
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Guling Nikmat sudah selesai memasak menu untuk Ketua Perguruan Bulan Emas dan tahanan khusus, yaitu Ketua Perguruan Jari Hitam. Mulai hari ini, menu untuk Wulan Kencana diberi Racun Kehidupan. Makanan untuk tahanan juga sudah diberi Racun Gaib.
Menurut Ki Jandela, tabib di perguruan itu, Racun Kehidupan adalah jenis racun langka yang biasa digunakan untuk melawan racun ganas. Ki Jandela dan Guling Nikmat hanya bisa menduga-duga, mungkin ketua mereka sedang keracunan. Namun, itu hanya dugaan, sebab Ki Jandela tidak pernah diajak bicara oleh Wulan Kencana, itu menunjukkan bahwa ketua mereka tidak menunjukkan tanda-tanda terluka atau menderita suatu racun.
Adapun Racun Gaib adalah racun yang tidak berbau, berasa atau berwarna. Wujud awalnya berwarna putih, tetapi ketika digunakan akan lebur seperti menghilang. Racun Gaib sifatnya membunuh setelah waktu yang lama. Biasanya, ketika korban meyadari bahwa dia telah diracun, semuanya akan terlambat. Racun ini tipe yang sulit diobati atau dicari penawarnya. Seperti itulah keterangan dari Ki Jandela.
"Kenapa harus diracun? Jika ingin dibunuh, kenapa tidak langsung dibunuh saja?" pikir Guling Nikmat suatu waktu. "Ini sama saja membuat aku jadi pembunuh berdarah ular. Padahal aku hanya seorang juru masak."
Tempat yang pertama didatangi oleh Guling Nikmat adalah tangga lantai tiga. Ia mengantar makanan untuk Ketua Perguruan Bulan Emas hanya sampai depan tangga yang naik ke lantai tiga gedung utama. Selanjutnya makanan itu diterima oleh murid wanita yang kemudian diteruskan ke kamar Wulan Kencana.
Guling Nikmat dan kedua anak buahnya yang membawa makanan menggunakan nampan, melanjutkan perjalanannya menuju Kamar Batu Baja, kompleks tahanan berkamar batu yang dimiliki oleh Perguruan Bulan Emas.
"Makanan untuk Guru Perguruan Jari Hitam. Ini perintah langsung dari Ketua," ujar Guling Nikmat kepada murid perguruan penjaga pintu utama penjara.
Penjaga pintu pun membukakan pintu bagi Guling Nikmat dan kedua anak buahnya.
Guling Nikmat dikawal oleh seorang penjaga penjara.
"Apakah ada banyak orang yang dipenjara di sini?" tanya Guling Nikmat, kepo.
"Tidak. Hanya beberapa orang saja, yaitu guru Perguruan Jari Hitam, penyusup yang tadi malam, dan orang gila," jawab penjaga penjara.
Mendengar kata "penyusup", Guling Nikmat seketika teringat kepada Giling Saga, pemuda tampan berjari hitam yang sedikit-sedikit memeluknya, juga selalu membuatnya berdesir dan merinding saat menjadikannya sebagai sandera.
"Siapa yang menjadi orang gila?" tanya Guling Nikmat.
"Aku juga tidak tahu. Perempuan gila itu sudah dipenjara di sini sebelum aku ditugaskan berjaga," jawab penjaga penjara.
Tas!
__ADS_1
"Akk!"
Tiba-tiba mereka mendengar suara lecutan yang langsung disusul oleh suara jerit tertahan.
Tas!
"Akk!" jerit seorang lelaki lagi setelah suara lecutan seperti cemeti terdengar.
Guling Nikmat dan dua anak buahnya bisa memastikan bahwa apa yang mereka dengar bersumber dari sebuah ruangan berteralis yang akan mereka lewati.
Secara perlahan mereka bergerak lewat di depan sel penjara yang bagian depannya teralis besi tebal. Terlihat pintunya tidak digembok.
Mereka bisa melihat keberadaan seorang pemuda yang kedua tangannya diikat dan digantung, sehingga kedua kakinya menggantung. Kedua kakinya juga diikat dengan rantai. Pemuda itu dalam kondisi nyaris telanjang sempurna, ia masih mengenakan cawat warna hitam.
Pemuda yang adalah Giling Saga tersebut, sedang disiksa oleh dua orang murid perguruan yang berseragam kuning. Satu orang mencambuki tubuh Giling Saga yang sudah berdarah-darah karena deraan cemeti tersebut.
