Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 2: Pertarungan di Jalan Jurang


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


Pasukan Kerajaan Siluman masih berjalan kaki sebagian besar. Gede Angin masih berposisi paling depan selaku membawa bendera hitam Kerajaan Siluman. Di sisinya berjalan Penombak Manis yang berjalan bersama suaminya selaku pembawa panji Pasukan Sayap Laba-Laba.


Setelah insiden berpelukan dengan Tampang Garang, Penombak Manis harus sering-sering menyenangkan hati suaminya dan membuatnya merasa bahagia.


Terlihat kini, Juling Jitu dan Penombak Manis berjalan sambil bergandeng tangan. Sesekali bersenda gurau dan saling berbagi tawa mesra, tanpa peduli dengan perasaan Gede Angin di sisinya dan Panglima Arung Seto di belakangnya.


Pasukan Sayap Laba-Laba berada di posisi depan, setelah itu Pasukan Sayap Panah Pelangi. Baru kemudian Lima Dewi Purnama dan kereta kuda yang disaisi oleh Betok. Ia didampingin Kungkang di sisi kanan dan Jungkrik di sisi kiri.


Di atas kereta itu duduk Ratu Siluman Alma Fatara bersama dua nenek sakti, yaitu Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman. Sementara Pembawa Pedang Ratu Siluman Kembang Bulan, dia berjalan di sisi kanan kereta kuda, tidak jauh-jauh dari sang ratu.


Di belakang kereta kuda berjalan lima ekor kuda yang masing-masing dinaiki oleh Tengkorak Bayang Putih, Kulung, dan Nining Pelangi yang kondisinya terluka. Satu kuda membawa beban kumpulan pedang dan satu kuda lainnya membawa harta benda Kerajaan Siluman. Dua kuda pembawa harta diduntun oleh Ireng Cadas dan Geranda. Bendahara Kerajaan Siluman juga meletakkan harta pribadinya di kuda tersebut, tetapi tidak dicampur.


Di barisan paling belakang adalah Pasukan Sayap Pelangi pimpinan Panglima Nining Pelangi.


“Kakang Jitu, aku jadi berhayal ingin memiliki sebuah rumah di tepi pantai yang indah, lalu kita hidup bersama dan beranak banyak seperti kepiting yang anaknya sangat banyak. Hihihi!” kata Penombak Manis lalu tertawa genit.


“Tenang saja, Sayang. Setelah perjalanan ini selesai, kita akan pulang ke Desa Iwaklelet dan hidup bahagia di sana. Aku akan tanamkan benih yang banyak ke dalam perutmu. Hahaha!” ucap Juling Jitu pula lalu tertawa bahagia.


Tooot!


Tiba-tiba pasangan suami istri itu dikejutkan oleh satu suara terompet yang kencang.


“Gede Angin! Kenapa kau kentut sembarangan?!” hardik Juling Jitu kepada si anak raksasa.


“Karena aku ingin kentut,” jawab Gede Angin seadanya, membuat Juling Jitu dan Penombak Manis semakin kesal.


“Hahaha!” tawa Arung Seto dan beberapa anggota Pasukan Sayap Laba-Laba yang mendengar kentut Gede Angin dan mendengar jawaban anak raksasa itu.


“Tapi suara kentutmu merusak suasana kebahagiaanku!” bentak Juling Jitu.


“Daripada aku menahan kentutku dan merusak suasana perutku, lebih baik aku kentut. Padahal suara kentutku termasuk suara kentut idaman putri-putri kerajaan,” kilah Gede Angin.


“Hahahaha!” tawa terbahak Arung Seto dan yang lainnya.


Tang ting tang ting …!


Tiba-tiba mereka mendengar suara peraduan banyak senjata pedang.


Seperti kucing yang mendengar suara tawa tikus, Penombak Manis sejenak terdiam lalu memandang ke sekitar, mencoba mendeteksi sumber suara dentingan pedang, bukan denting piano.


Penombak Manis segera berkelebat maju dan berhenti di bawah pohon yang tumbuh di pinggir jalan yang adalah jurang. Di sisi kanan jalan banyak ditumbuhi pohon sebagai pagar pinggir jurang.

__ADS_1


Ketika Penombak Manis memandang ke bawah, ternyata agak jauh di bawah, sekitar sepuluh tombak ke bawah, ada sebuah jalan lain yang cukup lebar. Pada jalan itu ada terjadi pertempuran kecil antara orang-orang berpakaian serba cokelat berpedang dengan para prajurit, mereka juga berpedang.


Selain melawan para prajurit, para lelaki berseragam cokelat juga bertarung melawan sejumlah orang bertelanjang dada dan berperawakan pendekar.


Ada lima pedati yang masing-masing ditarik oleh seekor kerbau. Bak gerobak itu mengangkut sesuatu yang banyak dan ditutupi menggunakan kain.


Beberapa tombak di depan rombongan pedati kerbau, berdiri lima pendekar yang hanya diam menonton pertarungan tersebut sembari bersedekap. Sepertinya mereka berada di pihak kelompok lelaki berseragam cokelat.


“Lapor, Gusti Ratu. Di bawah ada pertempuran dua kelompok!” lapor Penombak Manis setelah pergi menghadap kepada Alma Fatara.


Alma Fatara hanya mengangguk. Dia lalu turun dari kereta untuk menyaksikan langsung pertarungan di bawah. Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman ikut turun. Sementara sebagian pasukan sudah berdiri di pinggir jurang menyaksikan pertarungan yang terjadi di jalan bawah.


