
“Hea hea hea!” teriak puluhan anggota Bajak Laut Kepiting Batu bersahut-sahutan saat mereka mengejar Sugang Laksama alias Pendekar Pedang Dedemit dan Jura Paksa, sahabat Sugang Laksama.
Kedua pemuda tampan itu telah membawa lari Alma Fatara, gadis kecil cantik yang saat itu berusia empat belas tahun. Alma diduga telah mengambil atau menyimpan benda yang bernama Bola Hitam.
Sesekali kedua pemuda itu harus berkelebat dengan ilmu peringan tubuhnya. Alma Fatara berada di panggulan Jura Paksa dalam kondisi tertotok.
Mereka sudah meninggalkan desa nelayan di pinggir laut.
“Jura! Berpencar!” teriak Sugang Laksama. Ia bermaksud memecah puluhan orang bajak laut yang mengejar mereka.
Sugang lalu berbelok sehingga berpisah arah dengan Jura Paksa.
“Kejar yang membawa anak itu saja!” teriak Cucum Mili alias Ratu Kepiting.
Cucum Mili dan para anak buahnya terus mengejar Jura Paksa, tanpa ada seorang pun yang mengejar Sugang Laksama.
“Sugang bodoh!” rutuk Jura setelah melihat rombongan bajak laut itu semuanya justru mengejarnya.
Sementara itu, Sugang Laksama berhenti berlari. Ia terkejut karena tidak ada orang yang mengejarnya. Ia akhirnya menepuk jidatnya sendiri setelah memikirkannya baik-baik.
“Iya ya, mereka mengejar Bola Hitam, sedangkan Bola Hitam ada di anak itu, untuk apa mengejar aku?” pikir Sugang Laksama.
Buru-buru Sugang Laksama berbalik dan pergi untuk menyusul temannya.
Jura Paksa telah memasuki hutan. Sementara Alma Fatara yang tubuhnya berada di bahu kanannya, hanya bisa pasrah karena tubuhnya terguncang-guncang selama pelarian itu. Tubuhnya masih dalam keadaan tertotok.
Di saat Cucum Mili semakin mendekati Jura Paksa, seorang anak buanya membidik dengan panahnya.
Set! Teb!
Satu anak panah melesat cepat dan meleset. Namun, anak panah itu menancap di batang pohon depan Jura Paksa, membuat pemuda berpakaian hitam itu berhenti sejenak.
Set! Bluar!
Berhentinya Jura Paksa membuat Cucum Mili berkelebat sambil melesatkan satu butir senjatanya. Benda sebesar biji kelengkeng itu menghantam dan meledakkan batang pohon tepat di sisi Jura Paksa.
Ledakan itu membuat Jura Paksa terpental bersama tubuh Alma Fatara. Keduanya jatuh terpisah di semak belukar.
Beberapa anak buah Cucum Mili telah mendapati keberadaan Jura Paksa. Mereka langsung menyerang Jura Paksa dengan pedang, golok dan tombaknya. Jura Paksa bereaksi dengan bergerak mengelak.
Pengeroyokan akhirnya terjadi pada Jura Paksa. Meski tangan kosong tanpa senjata, Jura Paksa bisa mengimbangi pengeroyoknya. Ia ternyata seorang pendekar yang tangguh. Di sela-sela upayanya dalam mengelaki senjata-senjata yang mengancam nyawanya, Jura Paksa masih bisa menghajar satu dua lawannya.
Namun, orang yang mengeroyok Jura Paksa semakin bertambah dalam waktu singkat. Itu bukan kondisi yang baik bagi pemuda itu.
Sementara itu, Cucum Mili segera pergi menghampiri tubuh Alma Fatara yang tergeletak terlentang di semak belukar.
“Hihihi! Dasar anak nakal!” rutuk Cucum Mili yang diawali oleh tawanya.
__ADS_1
“Jangan sentuh anak itu!” teriak seorang lelaki saat Cucum hendak meraih sabuk Alma Fatara.
Dak!
Terjangan lelaki yang adalah Sugang Laksama itu membuat Cucum Mili harus menangkis dengan batang tangannya. Terjangan itu membuat Cucum terdorong beberapa tindak sehingga agak menjauh dari tubuh Alma Fatara.
Tuk tuk!
Sugang Laksama segera membebaskan Alma Fatara dari totokan.
Seperti ikan yang baru ketemu air, Alma langsung bergerak bangun.
“Cepat lari ke mana saja!” teriak Sugang Laksama kepada Alma.
“Siap, Jagoan! Hahaha!” sahut Alma sumringah lalu berlari kencang sambil tertawa terkakak, seolah itu situasi yang menyenangkan.
“Jangan kabur, Anak Nakal!” teriak Cucum Mili sambil hendak mengejar Alma Fatara.
Namun, tusukan pedang Sugang Laksama membuat Cucum Mili menahan gerakannya, karena harus menghindari serangan.
“Kejar anak ituuu!” teriak Cucum Mili kepada para anak buahnya.
Maka beramai-ramailah para bajak laut itu mengejar Alma Fatara yang lari sambil tertawa, bukannya sambil menangis ketakutan.
“Kurang ajuar! Aku tidak dianggap!” maki Jura Paksa yang ditinggalkan ramai-ramai.
Jura Paksa terpaksa memaksa seorang bajak laut untuk lanjut bertarung. Satu orang bajak laut itu dengan mudah dihakimi oleh Jura Paksa. Setelah itu, Jura Paksa cepat melesat mengejar rombongan yang memburu Alma Fatara.
