Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 6: Gede Angin


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Alma Fatara dan pasukannya terus berkuda menjalari muka bumi. Berbagai medan mereka taklukkan, dari yang datar, landai, mendaki, curam hingga harus menyeberangi sungai yang cukup dalam, sampai-sampai kuda-kuda mereka harus berenang. Namun, semua kondisi jalan mereka lewati dengan penuh suka cita.


Di sebuah jalan yang diapit area pinggiran hutan dan jurang, rombongan Alma Fatara harus berhenti karena ada yang menghadang.


Alma Fatara menarik tali kekang kudanya sambil mengangkat tangan kanannya memberi tanda berhenti kepada pasukannya. Itu ia lakukan ketika melihat dua sosok tubuh berpakaian biru terang dan hijau muda berkelebat cepat dari satu pohon ke pohon yang lain, dari pohon yang jauh di pinggiran hutan ke pohon-pohon yang semakin dekat.


Pasukan Alma pun mengerem lari kuda mereka di jalan yang termasuk bibir jurang. Mereka pun melihat apa yang dilihat oleh Alma.


Hingga akhirnya, dua sosok tubuh nenek-nenek melayang turun dari atas pohon terakhir yang mereka hinggapi. Keduanya mendarat anggun seperti sepasang merpati yang seiya sekata.


“Ih, kembar,” ucap Juling Jitu terkejut.


“Kok, bi-bi-bisa? Tua-tua ta-ta-tapi masih ke-ke-kembar,” kata Gagap Ayu pula.


Ya, dua nenek yang turun di depan rombongan berkuda Alma Fatara memang kembar. Gaya rambut putih keritingnya sama, sama-sama berbando warna kuning. Di pinggang kirinya sama-sama ada gulungan cemeti warna kuning. Model pakaiannya pun sama, tapi beda warna, yang satu biru terang dan lainnya hijau muda.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara tiba-tiba.


Tawa Alma yang terbahak membuat kedua nenek kembar itu jadi tersenyum lebar. Maka terlihatlah bahwa gigi mereka berdua tidak kembar. Nenek berbaju biru terang memiliki gigi berwarna merah seperti sedang berdarah, tapi itu tidak berdarah, melainkan memang warna asli gigi si nenek baju biru. Sedangkan nenek baju hijau memiliki gigi normal, tetapi punya dua gigi atas yang ompong agak ke kiri.


“Nyai Langsat, kenapa gigi ompongmu jadi dua? Kau mau menyaingiku? Hahaha!” tanya Alma Fatara lalu tertawa lagi.


Nenek berbaju hijau memang bernama Nyai Langsat dan kembarannya bernama Nyai Delima. Alma Fatara mengenal baik keduanya.


Alma Fatara lalu turun dari kudanya dan berjalan maju ke depan kedua nenek.


Lantaran ratunya turun dari kuda, Mbah Hitam dan yang lainnya juga turun dari kuda.


“Sepertinya kalian berdua buru-buru, Nek?” tanya Alma Fatara.


“Benar. Kami tidak bisa nasi basi, Alma. Apakah kau bertemu dengan seorang lelaki besar yang sedang terluka?” tanya Nyai Delima.


“Maafkan aku, Nek. Sejak kami melewati jalan pinggir jurang ini, kami tidak berpapasan dengan seorang pun manusia, kecuali kalian berdua,” jawab Alma Fatara. “Kalian mengejar seseorang?”


“Benar,” jawab Nyai Langsat.

__ADS_1


“Kemungkinan yang paling pasti adalah masuk ke hutan,” kata Alma Fatara.


“Kita kejar ke dalam hutan,” kata Nyai Langsat kepada saudaranya.


“Kau mau ke mana, Alma?” tanya Nyai Delima.


“Ke Perguruan Bulan Emas,” jawab Alma Fatara.


“Sepertinya kau bertambah sakti saja, Alma,” kata Nyai Delima sambil memandangi orang-orang yang ikut bersama Alma.


“Hahaha! Menjadi tambah sakti itu harus, demi menjaga Bola Hitam tetap di tanganku,” kata Alma.


“Sampai bertemu lagi, Alma. Kami harus mengejar buruan kami,” kata Nyai Langsat.


“Silakan, Nek,” ucap Alma seraya tersenyum hangat.


Wes wes!


Kedua nenek kembar itu lalu melesat ke samping. Mereka pergi masuk menembus ke dalam hutan, meninggalkan jalan besar pinggiran jurang itu.


Alma Fatara lalu berbalik dan naik ke punggung kudanya yang dipegang oleh Mbah Hitam. Yang lain pun segera naik ke punggung kudanya masing-masing.