Akhirnya, Alma Fatara dan semua anggota rombongannya berdiri di sepanjang pinggir jurang itu membentuk pagar manusia di antara pagar pohon.


Belum ada seorang pun di bawah sana yang melihat keberadaan Pasukan Genggam Jagad dan ratunya di atas mereka.


“Melihat para pendekar itu tidak ada yang menyadari aura Bola Hitam, menunjukkan mereka hanya pendekar kelas menengah,” kata Alma Fatara kepada kedua nenek di sisinya.


“Apakah kita hanya menonton, Gusti Ratu?” tanya Cucum Mili.


“Kakak Putri, Kakak Anjengan, hentikan pertarungan itu agar tidak ada lagi yang terbunuh atau dirampas harta bendanya!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Putri Angin Merah alias Cucum Mili.


“Woi! Berhenti!” teriak Anjengan tiba-tiba. Teriakannya mengandung tenaga dalam.


“Hahahak!”


Di saat semua orang yang bertarung di bawah berhenti mendadak dan mendongak ke atas, Alma Fatara justru tertawa setelah kagetnya.


Melihat ada sederetan orang-orang berpakaian pendekar di atas mereka, terkejutlah kedua pihak yang bertarung, termasuk kelima pendekar yang menjadi pemimpin orang-orang berpakaian cokelat.


Cucum Mili lalu melompat turun laksana bidadari merah bercadar yang menyandang pedang pusaka di tangan kanannya. Mantan ketua bajak laut itu mendarat laksana burung dara di atas salah satu pedati.


“Berhen …. Akk!” teriak Anjengan sambil turut melompat turun dan mendadak menjerit.


Beduluk beduluk!


Apes bagi Anjengan, tiba-tiba satu kakinya tersandung, membuatnya jatuh menggelundung.


“Hahahak …!”


Meledaklah tawa Alma Fatara dan pasukannya melihat nasib panglima mereka.


“Hahahak!” Terdengar pula tawa dari sisi bawah. Ketegangan mereka seketika cair melihat insiden tersebut.

__ADS_1


Set! Teb teb!


Gendis dan Lilis Kelimis secara bersamaan melesatkan tombaknya ke depan. Kedua tombak itu melesat berdampingan lalu berbelok menukik sangat cepat. Tahu-tahu sudah menancap dalam di tanah tebing jurang yang keras, tepat di bawah tubuh Anjengan.


Tubuh Anjengan tersangkut oleh kedua batang tombak. Namun, karena tubuhnya besar, kedua tombak tidak mampu menghentikan. Tubuh Anjengan hanya diperlambat lalu tubuh itu terloncat ke udara dan berputar jatuh.


Brakr!


Anjengan bisa mengatur putaran tubuhnya di udara lalu mendarat dengan kedua kakinya tepat di atas pedati yang lain. Namun, pendaratan itu begitu keras, membuat as roda pedati patah. Pedati itu pun ambruk dengan sebagian muatan terbongkar jatuh ke jalan, keluar dari tutupan kain.


“Batu emas!” ucap sebagian Pasukan Genggam Jagad saat melihat bongkahan-bongkahan batu kuning yang jatuh dari bak pedati.


“Hentikan pertarungan ini!” seru Cucum Mili kepada kedua kelompok yang masih saling menghunus pedang.


Sudah ada sejumlah mayat yang tergeletak dari kedua belah pihak, termasuk yang terluka.


“Siapa kalian?!” tanya salah satu pendekar yang sejak tadi hanya berdiri bersama keempat rekannya. Lelaki berusia separuh baya itu membentak keras, menunjukkan kemarahannya, seperti orang yang adegan ranjangnya sedang diganggu. Ia mengenakan pakaian hitam dengan menyandang pedang di punggungnya. Sebut saja namanya Kelabang Wesi, tapi memang itu namanya.


“Aku adalah mimpi burukmu!” jawab Cucum Mili tidak kalah garang.


“Dan aku adalah mimpi indahmu. Hahahak!” seru Anjengan pula lalu tertawa terbahak-bahak.


“Hahahak!” tawa kelompok prajurit dan pendekar.


“Kalian pasti ingin merampok rombongan emas ini!” tuding Cucum Mili. “Aku perintahkan kau membawa mundur orang-orangmu dan biarkan rombongan ini pergi tanpa gangguan!”


“Kau pikir dirimu siapa, hah?!” bentak Kelabang Wesi marah sambil cabut pedang.


“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili.


“Kurang sopan!” bentak Anjengan dan Pasukan Genggam Jagad di atas tebing.


“Hah!” kejut Kelabang Wesi mendengar bentakan berjemaah itu.


Set! Ctar ctar ctar!


Tiba-tiba Cucum Mili melesatkan tiga kelereng kepada kaki kelima orang pendekar tersebut. Buru-buru kelimanya melompat mundur, membuat tiga ledakan pada tanah terjadi.


Beg! Beg! Beg!


Tiba-tiba pula tiga sosok besar jatuh dari atas dan mendarat sangat keras di antara kelompok yang bertarung dengan kelima pendekar yang mundur.


“Lima Pembunuh Gelap!” sebut kelima pendekar itu terkejut.


Orang yang baru turun itu memang adalah tiga anggota dari Lima Pembunuh Gelap yang kini berjuluk Tiga Penjaga Emas, yakni Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau.

__ADS_1


“Munduuur!” teriak Kelabang Wesi keras. (RH)


__ADS_2