Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 15: Pertemuan di Jalan


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Ada sebanyak tiga puluh orang berperawakan pendekar yang berjalan kaki ramai-ramai. Rombongan massa itu dipimpin oleh seorang pendekar wanita berusia tiga puluhan tahun. Rambutnya sangat khas karena dikepang tiga. Kesepuluh jari tangannya berwarna hitam pekat, menunjukkan bahwa ia adalah murid Perguruan Jari Hitam.


Ia adalah salah satu murid utama di perguruan yang bernama Nining Pelangi. Ia yang ditugaskan memimpin kelompok tiga, yaitu tiga puluh murid junior Perguruan Jari Hitam yang tidak memiliki kuda. Sementara kelompok pertama yang dipimpin Giling Saga dan kelompok dua yang dipimpin oleh Dendeng Pamugkas, sudah tiba di Desa Juangangin, bahkan sudah bentrok dengan murid-murid Perguruan Bulan Emas.


Nining Pelangi yang berjalan di sebelah depan berhenti melangkah sambil mengangkat tangan, memberi tanda berhenti kepada rombongannya. Hal itu ia lakukan saat mendengar suara lari kuda yang cepat dari arah kanan. Saat itu mereka memang tiba di sebuah titik pertigaaan, tidak jauh dari sebuah desa.


Rombongan memahami maksud Nining Pelangi memerintahkan berhenti.


Tidak berapa lama, muncullah dua ekor kuda yang berlari kencang. Kedua penunggang kuda itu adalah wanita semua. Yang satu tua dan yang satu berusia kisaran empat puluhan tahun. Yang lebih muda memiliki warna muka yang tegas dan bermata tajam.


Kedua penunggang kuda itu berkuda dengan pandangan terfokus kepada Nining Pelangi dan rombongannya.


"Nining Pelangi!" sebut wanita penunggang kuda yang muda.


"Kakak Riring Belanga!" sebut Nining Pelangi pula terkejut, ketika ia mengenali wanita yang memanggilnya.


Wanita penunggang kuda yang tidak lain adalah Riring Belanga, salah satu dari Sepuluh Panglima Pamungkas yang dimiliki oleh Kerajaan Singayam, cepat menarik kuat tali kekang kudanya, membuat hewan berkaki empat itu mengerem mendadak seperti gaya kuda koboi.


"Aku mati aku mati belum kawin enak-enak! Aku enggak mau mati!" pekik wanita tua gemuk teman berkuda Riring Belanga, sambil menarik kencang tali kekang kudanya pula. Latahnya membuat ludah-ludah merah dari air kunyahan daun sirihnya bermuncratan.


"Hahaha!" tawa para murid Perguruan Jari Hitam menyaksikan latah nenek berjubah putih.


Wanita tua bertongkat dan berambut putih itu tidak lain adalah Balito Duo Lido, sahabat dari Ketua Perguruan Bulan Emas. Namun itu dulu, entah kini. Apakah masih dianggap sahabat atau sudah tidak?


"Adik, Nining!" sebut Riring Belanga sambil melompat turun dari kudanya dan menghamburkan diri memeluk Nining Pelangi.


"Kebetulan bertemu Kakak," ucap Nining Pelangi gembira sambil memeluk erat wanita yang lebih tua darinya itu. Riring Belanga tidak lain adalah kakak kandungnya.


"Apakah kalian semua sedang menuju ke Perguruan Bulan Emas?" tanya Riring Belanga sambil melepaskan pelukannya.


"Benar. Kami adalah kelompok ketiga. Rombongan yang dipimpin oleh Giling Saga dan Dendeng Pamungkas sudah berkuda lebih dulu," jawab Nining Pelangi.


Riring Belanga memandangi murid-murid Jari Hitam yang kelasnya belum mencapai tingkat dua, yaitu Kelas Jari Hitam.

__ADS_1


"Apakah mereka mau pergi bertempur dengan jari masih seperti itu?" tanya Balito Duo Lido dari atas kudanya.


"Benar, Nek," jawab Nining Pelangi.


"Lebih baik perintahkan pulang saja. Sangat merepotkan dan merugikan jika dipaksa bertaruh nyawa dengan kesaktian yang masih rendah!" tandas Balito Duo Lido.


"Bagi kalian yang belum mengenalku, ketahuilah, aku adalah Riring Belanga, satu dari tiga murid Kelas Jari Emas Hitam. Jadi, aku perintahkan kalian untuk pulang ke perguruan dan uruslah perguruan selagi Guru dan para kakak seperguruan kalian belum kembali!" perintah Riring Belanga.


"Baik, Kakak Seperguruan!" sahut ketiga puluh murid junior itu serentak, sambil menjura hormat kepada Riring Belanga.


"Suraba, aku serahkan tanggung jawab rombongan kepadamu. Bawa mereka pulang sampai ke perguruan!" perintah Nining Pelangi kepada seorang murid lelaki bertubuh besar dan tegap.


