Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 31: Membunuh Pawang Mayat


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


Kedua orang yang dikenal dengan julukan Penguasa Jiwa, yaitu Rogoh Wetan dan Genda Rukyoh, duduk pada lokasi sempit yang dikelilingi oleh pohon pisang.


Kedua lelaki separuh baya berjubah merah itu duduk bersila saling bertemu lutut. Di atas pangkuan mereka berdua ada satu nampan putih lebar yang mereka tekuni bersama.


Di nampan itu ada puluhan ekor semut rangrang merah yang sedang berjalan ke sana ke mari seperti semut bingung. Anehnya, semut-semut itu tidak ada yang pergi naik ke tepian lalu kabur entah ke mana. Mereka hanya berputar di tengah wadah saja.


Tangan kanan Rogoh Wetan dan Genda Rukyoh sama-sama memegang satu sisi pinggiran nampan, sementara tangan kiri di letakkan tiga jengkal di atas nampan, seolah sedang menyiramkan energi sakti bagi semut-semut tersebut.


Genda Rukyoh membaca mantera yang bisa dimengerti tapi terdengar aneh. Sementara Rogoh Wetan hanya mengucapkan “mpong” yang seolah berarti “amin”.


“Setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, bersemayamlah!” ucap Genda Rukyoh dengan nada yang horor.


“Mpong!” sahut Rogoh Wetan dengan kusyuk sambil badannya agak goyang kanan dan kiri seperti orang tahlilan.


“Setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, merasuklah!” ucap Genda Rukyoh lagi.


“Mpong!” sahut Rogoh Wetan.


“Setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, kuasailah!”


“Mpong!”


“Setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, bangkitkanlah!” ucap Genda Rukyoh lebih berteriak dengan suara yang serak.


“Mpong!”


Genda Rukyoh lalu meraih kendi birunya. Air kendi yang berwarna kuning dan berbau pesing menyengat, dituangkan ke nampan yang membanjiri kaum semut rangrang. Namun, airnya tidak banyak, tidak membuat si semut tenggelam, tapi hanya berbecek-becek ria.


Air itu membuat pergerakan si semut jadi lambat, tidak selincah sebelumnya.


“Setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, gembiralaaah!” ucap Genda Rukyoh lagi.


“Mpong!” sahut Rogoh Wetan lebih keras dan bersemangat.


“Berpestalaaah!”


“Mpong!”


“Minumlah air suci perawan ini!”


“Mpong!”


“Manis, manis, manis sekali rasanya!”


“Mpong!”


“Wahai setan bulu-bulu dari Negeri Seribu Gelap, berpestalah!”


“Mpong!”

__ADS_1


Mantera-mantera itulah yang diucapkan berulang-ulang, apakah berurutan atau secara acak.


Pengusa Jiwa inilah yang membangkitkan Pasukan Mayat melalui ritual itu. Salah satu syarat utama ritualnya adalah tempatnya harus dikelilingi pohon pisang dan lokasinya tidak terlalu jauh dari mayat-mayat yang ingin dihidupkan.


Jika ada mayat hidup yang dipenggal kepalanya, maka satu ekor semut akan copot kepalanya dengan sendirinya. Namun, badannya masih bisa berjalan tanpa kepala. Jika ada yang dipotong kaki atau tangannya, maka ada semut yang tahu-tahu putus kakinya. Jika ada mayat hidup yang dibakar, maka ada semut yang tiba-tiba terbakar dengan sendirinya.


Ketika mayat-mayat hidup itu mengepung Alma Fatara di jalan kaki bukit, semut-semut itu bergerak seperti mengerumuni setetes gula, mungkin gula dari kencing manis pemilik air seni yang disiram.


Set! Tek!


“Akk!” jerit Rogoh Wetan tinggi.


Tiba-tiba dari atas langit, tepatnya dari atas pucuk pohon pisang, melesat sebatang anak panah yang tepat menancap di tengah-tengah nampan hingga tembus mengenai kaki Rogoh Wetan.


Tancapan anak panah itu membuat semua semut dan air seni perawan di nampan terlempar ke atas, bahkan menyiprati wajah kedua lelaki tersebut.


Jika Rogoh Wetan menjerit di tempat, maka Genda Rukyoh terlompat dan merapat ke batang pohon pisang. Genda Rukyoh langsung mendongak dan melihat ke pucuk pohon pisang.


Dia melihat seorang wanita berpakaian merah sedang berdiri dengan ilmu peringan tubuhnya di atas sana. Ia bahkan bisa melihat isi roknya, tapi isinya mengenakan celana panjang. Gagal dapat bonus.


“Rupanya kalian pawang mayat-mayat hidup itu!” seru wanita yang tidak lain adalah Senyumi Awan.


Dengan rusaknya ritual mereka, maka seluruh mayat hidup yang mengepung Alma Fatara di jalan kaki bukit menjadi mati kembali dengan sendirinya.


“Matilah kalian Penguasa Jiwa!” seru Senyumi Awan sambil hendak memanah lagi.


Wuss!


Arrk!


Sliiit!


Tiba-tiba dari sela dua kedebong pisang muncul ular hitam besar yang langsung mencaplok kepala Rogoh Wetan dan melilit kuat tubuhnya. Hal itu membuat Rogoh Wetan tidak berkutik dan membuat Genda Rukyoh terkejut bukan alang kepalang.


