
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Tak tak tak …!
Suara peraduan dua batang tongkat sudah menjadi irama utama dalam pertarungan di atas panggung arena.
Pertarungan yang berlangsung adalah antara Degan Carik dari Perguruan Tongkat Putih melawan Gumbara yang lebih senior, murid dari Pengemis Tongkat Celaka.
Meski ada perbedaan umur, tetapi sejak awal hingga kini, pertarungan berlangsung cukup imbang.
“Gumbara! Kenapa kau belum memainkan jurus Tongkat Banjir Bencana? Aku bertaruh banyak untukmu!” teriak seorang penonton yang rupanya tahu banyak tentang sosok Gumbara.
Gumbara yang baru saja menangkis babatan tongkat rotan putih Degan Carik, jadi melirik penonton yang berteriak itu, yang adalah seorang putra pejabat kadipaten. Teriakan pemuda itu ternyata mengusik pendengaran Gumbara.
“Keluarkan saja, Gumbara! Maka kau akan kalah!” teriak Degan Carik yang justru memanasi Gumbara.
“Diam kau!” bentak Gumbara sambil maju memukul-mukulkan kedua ujung tongkatnya bergantian menyerang Degan Carik.
Tak tak tak!
Dengan kokoh Degan Carik menangkis agresi gebukan tongkat lawannya dengan tongkat pula.
Wuuut!
Degan Carik membalas dengan gerakan tongkat memutar yang mengincar kepala Gumbara. Gumbara menghindar dengan membungkuk sambil ia babatkan tongkatnya ke kaki lawan. Namun, Degan Carik tetap lincah dengan menghindarkan sepasang kakinya naik ke udara.
Buk! Bdak!
Di saat Degan Carik lepas pijakan, Gumbara cepat ambil kesempatan menghantamkan bahunya ke badan depan Degan Carik, mendorong pemuda itu terlempar jatuh terjengkang di pinggir arena.
“Yeee!” teriak para penonton yang ternyata banyak menjagokan Gumbara.
Gumbara cepat melanjutkan serangannya tanpa jeda. Namun, kali ini dia datang menyerang dengan dua kaki yang begitu keras, sementara tongkat ia posisikan di belakang.
Degan Carik yang jatuh buru-buru bangkit dan fokus kepada serangan kaki Gumbara. Hasilnya, dia bergerak dalam keterdesakan menghindari tendangan Gumbara.
Beg!
“Hukh!” keluh Degan Carik, ketika tongkat Gumbara yang luput dari kewaspadaannya datang begitu kencang menghajar lambung kirinya, di saat ia menghindari tendangan lawan.
Tubuh Degan Carik terlempar dan jatuh meringkuk di tengah-tengah penonton yang cepat menyebar, membiarkan pemuda itu jatuh di tanah berair lumpur.
__ADS_1
“Nah! Seperti itu, Gumbara! Aku menaaang!” teriak pemuda putra pejabat kadipaten yang bertaruh untuk kemenangan Gumbara.
Sambil tertawa, anak pejabat itu lalu merampas kantong-kantong uang beberapa temannya yang ia ajak bertaruh.
“Aku menang, aku menang!” teriak petaruh lain dengan senang.
“Bangkai! Besok-besok aku tidak akan bertaruh untuk murid Perguruan Tongkat Putih!” sesal petaruh yang lain.
“Habis uangku,” keluh petaruh lain sedih.
“Uang buat kawinku habis,” ucap pemuda lain.
Seorang lelaki berpakaian hitam bagus dengan tangan kiri membawa payung, berkelebat di udara lalu mendarat di tengah arena. Orang yang bernama Agung Rupo itupun langsung berteriak.
“Pemenangnya adalah Gumbara, murid Pengemis Tongkat Celakaaa!” teriak Agung Rupo sambil menunjuk Gumbara lalu menunjuk seseorang di puncak tribun.
“Hiaaah! Hahaha!” teriak Gumbara jumawa sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkatnya.
Sementara di puncak podium, seorang pendekar tua bergaya pengemis dan bertongkat, berdiri sambil melambaikan tangan kanannya. Senyumnya mekar begitu lebar kepada para penonton yang bertepuk tangan dengan semarak.
“Pengemis Tongkat Celaka hebat! Pengemis Tongkat Celaka hebat!” teriak warga berulang mengelu-elukan sang guru.
Terlihat tiga pendekar tongkat lainnya yang duduk satu baris kursi dengan Pengemis Tongkat Celaka, menunjukkan lirikan sinis dan senyum meremehkan.
Di ajang Pertandingan Jagoan Tongkat ini, guru dari pemenang setiap pertarungan duel selalu ditonjolkan dan dielu-elukan oleh para penonton.
