Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 4: Serangan Tengah Malam


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


Sosoknya terbilang muda dan gagah. Rambut gondrongnya yang sebahu dikepang pendek-pendek. Pakaian hitamnya memiliki model bahu yang tebal sehingga kedua bahu baju terkesan lancip ke atas. Pemuda berhidung mancung itu membawa busur pada tangan kirinya. Di punggungnya ada tabung yang berisi anak panah.


Si pemuda bergerak lincah di dalam gelapnya malam. Tidak begitu gelap sih, karena ada penerangan dari rembulan yang purnama.


Ia bergerak lincah melompat dari satu batu sungai ke batu yang lain, sehingga bisa sampai ke seberang. Setelah berlari menerobos semak belukar tanpa takut menginjak ekor ular, si pemuda kemudian naik ke atas pohon besar.


Pada satu pangkal dahan pohon, si pemuda lalu duduk bersila senyaman mungkin. Ia memasangkan satu anak panah pada busur, kemudian dia tempelkan pada dahi dan hidungnya yang bangir. Sementara serangkai rapalan keluar dari bibir. Tidak berapa lama, anak panah pun diliputi sinar kuning berpijar.


Ia lalu menjauhkan anak panah dari wajahnya, lalu menarik kencang busur dengan ujung panah mengarah ke angkasa.


Set!


Anak panah pun melesat tinggi ke udara, kala senar busur dilepas dari jepitannya. Uniknya, setelah mengangkasa, tiba-tiba panah itu berbelok dan melesat terbang seperti burung pengelana.


Anak panah bersinar itu terbang melewati atas semak belukar, melewati sungai tanpa sukar, meliuk-liuk di antara batang pohon, lalu menuju ke tempat kemah-kemahan Ratu Siluman.


“Ada serangan!” teriak Ireng Cadas keras yang melihat lesatan panah sinar yang melintas.


Teriakan Ireng Cadas mengejutkan beberapa pendekar yang bertugas jaga, termasuk membangunkan beberapa pendekar yang sedang tertidur.


Saat itu, Alma Fatara tidur dangan posisi menyamping ke kanan di atas tumpukan rumput yang empuk. Panah bersinar kuning datang tepat dari arah depannya dan sepertinya memang menargetkannya.


Zerzz! Ctar!


Sebelum panah bersinar itu sampai kepada Alma Fatara, tiba-tiba sepasang mata Ratu Siluman terbuka yang langsung melesatkan aliran listrik sinar biru. Listrik biru itu langsung menyergap si anak panah dan membuatnya meledak nyaring di udara.


Ledakan itu mengejutkan semua anggota Pasukan Genggam Jagad yang tertidur, terutama yang tidur berdekatan dengan sang ratu. Kedua nenek Tengkorak pun bangun dengan terkejut.


Tidak ada yang terkejut dengan mata tetap tertutup. Mereka langsung memeriksa kondisi sekitar yang masih gelap temaram.


“Gu-gu-gusti Ratu!” sebut Gagap Ayu tegang. Dia orang pertama yang datang ke tempat tidur Alma Fatara. Disusul oleh keempat anak buahnya.


Di saat Pasukan Genggam Jagad gempar oleh serangan itu, Ireng Cadas bersama Senyumi Awan dan Roro Wiro telah melesat cepat menembus malam. Mereka mencoba mencari dan mengejar orang yang melepaskan panah. Mereka pergi ke arah datangnya panah bersinar itu.


“Siapa yang menyerang?” tanya Ratu Tengkorak.


“Aku tidak bisa merasakan keberadaan penyerang itu. Sepertinya dia menyerang dari tempat yang jauh,” jawab Alma Fatara. Ia sudah bangun berdiri.


Dalam waktu singkat, Pasukan Genggam Jagad sudah berkumpul dengan wajah-wajah kusutnya. Beberapa bahkan masih memamerkan rasa kantuknya.

__ADS_1


Beberapa api unggun yang padam kembali dinyalakan apinya.


“Ireng Cadas dan Senyumi Awan sudah bergerak mencari penyerang itu, Gusti Ratu!” lapor Ireng Gempita.


Alma Fatara mengangguk.


“Serangan panah ini cukup aneh dan langsung mengarah kepadaku,” kata Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Pasukan Sayap Panah Pelangi, “Siapa di antara kalian yang melihat serangan tadi?”


“Hamba, Gusti Ratu,” jawab Bening Hati. Dia termasuk yang mendapat tugas jaga.


“Apakah kau mengenal jenis serangan panah seperti itu?” tanya Alma Fatara.


