Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 29: Kabur Bersama


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Ternyata wanita gila yang disebut sakti oleh Rereng Busa itu memiliki paras yang cantik di balik rambut panjangnya yang semrawut dan sebagian mulai gimbal. Bau tidak sedap sangat jelas mengganggu kenyamanan penciuman Giling Saga dan Guling Nikmat.


Meski pintu selnya sudah dibuka, tetapi masih ada belenggu yang mengikat tubuh si wanita gila.


“Pergi Setan! Pergi Setan! Babi bulukan dari kuping sampai bunting tidak lahir-lahir kena tusuk paku najis di sumur bolong banyak setaaan!” teriak si wanita gila yang kata Rereng Busa dia bernama Suraya Kencani.


Giling Saga dan Guling Nikmat hanya bisa mengerenyit kebisingan saat Suraya Kencani memaki panjang, cepat lagi kencang. 


“Nyai Suraya, biar aku bukakan rantai pada tubuhmu,” kata Guling Nikmat kepada wanita gila itu, sambil mencoba meraih rantai yang menjerat secara kusut pada tubuh Suraya Kencani.


“Jangan pegang-pegang aku dengan tangan kotormu, Setaaan!” teriak Suraya Kencani keras, membuat jantung Guling Nikmat ciut.


“Kita lepaskan dulu rantai yang di dinding,” saran Giling Saga kepada kekasihnya.


Giling Saga dan Guling Nikmat lalu bergeser ke dinding. Ternyata, sebenarnya rantai pada dinding yang menjadi ujung dari rantai pada tubuh Suraya Kencani, hanya diikat seperti tali, tidak digembok. Jika diperhatikan secara seksama, simpul itu hanya diikat secara tidak beraturan, yang jika diurai bisa dilepas secara mudah. Namun, karena dasarnya Suraya Kencani gila, jadi dia tidak mengerti cara mengurai simpul rantai itu selama ini.


Crek!


Ketika simpul ujung rantai itu berhasil diurai dan dilepas, maka lepaslah Suraya Kencani. Tinggal rantai yang melilit pada tubuhnya.


“Hihihi …!” tawa Suraya Kencani seperti lelembut malam yang bergelantungan di atas pohon randu. Sepertinya dia senang sudah bisa lepas meninggalkan sel, meski rantai ukuran sedang dan panjang masih melilit di tubuhnya.


“Nyai, biar aku lepaskan rantai di tubuhmu,” bujuk Guling Nikmat lembut.


“Hihihi …!” tawa Suraya Kencani sambil berlari keluar menarik rantai yang terurai panjang.


Jreg!


Terkejut Giling Saga dan Guling Nikmat saat Suraya Kencani yang sudah keluar sel lebih dulu menutup pintu sel, mengurung sepasang kekasih itu.


“Hihihi …!” tawa Suraya Kencani begitu girang. Setelah itu dia berlari pergi meninggalkan tempat itu. Suara rantai yang diseretnya terdengar nyaring dan berisik.


“Hah, mengejutkan saja!” ucap Giling Saga ketika bisa membuka pintu sel yang ternyata hanya tertutup tapi tidak terkunci.


“Hehehe!” kekeh Rereng Busa dari dalam sel di seberang.


“Guru, maafkan kami, kami pergi lebih dulu!” seru Giling Saga lalu menjura hormat bersama Guling Nikmat.


“Jangan sampai tertangkap,” ucap Rereng Busa enteng.


“Tidak akan, Guru!” ucap Giling Saga dengan nada bergetar karena gejolak hati yang sedih.


Sebenarnya Giling dan Guling memendam rasa sedih karena harus meninggalkan sang guru seorang diri di dalam Kamar Batu Baja itu. Namun, sudah kehendak sang guru untuk tetap tinggal.


Keduanya akhirnya berbalik dan berlari pergi meninggalkan sel paling terdalam itu. Saat berlari, Giling Saga sempat menyeka air matanya.


