
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Rereng Busa dan Jerat Gluduk bertarung masih di atas panggung yang separuh. Mereka berbagi panggung dengan Cucum Mili yang menghadapi Galah Larut.
“Apakah kau yakin bisa melawanku dengan tangan tanpa jari-jari seperti itu?” tanya Jerat Gluduk sambil tersenyum sinis meremehkan.
“Hahaha! Lihatlah baik-baik!” kata Rereng Busa sambil meluruskan kedua tangannya, seperti pesulap yang ingin menunjukkan kedua tangannya yang tanpa jari-jari.
Jerat Gluduk mendelik ketika melihat dari dua telapak tangan yang buntung itu keluar jari-jari sebanyak sepuluh. Namun, jari-jari itu terbuat dari sinar yang hitam gelap. Ada kilatan-kilatan sinar kuning tipis yang menjalar sesekali.
Melihat lawannya memiliki jari-jari kembali, Jerat Gluduk cepat menghentakkan kedua lengannya ke bawah.
Zreeet!
Tiba-tiba di sekeliling kaki Rereng Busa muncul lima sinar warna merah dalam wujud pola wajah macan.
“Ini adalah Jerat Lima Wajah Maut, kau tidak akan bisa lari darinya!” kata Jerat Gluduk yang mulai memainkan ilmu-ilmu jeratnya.
“Aku pernah bertarung dengan orang yang lebih hebat darimu dalam hal ilmu jeratan,” kata Rereng Busa seraya tersenyum tipis, seolah memukul balik kepercayaan diri Jerat Gluduk.
“Aku ingin buktikan!” teriak Jerat Gluduk sambil menggenggam kuat kepalan tangan kanannya di depan dada.
Zurss zurss zurss …!
Tiba-tiba dari kelima pola wajah macan di lantai melesat keluar sinar merah berpola sama yang menyerang naik ke tubuh Rereng Busa.
“Akk!” jerit Rereng Busa setelah ia membiarkan kelima sinar merah itu memasuki tubuhnya.
Orang tua itu berdiri mengejang menahan rasa sakit yang luar biasa menggerogoti seluruh bagian dalam tubuhnya.
Blass!
Tiba-tiba ada ledakan sinar kuning yang keluar dari dalam tubuh Rereng Busa yang mengejutkan Jerat Gluduk. Ketua Perguruan Bukit Dua itu tidak tahu apa yang terjadi pada Rereng Busa. Awalnya ia tahu apa yang terjadi saat lelaki kurus itu mengejang dan menjerit kesaktian, tapi dia tidak tahu setelahnya.
Setelah ledakan sinar itu, Rereng Busa tidak merasakan lagi kesaktian. Sesuatu justru terjadi terhadap dirinya. Sepasang mata Rereng Busa bersinar merah, membuat pupil matanya tertutupi.
“Aku memiliki ilmu Serap Daya Setan. Meski aku tidak menguasai ilmu Jerat Lima Wajah Maut, tapi aku kini memiliki kekuatannya. Kau bisa merasakan sendiri kesaktianmu sendiri, Jerat!” kata Rereng Busa.
Zerrt!
Rereng Busa lalu menghentakkan sepasang lengannya, membuat kedua tangannya bersinar merah.
Rereng Busa lalu bergerak menyerang Jerat Gluduk. Pertarungan gerak cepat antara dua kakek terjadi sengit. Awalnya Jerat Gluduk hanya mengelak menghindari jari-jari sinar hitam Rereng Busa. Namun, ketika ia menangkis batang tangan Rereng Busa dengan batang tangannya, ada sinar merah mengalir cepat masuk ke dalam tangannya.
“Akk!” jerit Jerat Gluduk kesaktian.
Keterkejutannya membuat Jerat Gluduk refleks melompat mundur, lalu menatap tajam Rereng Busa dengan napas mendadak terengah. Sengatan sinar merah dari tangan Rereng Busa membuatnya harus berhati-hati.
Jerat Gluduk lalu melakukan gerakan bertenaga dalam tinggi yang kemudian berujung pada bersinar merahnya kedua telapak tangan. Jerat Gluduk lalu bersiap dengan memasang kuda-kudanya.
Rereng Busa yang sepasang matanya sudah normal, kembali maju dengan serangan seperti semula, yakni kesepuluh jari-jari sinar hitam dan kedua tangan yang bersinar merah.
Paksrr! Sesrr!
Namun, kali ini Jerat Gluduk berani beradu tangan. Maka, telapak tangan kanannya beradu dengan telapak tangan kanan Rereng Busa. Ternyata pertemuan dua telapak tangan itu tidak saling mementalkan, tapi saling mendorong.
