Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 17: Pengkhianatan Puding


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


Nenek berwajah hitam kelam yang menyelimuti tubuhnya dengan kain hitam, sudah lama kebingungan melihat tebing-tebing batu di sekelilingnya. Entah sudah berapa hari ia seolah terjebak di tengah-tengah tebing batu yang tingginya tidak begitu menjulang.


Tebing-tebing batu itu lebih cenderung kumpulan bukit batu yang posisinya bertumpuk sehingga seperti labirin. Sudah berulang kali nenek bertongkat bambu hijau itu berusaha keluar dari tempat tersebut, tetapi ujung-ujungnya kembali pada titik yang sama seperti semula.


Wanita tua berwajah hitam kelam itu tidak lain adalah Wulan Kencana atau Nenek Muka Kelam.


“Mengapa ada tempat serumit ini?!” teriak Wulan Kencana frustasi, tapi belum sampai ke tahap mau bunuh diri.


Namun, di saat berdiri diam bingung berpikir, tiba-tiba dari balik tebing muncul berjalan seorang anak kecil.


“Eh, kenapa ada anak kecil di tempat ini?” tanya Wulan Kencana kepada dirinya sendiri.


Ia menatap serius kepada anak kecil berbaju biru gelap itu.


“Sialan! Itu bukan anak kecil, itu orang kerdil berkumis!” maki Wulan Kencana saat anak kecil tadi semakin dekat jaraknya.


Orang yang datang memang berbadan pendek, tetapi dia bukan anak kecil. Terutama terlihat dari kumisnya yang tebal. Orang itu adalah seorang katai berwajah dewasa.


“Ah, siapa kau, Nenek Bermuka Hitam?” Justru lelaki cebol itu yang lebih dulu bertanya kepada Wulan Kencana.


“Aku Nenek Muka Kelam,” jawab Wulan Kencana.


“Nenek Muka Kelam yang bernama asli Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas,” terka si cebol yakin.


Terkesiap Wulan Kencana mendengar terkaan si cebol.


“Siapa kau?” tanya Wulan Kencana dengan sedikit membentak.


“Hahaha!” tawa si lelaki cebol santai. “Namaku Puding. Aku anggota Tikus Belukar. Aku tahu kau dari cerita Yono. Sudah aku terka kau akan kebingungan di sini. Jika kau sudah kebingungan seperti ini, itu pertanda kau akan berbulan-bulan berada di Gerbang Raja ini jika tidak dibantu.”


“Yono tidak bisa mengantarku sampai masuk ke Gerbang Raja ini. Kenapa kau bisa masuk?” tanya Wulan Kencana.


“Aku melanggar aturan demi menemuimu, Nek,” jawab Puding dengan gaya santainya.


“Apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah tidak memiliki apa-apa untuk membayar,” tanya Wulan Kencana.

__ADS_1


“Jika Ketua Tikus Belukar tahu aku telah melanggar aturan, aku pasti akan diusir dari kelompokku. Namun, itu aku pertaruhkan untuk satu harga yang jauh lebih memadai. Bagaimana, Nek?” ujar Puding.


“Katakan apa yang kau rencanakan terhadapku!” perintah Wulan Kencana.


“Aku harus memastikan lebih dulu kepadamu, Nek. Apakah kau akan membayar dan memenuhi semua keinginanku?" tanya Puding.


“Katakan lebih dulu yang ingin kau tawarkan dan yang kau minta!” tanya Wulan Kencana.


“Aku menawarkan membantumu cepat menemukan apa yang kau inginkan dan membawamu keluar secepatnya. Sebagai bayarannya, kau akan membawaku dan memenuhiku dengan harta dan wanita. Bagaimana?” ujar Puding.


“Maksudmu kau ingin aku mengabdi kepadamu, hah?!” bentak Wulan Kencana marah.


“Bukan itu maksudku. Karena kau tidak memiliki alat bayar saat ini, jadi kau berutang banyak kepadaku. Jadi aku mengikutimu untuk mendapatkan bayaran itu,” tandas Puding.


“Apakah kau tahu berurusan dengan siapa?” bentak Wulan Kencana.


“Aku hanya menawarkan perkara yang sama-sama menguntungkan. Namun, jika kau ingin berjuang sendiri, aku akan keluar lagi dari Gerbang Raja ini,” kata Puding santai.


