
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Komandan Gendas Pati tiba bersama kudanya di basis prajurit kadipaten. Terlihat banyak prajurit yang beristirahat karena lelah telah bekerja selama dua hari membersihkan kekacauan sisa-sisa pertempuran.
Baru saja dia melompat turun dari punggung kudanya, Arung Seto muncul mendatanginya.
“Paman Gendas Pati!” panggil Arung Seto yang berjalan dengan agak terpincang.
“Ada apa, Arung?” tanya Gendas Pati.
“Aku mencari Kembang Bulan. Kau melihatnya?” tanya Arung Seto.
“Iya,” jawab Gendas Pati.
Tersenyumlah Arung Seto.
“Aku khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya,” kata Arung Seto.
“Tapi …” ucap Gendas Pati terlihat kikuk dan tersenyum kecut.
“Tapi kenapa, Paman?” tanya Arung Seto seketika curiga melihat ekspresi Gendas Pati yang bagaimanaaa gitu.
“Tapi Kembang Bulan pergi bersama Alma,” jawab Gendas Pati dengan wajah mengerenyit.
“Apa?!” pekik Arung Seto kencang karena terkejut, sampai-sampai para prajurit beralih memandang kepada mereka. “Ayo, kau harus menjelaskannya kepada Ayahanda!”
Maka Arung Seto dan Gendas Pati pergi menghadap kepada Adipati Adya Bangira.
Marahlah Adya Bangira mendengar kabar bahwa Kembang Bulan pergi bersama rombongan Alma Fatara.
“Kenapa kau membiarkannya pergi, Gendas Pati?!” tanya Adya Bangira tapi mengandung kegeraman.
“Kembang Bulan mengatakan bahwa Gusti sudah memberinya izin untuk berguru kepada Alma, jadi aku mengantarkannya sampai dia bisa menyusul rombongan Alma,” kilah Gendas Pati.
“Jika sampai terjadi hal buruk dengan Kembang Bulan, aku tidak akan memaafkanmu, Gendas Pati!” ancam Adya Bangira.
Kemarahannya membuat Adya Bangira berubah menjadi mengerikan, padahal dia adalah sosok pemimpin yang lembut.
“Arung Suto, cepat kejar adikmu!” perintah Adya Bangira.
“Baik, Ayahanda.”
Sementara itu di jalanan yang sudah cukup jauh dari Ibu Kota Balongan, Alma Fatara dan rombongannya menengok ke belakang karena mendengar suara lari kuda lain yang lebih kencang.
__ADS_1
“Almaaa!” teriak penunggang kuda yang adalah seorang wanita muda lagi cantik.
Alma Fatara dan Iwak Ngasin CS jadi terkejut. Mereka langsung bisa mengenali wanita penunggang kuda itu. Terlebih dalam waktu singkat kuda itu tiba di antara mereka.
“Alma, aku ikut!” kata gadis berpakaian serba biru terang yang tidak lain adalah Kembang Bulan, putri Adipati Adya Bangira.
“Ya, kau boleh ikut, Kembang!” sahut Juling Jitu penuh semangat.
“Hei, Jitu! Memangnya kau siapa langsung memberi izin?” hardik Anjengan.
“Kembang Bulan, kau pasti pergi tanpa izin dari Paman Adipati,” terka Alma.
“Aku mau mengikutimu karena aku ingin berguru kepadamu, Alma. Aku mau menjadi muridmu!” tandas Kembang Bulan.
“Tapi aku yang tidak mau menjadi gurumu. Aku ini masih murid, belum pantas sama sekali menjadi guru,” kata Alma.
“Biar aku yang menjadi gurunya, Alma!” teriak Iwak Ngasin.
“Aku saja yang menjadi gurunya. Aku bisa mengajar dengan lebih lembut!” sahut Juling Jitu pula.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar antusiasme Iwak Ngasin dan Juling Jitu. Lalu katanya kepada Kembang Bulan, “Kau gadis kedua yang tanpa izin orangtua diam-diam pergi bergabung denganku dalam perjalanan. Aku yakin Paman Adipati dan Bibi sangat cemas dengan kehilanganmu yang tiba-tiba. Sebab, orangtuamu baru saja kehilangan Kakang Ariang Banu.”
“Aku sudah izin lewat Paman Gendas Pati. Jika Ayahanda percaya kepadamu Alma, pasti mereka tidak perlu khawatir tentang keselamatanku,” kilah Kembang Bulan.
“Iya,” angguk Kembang Bulan.
“Hahaha! Kau pikir aku pengasuh anak? Kau boleh ikut, tapi aku tidak akan bertanggung jawab atas keselamatanmu. Dan aku tidak akan mengajarimu ilmu kesaktian, tapi jika Juling Jitu dan Iwak Ngasin ingin mengajarimu, terserah kau,” kata Alma.