Tiba-tiba dari tangan Jerat Gluduk muncul tali sinar merah yang lebih terang dari warna sinar merah Rereng Busa. Tali sinar itu menjalar menjerat tangan Rereng Busa hingga ke bahu lalu menusuk masuk ke dalam tubuh.
“Akkhr!” jerit Rereng Busa lagi dengan tangan kanan tetap menempel pada tangan Jerat Gluduk.
Blass!
__ADS_1
Setelah menjerit menahan kesakitan, tiba-tiba tubuh Rereng Busa mengeluarkan ledakan sinar kuning lagi.
Sesrr!
Dan yang mengejutkan Jerat Gluduk, tiba-tiba dari telapak tangan Rereng Busa muncul tali sinar merah serupa tadi, menjalar melilit tangan kanan si kakek botak. Tali sinar itu kemudian menusuk masuk ke bahu Jerat Gluduk.
“Aaakk!” jerit Jerat Gluduk tinggi.
“Rasakan kesaktianmu sendiri, Jerat!” desis Rereng Busa
Baks!
Setelah itu, menyusul serangan telapak tangan kiri yang menghantam dada Jerat Gluduk, memaksanya terdorong, tetapi tangan kanannya tidak bisa lepas dari tangan kanan Rereng Busa. Jeratan tali sinar merah masih menguasainya.
“Aaakk!” Jerat Gluduk masih menjerit menahan sakit dari serangan tali sinar merah, yang masih menusuk masuk ke dalam bahunya. Pada akhirnya ia berbuat sesuatu untuk lepas dari jeratan ilmunya sendiri. “Hiaaat!”
Cess!
Telapak tangan kiri Jerat Gluduk melesatkan sinar biru berwujud jaring besar yang kemudian membungkus tubuh Rereng Busa. Ternyata sinar biru itu memaksa memisahkan Rereng Busa dan Jerat Gluduk. Dengan demikian, Jerat Gluduk bisa bebas dari rasa sakit dan Rereng Busa sendiri diikat kuat oleh jala sinar itu, membuatnya tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.
Namun tidak lama, tiba-tiba jala sinar biru sudah terbakar musnah oleh sinar emas yang bergerak seperti api membakar sumbu dinamit. Rereng Busa telah mengerahkan ilmu Jari Emas Hitam.
Sess! Zeerzz!
Selagi ilmu Jari Emas Hitam berproses, Jerat Gluduk cepat melepaskan salah satu ilmu tertingginya. Dalam jarak dekat dia melesatkan sinar merah panjang, depannya besar dan belakangnya panjang kecil.
Ketika sinar merah itu menghantam tubuh Rereng Busa, sinar merah itu langsung berubah berwujud jaring, membungkus tubuh lelaki kurus itu lagi, kemudian menyetrum dengn sengatan yang tinggi.
“Aaaakh!” jerit Rereng Busa dengan tubuh mengejang lagi.
Blass!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Rereng Busa kembali muncul ledakan sinar kuning. Setelah itu, Rereng Busa tidak menjerit lagi. Pada akhirnya, jaring sinar biru habis terbakar oleh sinar emas dan jaring sinar merah lenyap dengan sendirinya.
Jerat Gluduk hanya bisa terperangah seperti orang bego.
Sess! Zeerzz!
“Aaakk!” jerit Jerat Gluduk tanpa sempat terkejut, lagi-lagi ilmunya bisa dimiliki oleh Rereng Busa dalam waktu singkat.
“Kau bisa merasakan kesaktianmu sendiri!” kata Rereng Busa. Lalu teriaknya keras, “Giliran kau yang harus merasakan kesaktianku, Jerat!”
Beg! Slasss!
“Huakr!”
Rereng Busa menghentakkan kaki kanannya ke lantai panggung. Seiring suara jejakan pada lantai, dari dalam tubuh Rereng Busa melesat sinar kuning yang membias lebar ke depan, menghantam tubuh Jerat Gluduk yang sedang menikmati setruman ilmunya sendiri.
Sinar kuning bagian dari ilmu Serap Daya Setan itu, melemparkan Jerat Gluduk menjauhi panggung dan jatuh berdebam di antara pertarungan massal, yang mengeroyok murid-murid Perkasa Rengkah. Banyak darah yang tersembur dari dalam mulutnya.
Melihat ada musuh yang jatuh di tengah-tengah mereka, Gagap Ayu, Juling Jitu dan rekan-rekan langsung bereaksi.
“Ha-ha-hajaaar!” teriak Gagap Ayu kepada rekan-rekannya.
“Hiaaat!” teriak Brata Ala.
“Bunuuuh!” teriak Nining Pelangi.
“Seraaang!” teriak Juling Jitu pula.
Sementara rekan-rekan yang lain tetap fokus mengeroyok murid-murid Perkasa Rengkah yang tinggal tiga orang.