“Tidak, Gusti Ratu. Serangan panah itu bisa berbelok-belok dan tingkatannya mungkin di atas kami,” jawab Bening Hati.


“Aku menduga, orang itu ingin membunuh Gusti Ratu tapi tidak mau diketahui jatidirinya,” kata Tengkorak Pedang Siluman.


“Kita tunggu kepulangan Ireng Cadas. Mbah Hitam pun sedang pergi mencari pelakunya,” kata Alma Fatara. Lalu tanyanya, “Penombak Manis di mana?”


“Hamba di sini, Gusti Ratu!” sahut Penombak Manis sambil berlari datang menghadap dalam kondisi terlalu kusut.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara tiba-tiba saat melihat kepada Penombak Manis, membuat istri Juling Jitu itu kebingungan sendiri lantaran ditertawakan. Lalu Alma Fatara berperintah, “Pergilah, benarkan bajumu yang terbalik itu!”


“Aih!” pekik Penombak Manis terkejut malu dan memerhatikan bajunya.


Segera kaburlah Penombak Manis untuk kembali ke kamar asmara. Ujung-ujungnya dia tertawa genit sendiri menertawai dirinya.


“Semuanya kembali beristirahat. Penyerang itu tidak akan menyerang untuk kedua kalinya setelah kalian semua terbangun!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.


Setelah itu, mereka berbalik pergi ke tempat peristirahatannya kembali sambil membawa kasak-kusuknya sendiri.


“Penyerang ini benar-benar tidak pandai,” kata Betok kepada rekan-rekannya.


“Tapi dia sangat berani menyerang Gusti Ratu yang sangat sakti,” kata Jungkrik pula.


“Benar-benar tidak sayang nyawa. Jika aku jadi dia, aku lebih memilih mengabdi kepada Gusti Ratu, apalagi di sini banyak garis-garis cantik,” kata Kungkang pula.


“Gadis-gadis cantiiik!” ralat Betok dan Jungkrik bersamaan.


“Hahaha! Iya, itu maksudku,” kata Kungkang sambil tertawa santai.


Untuk sementara, Alma Fatara menduga bahwa orang yang menyerangnya adalah orang dekat dari salah satu orang yang mendendam kepadanya.

__ADS_1


Sambil menunggu orang-orangnya kembali, Alma Fatara memilih untuk mematangkan ilmu Titah Mimpi-nya.


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Ireng Cadas, Senyumi Awan dan Roro Wiro kembali. Mereka segera menghadap kepada Alma Fatara yang juga harus mengakhiri latihannya.


Kedatangan ketiga orang itu bersama Panglima Besar Anjengan. Kedua nenek Tengkorak kembali terbangun.


“Bagaimana?” tanya Alma Fatara.


“Kami tidak menemukan siapa-siapa, Gusti Ratu,” lapor Ireng Cadas. “Tapi kami yakin, orang itu menyerang dari seberang sungai.”


“Sejauh itu?” tanya Alma Fatara.


“Benar. Jika pemanah itu bukan dari seberang sungai, mungkin kami bisa mengejarnya atau melihat bayangannya,” jawab Ireng Cadas.


Clap!


Tiba-tiba sosok Mbah Hitam yang ganteng muncul di sisi mereka, membuat ketiga pendekar itu terkejut.


“Bagaimana, Mbah Hitam?” tanya Alma Fatara.


“Hamba mengendus bau seorang lelaki di seberang sungai, tetapi tidak mungkin hamba mengejarnya karena jejaknya sudah menjauh, Gusti Ratu,” lapor Mbah Hitam.


“Baiklah. Orang itu pasti akan menyerang di lain waktu lagi. Sekarang kembalilah kepada tugas kalian masing-masing!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!”


Malam itu pun kembali mereka lalui dengan tenang. Hingga menjelang sang surya terbit, ada satu laporan yang mengejutkan.


“Lapor, Gusti Ratu!” ucap Kumis Kalong dan Jenggot Sejenggut bersamaan. Wajah mereka tegang.


“Katakan!” perintah Alma Fatara.


“Di sungai ada mayat!” lapor Kumis Kalong.


“Lalu kenapa?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum.


“Gusti Ratu tidak terkejut?” tanya Kumis Kalong heran.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Ada siluman pun aku tidak akan terkejut.”


“Tapi mayatnya ada banyak, Gusti Ratu!” kata Jenggot Sejenggut.


“Oooh,” desah Alma Fatara. Lalu katanya kepada Cucum Mili, “Kakak Putri, coba lihat apa yang terjadi di sungai!”

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu.” (RH)


__ADS_2