Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 40: Calon Istri Iwak


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Blugk!


Burung gagak besar berwarna biru terbanting di bebatuan sungai. Kondisi si burung sudah tidak berdaya oleh lilitan Benang Darah Dewa pada kaki, badan dan lehernya. Jika hanya dijerat oleh benang biasa, mungkin tidak begitu bahaya. Masalahnya Benang Darah Dewa itu hidup, semakin dilawan justru semakin mencekik.


“Lepaskan aku!” ronta Siluman Gagak Biru.


“Apa pilihanmu, Kek? Tunduk atau melawan?” tanya Alma sambil tersenyum menang. “Senjataku akan memotongmu jika kau memaksa berontak. Tidak ada jalan lain, kecuali kau memilih bunuh diri, Kek.”


“Baik, bebaskan aku. Aku mengaku tunduk, aku mengakuimu sebagai Ratu Siluman,” ucap si burung dengan suara kakek-kakek, tapi tidak setua suara Mbah Hitam.


“Apakah seorang siluman sepertimu memiliki kehormatan di kata-katanya?” tanya Alma.


“Aku pastikan kau bisa memegang kata-kataku, Gusti Ratu,” ucap Siluman Gagak Biru.


“Baiklah. Sekarang kau adalah abdiku!” tegas Alma Fatara. “Kau tidak akan rugi menjadi abdiku. Aku tidak akan mengambil hartamu atau mengambil nyawamu.”


Alma lalu menarik Benang Darah Dewa masuk kembali bersembunyi di balik jubahnya. Si burung pun terbebas dari jeratan benang.


Cling!


Tiba-tiba si burung berubah menjadi sosok lelaki tua yang sedang berjongkok.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu!” ucap Siluman Gagak Biru sambil menghormat sewajarnya sebagai seorang abdi.


“Bangunlah, Kek!” perintah Alma. “Siapa nama Kakek?”


“Ugel, Gusti Ratu. Hamba Siluman Gagak Biru.”


“Aku harap kau tidak malu memiliki ratu semuda aku, Ugel,” kata Alma.


“Tidak, Gusti Ratu. Seharusnya aku bangga,” kata Siluman Gagak Biru.


“Mbah Hitam!” teriak Alma Fatara memanggil.


Ular hitam besar datang dengan membawa tubuh wanita cantik. Kini, wanita cantik itu bisa dilihat oleh semua orang. Ia diturunkan di sisi ayahnya.


Wanita cantik itu lalu menjura hormat tanpa berkata-kata kepada Alma.


“Iwak Iwak Iwak, lihat calon istrimu!” panggil Juling Jitu sambil menepuk-nepuk bahu Iwak Ngasin.


Semua orang segera mengalihkan perhatiannya kepada sosok wanita berambut panjang berpakaian biru. Hanya Cucum Mili yang tidak begitu penasaran, sebab ia sedang berusaha meringankan luka dalam Kembang Bulan.


Iwak Ngasin tersenyum.


“Hihihi! Iwak te-te-tertawa. Otaknya pa-pa-pasti la-la-langsung bercahaya,” kata Gagap Ayu.


“Hahaha! Iwak jadi kawin juga,” kata Anjengan pula.


“Kau tidak takut kawin dengan siluman, Iwak?” tanya Alis Gaib.


“Apa yang perlu ditakuti dari wanita secantik itu?” kata Iwak Ngasin lugu.


“Lebih cantik dari adikku, ya?” tanya Geranda.


“Iya.”

__ADS_1


“Hahaha!” tawa rendah mereka.


“Siapa nama putrimu, Ugel?” tanya Alma kepada Siluman Gagak Biru.


“Lugina. Julukannya Siluman Gagak Cantik,” jawab Siluman Gagak Biru.


“Berapa usia putrimu, Ugel?” tanya Alma lagi.


“Enam ratus tahun, Gusti Ratu,” jawab Siluman Gagak Biru.


“Kau?” tanya Alma lagi.


“Sembilan ratus tahun, Gusti Ratu.”


“Ada yang aneh dengan Lugina?” terka Alma.


