Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 11: Balap Kuda


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


“De-de-dewi La-la-laut!” teriak Gagap Ayu sambil melarikan kudanya di sisi kuda Anjengan. Lalu lanjutnya, “Po-po-pohon randu itu ja-ja-jadi batas ke-ke-kemenangan!”


“Siapa berani. Eh, siapa takut!” teriak Anjengan. Lalu teriaknya kepada Kembang Bulan, “Kembang, ayo berlomba sampai pohon randu di depan sana!”


“Iya!” sahut Kembang Bulan, lalu mensejajarkan kudanya dengan lari kuda kedua pendekar wanita itu.


“Aku ikut!” teriak Iwak Ngasin pula.


“Jitu, kau ikut?!” tanya Anjengan.


“Tidak, aku lemas!” jawab Juling Jitu dengan wajah mengibakan.


“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin merasa menang karena berhasil membuat sahabatnya itu menderita.


“Aku aba-aba!” teriak Gagap Ayu tanpa gagap. Namun, kemudian gagap lagi, “Sa-sa-satu!”


“Du-du-dua!” teriak yang lain pula mengikuti kegagapan Gagap Ayu, membuat perasaan mereka kian gembira.


“Hihihi!” tawa Kembang Bulan yang sudah mulai terbiasa dengan kegilaan para pendekar dari Sungai Darah Roh itu.


“Ti-ti-tigaaa!” teriak mereka serentak sambil menggebah kencang kuda mereka sekencang-kencangnya.


Kuda Iwak Ngasin, Anjengan, Gagap Ayu, dan Kembang Bulan berlari sekencang-kencangnya di atas jalan lebar itu. Mereka berlari menerobos petang dengan kondisi langit yang remang-remang karena ada kemendungan.


Keempat kuda itu benar-benar berlari seperti kuda balap, padahal sejak tadi kuda-kuda mereka berlari cukup kencang sejak meninggalkan Desa Tinggelos.


“Hahaha!” Alma hanya tertawa melihat kegembiraan dan semangat sahabat-sahabatnya.


Tinggallah Juling Jitu yang merasa nestapa karena tidak bisa berbaur dalam kegembiraan rekan-rekannya.


Terlihat bahwa kuda Anjengan berlari paling belakang dalam perlombaan itu. Kuda Gagap Ayu paling depan, kemudian kuda Iwak Ngasin lalu Kembang Bulan.


“Kudamu keberatan susu, Anjengan! Hahaha!” teriak Iwak Ngasin meledek.


“Selesai ini aku tantang kau angkat beban!” balas Anjengan kesal. Namun kemudian, dia gembira melihat kuda Iwak Ngasin terkejar oleh kuda Kembang Bulan, “Orang sombong dipermalukan. Hahaha!”


Iwak Ngasin terkejut karena secara perlahan kepala kuda Kembang Bulan terus maju melewati posisi kepala kudanya.


“Heah heah!” gebah Iwak Ngasin kencang, berusaha balas menyalip kuda Kembang Bulan yang lewat dengan senyum manis yang menyakitkan kepadanya.


Namun ternyata, upaya Iwak Ngasin tidak berbuah mangga. Kuda Kembang Bulan terus maju dengan cepat, bahkan dengan meyakinkan mulai mengejar kepala kuda Gagap Ayu.


Gagap Ayu menengok ke samping dan melihat Kembang Ayu yang cantik muncul maju perlahan hendak menyamai posisi kudanya. Terlihat wajah cantik itu begitu serius dalam menggebah kudanya.

__ADS_1


“Ayo ku-ku-kudaku! Ja-ja-jangan sampai ka-ka-kalah! He-he-heah! He-he-heah!” teriak Gagap Ayu sambil dengan gagap menambah daya gebahnya.


“Hahahak!” Mau tidak mau Iwak Ngasin dan Anjengan tertawa terbahak mendengar gaya koboi Gagap Ayu yang terdengar aneh dan lucu.


“Ke-ke-kenapa kudaku mu-mu-mundur?” teriak Gagap Ayu terkejut.


“Bukan kudamu yang mundur, tapi kuda Kembang Bulan yang terlalu cepat. Hahaha!” teriak Iwak Ngasin yang sudah ikhlas untuk kalah.


Sementara itu, pohon randu yang tinggi menjulang semakin dekat mereka capai.


Posisi kepala kuda Gagap Ayu sudah sejajar dengan bokong kuda Kembang Bulan. Jelas-jelas Kembang Bulan akan menjadi pemenang yang pasti, jika tidak ada keajaiban yang aneh terjadi.


“Pemenangnya adalaaah … Kembang Bulaaan!” teriak Anjengan yang posisinya paling belakang.


Teriakan Anjengan itu seiring dengan kuda Kembang Bulan melintasi depan batang pohon randu yang besar. Menyusul kuda Gagap Ayu dan Iwak Ngasin. Terakhir kuda Anjengan.


“Yeee! Aku menang, aku menang, aku menang! Hihihi!” teriak Kembang Bulan begitu gembira lalu tertawa kencang sambil memelankan lari kudanya.


Mereka semua akhirnya memelankan kudanya. Anjengan justru tertawa-tawa seakan-akan mendukung kemenangan Kembang Bulan. Sementara Iwak Ngasin dan Gagap Ayu hanya meringis.