Guling Nikmat terkesiap ketika mengenali siapa pemuda yang sedang dicambuki itu. Hatinya tiba-tiba merasa iba melihat nasib Giling Saga. Di dalam hatinya, ia merasa tidak tega melihat kondisi pemuda yang satu-satunya sering membuatnya berdesir-desir.
"Biar dia kapok dan tidak akan menyusup lagi," jawab si penjaga penjara.
Mereka akhirnya melewati sel tempat Giling Saga disiksa.
Ternyata tempat Guru Perguruan Jari Hitam disekap lebih dalam lagi, sebab mereka harus turun ke lantai lebih bawah. Kegelapan penjara hanya diterangi oleh obor batu.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah sel. Di dalam ada seorang kakek kurus yang memang adalah Rereng Busa, guru dan ketua dari Perguruan Jari Hitam. Tubuh kurus itu dililit oleh rantai besar yang ujung-ujungnya tertanam kuat di dinding batu kamar sel. Terlihat bahwa kedua tangan si kakek dibungkus rapat menggunakan kain hitam
Dalam kondisi itu, Rereng Busa tersadar segar dan bisa berjalan hingga ke sebuah meja batu di tengah selnya. Rereng Busa memandangi mereka yang datang.
"Bulu babi sialan mati seratus kali di dalam parit kawin tujuh kali pakai cangkul karatan setaaan!" teriak keras seperti kesetanan, seorang wanita yang tiba-tiba dari arah belakang Guling Nikmat dan ketiga orang yang bersamanya.
Guling Nikmat dan rekan-rekannya benar-benar dibuat terkejut, sampai-sampai mereka terlompat kecil di tempat. Hampir saja makanan yang dibawa pun terlompat jatuh, untung anak buah Guling Nikmat alumni pelayan kedai bintang laut, sehingga bisa sigap menjaga nampan kembali stabil.
__ADS_1
Mereka sontak berbalik melihat ke belakang. Ternyata di dalam sel depan sel Rereng Busa, ada seorang wanita liar berpakaian merah robek-robek sedang menggapai-gapaikan kedua tangan kurusnya. Wajah wanita itu tidak jelas terlihat karena tertutupi oleh rambut lebatnya yang berantakan. Selnya gelap tidak berpenerang, cahaya hanya datang dari dalam sel Rereng Busa belaka.
"Babi-babi busuk belatungan seribu belatung dimakan campur bubur ayam hutan matanya picek setaaan!" teriak wanita tahanan itu lagi.
Guling Nikmat dan kedua anak buahnya langsung menduga bahwa wanita itulah yang tadi disebut sebagai tahanan orang gila oleh penjaga penjara.
"Tidak usah dihiraukan, dia memang seperti itu gilanya," kata si penjaga penjara.
Dia lalu membuka gembok pintu sel penjara Rereng Busa. Setelah dibuka, Guling Nikmat dan kedua anak buahnya masuk. Penjaga penjara menunggu di luar sel.
"Guru Jari Hitam, aku membawakan makanan untukmu," ujar Guling Nikmat.
"Hehehe! Akhirnya ada makanan enak datang," ucap Rereng Busa yang didahului kekehan yang tenang, seolah tidak terganggu oleh belenggu yang berat di tubuhnya. "Letakkan saja di meja batu itu. Nanti aku bisa menggapainya."
"Bagaimana Guru bisa tahu kalau ini makanan enak?" tanya Guling Nikmat.
"Dari aromanya yang kental akan bumbu dan kedatangannya dikawal. Pasti istimewa, walaupun ada racunnya," jawab Rereng Busa.
Deg!
Tersentak jantung Guling Nikmat. Seketika ia demam panggung, terlihat dari warna mukanya yang berubah pias di dalam keremangan penjara. Tubuhnya mendadak gemetar halus.
"Hahaha!" tawa Rereng Busa. "Tidak perlu takut seperti itu, Nisanak. Aku lebih sangat mengenal guru kalian dibandingkan kalian. Tidak mengapa, jangan takut seperti itu. Hahaha!"
Perkataan Rereng Busa membuat anak buah Guling Nikmat menunda peletakan makanannya.
"Letakkan saja di meja!" kata Rereng Busa.
"Maafkan aku, Guru!" ucap Guling Nikmat bernada bersalah.
"Tidak apa-apa. Tanpa diracun pun, aku akan mati dimakan usia. Hehehe!" kata Rereng Busa santai. "Letakkan saja!"
__ADS_1
Guling Nikmat lalu memberi isyarat wajah kepada anak buahnya. Makanan yang masih di nampan segera diletakkan di meja batu, lengkap dengan kendi kecilnya saja tanpa gelas. (RH