Selain murid-murid dari keempat guru itu, pendekar tongkat lain boleh ikut serta dalam pertandingan. Para peserta pertandingan tongkat sudah terdaftar dan hari ini merupakan hari keempat konpetisi.
“Para pendekar sekalian, para penonton warga Kadipaten Garuput, pertandingan berikutnya akan sedikit ditunda, tapi tidak akan lama, karena itu jangan ke mana-mana!” teriak Agung Rupo.
Pengumuman itu seketika membuat para penonton dan para pendekar peserta jadi saling pandang dan bertanya-tanya.
“Tenaaang, tenaaang! Pertarungan dahsyat sebentar lagi akan digelar sebagai hiburan, jadi jangan ke mana-mana!” teriak Agung Rupo.
Saat itu, hujan telah reda, tinggal tersisa gerimis yang sangat halus.
Di atas tribun terlihat ada pergerakan.
Komandan Pasukan Keamanan Kadipaten yang bernama Gegap Rawu bergerak menuruni tangga tribun. Setibanya di tanah becek, dua barisan prajurit segera bergerak dan menyatu di belakangnya sebagai pengawal.
Adipati Dodo Ladoyo dan para tokoh di atas tribun terus memandang pergerakan Komandan Gegap Rawu dan pasukannya yang berjumlah dua puluh prajurit.
Para pendekar dan warga pun memusatkan perhatian mereka pada pergerakan Pasukan Keamanan Kadipaten itu.
__ADS_1
Ternyata, Gegap Rawu dan pasukannya menuju ke kedai makan tempat Alma Fatara dan rombongan sedang bersantap.
“Ada pasukan kadipaten datang,” kata Cucum Mili kepada Alma sambil memandang ke luar.
Alma Fatara melirik sejenak, lalu kembali menyuap.
“Mungkin ada yang menginginkan Bola Hitam,” kata Alma dengan tenang.
Gegap Rawu dan enam prajurit masuk ke dalam kedai. Sementara prajurit lainnya menunggu di luar.
Kedatangan sang komandan dan prajuritnya jelas menarik perhatian Mbah Hitam dan yang lainnya. Para pelayan pun tidak datang menyambut Gegap Rawu, karena mereka tahu bahwa para prajurit itu datang bukan untuk makan.
“Siapa pemimpin kalian?” tanya Gegap Rawu agak membentak.
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili keras.
“Kurang sopan!” bentak Iwak Ngasin dkk dengan nada tidak kalah keras dari Cucum Mili.
Bentakan itu ternyata bisa membuat Gegap Rawu dan anak buahnya mundur setindak karena terkejut.
“Hahahak!” tawa Alma seorang diri, memperlihatkan gigi ompongnya.
“Beraninya kau bertanya di depan Gusti Ratu tanpa memperkenalkan diri kau siapa dan diutus oleh siapa?!” bentak Cucum Mili dengan sepasang mata mendelik kepada Gegap Rawu.
Kian melebar lingkar mata Gegap Rawu mendengar ada “Gusti Ratu” disebut. Seketika itu juga ia merasa posisinya bakal celaka.
“E… itu. Hamba adalah Komandan Pasukan Keamanan Kadipaten. Nama hamba Gegap Rawu,” ucap Gegap Rawu yang mentalnya telah jatuh menjadi pecundang. Warna mukanya memang menunjukkan rasa takut.
“Siapa yang mengutusmu?! Suruh datang menghadap sendiri kepada Gusti Ratu. Jika Gusti Ratu yang datang, jangan berpikir untuk bisa melihat hujan turun lagi!” bentak Cucum Mili benar-benar galak.
“Hamba … hamba diutus Gusti Adipati,” jawab Gegap Rawu tergagap dan suaranya bergetar.
“Pergi sana!” perintah Cucum Mili.
“Ba-baik, Gusti Ratu!” ucap Gegap Rawu sambil buru-buru menjura hormat. Ia lalu berjalan mundur dalam posisi tetap menjura hormat, yang diikuti oleh keenam prajurit anak buahnya yang bersikap sama.
Komandan Gegap Rawu terpaksa kembali ke alun-alun dengan formasi yang sama ketika dia pergi. Hal itu membuat Adipati Dodo Ladoyo kerutkan kening, demikian pula para guru tongkat.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekannya.
“Berani-beraninya bersikap kurang ajar kepada calon ratu Kerajaan Singayam!” gerutu Cucum Mili.
“Siapa calon ratu Kerajaan Singayam yang Kakak Putri maksud?” tanya Alma.
__ADS_1
“Aku.”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lagi. (RH)