
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Hiaat! Aku cekik kau sampai mati!” pekik Jenggot Sejenggut sambil mencekik leher lawannya dari belakang dengan kuncian lengan kanan.
Kumis Kalong mencoba menahan sekuat tenaga sambil berusaha menarik lepas tangan Jenggot Sejenggut pada lehernya.
Dak!
Rupanya Kumis Kalong pintar. Dia mengait kaki kanan Jenggot Sejenggut dengan kaki kanannya, membuat lawannya hilang keseimbangan lalu jatuh bersama di petak sawah yang berlumpur dan berair.
Jatuh membuat tubuh dan kepala Jenggot Sejenggut tenggelam sejenak di lumpur. Membuatnya tidak bisa melihat untuk sebentar. Akibatnya, kunciannya pada leher Kumis Kalong lepas.
Kumis Kalong yang juga terendam di lumpur, tapi posisinya di atas tubuh Jenggot Sejenggut, buru-buru bangun.
“Matilah kau, Jenggot Sejenggut! Hahaha!” kata Kumis Kalong sambil menginjakkan kaki kanannya ke dada Jenggot Sejenggut agar lelaki berjenggot itu tetap tenggelam di dalam lumpur.
Drap drap drap!
Tiba-tiba Kumis Kalong mendengar suara derap langkah kaki kuda yang banyak. Ia cepat melihat ke jalan yang posisinya lebih tinggi dari petak sawah tempat ia bertarung.
Kumis Kalong bisa melihat keberadaan rombongan pasukan pendekar berkuda. Orang yang paling depan adalah Gede Angin selaku pembawa bendera Kerajaan Siluman yang bergambar laba-laba besar perkasa.
Rombongan berkuda itu tidak lain adalah rombongan Ratu Siluman Alma Fatara. Mereka semua berhenti membentuk pagar kuda di jalan pinggir sawah. Mereka semua memandang kepada pertarungan di petak sawah itu.
Tap!
Tiba-tiba pergelangan kaki Kumis Kalong dicekal oleh tangan Jenggot Sejenggut dan menariknya.
Jbrak!
Tak ayal lagi, tubuh Kumis Kalong terpelanting jatuh tengkurap di lumpur.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara dan pasukannya melihat pertarungan itu.
Mendengar suara tawa yang ramai, Jenggot Sejenggut buru-buru bangun berdiri. Ia usap wajahnya sehingga bisa membuka matanya dan melihat siapa orang-orang yang menertawakannya.
Ketika Jenggot Sejeggut membuka matanya, tiba-tiba ….
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad kompak.
“Huaaa!” pekik Jenggot Sejenggut terkejut sampai-sampai terjengkang ke lumpur.
“Hahahak …!” Meledak besar tawa Alma Fatara dan pasukannya melihat kelucuan itu. Tawa mereka sampai berkepanjangan.
__ADS_1
Tooot! Tooot! Tooot!
Di sela-sela tawa mereka itu, tiba-tiba terdengar suara terompet keras sebanyak tiga kali.
Alma Fatara dan sebagian lainnya mendadak berhenti ketika mendengar tiga kali suara lain itu. Mereka langsung mencoba menelisik dan mengindentifikasi suara apakah itu gerangan.
“Gede Angin, kau kentut!” teriak Penombak Manis yang kudanya bersebalahan dengan Gede Angin.
“Hahaha!” tawa Gede Angin dengan wajah malu.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara dan pasukannya.
“Gede Angin tertawa sampai terkentut-kentut! Hahahak!” teriak Anjengan lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hahahak!” Mereka kembali menertawakan Gede Angin.
Sementara itu di petak sawah yang belum ditanami padi, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong telah berdiri berdampingan. Mereka tidak berkelahi lagi. Mereka lebih fokus memandang kepada Alma Fatara dan pasukannya.
“Hei, kalian berdua!” seru Anjengan.
Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong jadi saling berpandangan. Wajah pakaian dan tubuh mereka sudah tertutupi oleh lumpur. Mereka berdua mirip makhluk dari alam yang kotor.
“Ayo bertarung lagi!” teriak Anjengan.
“Siapa yang mati, akan aku beri sekantung kepeng!” teriak Geranda pula.
“Siapa?” tanya Alma Fatara yang berada di sisi Ratu Kepiting.
“Mereka seperti petarung di atas tiang yang abdi dalamnya tertarik saat lawannya jatuh,” jawab Cucum Mili.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara. “Iya iya iya, aku ingat. Hahaha!”