Sugang Laksama harus benar-benar bisa menahan posisi Cucum Mili agar terpisah dari para anak buahnya.
Permainan pedang Sugang Laksama yang berbahaya membuat Cucum Mili harus hati-hati menghadapi pemuda tampan itu.
Set! Blar!
Di sela-sela upayanya dalam menghindar, Cucum Mili masih bisa melesatkan satu butir senjatanya dari jarak dekat. Namun, Sugang Laksama bukan pendekar setengah jadi. Dengan cekatan ia memiringkan badan atasnya, membuat senjata peledak itu lewat dan menghancurkan semak belukar.
Cucum Mili melompat mundur sambil melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi.
Sess! Sess!
Bersamaan dengan majunya Sugang Laksama, Cucum Mili melesatkan bola sinar merah berekor masing-masing dari kedua telapak tangannya. Namun, bukan Sugang Laksama yang diserang, tetapi dilesatkan melebar ke kanan dan ke kiri.
Arah serangan dua sinar yang dilepas Cucum Mili membuat Sugang Laksama heran. Sambil menyerang Cucum dengan pedangnya, Sugang Laksama juga mencuri lirik pada dua sinar merah, mau ke arah mana serangannya.
Ternyata dua sinar merah berekor itu melesat berbelok lalu berbalik arah menuju posisi Sugang Laksama. Pemuda itu terkejut.
Ketika sinar ilmu Penikam Selingkuhan Ikan itu berbalik akan menyerang Sugang Laksama dari belakang, Cucum Mili tiba-tiba melakukan serangan gerak tingkat tinggi. Perhatian Sugang Laksama yang terbagi, membuat Cucum Mili bisa menerobos pertahanan pedang pemuda itu.
__ADS_1
Akibatnya, Sugang Laksama jadi kelabakan menghadapi serangan jarak rapat Cucum Mili. Sementara dari belakang, dua sinar merah berekor mengincar punggungnya.
Sess! Bluarr!
Tepat pada saat kedua sinar itu akan menghantam punggungnya, Sugang Laksama terpaksa nekat maju menerkam pinggang dan perut Cucum Mili. Tindakan yang juga mengejutkan Cucum Mili itu, membuat dua sinar merah berekor melintas singkat dan tipis di atas tubuh mereka berdua, hingga akhirnya meledak tepat menghantam sebuah batang pohon hutan.
Ledakan hebat itu membuat batang atas pohon bergerak tumbang.
Sementara itu, Sugang Laksama kini posisinya menindih tubuh Cucum Mili, malah wajahnya sempat menabrak kencang dua bukit kewanitaan ketua bajak laut itu.
“Kurang sopan! Muka kotor!” maki Cucum Mili gusar bukan main.
Bsruakr!
Belum lagi Cucum Mili mendorong tubuh Sugang Laksama dari atas tubuhnya, tiba-tiba dari arah atas jatuh batang pohon yang menimpa mereka berdua.
“Akk!” jerit Sugang Laksama tertahan saat punggunya tertimpa dahan pohon, bukan batang utamanya.
Namun, penimpaan itu membuat Sugang Laksama tidak bisa bangkit dari atas tubuh Cucum Mili. Jangankan bangun, bergeser saja tidak bisa karena dahan itu juga menanggung berat satu pohon.
Kondisi itu membuat Cucum Mili mendelik dengan wajah memerah malu.
“Kurang sopan! Kurang Sopan! Dasar pemuda muka kakus!” maki Cucum Mili sambil memukul-mukul kepala Sugang Laksama, sebab dia juga tidak bisa bergerak.
Pedang Sugang Laksama tergeletak agak jauh dari tangannya karena terlepas. Karena tidak sanggup berbuat apa-apa, Sugang Laksama akhirnya pasrah saja.
“Aku pasrah saja, Cucum!” kata Sugang Laksama sambil menjatuhkan wajahnya begitu saja.
“Kepiting cabul! Kepiting cabul! Jangan letakkan wajahmu di dadaku, Muka Kakus!” teriak Cucum Mili panik luar biasa sambil terus memukuli kepala pemuda tampan itu. Namun, pukulan itu tidak sampai melukai, meski sebelumnya mereka bertarung untuk saling bunuh.
Sementara itu, Alma Fatara terus berlari menerobos hutan tanpa tahu arah hendak ke mana. Suara orang-orang yang mengejar terdengar ramai di belakang.
Tiba-tiba Alma Fatara berhenti. Di hadapannya jalan buntu, hanya ada semak belukar yang tingginya sedada, tidak ada tanda pola keberadaan sebuah jalan, kecuali arah belakang.
“Itu dia! Tangkap!”
“Jangan lepaskan!”
“Ayo lucuti pakaiannya!”
Terdengar teriakan-teriakan yang semakin begitu dekat. Saat Alma melihat ke belakang, memang terlihat sejumlah orang yang berlari dengan penuh semangat mendekati posisinya.
Daripada tertangkap kemudian ditelanjangi, Alma Fatara buru-buru melanjutkan larinya. Ia menerobos semak belukar tanpa bisa melihat ada apa di depan sana.
Sruuuk!
“Aaa…!”
__ADS_1
Tiba-tiba kedua kaki Alma yang berlari terperosok ke bawah. Tubuh Alma tenggelam ke dalam semak belukar. Namun kemudian, jeritannya terdengar mejauh.
“Tahan!” teriak seorang bajak laut, menghentikan semua teman-temannya yang hendak mengejar masuk ke semak belukar. “Di depan ada jurang!” (RH)