
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Setelah saling tukar nama tanpa nomor WhatsApp, Siluman Ular Hitam dan Siluman Gagak Biru melanjutkan pembicaraan mereka.
“Beraninya kalian memanahku. Apa maksud kalian?” tanya Siluman Gagak Biru yang punya nama tongkrongan Ugel.
“Ratu Siluman ingin meminta putrimu,” ujar Mbah Hitam.
“Huh! Ratu Siluman? Hahaha! Kau mengatakan Ratu Siluman? Dia itu manusia biasa, bagaimana bisa kau menyebutnya Ratu Siluman? Dasar kau siluman bodoh!” tanya Siluman Gagap Biru meremehkan.
“Jika kau tidak mau menyerahkan putrimu, maka terpaksa Ratu Siluman akan mengambilnya secara paksa. Tentunya kau tahu apa bedanya jika putrimu diserahkan secara damai dengan jika diambil secara paksa?”
“Lebih baik aku membunuh kalian semua!” teriak Siluman Gagak Biru.
Clap!
Namun, justru Mbah Hitam yang menghilang lebih dulu dari depan Siluman Gagak Biru, membuat kakek berkepang itu terkejut, karena dia merasakan Mbah Hitam pergi menuju kediamannya.
Clap!
Giliran Siluman Gagak Biru yang tiba-tiba menghilang.
Kediaman Siluman Gagak Hitam ada di atas pepohonan, berupa rumah kayu yang besar tanpa tangga. Namun, rumah itu tidak terlihat oleh mata biasa kecuali mata siluman dan mata Sisik Putri Samudera.
Siluman Gagak Biru yang sudah berdiri di atas sebatang dahan, terkejut ketika melihat Mbah Hitam sudah melilit tubuh seorang wanita cantik berambut panjang dan berpakaian biru. Namun, wanita cantik itu tidak merasa sakit atau kesusahan dalam lilitan Mbah Hitam. Entah apa yang terjadi antara Mbah Hitam dan wanita berwajah muda itu?
“Lepaskan putriku, Mbah Hitam!” teriak Siluman Gagak Biru.
“Aku tidak akan menyakiti putrimu. Aku hanya menahannya tanpa menyakitinya. Lebih baik kau temui Ratu Siluman. Gusti Ratu ingin bicara kepadamu!” kata Mbah Hitam.
Ular Mbah Hitam melilit tubuh wanita cantik itu dengan lembut, tidak menyakitinya sedikit pun, jadi si wanita yang memang tidak bisa melawan memilih hanya menurut.
Melihat putrinya disandera, Siluman Gagak Biru tidak berani bertindak gegabah.
“Akan aku buat Ratu Siluman itu menyesal telah mengusikku,” batin Siluman Gagak Biru.
__ADS_1
Clap!
Tiba-tiba Siluman Gagak Biru lenyap kembali, tahu-tahu muncul tidak jauh dari rombongan Alma Fatara yang menunggu hasil kerja Mbah Hitam. Siluman Gagak Biru muncul sebagai sosok kakek-kakek gagah yang bisa dilihat oleh semua orang.
Namun, bagi pandangan Penombak Manis, sosok si kakek mengeluarkan asap biru seperti ubi rebus yang baru saja matang direbus.
“Ratu Siluman!” teriak Siluman Gagak Biru marah kepada Alma yang duduk di punggung kudanya.
“Aaah, akhirnya kau menampakkan diri juga, Kek. Hahaha!” sapa Alma basa-basi lalu tertawa santai.
Alma lalu sedikit memajukan kudanya ke depan si kakek yang menunjukkan sepasang mata yang memerah, sebagai tanda bahwa dia benar-benar marah.
“Apa maksudmu menginginkan putriku?! Dan berani-beraninya kau anak manusia yang lancang mengaku sebagai Ratu Siluman!” bentak Siluman Gagak Biru.
“Sabar, Kek. Tenangkan dulu napas dan pikiran Kakek,” kata Alma santai seraya tersenyum bersahabat.
“Kalian harus dihukum!” teriak Siluman Gagak Biru sambil menghentakkan kedua lengannya.
Wezzz!
Tiba-tiba berlesatan hujan sinar biru berwujud seperti bulu-bulu burung. Jumlahnya banyak, padahal tidak ada mesin produksi bulu burung.
“Hekh!” jerit tertahan Kembang Bulan dengan tubuh terjengkang di bebatuan pinggir sungai. Ia yang masih berilmu sangat rendah, tidak mampu menghindari serangan sinar biru yang menusuk masuk ke dalam tubuhnya.
Tubuh Kembang Bulan langsung kejang.
“Kembang Bulan!” sebut Anjengan terkejut melihat kondisi Kembang Bulan.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa melihat Siluman Gagak Biru yang kelabakan.