“Nyai Langsat dan Nyai Delima. Mereka dulu juga pernah menginginkan Bola Hitam, tapi justru nyaris mati oleh Bola Hitam. Akhirnya mereka menyerah untuk mendapatkan Bola Hitam,” jelas Alma. “Yoh!”


Alma Fatara menggebah sekali kudanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kuda-kuda secara berangsur mulai berlari cepat kembali.


Namun, ketika mereka baru puluhan tombak kembali berkuda, tiba-tiba Penombak Manis berteriak.


“Di depan ada tangan, Gusti Ratu!”


Alma Fatara cepat mengerem kudanya dengan menarik tali kekang kudanya, meski ia sebenarnya belum melihat apa yang dimaksud oleh Penombak Manis.


Rombongan kembali berhenti. Alma Fatara dan yang lainnya segera memfokuskan pandangan untuk mencari tangan yang dimaksud oleh Penombak Manis.


“Di bibir jurang, Gusti Ratu!” tandas Penombak Manis.


Mendengar itu, Alma Fatara lebih memusatkan pandangannya ke bibir jurang di sebelah depan. Tidak pakai lama, Alma Fatara dan yang lainnya bisa melihat sebuah tangan yang berpegangan kuat pada sebatang akar pohon yang mengulur ke bibir jurang.


Alma Fatara menjalankan kudanya perlahan maju ke depan, mendekati posisi tangan yang berpegangan kuat pada akar, tapi tidak terlihat wajah dan tubuh pemiliknya karena tertutupi oleh bibir jurang.

__ADS_1


Alma Fatara lalu melongokkan kepala kudanya ke dalam jurang, sekaligus ia juga ikut melongok. Kudanya benar-benar berdiri di bibir jurang dengan kepala mengarah ke udara bebas.


“Kisanak!” panggil Alma Fatara.


Alma Fatara melihat keberadaan seorang lelaki besar berotot gede sedang bergelayutan di bibir jurang. Wajah dan badannya menempel pada dinding jurang yang lurus ke bawah. Lelaki itu berkepala botak. Sangat jelas ada tato gambar tinju warna biru pada kepalanya. Ia mengenakan baju putih lengan pendek, tapi bajunya sudah kotor oleh darah. Satu tangannya yang lain terjuntai dengan meneteskan darah.


Dengan gerakan kepala yang pelan, lelaki berbadan besar itu mendongak memandang kepada Alma dan kudanya. Maka terlihatlah wajah yang meringis mengerikan, karena satu mata lelaki itu terluka parah dan mengeluarkan darah yang banyak, yang mengotori wajahnya.


“Tolong aku, Kuda!” ucap lelaki itu lirih, tetapi masih bisa terdengar olah Alma.


“Hahaha! Kau minta bantuan kepada kudaku, bukan aku?” tanya Alma Fatara tertawa.


“Tolong aku, Nisanak,” ucap lelaki itu lagi.


Alma Fatara lalu melesatkan Benang Darah Dewa cukup panjang. Benang itu kemudian menjerat dan melilit pergelangan tangan si lelaki besar.


“Mbah Hitam!” perintah Alma.


Mbah Hitam lalu turun dari kuda.


Tap!


Tepat ketika tangan orang besar di jurang melepas pegangannya, Benang Darah Dewa menariknya tanpa menimbulkan luka sayatan. Kejap berikutnya, tangan Mbah Hitam memegang tangan lelaki besar itu, lalu menariknya agar orang itu bisa naik.


Anjengan cepat turun dan pergi membantu Mbah Hitam menarik orang besar berotot itu. Akhirnya berhasil. Orang besar itu dibiarkan terbaring di tanah jalanan pinggir jurang.


“Apakah kau yang dikejar oleh si nenek kembar?” tanya Alma Fatara.


“Be-be-benar, tapi tolong aku!” jawab lelaki.


“Siapa kau adanya, Paman?” tanya Alma.


“Namaku Gede Angin. Aku tidak mau mati,” kata lelaki yang tubuhnya dua kali lebih besar dari Mbah Hitam.


“Bagaimana kondisinya, Mbah Hitam?” tanya Alma Fatara.


“Dia luka dalam parah. Jika ingin menolong nyawanya, harus segera disembuhkan atau diringankan,” jawab Mbah Hitam, membuat lelaki besar itu terkejut mendengar suara tua Mbah Hitam.


“Bawa dia, nanti kita coba obati di depan sana!” perintah Alma Fatara.

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam. (RH)


__ADS_2