“Terima kasih, Alma. Aku bisa memasak nasi dan merebus telur,” kata Kembang Bulan begitu gembira.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
“Apakah kau sudah pernah belajar ilmu olah kanuragan?” tanya Riring Belanga.
“Pernah, tetapi baru sampai pembelajaran dasar kuda-kuda dan cara menendang buah rambutan,” jawab Kembang Bulan polos.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan para sahabat komediannya.
Sementara Riring Belanga hanya tersenyum kecil.
Baru saja Alma Fatara hendak menggebah kudanya, tiba-tiba dari belakang muncul berjalan seekor kambing berbulu serba hitam yang berkuping panjang menjuntai pasrah. Postur tubuh kambing itu lebih tinggi dibandingkan kambing kebanyakan.
Namun, yang lebih mencuri perhatian adalah sesosok pria ganteng yang duduk di punggung kambing. Lelaki berambut hitam pendek itu mengikat kepalanya dengan pita merah terang. Bajunya putih dan bercelana hitam. Sabuknya berbahan kulit ular warna hitam. Namun, dia adalah seorang pendek atau katai bin cebol.
Lelaki cebol itu bernama asli Kendor Buluk yang berjuluk Malaikat Serba Tahu. Namun, orang yang tahu nama aslinya bisa dihitung menggunakan jari, bukan kalkulator. Sementara kambingnya yang berjenis kelamin betina itu bernama Cantik.
__ADS_1
Cantik terus melenggang kangkung tanpa berbelok, seolah berniat menerobos kerumunan kuda yang badannya lebih besar. Malaikat Serba Tahu hanya tersenyum manis semanis mungkin.
Tidak ada seorang pun di dalam rombongan Alma Fatara yang mengenal siapa adanya tokoh sakti ternama di dunia persilatan itu.
“Hahahak!” Alma tertawa sendiri melihat gaya si cebol ganteng itu.
“Permisiii, Cantik mau lewat! Hehehe!” ucap Malaikat Serba Tahu.
Iwak Ngasin dan dkk segera menggeser posisi berdiri kudanya, memberi jalan kepada kambing hitam Malaikat Serba Tahu.
Meski mereka tidak kenal dengan orang tersebut, tetapi mereka semua menyadari bahwa orang cebol itu adalah seorang pendekar berkesaktian tinggi. Jadi, mereka rela hati menggeser sedikit posisi kuda mereka sehingga memberi ruang jalan untuk Cantik.
Malaikat Serba Tahu hanya melirik jutek kepada Alma yang terus tertawa melihat Malaikat Serba Tahu dan Cantik lewat. Namun, ia membiarkan gadis cantik itu.
Tusk!
“Mbeaaak!” jerit Cantik panjang saat merasakan bokongnya seperti ditusuk oleh sebatang jarum.
Sontak Cantik berlari liar meninggalkan kumpulan kuda itu, setelah Alma usil menyuntik bokong Cantik dengan satu ujung Benang Darah Dewa. Malaikat Serba Tahu terkejut dan berpegangan kencang pada leher Cantik agar tidak jatuh dari duduknya.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara dan “The Gang”, yang meliputi Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu.
Setelah terbawa lari oleh kambingnya, Malaikat Serba Tahu akhirnya bisa mengendalikan Cantik. Di depan sana, Malaikat Serba Tahu dan Cantik sudah berdiri menghadap kepada rombongan Alma.
Malaikat Serba Tahu menatap tajam kepada rombongan berkuda, terutama kepada Alma Fatara yang masih tertawa di atas punggung kudanya.
Malaikat Serba Tahu dan Cantik mulai berjalan mendekat, tetapi kemudian berhenti pada jarak dua tombak.
“Anak Nakal! Jangan kau pikir karena kau punya Bola Hitam, lalu kau seenaknya menjahili orang tua!” hardik Malaikat Serba Tahu.
“Hahahak!” tawa Alma lagi. Lalu katanya, “Jangan salahkan aku, Paman. Salahmu sendiri, kau terlalu menggemaskan, Paman. Hahahak!”
“Jika kalian tahu siapa aku sebenarnya, kalian pasti tidak akan menertawakan dan menjahili aku!” kata Malaikat Serba Tahu masih emosi.
“Jika aku tahu siapa Paman, aku pasti tidak akan sungkan untuk menggoda Paman. Hahaha!” kata Alma.
“Jika kau bukan cicit dari Resi Putih Jiwa, sudah aku jewer telingamu, Anak Nakal!” kata Malaikat Serba Tahu.
Terdiam dan terkejut Alma Fatara mendengar perkataan Malaikat Serba Tahu. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!
__ADS_1