
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Dua tahun lalu, ketika Alma Fatara bersama Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara mengawal Ratu Warna Mekararum untuk pergi berobat, mereka tiba di Kademangan Dulangwesi.
Di tengah jalan Kademangan, mereka terhadang oleh satu pertarungan dua pihak yang satu pun tidak mereka kenal.
Sekitar dua puluh orang lelaki berpedang berseragam cokelat dan bertopeng kain cokelat, menyergap sebuah kereta kuda terbuka yang dikawal oleh dua orang pendekar berkuda. Orang yang duduk di kereta kuda adalah penguasa Kademangan Dulangwesi, yaitu Demang Baremowo. Dua orang pendekar yang mengawalnya dikenal dengan nama Dua Golok Setia.
Sementara kelompok berpedang dipimpin oleh seorang pendekar sakti bernama Jejak Langit, bersenjata pedang besar, panjang, dan berat. Jejak Langit berambut gondrong dan menutupi wajah bawahnya dengan kain cokelat.
Singkat cerita, dalam pengeroyokan itu, pendekar Dua Golok Setia yang masing-masing bersenjata golok pusaka berwarna biru, harus tewas. Tersisalah Demang Baremowo yang dikeroyok habis-habisan.
“Yaaah, cucur lagi!” ucap Ayu Wicara dari punggung kudanya. Ia kecewa saat melihat pendekar kedua dari Dua Golok Setia gugur.
“Gugur, bukan kue cucur, Ayu! Hahaha!” ralat Alma Fatara, lalu tertawa bersama rekan-rekannya yang menjadi penonton setia.
Tawa mereka itu jelas menjadi perhatian para lelaki bertopeng yang sudah membunuh Dua Golok Setia. Perhatian Jejak Langit pun terarah kepada rombongan berkuda itu, terutama kepada Alma Fatara yang tawanya paling khas warnanya.
Alma Fatara dan rekan-rekannya hanya menonton. Mereka tidak mau ikut campur dalam urusan dua pihak yang mereka tidak kenal seorang pun, terlebih mereka tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat, serta apa perkaranya. Jika ada yang mati, itu bukan menjadi urusan mereka. Alma dan yang lainnya hanya ingin lewat.
Tinggal Demang Baremowo yang masih bertahan, itupun sepertinya tidak akan lama lagi. Sebab, Demang saat itu terkena dua sabetan pedang.
Set! Set!
“Akk!” jerit tertahan Demang Baremowo saat dua pedang menyayat betis dan punggungnya.
Blaam!
Sebelum ada lebih banyak serangan yang bersarang di tubuhnya, Demang Baremowo menghentakkan kedua lengannya, menciptakan ledakan tenaga saktinya. Satu gelombang tenaga yang kuat melesat ke segala arah, menjengkangkan sejumlah lelaki bertopeng.
Lima orang lelaki bertopeng lain yang tidak terkena gelombang, segera melompat maju lalu berhenti dalam satu baris. Mereka berlima bertangan kosong menghadap kepada Demang Baremowo yang sudah berdarah-darah. Mereka berlima melakukan gerakan tangan bertenaga dalam.
Demang pun bersiap menghadapi segala serangan. Dengan wajah meringis, ia pun melakukan gerakan tangan bertenaga dalam.
“Wah, mau anu ilmu!” pekik Ayu Wicara tegang.
“Hahahak!” tawa Alma dan ketiga rekan lelakinya mendengar perkataan Ayu Wicara.
Sementara Ayu Wicara hanya memandang heran kepada rekan-rekannya yang tertawa. Menurutnya, ia sudah bicara benar, tidak salah. Kenapa rekan-rekannya tertawa? Sementara Ratu Warna Mekararum yang terbaring di bak pedati hanya diam mendengar kegilaan para anak muda itu.
Tawa Alma dan kawan-kawan benar-benar mengganggu suasana tegang itu.
“Hei! Berhenti tertawa!” hardik seorang lelaki bertopeng sambil menunjukkan pedangnya ke arah rombongan Alma.