Buru-buru Genda Rukyoh menyelinap keluar dari kurungan pohon pisang tersebut.


“Tidak ada jalan untuk lari!” kata seorang wanita cantik berpakaian putih sambil mengarahkan anak panahnya kepada Genda Rukyoh. Wanita itu adalah Jentik Melati.


Di sisi Jentik Melati berdiri pula Aren Jingga yang berpakaian jingga.


“Heaat!” teriak Genda Rukyoh sambil melemparkan tangan kanannya.


Bruss! Set set!


Dari lemparan tangan itu melesat sebola api besar. Pada saat yang sama, Jentik Melati dan Aren Jingga melesatkan anak panahnya, lalu melompat menghindari bola api yang bisa membakar mereka.


Ternyata Genda Rukyoh juga melompat dengan cepat menghindari panah jarak dekat itu, membuat kedua anak panah menancap di kedebong pisang.


Set set! Tseb tseb!


“Aaakr!” jerit Genda Rukyoh panjang saat dari arah lain melesat dua anak panah berbeda dan mengenainya saat masih di udara.


Bduk!

__ADS_1


Seiring jatuhhnya tubuh Genda Rukyoh ke tanah, muncul dua wanita cantik lainnya berpakaian warna hijau muda dan biru terang. Mereka adalah Janda Belia dan Embun Bunga. Merekalah yang menjatuhkan Genda Rukyoh dengan memanah dada dan perutnya.


Selanjutnya hadir pula Sekar Mekar yang berpakaian warna merah muda dan Yuyu Serindu yang berpakaian warna kuning.


“Tidak ada kata ampun bagi perusak ketenteraman kehidupan orang mati,” kata Yuyu Serindu lalu dengan mudahnya memanah Genda Rukyoh di dada, tepat di bagian jantung.


“Akk!” jerit Genda Rukyoh untuk yang terakhir kalinya.


Penguasa Jiwa memang sakti untuk bidang pawang mayat dan ilmu teluh, tetapi mereka tidak sakti jika disuruh bertarung secara pendekar. Karenanya, mudah bagi para wanita pemanah itu membunuh Rogoh Wetan dan Genda Rukyoh, terlebih jumlah mereka banyak dan ditambah oleh Mbah Hitam.


Terlihat ular siluman Mbah Hitam merayap keluar dari dalam pohon pisang. Setelah merayap lenggang kangkung di depan para wanita cantik itu, ular Mbah Hitam lenyap begitu saja, tanpa mengejutkan para dewi tersebut.


“Beri tanda kepada yang lainnya agar berkumpul di kaki bukit!” perintah Senyumi Awan yang juga sudah hadir.


Sekar Mekar lalu memanah tanpa anak panah, hanya senar busur yang ditarik.


Ses! Ctar!


Namun, ketika senar busur dilepas, ternyata ada bola sinar jingga yang melesat naik ke langit. Pada puncak tertinggi lesatannya, bola sinar itu meledak nyaring.


Setelah itu, Senyumi Awan dan rekan-rekannya berkelebat pergi ke satu arah. Mereka menuju ke jalan kaki bukit untuk berkumpul kembali.


Di kaki bukit, selain mereka melihat banjir mayat-mayat yang termutilasi, mereka juga melihat sejumlah personel Pasukan Pedang Biru yang tidak bisa ke mana-mana karena luka mereka.


Ternyata, di sana telah berkumpul Panglima Tampang Garang dan tiga rekan mereka yang lain, yakni Serintik, Bening Hati dan Bayu Semilir.


“Kalian sudah menemukan pawang mayat itu?” tanya Tampang Garang.


“Kami dan Mbah Hitam sudah membunuh dua orang pawang mayatnya,” jawab Senyumi Awan sembari tersenyum manis kepada panglimanya yang tampannya seorang diri.


Sebagian dari mereka sudah menaiki kuda masing-masing yang ditambatkan.


“Ketua, bagaimana dengan orang-orang yang terluka itu? Kasihan mereka,” ujar Bening Hati, wanita yang berpakaian abu-abu.


“Serintik, apakah kau masih memiliki obat pereda rasa sakit?” tanya Senyumi Awan.


“Masih, Ketua,” jawab Serintik, wanita yang berpakaian warna ungu.


“Berikan saja kepada mereka yang terluka!” perintah Senyumi Awan.


“Baik, Ketua!” ucap Serintik patuh.


“Bening Hati, temani Serintik. Setelah itu, susul kami mengejar pasukan!” perintah Senyumi Awan.


“Baik, Ketua!” ucap Bening Hati patuh.


“Ayo kita berangkat!” seru Tampang Garang yang sudah duduk di atas kudanya.


“Hea hea!” gebah mereka terhadap kuda-kudanya.


Sembilan dari Pasukan Sayap Panah Pelangi meninggalkan dua rekannya yang sedang melakukan amal sosial.


Tidak berapa lama setelah meninggalkan kaki bukit tersebut, mereka menghentikan kuda-kudanya. Mereka melihat tiga dari anggota Lima Pembunuh Gelap sedang mengucapkan janji suci kepada Ratu Siluman. (RH)

__ADS_1


__ADS_2