“Aku yakin Guru tidak akan apa-apa, Giling,” kata Guling Nikmat mencoba meyakinkan kekasihnya yang jauh lebih muda usianya.

__ADS_1


“Aku yakin, sebenarnya Guru bisa dengan mudah melepaskan dirinya sendiri. Rantai-rantai besi itu bukanlah belenggu yang bisa memasung Guru. Jangankan rantai besi, rantai baja pun Guru bisa mematahkannya dengan mudah,” kata Giling Saga sambil berlari kecil menuju ke pintu keluar.


Mereka berdua sudah tidak melihat keberadaan si wanita gila atau mendengar suara gemerincing seretan rantainya.


Ternyata hingga detik itu, tidak ada orang perguruan yang mendatangi penjara tersebut. Terlihat dua penjaga pintu depan masih tergeletak tidak tertib di lantai penjara usai makan onde-onde beracun.


Dengan mudahnya Giling Saga dan Guling Nikmat keluar dari penjara Kamar Batu Baja. Selanjutnya mereka bergerak senyap dengan pandangan aktif menyorot ke sana dan ke sini.


“Ada yang aneh, keadaan perguruan kali ini terlihat begitu lengang,” kata Guling Nikmat setelah mereka cukup jauh bergerak meninggalkan penjara.


Waktu itu memang bertepatan dengan berkumpulnya sebagian besar murid Perguruan Bulan Emas di Ruang Purnama, jadi kondisi di lingkungan perguruan cukup lengang. Hanya terlihat satu dua murid penjaga di beberapa titik.


Sesekali mereka berdua memilih berjalan santai jika jauh dari posisi penjagaan. Murid penjaga pun tidak akan mencurigai Guling Nikmat yang dianggapnya sedang berjalan bersama murid perguruan, karena saat itu Giling Saga berseragam kuning.


Tujuan dari Giling Saga dan Guling Nikmat adalah area belakang perguruan yang berudara dingin. Mereka berdua memang berencana kabur lewat air terjun yang ada di belakang perguruan.


Untuk sampai ke air terjun, mereka perlu berjalan cukup jauh. Semakin jauh ke area belakang perguruan, hawa dingin semakin menggigit.


Ketika mereka berdua sedang berlari kecil di antara tiang-tiang kayu gelondongan setinggi dua kali tinggi mereka, tiba-tiba ada yang meneriaki.


“Guling Nikmat!”


Alangkah terkejutnya Guling Nikmat selaku orang yang diteriaki namanya oleh seorang lelaki. Giling Saga dan Guling Nikmat seketika berhenti berlari dan menengok ke sumber panggilan.


Kian terkejut Guling Nikmat dan wajahnya berubah pucat. Ia mengenal pria berusia separuh abad itu. Lelaki tinggi besar itu bernama Senggawa, murid utama perguruan yang bertanggung jawab mengurus kandang dan merawat kuda-kuda perguruan.


“Mau ke mana kau, Nikmat?” tanya Senggawa curiga.


“Siapa murid yang bersamamu itu? Aku sepertinya belum pernah melihatnya sebelumnya,” tanya Senggawa curiga.


“Dia bernama Giling Sa ….”


“Jari hitam!” sebut Senggawa tiba-tiba memotong perkataan Guling Nikmat.


Terkejutlah Giling Saga dan Guling Nikmat. Giling Saga lupa menutupi kesepuluh jari-jari hitamnya.


“Kau ternyata bersekongkol dengan orang Jari Hitam, Nikmat!” tuding Senggawa marah sambil menunjuk wajah Guling Nikmat yang semakin panik.


“Lari, Nikmat!” kata Giling Saga cepat sambil menarik tangan kiri Guling Nikmat.


“Jangan lari kau, Penyusup!” teriak Senggawa sambil mencabut dua piringan yang tersemat di kedua pinggangnya.


Cekret!


“Hukh!” jerit tertahan Senggawa, sebelum ia melesatkan dua senjatanya dan setelah ia mendengar suara rantai besi yang kemudian melilit kuat lehernya.