"Baik, Kakak Seperguruan!" ucap pemuda bernama Suraba.


"Kembalilah kalian!" seru Nining Pelangi.


"Kau berkudalah bersamaku, Nining," kata Riring Belanga.


"Hormat kepada Kakak Seperguruan!" seru Suraba sambil menjura hormat lagi.


Rombongan pejalan kaki itu lalu berbalik pergi. Meski di dalam hati mereka kecewa karena harus pulang setelah lebih dari setengah perjalanan sudah ditempuh, tetapi mereka wajib taat kepada senior.


Baru saja rombongan murid-murid junior Perguruan Jari Hitam bergerak pergi, dari arah yang berlawanan muncul berlari seorang penunggang kuda.


Kuda yang berlari kencang itu ditunggangi oleh seorang pemuda tampan berpakaian bagus warna hitam. Ia menyandang sebuah pedang di punggungnya.


Di mata Riring Belanga, pemuda itu tidak asing, meski tidak akrab. Pemuda tampan itu tidak lain adalah Arung Seto, putra Adipati Adya Bangira dan kakak dari Kembang Bulan. Perjalanannya saat itu dalam rangka mengejar rombongan Alma Fatara.


Melihat keberadaan Panglima Riring Belanga di pertigaan jalan itu, Arung Seto menghentikan lari kudanya.


"Gusti Panglima Riring Belanga!" panggil Arung Seto.


Pemuda tampan yang membuat perasaan Nining Pelangi terpaku itu segera turun dari kudanya. Ia menjura hormat kepada perwira militer Kerajaan Singayam tersebut. Arung Seto adalah perwira tingkat rendah di kemiliteran Kerajaan Singayam, kedudukannya jauh di bawah Riring Belanga.


Arung Seto melompat turun dari kudanya. Ia lalu menghormat kepada Riring Belanga.

__ADS_1


"Di mana Alma Fatara, Gusti Panglima?" tanya Arung Seto cepat.


"Kenapa? Kau mencari adikmu Kembang Bulan?" terka Riring Belangan.


"Benar."


"Alma dan rombongannya sedang menuju ke Perguruan Bulan Emas lewat jalan lain. Jika kau mencarinya, lebih baik kau ikut dengan kami ke Perguruan Bulan Emas," kata Riring Belanga. "Atau kau pulang saja, tenangkan dan yakinkan orangtuamu, Kembang Bulan tidak akan apa-apa selama dia berada dalam kawanan yang dipimpin Alma."


"Maksud Kakak, Alma Fatara yang suka tertawa itu?" tanya Nining Pelangi yang akrab dengan nama Alma Fatara.


"Iya. Alma pergi berusaha mendapatkan Telur Gelap lalu akan langsung ke Perguruan Bulan Emas. Jika Alma gagal mendapatkan telur aneh itu, terpaksa kita akan bertarung habis-habisan di sana," kata Riring Belanga. "Ayo kita berangkat. Kau mau naik kuda siapa?"


Terkejut Nining Pelangi ditanya seperti itu oleh kakaknya.


"Pastinya aku ikut kuda Kakak!" jawab Nining Pelangi agak keras dan sepasang matanya mendelik kepada kakaknya yang sudah lama terpisah.


"Aku kira kau punya pikiran untuk ikut kuda Arung Seto," celetuk Riring Belanga datar. Ia bisa melihat isyarat ketertarikan di mata adiknya ketika memandang kepada Arung Seto.


Mereka lalu naik ke kudanya lagi. Nining Pelangi naik membonceng di belakang kakaknya.


"Siapa nenek yang bersamamu ini, Gusti Panglima?" tanya Arung Seto sebelum mereka berangkat.


"Pemimpin Desa Tinggelos. Namanya Balito Duo Lido, sahabat guruku," jawab Riring Belanga.


"Oh, aku pernah mendengar nenek sakti yang memimpin desa di luar Ibu Kota Kadipaten," kata Arung Seto.


"Nenek Balito, dia Arung Seto, putra Adipati Adya Bangira," kata Riring Belanga memperkenalkan pemuda tampan itu.


"Oooh!" Balito Duo Lido hanya manggut-manggut.


"Kenapa Nenek tidak membantu kami saat diserang Bajak Laut?" tanya Arung Seto.


"Jangan menyudutkanku, Bocah. Aku memang sakti, tapi wargaku tidak ada yang sakti. Aku harus melindungi wargaku, sedangkan Ibu Kota memiliki pasukan," kilah Balito Duo Lido.


"Heah heah!" gebah Riring Belanga lalu sengaja menyenggolkan pinggul kudanya kepada kuda Arung Seto, sehingga kaki Nining Pelangi bersenggolan dengan kaki Arung Seto.

__ADS_1


Hal itu membuat Nining Pelangi terkejut lalu tersenyum malu kepada Arung Seto yang ternyata memberi senyum balasan, membuat taman hati gadis itu terguyur hujan kiriman dari Sirkuit Mandalika negeri masa depan. (RH)


__ADS_2