“Bahaya, Kembang Bulan seperti calon pendekar sakti. Sehari berkuda saja dia sudah sehebat ini,” kata Iwak Ngasin.


“Pa-pa-pasti dia su-su ….”


“Susunya gede?” terka Iwak Ngasin memotong kata-kata Gagap Ayu.


Bdak!


Tiba-tiba Anjengan melompat kencang dari punggung kudanya menerkam Iwak Ngasin.


Kedua makhluk gemuk dan kurus itu jatuh berdebam di tanah jalanan. Anjengan tanpa sungkan memeluk dan mencekik tubuh kurus sahabatnya itu.


“Biar aku sumpel mulutmu dengan susuku!” teriak Anjengan gemas.


“Hihihi …!” Tertawa terkikik Gagap Ayu dan Kembang Bulan melihat perkelahian itu.


“Anjeng, apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak tahu malu?!” teriak Iwak Ngasin sambil berusaha lepas dari pelukan Anjengan. Namun, pelukan Anjengan tampaknya serius, membuat Iwak Ngasin mati tenaga. Wajahnya benar-benar disumpal oleh lemak dada kakak angkat Alma itu.


“Hahahak!” tawa Alma dan Cucum Mili sambil kudanya melintasi mereka berdua.


Alma Fatara, Cucum Mili, Mbah Hitam, dan Juling Jitu lewat begitu saja dan membiarkan dua orang itu bergulat. Gagap Ayu dan Kembang Bulan cepat mengikuti Alma Fatara.


“Siapa yang menang, Ayu?” tanya Alma.


“Aku,” jawab Gagap Ayu, membuat Kembang Bulan mendelik memandang gadis berbaju merah itu. Namun, kemudian katanya, “Ta-ta-tapi aku di-di-dikalahkan oleh Ke-ke-kembang Bu-bu-bulan.”

__ADS_1


“Hahaha! Berarti kau sangat berbakat, Kembang. Mungkin Kakak Putri mau mengangkatnya menjadi murid?” tanya Alma kepada Cucum Mili.


“Kasihan jika gadis secantik Kembang harus berubah hitam karena main di laut,” jawab Cucum Mili.


“Alma, tungguuu!” teriak Anjengan yang sudah melepaskan Iwak Ngasin.


Pemuda kurus itu juga buru-buru mengejar kudanya dan naik ke punggungnya.


Setelah Anjengan dan Iwak Ngasin bergabung, suasana kembai normal. Memang selalu seperti itu jika para Pendekar Sungai Darah Roh itu bertengkar. Namun, perseteruan antara Iwak Ngasin dan Juling Jitu tampaknya belum selesai.


Sementara itu, langit petang kian bermuram warna.


“Sepertinya angin malam akan kencang, Gusti Ratu,” kata Mbah Hitam.


“Kau benar, Tua Ganteng,” timpal Cucum Mili dengan memberi sebutan baru bagi Mbah Hitam. Sebagai pemimpin bajak laut, Cucum Mili ahli dalam membaca cuaca dengan melihat langit dan merasakan embusan angin.


“Baiknya kita mencari tempat bermalam yang tepat,” kata Alma.


“Awan di langit barat sudah menghitam. Sebentar lagi akan menutupi semua langit dan hujan akan turun,” tambah Cucum Mili.


“Coba kita ke arah bukit berbatu itu, mungkin ada gua yang bisa kita temukan!” kata Alma sambil menunjuk bukit batu yang ada di sisi timur dan tidak terlalu jauh.


Mereka pun berkuda ke arah bukit batu.


Sementara itu, angin malam mulai terasa kian kencang dan dingin. Di sisi barat sudah semakin gelap oleh malam dan mendung tebal. Sepertinya hujan sudah turun di wilayah barat.


Ketika mereka mendekati bukit berbatu, gerimis mulai turun secara halus.


“Iwak, Kakak Anjeng, cepat pergi lebih dulu, carilah gua di depan sana!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap keduanya tetap semangat, seolah pertengkaran tadi tidak pernah terjadi.


Keduanya segera menggebah kudanya sedikit lebih cepat untuk menyusuri kaki bukit. Di kaki bukit sisi barat ternyata ada sungai dangkal berbatu.


Sementara itu, hujan mulai menebal. Namun, seiring itu, Anjengan juga berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Ia menemukan sebuah gua batu, tapi posisinya harus menyeberangi sungai.


Kuda-kuda mereka segera menyeberangi sungai. Kedalaman paling dalam yang mereka lewati hanya setinggi dengkul kuda.


Anjengan memang menemukan sebuah gua cukup besar dan dalam. Posisi gua tepat berada di atas pinggir sungai.


“Tapi, aku perkirakan, jika hujannya lebat dan lama, mungkin sungai ini akan naik dan masuk ke dalam gua,” kata Cucum Mili.


“Kita lihat perkembangannya nanti,” kata Alma.


Akhirnya mereka pun berteduh di dalam gua tersebut. Kuda-kuda pun bisa dimasukkan berlindung ke dalam gua.

__ADS_1


Selanjutnya, hujan deras turun. (RH)


__ADS_2