Ternyata itu manjur untuk menghentikan tawa Alma, Magar Kepang, Debur Angkara, dan Garam Sakti. Alma benar-benar berhenti tertawa, tetapi keheningan yang tiba-tiba justru menjadi lucu baginya. Tawanya yang ditahan berubah jadi cekikikan seperti tawa Si Manis Jembatan Anton.
“Hihihik!”
“Jika masih tertawa, ….”
__ADS_1
Bluar!
Kata-kata ancaman lelaki bertopeng itu terputus oleh suara ledakan tenaga sakti yang terjadi antara Demang Baremowo dengan kelima lawannya. Tenaga sakti Demang Baremowo memang lebih tinggi dari para pengeroyok itu. Namun masalahnya, kesaktian Demang harus beradu dengan ilmu para pengeroyoknya yang bersatu padu.
Detik sebelumnya, kelima lelaki bertopeng secara bersamaan menghentakkan tangan kanan, masing-masing tangan melesatkan sinar hijau sebesar buah kelengkeng kepada Demang Baremowo. Sebaliknya, Demang sendiri melesatkan seberkas sinar merah berpijar sebesar kepala kucing.
Pertemuan enam sinar itulah yang membuat kelima lelaki bertopeng terjengkang keras dan langsung muntah darah di balik kain topengnya.
Demikian pula Demang. Ia terlempar keras menabrak punggung lelaki yang sedang mengancam Alma. Akibatnya, lelaki bertopeng jatuh tersungkur ke tanah.
“Hahahak …!”
Tawa Alma dan rekan-rekannya benar-benar meledak melihat insiden tersebut. Mereka tertawa lepas, benar-benar tidak takut menjadi target bunuh, termasuk tidak memiliki rasa empati sedikit pun atas derita yang menimpa Demang Baremowo.
Sementara itu, kondisi Demang Baremowo semakin payah. Selain sudah menderita empat luka pedang, kini ia telah muntah darah akibat adu ilmu satu banding lima tadi.
Tanpa peduli dengan kebisingan di kubu Alma, sejumlah lelaki bertopeng itu cepat menyerang Demang dengan pedang. Demang yang sudah terluka parah, memilih melompat seperti kucing lalu berguling di tanah mendekati posisi rombongan Alma.
“Hei! Jangan dekat-dekat kami, Orang Utan!” seru Ayu Wicara cepat sambil menunjuk Demang Baremowo.
“Hahaha!” Kali ini yang tertawa hanya Alma seorang, sebab Magar Kepang, Ayu Wicara dan Debur Angkara terkesan panik dengan mendekatnya Demang Baremowo kepada mereka. Ketiganya segera membalikkan kudanya dan berjalan ke belakang pedati. Mereka tidak ingin pasukan berbaju cokelat itu menyerang mereka.
Menyaksikan pertarungan tadi membuat Alma dan rekan-rekannya bisa mengukur, apakah mereka bisa selamat atau tidak, jika orang-orang berpedang itu menyerang mereka. Debur Angkara dan Ayu Wicara tahu bahwa ilmu mereka masih belum selevel itu, makanya mereka segera mundur ke belakang ketika Demang Baremowo mendekati mereka dalam kondisi terluka parah. Apalagi Magar Kepang, ia hanya bermodal kuasa dan harta. Untuk urusan pertarungan, ia sama sekali bukan pilihan yang baik.
“Kisanak, Nisanak! Tolong aku!” kata Demang Baremowo sambil berjalan terhuyung menghampiri Garam Sakti di tempat sais pedati.
“Eh, menjauhlah! Kami tidak mau ikut campur dengan urusanmu, Nisanak!” hardik Garam Sakti. Dia juga tidak ingin dikeroyok oleh orang-orang bertopeng itu.
“Demang Baremowo! Jangan berharap kau akan selamat. Mereka semua juga takut mati!” kata Jejak Langit.
“Eh, Demang Baremowo? Demang yang memerintahkan membunuh Gibas Madar dan orang Perguruan Jari Hitam?” tanya Alma kepada Demang Baremowo, merujuk kepada seorang pemuda yang sebelumnya ia selamatkan di tempat lain.
Alma cukup terkejut karena baru tahu bahwa orang berpakaian hitam itu adalah orang yang sudah sering mereka dengar namanya.
