Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Flashback 2: Lompat Ramai-Ramai


__ADS_3

...Para bajak laut menebasi semak belukar yang ada di depan mereka....


“Hei! Apa yang kalian laukan?” tanya Jura Paksa seraya berteriak, dia berdiri di salah satu dahan pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu. Ia memilih berada di pohon karena tidak mau bentrok dengan puluhan anggota bajak laut tersebut.


“Anak itu jatuh ke jurang di depan sana!” jawab seorang bajak laut tanpa menaruh dendam kepada Jura Paksa yang sempat adu jotos dengan mereka.


Setelah semak itu terpangkas sebagian, barulah mereka melihat keberadaan bibir jurang. Saat mereka ramai-ramai mendekat ke bibir jurang, mereka pun melihat keberadaan jurang yang sangat dalam. Namun, mereka bisa melihat sungai besar yang ada di bawah sana.


Jura Paksa lalu melompat ke bibir jurang.


“Apa kalian mau terjun ke sana?” tanya Jura Paksa kepada para bajak laut itu.


“Tidak!” jawab para bajak laut itu kompak, sambil memasang wajah ketus.


“Selamat tinggal,” ucap Jura Paksa sambil melambai-lambaikan telapak tangannya kepada para bajak laut itu. Ia lalu melempar tubuhnya ke belakang, terbang terjun ke dalam jurang.


“Hei, jangan lompat!” teriak beberapa bajak laut serentak terkejut.


Namun, mereka hanya bisa teriak dan terkejut tanpa berbuat apa-apa. Tubuh Jura Paksa meluncur turun dan jatuh ke dalam aliran air sungai yang deras.


Sementara itu di sisi lain hutan itu.


Sugang Laksama masih dalam posisi menindih tubuh Cucum Mili. Sementara punggung pemuda tampan itu tertindih dahan pohon besar. Cucum Mili sudah berhenti memukuli kepala Sugang Laksama yang bersandar pada dada sekal.


“Kau harus bertanggung jawab, Sugang. Kau harus menikahiku!” kata Cucum Mili.


“Hah!” pekik Sugang Laksama terkejut, sampai-sampai ia mengangkat kepalanya menatap wajah cokelat Cucum Mili. “Aku menikahimu? Apa kata dunia, jika tahu aku menikahi wanita yang lebih tua dariku? Dan apa kata ayah ibuku, jika tahu aku menjadi bajak laut? Dulu aku tidak mau disuruh membajak sawah, tapi aku justru membajak laut.”


“Jika kau tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan mengumumkan kepada semua orang bahwa Pendekar Pedang Dedemit telah memperkosaku!” ancam Cucum Mili.


“Jangan coba-coba kau lakukan! Selama ini aku terkenal sebagai pendekar yang budiman, tidak sombong dan ramah kepada wanita. Bagaimana mungkin aku memperkosa wanita hitam dan bau amis sepertimu?”


“Kurang sopan!” maki Cucum Mili. “Aku hitam karena aku bajak laut. Aku bau amis karena mainanku ikan. Jika aku tinggalnya di istana, maka aku jauh lebih cantik dari Ratu Kedip Semalam. Seandainya Ratu Kedip Semalam menjadi bajak laut, dia sangat jauh lebih buruk dariku. Biarpun aku sedikit lebih tua, tetapi aku masih rasa gadis belia!”


“Aaah, sudah. Kau raih pedangku itu, lalu potong dahan di atasku!” kata Sugang Laksama.


“Benar-benar kakus kau, Sugang! Setelah kau puas menikmatiku, kau baru menyuruh aku mengambil pedangmu!” maki Cucum Mili.


“Buruan!” kata Sugang Laksama.


Posisi pedang bagus milik Sugang Laksama memang tidak begitu jauh. Pedang itu tidak terjangkau oleh tangan Sugang Laksama, tetapi bisa terjangkau oleh Cucum Mili karena posisi tangannya lebih tinggi.

__ADS_1


Cucum Mili lalu mengulurkan tangannya ke atas kepalanya, ia berusaha menggapai gagang pedang milik Sugang Laksama. Ternyata ujung jari-jari Cucum Mili sampai dan bisa meraih gagang pedang itu sehingga tergenggam dalam pegangan.


Set! Tek!


Cucum Mili lalu menyabetkan pedang di tangannya. Namun, pedang itu hanya memotong separuh batang dahan, tidak sampai patah.


“Pedangmu tumpul!” kata Cucum Mili.


“Kau yang tidak bisa menggunakan pedang!” tukas Sugang Laksama. Lalu katanya dengan kesal bernada ditekan, “Gunakan tenaga dalammu, Sayang!”


“Hihihi! Kau memang harus menikahiku, Sugang!” kata Cucum Mili jadi tertawa karena disebut “Sayang”.


