi ditunjuk oleh Penombak Manis.
Tep!
Ternyata, panahan Tampang Garang yang dalam jarak maksimal, jatuh tepat di atap gubuk tengah sungai. Mereka bisa melihat samar-samar dari cahaya api panah yang melintas.
“Hahaha!” tawa Alma terbahak sendiri, ketika melihat api yang lebih besar muncul terbakar di atap gubuk panggung tengah sungai itu.
Alangkah terkejutnya Tampang Garang dan yang lainnya. Tampang Garang jadi panik, sebab ia tidak bermaksud membakar gubuk itu. Ia sedikit pun tidak bermaksud memanah ke atap gubuk yang tidak dilihatnya di awal.
“Aku tidak menyuruhmu untuk membakar gubuk itu, Garang,” kata Alma, tapi tidak bermaksud memarahi, karena Alma justru tertawa melihat kecelakaan itu.
__ADS_1
“Ampuni hamba, Gusti Ratu. Hamba tidak sengaja!” ucap Tampang Garang.
Wuss!
Ketika api di atap gubuk mulai membesar, tiba-tiba terdengar suara deru angin. Tahu-tahu pula, api yang terang di tengah sungai padam seketika, sehingga suasana kembali gelap. Sepertinya ada kekuatan angin yang memadamkan kobaran api tersebut.
“Kalian tidak boleh pergi jika belum memperbaiki atap istanaku!”
Tiba-tiba terdengar seruan suara seorang lelaki tua yang beratnya sebeban utang.
Serss!
Tiba-tiba lagi, tepatnya di depan rombongan berkuda Alma, satu cahaya kuning terang yang menyorot dari tanah ke atas, muncul seperti adakadabra. Cahaya seperti lampu panggung itu menyorot seorang kakek berjubah putih, yang kain jubahnya berkibar-kibar seperti sayap Batman. Si kakek botak plontos itu memegang sebuah tongkat merah yang pada kedua ujungnya ada sinar kuning berputar seperti cakra.
“Hahaha!”
Melihat gaya si kakek yang muncul penuh pesona cahaya, Alma Fatara tertawa terbahak seorang diri, membuat si kakek berkumis putih tanpa jenggot itu kerutkan kening.
“Kau pasti Dewi Dua Gigi sahabat Ki Ramu Empedu?” terka si kakek botak yang sudah memadamkan semua pesona sinarnya.
“Bagaimana Kakek tahu?” tanya Alma seraya tersenyum lebar.
“Dari gigi ompongmu, hasil dari pertarunganmu dengan Pengemis Batok Bolong,” jawab si kakek yang kini terlihat hanya karena cahaya api obor.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara terbahak.
Sementara yang lain hanya tersenyum dan bersikap dingin.
“Kakek Togkat Roda!” sebut Alma Fatara yakin bahwa kakek itu adalah Pendekar Tongkat Roda. “Sekarang aku adalah Ratu Siluman, pemimpin Pasukan Genggam Jagad. Inilah pasukanku.”
“Hmmm!” gumam si kakek yang tidak membantah nama yang disebutkan kepadanya. Artinya dia membenarkan bahwa dirinya adalah Pendekar Tongkat Roda. “Tapi, sepertinya nama pasukanmu tidak sesuai dengan yang wujud?”
“Segala yang besar berawal dari yang kecil, Kek. Di bawah kepemimpinanku, kelak mereka akan mejadi pendekar-pendekar pilih tanding,” kata Alma yang membuat Anjengan cs senyum-senyum bangga.
Alma Fatara lalu turun dari kudanya demi menghormati Pendekar Tongkat Roda.
“Kakek Tongkat Roda, sepertinya kau belum mendengar kabar bahwa Perguruan Bulan Emas sedang menyandera Ketua Perguruan Jari Hitam,” ujar Alma Fatara.
__ADS_1
“Apa?! Bagaimana bisa terjadi seperti itu?” kejut Pendekar Tongkat Roda. (RH)