“Putri hamba bisu, Gusti Ratu.”


Alma Fatara hanya mengangguk mendengar fakta itu.


“Lugina, aku ingin menikahkanmu dengan sahabatku yang bernama Iwak Ngasin. Dia lelaki yang baik dan akan sangat mencintai dan menyayangimu. Dia calon pendekar hebat di masa depan,” kata Alma Fatara.


Lugina mengangguk sambil tersenyum lebar dan tersipu malu-malu manuk. Terlihat jelas dia punya dua gigi tikus.


“Iwak Ngasin, ke mari!” teriak Alma Fatara memanggil.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut Iwak Ngasin penuh semangat dan santun, berusaha terlihat menjadi anak baik di depan calon mertua. Ia cepat berlari datang dan menjura hormat kepada Alma Fatara.


Alma hanya tertawa kecil melihat kealiman Iwak Ngasin.


“Sesuai janjiku kepadamu. Sebelum kau bertambah liar memangsa banyak wanita cantik di alam liar, kau akan aku nikahkan dengan putri cantik Siluman Gagak Biru. Coba lihat, apakah calon istrimu cantik!” kata Alma Fatara.


“Sangat cantik, Gusti Ratu, sangat cantik. Aku pasti tidak akan berharap yang lain lagi,” ucap Iwak Ngasin begitu gembira. Tidak lupa dia buru-buru menyeka bibirnya dengan lengan bajunya.


“Hihihi!” tawa Lugina melengking melihat kelucuan calon suaminya. Sepertinya dia siluman burung dari garis nenek moyang kuntilanak.


Suara tawa itu membuat bulu kuda Iwak Ngasin dan rekan-rekannya yang di sana berdiri merinding.


“Aku beri tahu kepadamu, Iwak. Nama calon istrimu Lugina. Namun ada yang harus kau maklumi yang seharusnya membuatmu sangat sayang kepadanya, yaitu dia bisu,” ujar Alma Fatara.


Agak terkejut Iwak Ngasin.


“Baik, aku akan sangat menyayanginya seperti aku menyayangi milikku sendiri, Gusti Ratu!” kata Iwak Ngasin lantang.


“Milikmu yang mana?” tanya Alma Fatara dengan tatapan mendesak.


“Ah, anu, yaitu, milikku yang itu. Hehehe!” ucap Iwak Ngasin gelagapan, bingung untuk menjawab secara gamblang.


“Lugina adalah putri seorang Siluman Gagak Biru yang sakti. Jika dalam satu tahun kau tidak menjadi sakti seperti mertuamu, maka kau aku anggap sebagai prajurit yang tidak mampu menjalankan tugas!” tandas Alma.


“Apa maksud, Gusti Ratu? Aku kurang memahami,” kata Iwak Ngasin.


“Kau akan menikah kemudian tinggal bersama istri dan mertuamu. Jadi mengabdilah kepada mertuamu dan bahagiakan istrimu!” tandas Alma Fatara.


Terkejutlah Iwak Ngasin menangkap maksud dari perkataan Alma Fatara.


“Siluman Gagak Biru, aku serahkan sahabatku Iwak Ngasin kepadamu. Ajari dia mejadi pendekar hebat agar dia menjadi ayah yang hebat dari cucumu. Setahun lagi aku akan datang kembali untuk menjemputnya dan memberikan tugas penting untuk kejayaan Pasukan Genggam Jagad yang aku pimpin!” kata Alma.


“Dengan senang hati aku akan melaksanakan perintah dari Gusti Ratu,” ucap Siluman Gagak Biru.

__ADS_1


“Tapi, Gusti Ratu,” ucap Iwak Ngasin berat.


“Jika kau keberatan untuk tinggal bersama istri dan mertuamu, itu artinya kau berdusta kepadaku, Iwak!” tukas Alma yang sengaja menyudutkan Iwak Ngasin.


“Ba-ba-baik, Gusti Ratu!” ucap Iwak Ngasin akhirnya.


“Keluarkan Cincin Dua Jantung milikmu. Pasangkan satu kepada Lugina dan kau juga pakai yang satu!” perintah Alma Fatara.