Mendengar percakapan Alma Fatara dan Cucum Mili, Panglima Besar Anjengan segera berseru kepada kedua orang lumpur itu.
“Hei! Kenapa kalian bertarung di sini? Bukankah kalian sudah bertarung di rumah Demang Sungkara?”
“Dia harus aku hajar karena telah mempermalukan aku, Gusti Ratu!” sahut Jenggot Sejenggut yang tahu bahwa Alma Fatara adalah seorang ratu. Sebelum ia pergi meninggalkan halaman rumah Demang Sungkara, dia masih bisa melihat dan mendengar Alma Fatara disambut oleh Demang Sungkara sebagai seorang ratu.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Apa yang kalian inginkan? Kehormatan atau uang?”
“Uang!” jawab Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong bersamaan dan penuh semangat.
“Aku menawarkan kalian berdua pekerjaan, nanti aku bayar. Namun, jika kalian masih mau saling bunuh demi membela kehormatan, lanjutkan,” kata Alma Fatara.
“Baik, aku mau, Gusti Ratu!” teriak Kumis Kalong cepat sambil maju dua langkah.
__ADS_1
“Aku juga, Gusti Ratu!” teriak Jenggot Sejenggut sambil maju pula tiga langkah, selangkah lebih maju dari Kumis Kalong.
“Bersihkan wajah dan badan kalian. Lalu susul kami!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap keduanya kompak.
“Lanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara kepada pasukannya.
Pasukan Genggam Jagad pun kembali bergerak untuk melanjutkan perjalanan. Tenggak Telaga berkuda di antara Gede Angin dan Penombak Manis sebagai penunjuk jalan menuju kediaman Tengkorak Sabit Putih.
Sementara itu, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong buru-buru pergi ke petak sawah yang memiliki bagian air yang tenang dan tidak keruh. Mereka berdua membersihkan wajah, pakaian dan tubuh mereka dengan terburu-buru, sambil sesekali memandang jalanan, takut pasukan itu keburu jauh.
Tidak harus menunggu sangat bersih, keduanya buru-buru berlari ke jalan lalu mengejar buntut rombongan Pasukan Genggam Jagad.
Akhirnya, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong bergabung dalam pasukan Alma Fatara. Namun masalahnya, mereka harus berlari mengikuti rombongan kuda yang berlari pelan. Mereka tidak memiliki kuda dan tidak ada kuda yang kosong.
Melihat nasib kedua lelaki berusia empat puluhan itu, Juling Jitu jadi berbaik hati.
“Pakailah kudaku!” kata Juling Jitu sambil melompat turun dari kudanya.
“Terima kasih, terima kasih!” ucap Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong bersamaan.
Juling Jitu lalu berkelebat mengejar kuda istrinya.
“Hahaha!” tawa pelan Alma Fatara melihat pergerakan Juling Jitu.
Seperti sudah lupa dengan pertengkaran mereka, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong berbagi punggung kuda. Mereka jadi seperti dua sahabat yang begitu mesra.
Sementara di depan, Penombak Manis sangat bahagia ketika Juling Jitu datang ke kudanya, meski tidak mengajak main kuda-kudaan.
Sementara waktu terus bergulir menuju senja.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba ada dua kuda lain dari arah belakang yang berlari kencang, yang pasti akan melewati rombongan pasukan tersebut.
Kedua penunggang kuda tersebut adalah kakek dan nenek, yang pastinya sudah tua.
Mengetahui ada dua penunggang kuda yang buru-buru, anggota pasukan Alma Fatara segera memberi jalan.
Dari penampilannya, sangat jelas bahwa kedua orang tua itu adalah seorang pendekar. Kesenioritasannya jelas menunjukkan bahwa mereka bukan sembarang pendekar.
Si kakek mengenakan jubah cokelat yang sudah lusuh. Rambut gondrong putihnya dibiarkan terurai ikal seperti anak muda. Ia tidak terlihat membawa senjata.
Berbeda dengan si nenek yang membawa tongkat lurus. Pada ujung tongkatnya ada bola bening berwarna biru indah. Rambut putih si nenek dikepang tunggal, sehingga dia terlihat dua puluh tahun lebih muda, tapi tetap saja tua.
__ADS_1
Kedua orang tua itu tidak mengurangi kecepatan kudanya ketika berlari di sisi barisan pasukan berkuda tersebut. Namun, mereka berdua menengok dan memandangi sekilas wajah-wajah yang mereka lewati. (RH)