
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Ctar ctar ctar …!
Suara-suara ledakan yang terdengar nyaring dari peraduan kesaktian Wangiwulan dan Jaran Telu menarik perhatian warga sekitar, termasuk Iwak Ngasin dan Juling Jitu. Namun, karena kedua pendekar ini adalah buronan, jadi mereka memantau pertarungan dari balik sebongkah batu jomblo.
“Pendekar baju biru itu jelas musuh kita. Tapi cewek cantik itu siapa ya, Iwak?” kata Juling Jitu.
“Kenalan dong, Jitu. Pepatah buyutku mengatakan, malu kenalan, gagal bahagia,” kata Iwak Ngasin.
“Benar juga. Tapi …,”
“Tapi kenapa?” tanya Iwak Ngasin.
“Pendekar tongkat itu jauh lebih sakti dari kita. Kalau kita muncul buat kenalan dengan gadis idaman itu, pasti ganti kita yang bakal dihajar oleh si tongkat biru,” kata Juling Jitu.
“Ah, kurang berpengalaman kau dengan gadis cantik!”
“Memangnya kau berpengalaman? Sejak kau kecil hingga sekarang, kau selalu bersamaku. Jadi aku tahu jelas tentang pengalamanmu terhadap gadis cantik. Alma Fatara tidak termasuk. Alma itu bukan gadis cantik, tetapi pemuda cantik.”
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin. “Kau memang benar, tetapi ada yang kau tidak tahu. Aku punya bakat terpendam, yaitu tentang wanita cantik. Diam-diam Guru Garudi mengajarkanku.”
“Ah, itu hanya bualanmu saja!” sergah Juling Jitu.
“Kau saja tidak menyadari. Di Desa Rangitan saja, pesonaku bisa membuat putri Ki Jolos terkesima.”
“Jika benar, coba tunjukkan cara berkenalan dengan gadis cantik itu!” tantang Juling Jitu.
“Sangat mudah. Caranya adalah cukup menyelamatkan dia dari kekalahan. Tanpa kau ajak berkenalan, dia akan memperkenalkan namanya sendiri,” jawab Iwak Ngasin dengan penuh keyakinan. “Aku yakin, gadis cantik itu sebentar lagi akan kalah!”
Memang, Wangiwulan yang sedang memainkan ilmu tertingginya yang bernama Tarian Lebah Melati, mulai terlihat melemah dalam melancarkan agresi dua piringan sinar putihnya.
Wangiwulan terlihat sudah mulai putus asa, sebab sejak tadi serangan dua sinar putihnya bisa ditangkis oleh pertahanan tongkat Jaran Telu yang bersinar biru redup.
Ctar ctar ctar …!
Suara ledakan-ledakan nyaring masih menjadi musik dari pertarungan itu.
__ADS_1
“Waktunya untuk mengakhiri perlawananmu, Wanita Murahan!” teriak Jaran Telu.
Dengan tongkat biru tetap berada dalam genggamannya, tiba-tiba tongkat itu bersinar biru lebih terang, sehingga cukup mengganggu penglihatan Wangiwulan.
Blar! Blar!
Ketika dua piringan sinar putih kembali melesat menyerang Jaran Telu, keduanya kembali ditangkis oleh tongkat dengan cara menghantamnya.
Dua ledakan keras terjadi yang ternyata menghancurkan kedua sinar putih milik Wangiwulan.
Wuss!
Setelah itu, tangan kiri Jaran Telu melepaskan angin pukulan yang cukup keras. Tanpa pikir panjang, Wangiwulan melompat naik ke udara. Namun, tujuan dari serangan angin pukulan itu terjadi, yaitu memaksa Wangiwulan melompat ke udara, karena seiring naiknya Wangiwulan ke udara, Jaran Telu juga sudah lebih dulu naik ke udara, seolah sengaja mendahului.
“Hiaaat!” pekik Jaran Telu keras sambil mengapakkan tongkatnya ke arah kepala Wangiwulan.
Wangiwulan yang silau melihat datangnya serangan, tidak bisa menghindar di udara. Ia hanya bisa menangkis dengan kedua tangan yang dilapisi sinar hijau dari ilmu Pedang Dewi Asih.
Daks!
Batang tongkat yang menyilaukan menghantam persilangan tangan bersinar hijau di atas kepala Wangiwulan. Tenaga sakti ilmu Pedang Dewi Asih sangat jauh di bawah kekuatan ilmu Tongkat Matahari Biru.