“Baik. Jika aku setuju berutang harta dan wanita kepadamu, lalu apa yang akan kau lakukan untuk membantuku?”


“Baik, aku setuju!” jawab Wulan Kencana.


“Ingat, aku memegang janjimu, Nek!” tandas Puding.


“Kau bisa memegang janjiku. Aku tidak akan mencelakai orang yang berjasa kepadaku,” tandas Wulan Kencana. “Sekarang keluarkan aku dari jebakan ini!”


“Baiklah. Ikuti aku!” kata Puding.


Lelaki cebol itu lalu berbalik dan berjalan pergi. Wulan Kencana pun mengikuti dengan langkah tertatih.


“Apakah anggota Tikus Belukar dilarang masuk ke Gerbang Raja ini?” tanya Wulan Kencana.


“Karena kami bisa tahu dengan mudah semua jalan di semua gerbang, jadi kami bisa dengan mudah mengambil senjata apa saja di Istana Pusaka, tinggal meniatkannya saja. Karena hal itu, Tikus Belukar telah membuat kesepakatan dengan Candi Alam Digdaya ini. Semua anggota Tikus Belukar dilarang masuk ke Gerbang Raja dan dilarang mengambil pusaka di Istana Pusaka. Jika hanya sekedar masuk seperti ini, hukumannya hanya dikeluarkan dari Tikus Belukar, tapi jika sampai mengambil pusaka di Istana Pusaka, hukumannya bisa mati,” jelas Puding.


“Kenapa kau mau berkhianat kepada Tikus Belukar?” tanya Wulan Kencana lagi.


“Aku sangat suka dengan wanita, tetapi wanita mana yang suka dengan lelaki cebol sepertiku. Dengan cara seperti ini, aku bisa mendapatkan wanita normal yang cantik. Hahaha!” jawab Puding.

__ADS_1


“Apakah burungmu cukup perkasa berhubungan dengan wanita normal?” tanya Wulan Kencana.


“Hahaha! Itu bisa diatur, Nek,” jawab Puding enteng.


Wulan Kencana terus mengikuti Puding. Sesekali mereka mengobrol ringan.


“Lihat di sana, Nek!” tunjuk Puding ke arah sebuah tebing batu tinggi.


Puding menunjuk ke arah bawah tebing, Di sana ada sebuah pintu besar berwarna perak dengan bingkai berwarna hitam. Pintu raksasa pada bagian bawah tebing itu menyatu pada dinding batu.


“Itu adalah pintu masuk ke Istana Pusaka,” kata Puding.


“Sialan! Kenapa kau begitu mudah menemukan tempat itu?” rutuk Wulan Kencana.


“Hahaha! Sebenarnya, semua tempat yang ada di Gerbang Raja posisinya sangat dekat dengan Istana Pusaka, tetapi jalan untuk menuju ke gerbang Istana Pusaka memang tersembunyi. Kau sendiri tidak merasa telah keluar dari jalan tebing yang menyesatkan,” kata Puding.


Singkat waktu, akhirnya mereka tiba di depan pintu perak. Keduanya sampai mendongak untuk melihat puncak daun pintu yang berlapis logam. Entah siapa yang memiliki kemampuan bisa membuat pintu sehebat itu.


“Lewat sini, Nek!” ajak Puding.


Ternyata lelaki cebol itu sedang mengais tanah pasir di depan pintu besar itu.


“Kau dorong dengan tenaga sakti sebesar apa pun, pintu itu tidak akan terbuka,” kata Puding lagi.


Kini, di depan Puding telah ada sebuah lubang setelah dia membuka sebuah pintu papan yang sebelumnya tertutup oleh pasir. Di dalam lubang itu ada tangga menuju ke bawah.


Puding masuk lebih dulu.


“Jangan lupa kau tutup pintunya, Nek,” kata Puding.


Keduanya lalu turun ke bawah. Di dasar, mereka kemudian menyusuri sebuah lorong besar nan gelap tanpa penerangan.


Keduanya terus berjalan.


“Sebenarnya apa yang ingin kau cari, Nek?” tanya Puding.


“Obat dan Jarum Kesaktian,” jawab Wulan Kencana. (RH)

__ADS_1


__ADS_2