
*Setan Mata Putih (SMP)*
Wulung memberi tanda kepada pasukannya untuk berhenti, ketika mereka melihat keberadaan sejumlah pendekar yang membangun lingkungan komunitas.
Ada satu jalan yang diapit oleh area pepohonan dan memiliki tanah-tanah lapang berumput yang bagus untuk membangun tenda. Di sisi kanan ditempati oleh para pendekar lelaki yang dipimpin oleh Arung Seto. Sedangkan di sisi kiri lebih ramai oleh para pendekar wanita yang dipimpin oleh Cucum Mili.
Bendera dan panji-panji ditancapkan di pinggir jalan sebagai tanda ada siapa di sana.
Pasukan Wulung juga melihat keberadaan dua kereta kuda yang mereka tinggalkan di seberang sungai.
Kedatangan Wulung dan pasukannya yang hendak lewat, jelas menarik perhatian Pasukan Genggam Jagad. Mereka memandangi tanpa senyum keramahan, karena memang pada dasarnya mereka tidak saling kenal.
Ada pepatah mengatakan, “Janganlah kau tersenyum kepada orang yang tidak kau kenal, karena itu bukan kebijakan seorang tukang cendol”.
“Siapa orang-orang ini?” tanya Wulung kepada Buritan dan Gaeng Lemu yang ada di dekatnya.
“Bukankah itu murid-murid Kebo Pute dari Bukit Tujuh Kepala?” kata Gaeng Lemu saat mengenali keberadaan Senyumi Awan dan rekan-rekannya yang berpakaian warna warni.
“Apakah mereka akan menyerang kita? Aku angkat tangan jika para pemanah perempuan itu menyerang kita,” kata Buritan.
“Aku rasa tidak. Mereka tidak menghunuskan pedang atau mengangkat panah,” kata Gaeng Lemu.
“Tapi, bagaimanapun, kita harus mengambil dua kereta kuda itu. Itu milik kita,” kata Wulung.
Dua kereta kuda itu sedang terparkir tanpa muatan, tetapi di sana ada Gede Angin dan Gempar Gendut. Jika Gede Angin punya badan tinggi besar seperti anak raksasa, maka Gempar Gendut mantan murid Jerat Gluduk punya badan yang gemuknya keterlaluan seperti penderita obesitas, tapi baru seperti, belum sampai ke tahap obesitas. Terbukti dia masih sanggup jalan jauh.
“Siapa yang berani pergi meminta ke sana?” tanya Wulung.
“Aku berani, tapi tiba-tiba kaki kananku kesemutan,” jawab Buritan.
“Aku juga berani, tapi jika melihat wajah si gemuk itu, aku mau mual,” kilah Gaeng Lemu.
“Kalian ini. Percuma kalian dibayar mahal-mahal jika untuk urusan seperti ini harus aku,” rutuk Wulung, lalu melangkah maju lebih dulu di saat pasukannya berhenti menumpuk seperti sampah got.
Buritan dan Gaeng Lemu hanya mencebik dan menaikkan alis mendengar kata-kata Wulung.
Maka tibalah Wulung di hadapan Gede Angin dan Gempar Gendut. Adapun yang lainnya hanya memerhatikan pergerakan Wulung dari tempatnya masing-masing.
“Kisanak, mohon maaf, kedua kereta kuda ini adalah milik kami yang kami tinggalkan di seberang sungai,” ujar Wulung.
“Lalu?” tanya Gempar Gendut yang wajahnya seolah melesak ke dalam karena lemak.
__ADS_1
“Kami ingin mengambilnya,” tandas Wulung.
“Coba kau minta kepada panglima kami yang ganteng itu!” tunjuk Gede Angin ke arah Arung Seto yang sedang bersama “saudara kembar”-nya, Juling Jitu.
Wulung mengikuti arah tunjukan Gede Angin. Setelah melihat pemuda tampan yang dimaksud, ia pun bergegas ke sana.
Setibanya di hadapan Arung Seto yang sedang duduk bersama Juling Jitu, Wulung menjura hormat karena tadi ia mendengar bahwa Arung Seto adalah seorang panglima.
“Maaf, Panglima. Kalian telah mengambil dua kereta kuda kami. Aku meminta agar dikembalikan kepada kami. Kami membawa satu mayat dan barang yang banyak,” ujar Wulung.
“Kau lihat wanita bercadar merah di seberang sana?” tanya Arung Seto sambil memandang ke area wanita di seberang jalan.