Jlegk!
__ADS_1
Belum lagi keempat orang itu menghakimi Jerat Gluduk seperti maling kotak amal masjid, Rereng Busa telah mendarat keras di tanah dekat mereka, membuat Gagap Ayu dan rekan-rekan terdorong oleh tenaga dari Rereng Busa, membuat mereka berjengkangan.
“Dia itu bagianku!” kata Rereng Busa agak membentak.
“I-i-iya, Guru!” ucap Brata Ala mendadak tergagap.
“Ja-ja-jangan meledekku, Be-be-Berata!” tukas Gagap Ayu sambil menunjuk wajah Brata Ala.
Rereng Busa mendatangi Jerat Gluduk yang menggeliat kesaktian dari arah kepala.
Ces ces!
“Aaaakk!” jerit Jerat Gluduk kencang saat sepuluh jari-jari hitam Rereng Busa menusuk masuk pada kedua bahunya.
Rereng Busa mencengkeram kedua bahu lawannya dan memaksanya untuk berdiri sambil menjerit kesaktian. Murid-murid Jerat Gluduk yang sudah menyerah, hanya bisa kasihan melihat guru mereka menderita.
Darah keluar dari cengkeraman yang sepanas bara api besi.
Taps taps!
Dengan kedua tangan membiru gelap, Jerat Gluduk balas mencengkeram kedua pergelangan tangan Rereng Busa. Dari cengkeraman itu menjalar sinar biru gelap seperti serat. Seketika Rereng Busa mengerenyit menahan sakit yang hebat pada kedua tangannya karena terserang racun.
Adu kekuatan tangan terjadi. Jerat Gluduk berusaha melepaskan kedua tangan lawannya, sementara Rereng Busa terus bertahan mencengkeram kedua bahu Jerat Gluduk.
“Semoga pembayaran lunas ini membuat arwahmu tenang di alam kematian, Jerat!” ucap Rereng Busa setengah berbisik.
Mendelik Jerat Gluduk mendengar perkataan itu. Dan saat itu pula, muncul dua sinar emas dari kedua cengkeraman jari-jari hitam Rereng Busa.
“Aaakk!” jerit Jerat Gluduk berkepanjangan.
Dengan munculnya dua sinar emas itu, maka Jerat Gluduk tidak bisa lagi berbuat banyak selain menjerit dan menunggu kemusnahan raganya.
Rereng Busa melepaskan kedua cengkeramannya pada bahu lawannya. Sementara dua sinar emas terus menyala membakar dan memakan tubuh Jerat Gluduk.
“Guru,” ucap beberapa murid Jerat Gluduk lirih dan sedih melihat guru mereka menghadapi kematian yang mengerikan.
Setelah separuh tubuh atasnya musnah, Jerat Gluduk pun berhenti menjerit seiring tubuhnya terkulai jatuh, cengkeraman tangannya pada tangan Rereng Busa terlepas.
Jerat Gluduk menjadi penguasa bukit pertama yang tewas di tangan pembela Suraya Kencani.
Sementara Rereng Busa, harus menderita keracunan yang parah.
“Uhhukhr!” Rereng Busa terbatuk sekali hentak. Ia menutupi mulutnya ketika terbatuk. Ternyata ada darah merah kebiruan yang menempel di telapak tangan yang membekap mulutnya barusan.
Sempat melirik kematian Jerat Gluduk, Galah Larut yang masih bertarung dengan Cucum Mili jadi was-was. Jika pun dia bisa menang dari wanita bercadar merah itu, ia pasti tetap tidak akan selamat.
Wuuss!
Galah Larut melepaskan segelombang angin pukulah hebat menyerang Cucum Mili. Wanita bercadar itu cepat melompat tinggi di udara menghindari angin tersebut, membuat angin pukulan tersebut lewat di bawahnya.
“Jangan kabur kau, Pemerkosa!” teriak Cucum Mili terkejut saat melihat Galah Larut berkelebat meninggalkan panggung tarung.
Galah Larut berlari di udara hendak menjangkau sebatang dahan kering dari pokok pohon mati.
Sezt!
“Mati aku!” pekik Galah Larut terkejut bukan main, ketika tiba-tiba sekelebatan sinar kuning tipis lewat di depan hidungnya hanya berjarak sejengkal.
Bluk!
Yang jadi masalah, sinar kuning tipis itu lewat membelah pokok pohon mati yang akan dipijak kaki Galah Larut. Pokok pohon itu terbelah dengan cara melesat ke dua arah yang berjauhan. Hal itu membuat kaki panjang Galah Larut tidak menemukan pijakan. Akibatnya, kakek jangkung itu jatuh memalukan dengan wajah lebih dulu mengecup tanah.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara melihat nasib Galah Larut. (RH)
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.