Suara aneh itu membuat Giling Saga dan Guling Nikmat jadi berhenti berlari dan melihat apa yang terjadi di belakang.


Mereka melihat, wanita gila bernama Suraya Kencani sedang menarik kuat rantai besi yang ujungnya melilit kuat leher Senggawa.


Zerzz!

__ADS_1


Tiba-tuba dari genggaman Suraya Kencani keluar aliran sinar kuning emas seperti aliran listrik, yang menjalar sampai ke leher Senggawa. Maka tubuh Senggawa kelojotan seperti tersengat listrik dan tumbang dengan leher tetap terlilit kuat oleh ujung rantai.


Setelah jatuh, Senggawa tidak bernyawa lagi.


Mendelik Giling Saga dan Guling Nikmat melihat keganasan wanita gila itu. Mereka tidak menyangka bahwa wanita bau itu ternyata seorang pembunuh sadis.


“Hihihi …!” tawa melengking dan panjang Suraya Kencani.


Ternyata keributan itu mengundang kedatangan dua murid Bulan Emas yang sedang berada tidak jauh di tempat itu.


“Hei! Siapa kalian?!” teriak salah satu dari murid yang datang. sebelum benar-benar mengenali tiga orang yang mereka lihat.


“Kakak Seperguruan Senggawa!” sebut murid Bulan Emas satunya lagi terkejut, ketika mengenali siapa orang yang tergeletak mati dengan mata mendelik dan lidah terjulur.


“Setan-setan kuning bau kotoran sapi tidak tahu diri seperti hantu lelaki tapi lelaki berbibir merah seperti setaaan!” teriak Suraya Kencani liar kepada kedua murid Bulan Emas yang sudah memegang senjata piringan mereka.


“Ayo, cepat tinggalkan tempat ini!” kata Giling Saga kepada Guling Nikmat.


Tanpa berkata-kata lagi, Guling Nikmat cepat berlari bersama Giling Saga meninggalkan tempat itu. Suraya Kencani pun tidak mempedulikan Giling dan Guling. Ia lebih fokus kepada murid-murid Bulan Emas yang ternyata kemudian bertambah jumlahnya menjadi enam orang.


“Itu air terjunnya!” tunjuk Guling Nikmat sambil menunjuk ke sebuah jalan setapak yang menurun, dekat dengan pagar taman.


“Berhenti!” seru seorang murid Perguruan Bulan Emas yang bertugas memelihara taman.


“Jangan hiraukan. Cepat turun!” kata Giling Saga.


Melihat orang yang diteriakinya terus berlari menuju sungai besar yang mengalir di daerah belakang perguruan, murid pengurus taman itu cepat berlari mengejar. Ia belum melihat jelas wajah kedua orang yang mencurigakan itu.


Sungai besar itu mengalir deras dan dalam jarak beberapa puluh meter, air sungai itu jatuh ke bawah, yang adalah sebuah air terjun. Suara air terjun begitu keras terdengar.


“Kau sudah yakin, Nikmat?” tanya Giling Saga agak berteriak, ketika mereka sudah berdiri tepat di pinggir sungai.


“Demi cinta kita, mati bersama pun aku rela,” jawab Guling Nikmat mantap, laksana seorang pecinta sejati.


“Jangan lompat!” teriak murid Bulan Emas yang mengejar di belakang.


Set!


Dia melesatkan piringan logam miliknya.


Jbur!


Namun, sebelum piringan logam itu sampai, Giling dan Guling sudah melompat ke dalam sungai. Tubuh keduanya langsung hanyut terbawa arus menuju air terjun yang ketinggiannya tidak begitu jauh ke bawah.


Sebelum keduanya sampai ke bibir air terjun, Giling Saga terlihat berenang menggapai Guling Nikmat dan memeluknya timbul tenggelam di dalam air.


Di masa kesulitan seperti itu, Guling Nikmat merasa benar-benar menemukan kekasih yang bisa menjadi pelindung baginya. (RH)


 


 

__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2