Lagi-lagi Wulung melemparkan pandangannya ke area seberang dan mencari sosok wanita bercadar merah. Dalam hati sebenarnya dia kesal karena dilempar-lempar. Mungkin setelah menghadap kepada wanita bercadar merah itu, dia akan dioper lagi.
“Dia adalah pemimpin tertinggi di sini,” kata Arung Seto.
“Terima kasih, Panglima,” ucap Wulung berusaha sabar dan menjadi bapak yang baik.
Wulung beranjak pergi menyeberangi jalan dan menuju ke tempat Cucum Mili berada. Saat itu Cucum Mili sedang bersama Roro Wiro dan Murai Ranum.
“Mohon maaf, Ketua. Dua kereta kuda itu adalah milik kami ….”
“Ambil dan bawalah pergi!” perintah Cucum Mili yang memotong kata-kata Wulung.
“Terima kasih, Ketua!” ucap Wulung senang.
Serintik, Anggota Sayap Panah Pelangi, bergerak mendekati para prajurit yang sedang menggotong mayat itu.
“Siapa yang mati itu?” tanya Serintik curiga kepada para prajurit.
“Kang Aden Golono,” jawab salah satu prajurit.
Terkejutlah Serintik mendengarnya.
“Janda Belia!” teriak Serintik kencang.
Janda Belia yang sedang berada agak jauh di sisi belakang, jadi terkejut.
“Mantan kekasihmu mati!” teriak Serintik lagi.
“Apa?!” kejut Janda Belia. Wanita cantik berpakaian biru itu cepat berlari dan berkelebat sekali di udara.
Janda Belia mendarat di dekat kereta kuda, karena jasad Golono sudah diletakkan di atas kereta kuda. Ia semakin terkejut, karena memang benar bahwa mayat itu adalah Golono, mantan kekasihnya yang ia tinggalkan secara sepihak.
__ADS_1
“Kakang Golono!” pekik Janda Belia menangis sambil meraih lengan Golono yang kulit wajah dan tubuhnya sudah mulai menghitam.
Serintik dan Senyumi Awan segera datang kepada Janda Belia. Senyumi Awan segera menarik tubuh Janda Belia dan memberinya pelukan penenang.
“Siapa yang membunuhnya?” tanya Serintik.
“Raja Tanpa Gerak,” jawab Wulung.
Terkejutlah Janda Belia dan kedua rekannya. Anggota Sayap Panah Pelangi yang lain segera berdatangan ke kereta kuda itu.
“Aku harus naik ke atas menuntut perhitungan kepada Raja Tanpa Gerak!” kata Janda Belia sambil hendak melangkah pergi.
“Jangan!” larang Serintik sambil mencekal lengan kanan Janda Belia. “Raja Tanpa Gerak bukan tandingan kita.”
“Aku tahu. Setidaknya aku mendapat alasan kenapa Kakang Golono dibunuh,” tandas Janda Belia. “Jika kita melawan bersama, aku yakin kita bisa mengalahkannya.”
“Kita harus izin dulu kepada Panglima,” kata Senyumi Awan.
“Aku izinkan!” kata Tampang Garang yang ternyata sudah ada di antara mereka. “Aku temani kalian naik.”
Janda Belia lalu memandangi sejenak mayat Golono di atas kereta.
Tampang Garang lalu memimpin pasukannya untuk pergi naik ke puncak Bukit Selubung.
Cucum Mili pun tidak berusaha untuk mencegah tindakan para wanita cantik itu.
“Panglima, kau membiarkan mereka naik?” tanya Roro Wiro.
“Biarkan, di atas ada Gusti Ratu,” kilah Cucum Mili selaku Panglima Laut Pasukan Genggam Jagad.
Sementara itu, peti-peti harta sudah diletakkan di atas kereta kuda. Wulung dan pasukannya segera meninggalkan tempat itu dengan membawa dua kereta kuda.
Setelah semua pasukan Kademangan Kubang Kepeng pergi, Cucum Mili bangkit berdiri.
“Aku melihat ada bayangan biru di kejauhan yang mengintai pasukan itu. Ayo kita ikuti!” kata Cucum Mili kepada Roro Wiro dan Murai Ranum.
Cucum Mili lalu pergi menghampiri Arung Seto.
“Pasukan Sayap Laba-Laba yang sehat, bergeraklah di belakang kami!” perintah Cucum Mili.
“Baik, Panglima!” ucap Arung Seto patuh.
Setelah itu, Arung Seto segera mengumpulkan pasukan yang ada di bawah perintahnya. Sementara Cucum Mili telah bergerak lebih dulu. (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
(YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.)