Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 8: Gangguan Misterius


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Demang Mahasugi benar-benar menuruti permintaan putranya yang bernama Golono. Dua kereta kuda, tiga puluh orang prajurit kademangan dan dua puluh centeng non prajurit, semua permintaan Golono itu dipenuhi. Satu kereta dinaiki oleh Golono yang didampingi dua orang centeng pendekar. Satu kereta kuda lainnya diisi dengan beberapa peti berisi harta benda.


Semua prajurit dan centeng membawa obor, sehingga rombongan itu terlihat sangat semarak, seperti pawai obor di malam takbiran.


Jika Lolongo suka bertindak tanpa memikirkan akibatnya, maka Golono, keinginannya harus segera diwujudkan dan harus terwujud.


Seperti keinginannya untuk meminang Ineng Santi, harus terwujud secepatnya tanpa mau menunda waktu. Padahal ayahnya sudah mengingatkan bahwa jika berangkat sore, maka jelas Golono dan rombongan akan kemalaman.


Akhirnya terbukti, Golono dan rombongannya harus berhenti, membuat pemuda tampan yang sudah tampil seperti seorang pengantin pria itu marah-marah dan uring-uringan.


“Apakah kalian tidak bisa memperbaiki jembatan gantung itu malam ini juga?!” tanya Golono dengan membentak.


“Bisa, Kang Aden, tapi akan memakan waktu yang lama. Selain gelap, kita juga kekurangan papan dan tali,” jawab pimpinan prajurit yang bersama dengan kedua rekannya yang sama-sama membawa obor. Namanya Wulung.


Plak! Plak! Plak!


Golono menampar ketiga prajurit itu satu per satu. Ketiga prajurit itu hanya terdiam dengan wajah memerah di dalam gelap.


“Kalian ada tiga puluh orang, ada centeng dua puluh orang. Apakah kalian tidak bisa membuat tali dari kulit kayu atau membuat papan dengan pedang dan golok kalian? Jika kalian tidak melakukannya, kita tidak akan pernah menyeberang. Jika kalian melakukannya menunggu pagi, semakin hilang gantengku karena terlalu lama menunggu!” teriak Golono marah-marah.


“Baik, Kang Aden. Akan kami kerjakan sekarang juga!” kata Wulung.


“Aku ingin jembatan itu bisa dilewati malam ini juga!” tegas Golono.


“Baik, Kang Aden!” sahut Wulung. Ia terpaksa mengiyakan saja, meski rasanya mustahil bisa memperbaiki jembatan di atas sungai hingga sebelum pagi.


Ketiga prajurit itu segera berbalik dan pergi menuju kepada rombongannya yang sedang beristirahat.


Wulung lalu memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit anak buahnya. Setelah itu, Wulung juga beralih kepada pemimpin centeng agar bisa bekerja sama.


Pada akhirnya, sebanyak lima puluh orang itu berbagi tugas lalu mulai bekerja malam. Ada yang menebang pohon, ada yang menguliti batang pohon yang kulitnya bisa dibuat tali, ada yang hanya mengobori, dan ada yang bekerja di jembatan gantung yang rusak.


Di jembatan yang di bawahnya mengalir sungai besar, sejumlah orang bekerja dengan posisi yang cukup rumit. Selain ada yang bekerja berusaha memperbaiki, harus ada yang juga menerangi.


“Kenapa kereta kudanya tidak ditinggal saja, petinya bisa dipanggul lalu menyeberang satu per satu?” gerutu prajurit yang memegangi obor untuk rekannya.


“Kang Aden Golono itu sama saja dengan Kang Aden Lolongo, pikirannya tidak pernah jernih. Kalau dia maunya minum pakai daun, ya harus pakai daun, walaupun ada gelas di tangannya,” kata prajurit yang duduk di satu bilah papan yang masih utuh terikat pada kedua sisinya. Ia bekerja mengurai simpul tambang agar nanti bisa digunakan lagi untuk mengikat papan yang baru.


Jembatan gantung itu memiliki ketinggian yang dekat dengan permukaan aliran air sungai. Diperkirakan, kerusakan yang dialami jembatan itu disebabkan oleh arus air sungai ketika meluap di kala musim penghujan.


Sebenarnya ada jalan bagus yang bisa dilalui oleh Golono dan rombongan untuk ke Bukit Selubung, tetapi jalannya harus memutar. Namun, Golono tetap ingin jalan yang terdekat, meski pada akhirnya waktu yang ditempuh justru lebih lama jalan yang terdekat.


Plok! Plung!


“Janda basi!” pekik prajurit itu memaki terkejut, ketika tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh mengenai dadanya, lalu jatuh ke air sungai.


“Apa itu, Kang?” tanya rekannya yang memegang obor.


“Ada apa, ada apa?” tanya prajurit lain yang bekerja agak ke tengah jembatan papan bertali itu.

__ADS_1


“Ikan,” jawab prajurit yang tadi terkena sesuatu itu.


“Oooh!” desah rekan-rekannya.


“Itu pasti ikan buruan pemerintah yang berusaha kabur ke luar dari sungai. Hahaha!” kata salah satu prajurit lalu tertawa, mengencerkan suasana.


