
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Siapa itu?! Siapa itu?! Siapa yang berani menghadang Pasukan Genggam Jagad?!” teriak Panglima Besar Anjengan marah sambil berjalan tergopoh-gopoh ke depan pasukan.
Setibanya di depan, Anjengan langsung bisa melihat siapa dua orang yang menghadang Pasukan Genggam Jagad. Anjengan langsung bisa menerka siapa kedua orang tua itu adanya. Anjengan berdiri di depan Gede Angin sambil bersedekap menantang.
“Pedang Macan Setan!” sebut Juragan Gelang agak terkejut.
Terkejut Dua Tengkorak Putih mendengar nama pedang yang disebut oleh Juragan Gelang. Sebab, mereka kenal siapa pemilik Pedang Macan Setan dan Pedang Tengkorak Malam.
“Pembunuh Kakek Tengkorak Pedang Kilat!” sebut Tengkorak Telur Bebek.
Dua Tengkorak Putih justru segera bergabung dengan kedua lawannya tadi, Juragan Gelang dan Kala Biru. Keduanya berdiri di sisi kedua orang yang tadi menjadi lawannya.
Sementara Lolongo dibiarkan tergeletak menjadi pesakitan di tanah berumput.
“Woi, Gendut! Apakah kau Ratu Siluman yang telah membunuh Tengkorak Pedang Kilat?!” bentak Tengkorak Bayang Putih.
“Botak Ngompol!” balas Anjengan tidak kalah gertak. “Jangan sembarangan menuduh. Tengkorak Pedang Kilat bertarung secara adil dan bahkan dia bangga dengan kematiannya. Jangan jadi orang ganteng jika mau juga jadi botak bodoh!”
“Hahahak! Galak betul,” tawa Alma Fatara di belakang.
“Dua pemuda tampan itu adalah Dua Tengkorak Putih, keluarga muda Keluarga Tengkorak. Yang botak bernama Tengkorak Bayang Putih dan yang bawa telur bernama Tengkorak Telur Bebek,” kata Ineng Santi.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar nama terakhir yang diperkenalkan. “Apakah di antara keduanya ada yang Kakak Ineng taksir?”
“Hihihi! Terlalu banyak pemuda tampan belakangan ini,” ucap Ineng Santi setelah tertawa malu.
“Pantas jika Raja Tanpa Gerak menyimpanmu di puncak bukit, ternyata kau gampang tergoda kepada pemuda tampan,” kata Cucum Mili.
“Hihihi!” Ineng Santi hanya tersenyum malu.
Di sisi lain, Murai Ranum girang sendiri di tempatnya.
“Kenapa kau?” tanya Wiro Roro yang berdiri di sisi Murai Ranum.
“Lihat dua putra Tengkorak itu, tampan-tampan seperti kuda perang. Hihihi!” jawab Murai Ranum lalu tertawa cekikikan. Ingin rasanya dia maju, tapi takut justru nanti dilempar ke belakang oleh Ratu Siluman.
Kembali kepada ketegangan di depan sana.
“Hei! Apa urusan kalian dengan pasukan ini?” tanya Kala Biru kepada Dua Tengkorak Putih.
“Mereka membunuh Tengkorak Pedang Kilat, kakek kami,” jawab Tengkorak Bayang Putih.
“Lalu, kalian mau melawan mereka semua?” tanya Juragan Gelang, bernada mengejek.
Terdiamlah kedua pemuda tampan itu dan saling pandang.
“Kami ingin melawan Ratu Siluman itu!” jawab Tengkorak Telur Bebek sambil menunjuk Anjengan.
“Hahahak …!” tawa Anjengan serta Gede Angin dan Penombak Manis di belakangnya.
“Hei, Tukang Telur! Aku adalah Dewi Laut, bukan Ratu SIluman!” hardik Anjengan.
__ADS_1
Terkejut Dua Tengkorak Putih mendengar pengakuan Anjengan. Pantas saja Anjengan dan kedua rekannya menertawakan mereka.
“Lalu mana orangnya yang bernama Ratu Sikuman itu? Jangan sembunyi seperti keong!” teriak Tengkorak Bayang Putih untuk menutupi malu.