Alma lalu memanggil pasukannya.


“Kalian semua, kemarilah! Jadi saksilah peminangan Iwak Ngasin!”


Dengan riuhnya, Anjengan cs segera berlarian mendekat ke sisi belakang Iwak Ngasin. Terlihat Kembang Bulan sudah bisa berjalan, meski masih meringis menahan sakit. Anjengan cs terus tertawa senang menggoda Iwak Ngasin, seolah-olah mereka juga ikut menikmati kebahagian hati sahabat mereka itu.


Iwak Ngasin mengeluarkan Cincin Dua Jantung yang didapat hasil dari pertarungan di Arena Tulang.


“Pakaikan!” perintah Alma.


Sambil tersenyum lebar, Iwak Ngasin maju mendekati Lugina yang terus tersenyum-senyum manuk. Jantung Iwak Ngasin berjoget liar karena terlalu berdebarnya. Iwak Ngasin bahkan sampai mengeluarkan keringat halus di dahinya. Punggung tangannya tiba-tiba lembab berkeringat.


Satu tangan Iwak Ngasin meminta jari tangan Lugina, tangan yang lain memegang cincin. Terlihat jelas jari yang memegang cincin gemetar.


“Pegang yang kuat, Iwak. Jangan sampai cincinnya jatuh!” teriak Geranda.


“Kalau cincinnya sampai jatuh, nyawa dan cintamu akan melayang!” teriak Tampang Garang pula.


“Pegang tangannya, jangan gemetar. Nanti bisa-bisa istrimu ikut gemetaran juga!” sahut Anjengan pula.


“Hei, Iwak! Pegang bokong adik Geranda saja kau tidak gemetar, kenapa pegang tangan calon istrimu gemetar?!” bentak Anjengan.


“Sah!” teriak Gagap Ayu tanpa gagap.


“Hahahak!” tawa mereka bersama, termasuk Siluman Gagak Biru yang hanya senyum-senyum melihat putrinya akan dipinang dengan Cincin Dua Jantung.


“Calon menantu kurang sopan!” hardik Cucum Mili, yang membuat Iwak Ngasin menengok kepadanya. “Bagaimana bisa kau mau meminang anak gadisnya tanpa ada kata-kata permisi kepada ayahnya?”


Terkejut Iwak Ngasin. Ia pun semakin meriang.


“Ayahanda … Ayahanda Siluman Gagap Biru ….”


“Hahahak …!” tawa Anjengan cs mendengar kata-kata Iwak yang melantur.


“Si-si-siluman Gagap itu aku, Iwak!” sergah Gagap Ayu.


“Eh iya. Maksudku, Ayahanda Siluman Gagak Biru. Dengan pemberian Cincin Dua Jantung ini, aku meminang putrimu Lugina. Aku harap, aku harap Ayahanda merestui,” ucap Iwak Ngasin kepada Siluman Gagak Biru.


“Aku merestui kalian berdua. Tapi ingat, Iwak, jika sampai kau menduakan cinta putriku, aku pasti akan membunuhmu!” kata Siluman Gagak Biru dilengkapi dengan ancaman.


“Iya, Ayahanda Siluman Gagak Biru,” ucap Iwak Ngasin sambil tersenyum getir.


Maka prosesi penyematan Cincin Dua Jantung Iwak Ngasin lakukan di jari manis tangan kanan Lugina. Kemudian dia pun memakai satu cincin itu.


Zerzzz!


Semuanya menjadi terkejut ketika tiba-tiba muncul aliran sinar merah yang menghubungkan kedua mata cincin itu. Jari tangan keduanya sempat ikut bersinar merah, tapi hanya sejenak.


Tiba-tiba, dalam hati Iwak Ngasin dan Lugina tumbuh rasa cinta yang begitu tinggi. Bahkan keduanya memiliki rasa rindu di saat mereka saling berhadapan.


“Ucapkan kalimat perpisahan kepada Iwak Ngasin!” perintah Alma Fatara.

__ADS_1


“Hah!” kejut Anjengan cs serentak. (RH)


__ADS_2