Set!


Cucum Mili kembali menebaskan pedang. Kali ini, sekali tebas maka batang dahan pohon itu pun terpotong rapi.


Potongan dahan yang menindih punggung Sugang itu jatuh ke tanah. Dengan demikian, Sugang terbebas dari tindihan pohon yang tumbang.


“Cepat bangun, Muka Kakus!” bentak Cucum Mili sambil menepuk kepala Sugang Laksama.


Sugang Laksama yang merasa dalam posisi salah, tidak bisa marah ketika kepalanya dipukul untuk kesekian kalinya.


Belum lagi Sugang Laksama bangun dari atas tubuh Cucum Mili, seorang bajak laut anak buah Cucum datang siap melapor. Melihat adegan itu, lelaki berperut gendut berkumis tebal itu memejamkan matanya, seolah pura-pura tidak melihat.


Kemunculan lelaki gendut bernama Bulak Balok itu, membuat Sugang Laksama buru-buru bangun berdiri dengan wajah memerah karena malu. Cucum Mili pun buru-buru bangun sambil melirik tajam kepada Sugang.


“Ada apa, Bulak?” tanya Cucum Mili.


“Anak itu lepas, Ketua!” lapor Bulak Balok lantang, tapi matanya masih memejam.


“Bagaimana bisa?! Kalian begitu banyak jumlahnya tapi bisa kehilangan? Awas kalau sampai kau cerita, aku gantung kau di tiang kapal!” bentak Cucum Mili gusar, sekaligus mengancam anak buahnya itu.


“Siap! Tidak akan cerita!” teriak Bulak Balok kencang. Ia berubah panik ketakutan karena memahami maksud ketuanya. Matanya semakin kencang memejam.


“Buka matamu!” perintah Cucum Mili.


Bulak Balok pun membuka matanya dengan takut-takut.


“Apa yang kau lihat?!” tanya Cucum Mili dengan nada membentak.


“Aku melihat Ratu Kepiting bersama pemuda itu,” jawab Bulak Balok ragu-ragu.

__ADS_1


“Sedang apa aku dengan pemuda ini?!” tanya Cucum lagi dengan nada yang sama.


“Tidak sedang apa-apa,” jawab Bulak Balok sambil mengerenyit tanpa ada yang sakit.


“Awas jika kau cerita yang tidak-tidak kepada yang lainnya!” ancam Cucum Mili dengan tatapan yang tajam.


“Iya, Ketua,” ucap Bulak Balok ketakutan.


“Bukan hanya digantung di tiang kapal, tapi juga dipotong kecil-kecil untuk umpan ikan di laut!” desis Sugang Laksama mengancam juga.


“Iya.”


“Kenapa anak itu bisa lepas?” tanya Cucum Mili.


“Jatuh ke jurang,” jawab Bulak Balok.


“Bodoh! Turun dan ambil mayatnya!” maki Cucum Mili.


Mendengar itu, Sugang Laksama cepat berlari pergi dengan mambawa pedangnya. Cucum Mili cepat ikut berlari mengikuti. Bulak Balok juga ikut berlari mengikuti di belakang.


“Jatuhnya ke sungai, Ketua!” kata Bulak Balok sambil berlari.


“Tadi kau bilang jatuh ke jurang, sekarang kau bilang jatuh ke sungai. Yang benar yang mana, hah?!” rutuk Cucum Mili.


“Jatuh ke jurang yang ada sungainya, Ketua!” tandas Bulak Balok.


Tidak berapa lama, mereka telah tiba di bibir jurang, tempat banyak anggota Bajak Laut Kepiting Batu berkumpul.


“Ketua!” sebut mereka serentak saat melihat kedatangan Cucum Mili. Mereka hanya heran, kenapa ketua mereka dengan Sugang Laksama tidak berseteru, tapi datang bersama seperti satu kelompok saja.


 Cucum Mili dan Sugang Laksama sejenak melihat ke dasar jurang yang adalah sungai besar. Cucum Mili lalu memarahi seluruh anak buahnya.


“Itu, di bawah sana adalah sungai. Sungai itu isinya air dan ikan. Kalian semua adalah bajak laut. Hidupnya di laut dan makannya ikan. Lalu kenapa tidak ada yang melompat mengejar anak itu?! Seharusnya kalian melompat seperti dia!”


Cucum Mili yang berteriak-teriak kepada anak buahnya tiba-tiba mendorong tubuh Sugang Laksama ke jurang.


“Aaa …!” jerit Sugang Laksama dengan tubuh meluncur jatuh ke bawah.


Setelah mendorong Sugang Laksama, Cucum Mili lalu melompat bebas ke dalam jurang.


“Lompaaat!” teriak para bajak laut itu lalu ramai-ramai melompat ke jurang mengikuti tindakan pemimpinnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2