“Wah bahaya! Gadis cantik itu sekarat!” seru Juling Jitu, tapi suaranya ia tekan agar tidak terdengar oleh warga yang menonton di area sekitar, apalagi jika sampai terdengar oleh Jaran Telu. “Apa yang harus kita lakukan?”
“Kau serang lelaki bertongkat itu dari belakang. Jika dia melihatmu, berarti kau gagal, maka cepatlah berlari kabur!” bisik Iwak Ngasin. Lalu katanya menyemangati Juling Jitu, “Menjadi pahlawan adalah cara ampuh untuk meluluhkan hati gadis cantik.”
Maka, ketika Jaran Telu melangkah mendekati tubuh Wangiwulan yang terkapar, Juling Jitu cepat keluar dari persembunyian dan berlari seperti seekor bangau mendekati Jaran Telu dari belakang.
Tiba-tiba Jaran Telu menengok ke belakang, sebab ia mendengar suara langkah kaki yang cepat tapi pelan mendekatinya. Jaran Telu langsung menatap tajam kepada Juling Jitu.
Alangkah terkejutnya Juling Jitu ketika melihat wajah kemarahan Jaran Telu yang memergokinya. Jantungnya seolah mau copot.
Jaran Telu cepat berbalik badan dan bergerak hendak menyerang Juling Jitu yang dikenalnya sebagai salah seorang anggota pengacau.
Sress!
Juling Jitu cepat menghentakkan jari-jemarinya yang kemudian menebarkan sinar kuning berwujud serbuk halus yang banyak.
Wuuut!
__ADS_1
Jaran Telu cepat memutar tongkatnya seperti baling-baling di depan tubuhnya. Angin dari putaran tongkat yang sudah tidak bersinar itu lagi, meniup balik serbuk sinar kuning. Namun, Juling Jitu sudah berlari terbirit-birit meninggalkan Jaran Telu.
“Aku harus menangkap orang ini dan menjadikannya sebagai sandera, agar teman wanitanya bisa menyerahkan Rawil,” pikir Jaran Telu.
Pemuda tampan itu lalu cepat berlari mengejar Juling Jitu. Tindakan Jaran Telu tersebut membuat Iwak Ngasin cepat keluar dari tempat bersembunyinya. Ia berkelebat ke posisi Wangiwulan terkapar.
Ketika memandang Wangiwulan, Iwak Ngasin tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya.
“Cantik sekali kalau dilihat dari dekat,” ucap Iwak Ngasin terpesona.
Dalam kondisi kritis seperti itu, Wangiwulan masih bisa mendengar ucapan Iwak Ngasin, tetapi ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pemuda itu.
“Nisanak, maaf, aku harus membawamu agar selamat,” ucap Iwak Ngasin sambil membungkuk meraih tubuh Wangiwulan.
Iwak Ngasin lalu mengangkat tubuh Wangiwulan dan meletakkannnya pada kedua tangannnya.
“Kondisi seperti ini saja kau masih begitu wangi,” ucap Iwak Ngasin yang mencium aroma harum tubuh gadis dalam gendongannya.
Ternyata, Jaran Telu yang mengejar Juling Jitu, sempat menengok ke belakang, melihat ke tempat Wangiwulan berada. Namun, ia harus terkejut saat melihat Wangiwulan sudah dibawa oleh Iwak Ngasin.
“Hei!” teriak Jaran Telu meneriaki Iwak Ngasin.
Yang diteriaki jadi terkejut. Namun, Jaran Telu sejenak jadi bingung, harus mengejar siapa.
Mendengar Jaran Telu berteriak, Juling Jitu jadi berhenti dan menengok ke belakang. Melihat Jaran Telu justru beralih hendak mengejar Iwak Ngasin, Juling Jitu cepat memungut batu dan melempar Jaran Telu.
Batu sebesar setengah genggaman melesat mengincar kepala Jaran Telu.
Tak!
Namun, pendengaran Jaran Telu cukup peka. Dengan cepat ia berhenti berlari dan berbalik menangkis batu lemparan Juling Jitu.
Gangguan itu ternyata berhasil membuat Iwak Ngasin melarikan diri lebih jauh.
Sementara Jaran Telu, ia ingin mengejar Iwak Ngasin dan Wangiwulan, tetapi amarahnya lebih berat kepada Juling Jitu.
Setelah bingung sejenak, Jaran Telu akhirnya memutuskan berkelebat mengejar Juling Jitu.
Juling Jitu kembali berlari terbirit-birit. (RH)
__ADS_1