“Kurang sopan!” bentak Anjengan mendelik lebih berusaha seram.
“Kurang sopan!” bentak berjemaah Pasukan Genggam Jagad.
“Wah!” pekik Tengkorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek terkejut, tapi tidak sampai termundur karena sebelumnya mereka sudah pernah mendengar bentakan seperti itu untuk Juragan Gelang dan Kala Biru.
“Minggir kalian berdua! Jika ingin menuntut balas kepada Gusti Ratu, cari sendiri di belakang. Aku harus menyingkirkan kedua orang tua yang berani menghadang Pasukan Genggam Jagad!” kata Anjengan.
“Ayolah, Cantik. Tunjukkan yang mana Ratu Siluman itu!” bujuk Tengkorak Bayang Putih dengan menyisipkan pujian.
“Botak Ngompol! Jangan membuatku malu dengan menyebutku cantik!” bentak Anjengan.
“Hei hei hei! Siapa yang berani menggoda kekasihku, hah?!” teriak Geranda sambil berlari kecil maju. Suara dan wajahnya jelas menunjukkan kemarahan.
“Hahahak!” Tertawalah sebagian anggota Pasukan Genggam Jagad melihat situasi yang semakin panas di depan, terutama Alma Fatara.
Sang ratu masih menikmati drama pertengkaran panglimanya dengan para penghadang itu.
“Kalian berdua, jangan kira ketampanan kalian akan memikat kekasihku!” kata Geranda tanpa gentar.
“Kalian berdua lebih baik menyingkir lebih dulu, biarkan kami menyelesaikan urusan kami dengan mereka,” kata Kala Biru kepada Dua Tengkorak Putih. Dia mulai kesal dengan drama yang berlarut.
“Lebih baik kalian urus lebih dulu putra Demang,” kata Juragan Gelang.
Dua Tengkorak Putih menengok ke tempat Lolongo terkapar.
“Anak Demang itu di sana!” tunjuk Tengkorak Telur Bebek ke bawah sebatang pohon agak jauh dari jalan.
Di sana terlihat keberadaan Lolongo yang diapit oleh dua wanita muda cantik berbekal busur dan anak panah. Kedua wanita cantik itu tidak lain adalah Janda Belia dan Bayu Semilir. Lolongo pun terlihat nyaman dengan kedua wanita tersebut.
“Kurang asam!” rutuk Tengkorak Telur Bebek.
Wusss!
Dengan seenaknya, Juragan Gelang mengibaskan tangan kanannya. Segelombang angin keras menderu menerbangkan Dua Tengkorak Putih ke samping, keluar dari jalan besar itu.
“Hahahak!” tawa Anjengan dan rekan-rekan sekalian melihat kedua pemuda itu terlempar dan jatuh berantakan di tanah sisi jalan.
“Kalian juga minggir. Kami ingin bertemu dengan pemilik Bola Hitam!” seru Kala Biru.
“Kalian yang harus mundur!” seru Anjengan pula. “Lihat, kalian menjadi target bidikan pasukan panah kami!”
Kedua orang tua itu segera melihat ke sekeliling untuk membaca situasi. Ternyata di sejumlah titik di sekeliling mereka, telah bermunculan wanita-wanita cantik berpakaian berbeda warna, kecuali satu yang tidak cantik, yaitu Panglima Tampang Garang. Mereja telah mengarahkan anak panahnya ke arah Juragan Gelang dan Kala Biru. Tinggal lepas jepitan jari, maka panah-panah akan melesat menyerang.
“Sepertinya mereka murid-murid Kebo Puteh,” ucap Juragan Gelang.
“Siapa sebenarnya pasukan ini?” tanya Kala Biru.
“Pastinya pemilikl Bola Hitam itu ada di tengah pasukan,” kata Juragan Gelang.
“Kita singkirkan saja pengganggu di depan ini,” kata Kala Biru.
__ADS_1
“Benar,” sepakat Juragan Gelang.
Wuss! Wuss!