Pasalnya, serangan sinar-sinar biru yang terpusat menyerang Alma, justru memantul balik dan menghujani si kakek berkepang. Alma menggunakan ilmu perisainya, Tameng Balas Nyawa.
Ujung-ujungnya Siluman Gagak Biru terpental dan terjengkang sendiri. Ia buru-buru bangkit dengan wajah sudah seperti mau meledak saja karena terkejut campur murka.
Alma Fatara lalu melompat terbang kecil dan mendarat dua tombak di hadapan si kakek.
“Apakah kau mau takluk dan mengabdi kepadaku, Kek?” tanya Alma seraya tersenyum. “Tapi, jika kau tidak mau mengabdi pun, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya membutuhkan putrimu untuk menjadi pengantin bagi sahabatku.”
__ADS_1
“Jika kau memang bisa menaklukkan aku, Siluman Gagak Biru, maka aku dan putriku mengaku tunduk!” koar Siluman Gagak Biru sambil menepuk dada gagahnya yang berhias jenggot putih. “Namun, jika kau yang mengaku Ratu Siluman kalah, maka kau dan seluruh orang-orangmu akan aku bunuh!”
“Baik, tidak masalah,” jawab Alma Fatara santai.
Zurzz!
Tiba-tiba tubuh si kakek terkurung oleh bola sinar besar. Cukup mengurung satu orang dari kaki sampai kepala. Bola sinar itu dijalari oleh kilatan-kilatan listrik yang juga berwarna biru, membuat tampilannya lebih memberi takut.
Alma Fatara mendadak melesat melayang di udara ke arah kanan, sehingga posisinya berada di sisi kiri bola sinar biru. Alma melakukan itu agar posisinya tidak segaris lurus dengan pasukannya.
Zurzz! Swess!
Bluar!
Tiba-tiba bola sinar biru itu melesatkan sinar biru panjang, seperti tembakan water canon berkecepatan kilat. Alma yang sudah menduga akan adanya serangan berkecepatan kilat, sudah bersiap.
Alma langsung melemparkan seberkas sinar emas menyilaukan mata. Pelepasan ilmu Pukulan Bandar Emas itu menunjukkan bahwa Alma tidak main-main dalam menghadapi Siluman Gagak Biru.
Hasil dari pertemuan dua kekuatan besar itu adalah ledakan tenaga yang dahsyat. Tanah dan bebatuan kecil berledakan hancur naik ke udara. Air sungai di tepian bahkan dibuat bergolak. Cucum Mili dan rekan-rekan sekalian berjengkangan, tapi tidak sampai terluka serius seperti halnya nasib Kembang Bulan.
Bola sinar biru besar seketika lenyap dengan tubuh Siluman Gagak Biru terpental seperti batu dilempar. Ia jatuh keras di bebatuan jalan pinggir sungai. Namun, tiba-tiba si kakek melompat naik ke udara. Di udara, sosok manusianya berubah menjadi burung gagak besar berbulu biru gelap dan indah. Besar tubuhnya separuh dari besar tubuh manusia. Paruhnya berwarna hitam dan kuning.
Sementara itu, dari peraduan kesaktian tadi, Alma Fatara hanya terlempar dua tombak, tidak pakai jatuh.
“Waktunya menjerat burung. Hahaha!” ucap Alma Fatara lalu tertawa pelan, sambil ia mencelat naik tinggi ke udara.
Ketika Alma Fatara naik ke udara, Siluman Gagak Biru langsung melesat terbang seperti pesawat tempur dengan kedua kaki bersinar biru. Kukunya yang besar membara biru. Dan ketika Siluman Gagak Biru menjumpai calon mangsanya, hendak mencakar wajah Alma, si gadis justru tersenyum setan.
“Kena kau, Kek! Hahaha!” ucap Alma bersama tubuhnya yang meluncur turun.
Belum lagi cakaran Siluman Gagak Biru menyerang kepala Alma, tahu-tahu si burung sudah meronta-ronta dengan cara mengepakkan sayapnya dalam ritme cepat, seolah-olah mau buru-buru naik mengudara kembali.
Namun, si burung biru justru tertarik ke bawah seiring turunnya tubuh Alma Fatara.
Yang terjadi adalah Benang Darah Dewa milik Alma lebih dulu melesat menyambut dua ceker siluman ketika menyerang. Benang sakti itu langsung menjerat kaki si burung seperti benang kusut, lalu menariknya turun. Hal itulah yang membuat Siluman Gagak Biru gelagapan.
“Jika kau memaksa terbang, kakimu akan putus dua-duanya, Kek!” kata Alma memperingatkan.
__ADS_1
Sementara sambil menarik, Benang Darah Dewa juga bergerak menjalar dan melakukan lilitan pada badan dan leher si burung. (RH)