“Tolong aku. Aku akan membayar berapa saja jika kau bisa menyelamatkan aku, Nisanak!” ucap Demang Baremowo yang memang sudah tidak sanggup bertarung lebih lanjut, ia sudah lemah dan terluka parah. Mulutnya penuh darah dan tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah.
“Tapi kau orang jahat!” tukas Garam Sakti.
“Aku bukan orang jahat, aku pejabat Kerajaan Singayam,” kata Demang Baremowo mencoba meyakinkan Alma.
“Jika kalian turut campur, kami tidak bertanggung jawab atas keselamatan kalian!” kata Jejak Langit datar, tetapi bernada mengancam Alma.
“Sebentar, sebentar. Aku mau tanya nenekku dulu,” kata Alma santai, ia tidak mempedulikan ancaman Jejak Langit. Alma lalu menengok kepada Warna Mekararum. “Bagaimana menurutmu, Nek?”
“Jika ada orang yang benar-benar minta tolong kepadamu, maka tolonglah. Namun, kau harus tahu dulu cerita masalahnya, jangan sampai salah menolong,” ujar Warna Mekararum.
“Baik, Nek,” ucap Alma patuh.
Atas persetujuan Ratu Warna Mekararum, Alma akhirnya turun tangan membantu dan menyelamatkan Demang Baremowo.
Itulah awal pertemuan Alma dan Demang Baremowo yang kemudian berlanjut dengan penyelamatan nyawa sang demang.
__ADS_1
Dua tahun kemudian, mereka bertemu lagi dalam situasi yang berbeda, yaitu terlibat perkara dengan kelompok Bajak Laut Kepiting Batu pimpinan Cucum Mili atau Ratu Kepiting.
Demang Baremowo dan istri mudanya yang bernama Nyi Bungkir, pergi menemui Alma Fatara setelah mereka dibebaskan dari tawanan bajak laut.
“Alma!” sebut Nyi Bungkir seraya tersenyum lebar mendatangi Alma yang berdiri tidak jauh dari ular hitam besar.
“Bibi Bungkir!” sebut Alma Fatara sambil maju dan memeluk Nyi Bungkir yang sangat cantik.
“Tidak disangka, kau muncul di saat kami kembali membutuhkan pertolongan,” kata Demang Baremowo.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa.
“Dua tahun berlalu, kau semakin cantik saja, Alma,” puji Nyi Bungkir.
“Dan aku juga semakin sakti. Hahaha!” kata Alma memuji dirinya sendiri lalu tertawa lagi.
“Bebaskan Udang Karang, Alma!” seru Mutiara Laut Hitam menyela obrolan temu kangen itu.
“Mbah Hitam, lepaskan dia!” perintah Alma kepada ular siluman bernama Mbah Hitam.
Blug!
Mbah Hitam pun melepaskan lilitan tubuhnya pada tubuh Udang Karang. Lelaki bertubuh kekar itu jatuh begitu saja ke tanah dalam kondisi lemas dan pingsan.
“Bawa Wakil Ketua ke dalam!” perintah Mutiara Laut Hitam.
Namun, tidak ada satu pun anggota bajak laut yang maju untuk mengambil tubuh Udang Karang. Mereka takut karena masih ada si ular hitam. Jika ular hitamnya mungil mungkin tidak akan jadi masalah.
“Mbah Hitam, terima kasih atas bantuanmu. Ada saatnya nanti kau bisa makan manusia!” kata Alma Fatara kepada Mbah Hitam.
“Hamba undur diri, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam tiba-tiba dengan suara kakek-kakek.
“Hah!” pekik terkejut semua anggota bajak laut.
“Ularnya bisa bicara!”
“Ularnya bunyi!”
“Ular setan!”
“Ular siluman!”
Sebut sejumlah anggota bajak laut terkejut.
Mbah Hitam lalu merayap pergi meninggalkan keramaian itu. Ketika ia lewat, para bajak laut buru-buru menjauh, seolah takut tersenggol.
Barulah beberapa anggota bajak laut bergerak untuk membawa tubuh Udang Karang. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1