Serentak kedua orang tua itu menghentakkan tangan, menciptakan dua gelombang angin pukulan yang keras. Jangankan semodel tubuh Geranda atau Penombak Manis, tubuh sebesar Gede Angin dan seberat Anjengan saja bisa diterbangkan lalu jatuh berguling-guling. Sejumlah anggota Pasukan Sayap Laba-Laba ikut jatuh berguling.
Set set set …!
Tidak sampai sedetik setelah kedua pendekar tua itu melepaskan angin pukulan, dari berbagai arah kanan dan kiri berlesatan anak panah yang dilepaskan oleh Pasukan Sayap Panah Pelangi.
Juragan Gelang dan Kala Biru sudah bisa menerka serangan panah tersebut. Mereka yakin bisa menghindarinya.
Keduanya memang bisa dengan cepat berlompatan menghindari kesembilan anak panah yang menyerang dari berbagai arah, tetapi satu arah.
Namun, satu kejadian mengejutkan dan tidak terduga terjadi di udara.
Tuk! Sleet!
“Akk!”
“Hekk!”
Juragan Gelang yang masih berada di udara menghindari serangan anak panah, tiba-tiba dipepet oleh sosok wanita berjubah hitam yang munculnya tanpa pemberitahuan. Diafragmanya mendapat tusukan telunjuk wanita itu.
Dengan sepasang mata yang mendelik seolah hendak keluar, dengan wajah yang merah kelam dan urat-uratnya bertonjolan, dengan mulut menganga lebar, dan dengan tubuh melengkung ke belakang, Juragan Gelang jatuh seperti nangka busuk.
Adapun Alma Fatara yang menyerang Juragan Gelang dengan ilmu Telunjuk Roh Malaikat secara tiba-tiba, mendarat dengan halus di tanah.
Pada saat yang sama, Kala Biru yang juga berada di udara, tiba-tiba dililit oleh ular hitam besar yang muncul dari alam gaib.
Jleg!
Kala Biru masih bisa mendarat di tanah tanpa jatuh, tapi dengan tubuh terlilit kuat oleh ular jelmaan Mbah Hitam yang dalam beberapa hari mengawal secara senyap.
Semua yang menyaksikan serangan terhadap dua orang tua sakti itu hanya bisa terkejut.
Set! Clap! Blar blar!
“Aakk!”
Pada saat itu, dari dalam Pasukan Genggam Jagad berkelebat sosok wanita bercadar merah sambil melesatkan dua butir gundu kecilnya menyerang ular Mbah Hitam.
Namun, tiba-tiba ular Mbah Hitam menghilang begitu saja. Benar-benar siluman. Hal itu membuat dua senjata Cucum Mili menghantam tubuh Kala Biru. Dua ledakan melanda Kala Biru, membuatnya terpental keras.
Kala Biru jatuh dengan punggungnya dan memuntahkan darah dari tenggorokannya. Terlihat pula, pakaian depan Kala Biru hancur dan badan depannya terluka hangus. Pertahanan yang sempat Kala Biru kerahkan saat dililit oleh ular Mbah Hitam, membuatnya menderita luka tidak terlalu parah.
Berbeda dengan Juragan Gelang yang sudah tidak berdaya, Kala Biru masih bisa bergerak hendak bangum.
Zeet!
Namun, seiring berkelebatnya sosok wanita berpakaian putih, seberkas sinar kuning kecil berekor pendek melesat cepat yang tidak bisa dihindari oleh Kala Biru.
Kondisinya yang terluka membuatnya tidak terlalu peka oleh serangan baru yang menyusul. Kala Biru hanya bisa jatuh terjengkang kembali dalam kondisi tubuh mengeras dan kaku seperti patung. Namun, sepasang matanya masih bergerak dan mulutnya menganga seolah hendak meninggal dunia.
Ineng Santi yang telah melepaskan ilmu Pematung Ternama, mendarat lembut di antara Alma Fatara dan Putri Angin Merah.
__ADS_1
“Ineng Santi!” sebut Dua Tengkorak Putih terkejut saat mengenali wanita cantik yang sejak tadi tidak mereka lihat keberadaannya, mungkin karena terlalu silau oleh pesona Anjengan. (RH)