“Ah sudah, sudah, jangan banyak tertawa, nanti dimarahi oleh Kang Aden Golono!” kata yang lain mengingatkan.


Plok!


“Perawan apek!” maki prajurit itu lagi tiba-tiba, saat seekor ikan jatuh kepadanya.


Ikan itu juga mengenai dada si prajurit. Namun kali ini, ikan itu tidak jatuh ke air, tetapi tertahan di papan jembatan, sehingga prajurit itu bisa melihat dengan jelas ikannya yang sebesar telapak tangan.


“Apa lagi, Mong?” tanya rekannya yang di tengah.


“Ikan!” sahut prajurit yang disebut “Mong” alias Cemong.


“Langsung bakar saja!” teriak yang lain.


Tiba-tiba ikan yang menggelepar di atas papan, tepat di depan Cemong, bergerak sendiri naik melayang di udara.


Mendeliklah Cemong dan rekannya yang memegang obor.


“Ja-ja-janda be-be-beser!” ucap Cemong tergagap karena gemetar ketakutan.


“Ada apa lagi, Mong?” tanya rekannya yang ada di tengah.


“Ikannya kenapa?” tanya prajurit yang di tengah.


“I-i-ikannya melayang sendiriii!” teriak Cemong yang akhirnya berhasil berbicara tuntas, meski tergagap.


Buru-buru Cemong bangun berdiri sambil berpegangan pada tali jembatan, karena kakinya gemetar. Sementara rekannya yang memegang obor sudah lari duluan.


Plok!


Ikan yang bisa melayang sendiri itu mendadak melesat menyerang wajah Cemong, lalu jatuh ke air.


“Aaa …!” jerit kencang Cemong tanpa bisa melangkahkan kakinya. Ia benar-benar ketakutan, bahkan mengangkat untuk melangkah pun tidak bisa. “To-to-toloool! Eh, to-to-toloong!”


Melihat Cemong bertingkah seperti itu, rekan-rekan mereka yang lain jadi tegang memandang kepada Cemong, lalu saling pandang.


“Dedemit penunggu sungainya marah!” teriak salah seorang prajurit menyimpulkan.


Kian terkejutlah mereka semua.


“Ayo! Cepat tinggalkan jembatan ini!” teriak yang lain pula.


“Cepat, cepat!”


“Yo ayyo!”


“Buruan!”

__ADS_1


“Hati-hati jatuh! Pegangan!”


“Itu Cemong, tarik saja, jangan didorong, nanti jatuh!”


Ramailah para prajurit itu saling berteriak kepada rekan-rekannya. Mereka bergerak buru-buru di atas jembatan yang banyak kerusakan, membuat jembatan itu bergoyang dang dut. Jika hanya untuk dilalui manusia, jembatan itu masih bisa dilalui dengan syarat kehati-hatian.


Banyak dari prajurit itu harus melewati posisi Cemong. Ketika melewatinya, perasaan takut itu lebih banyak porsinya. Tidak lupa mereka menolong Cemong yang terpaku, bukan terpaku karena terpesona oleh kecantikan si ikan, tetapi terpaku karena sawan.


Jbuar!


Belum lagi mereka benar-benar meninggalkan jembatan itu, tiba-tiba terdengar suara keras di dalam air sungai yang gelap. Suara gerakan besar di air sungai itu kian mengejutkan mereka dan juga kian membuat mereka takut.


“Suara apa itu?” tanya seorang prajurit yang kian membuat tegang.


“Itu dedemit sungai yang marah!” teriak prajurit lain menyimpulkan.


“Lariii!” teriak yang lain.


Maka para prajurit yang sudah berada di tanah, lari terbirit-birit menjauhi sungai. Sedangkan mereka yang masih berada di atas jembatan, buru-buru berusaha mencapai tanah.


Brak!


Tiba-tiba Cemong yang bergerak di atas jembatan terperosok jatuh karena papan yang diinjaknya lepas dari ikatan talinya.


“Aaak!” jerit Cemong, tapi satu tangannya berpegangan kuat pada tali besar jembatan, sementara kedua kakinya masuk ke dalam air sungai.


“Cemooong!” teriak rekan-rekannya terkejut.


Ketika dua orang prajurit yang masih sama-sama di jembatan hendak menolong Cemong, tiba-tiba ….


Tap!


Satu tangan tiba-tiba muncul dari dalam air yang gelap dan mencengkeram paha kanan Cemong yang berada di luar air. Untung tangan itu tidak naik lebih tinggi.


“Aaa …!” jerit Cemong kencang dan panjang seolah tidak mau putus.


Prajurit yang lain pun terkejut dan bisa melihat tangan yang memegangi paha Cemong yang meronta-ronta.


Jbur!


Tangan itu menarik kencang kaki yang dipegangnya, memaksa tubuh Cemong tertarik jatuh ke dalam air. Prajurit itu langsung tenggelam dan tidak muncul-muncul lagi.


“Lariii! Dedemit sungai ngamuuuk!” teriak prajurit yang masih ada di tempat itu.


Mereka lari tunggang langgang sampai-sampai jembatan itu kosong.


“Hahahak …!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan tapi terbahak-bahak seperti bapak-bapak. Sumber suara tawa itu sangat jelas berasal dari sungai. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.

__ADS_1


__ADS_2