
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Ada sebanyak delapan anggota bajak laut yang berjaga di alun-alun. Semuanya lelaki. Alun-alun itu terletak tepat di pinggir sungai.
Di tengah alun-alun, duduk berkumpul dua kelompok manusia, yaitu kelompok laki-laki dengan berbagai umur dan kelompok wanita dengan berbagai umur. Namun, mereke semua dalam kondisi yang terikat. Tali yang membuat mereka tidak berkutik itu diikat secara sambung dari satu orang ke orang lain. Ikatan itu benar-benar kuat dan hanya bisa dilepas oleh para anggota bajak laut.
Jadi, kondisi duduk mereka saling berdesakan. Sudah banyak yang terlelap tidur dalam kondisi duduk apa adanya, bahkan ada yang tidur bersandarkan pada bahu atau punggung rekan di sebelahnya. Kelompok wanita tidak satu tali dengan kelompok lelaki, mungkin khawatir akan terjadi tukar istri atau salah suami.
Kondisi mereka terlihat lumayan jelas meski malam, karena sengaja dipasang sejumlah tiang obor sehingga mereka bisa terpantau dengan jelas. Ada sepuluh tiang obor di sekeliling mereka.
Hanya ada dua anggota bajak laut yang duduk di dekat puluhan warga yang ditawan itu. Mereka asik duduk di dekat kelompok tawanan wanita. Maklum, di situ ada beberapa wajah yang indah untuk dipandang, meski banyak nyamuk.
Sementara enam anggota lainnya berjaga di tiga titik, satu titik dua orang.
“Jika aku yang menjadi Ketua Bajak Laut Ombak Setan, akan aku perintahkan semua lelaki itu untuk membangun banyak kandang untuk para wanita ini!” kata lelaki kurus tua bersanjata golok bunting. Namanya Rengkah.
“Kau pikir mereka hewan ternak!” hardik temannya yang bertubuh proporsional untuk seorang pemuda pelaut. Pemuda berambut keriting dan bersenjata tongkat golok itu bernama Setan Jerami. Nama itu diberikan karena waktu bayi dia ditemukan dibuang di lumbung jerami.
“Hahaha! Kau mengertilah maksudku,” kata Rengkah lalu melirik kepada gadis cantik yang duduk terbelenggu di bagian pinggir.
“Cuih!” gadis itu justru meludah ke tanah berumput karena mendapat lirikan dari Rengkah yang tua tapi genit.
“Hahaha!” tawa Rengkah dan Setan Jerami melihat sikap gadis cantik itu.
“Belum tahu dia, jika Bajak Laut Ombak Setan sudah marah ….”
“Kesucian perawan tidak akan selamat?” sambung Setan Jerami menerka.
“Bukan!” sergah Rengkah.
Preeet!
Rengkah tiba-tiba kentut panjang, mengejutkan Setan Jerami dan para tawanan wanita. Para wanita yang sudah tertidur jadi terbangun seperti baru saja mendengar suara sangkakala hari kiamat.
“Aku mules tingkat jurig!” kata Rengkah sambil bangkit. Dengan tangan kanan memegangi bokongnya, Rengkah berlari tunggang langgang ke arah sungai. Ia tidak lupa mengambil obor sebagai juru terang, tapi lupa membawa goloknya.
“Hahaha!” tawa Setan Jerami menertawai rekan tuanya.
Setan Jerami lalu bergeser untuk menggoda si gadis cantik yang merasa ingin mati saja daripada harus digoda oleh pemuda jahat itu.
__ADS_1
“Mau ke mana kau, Rengkah?” tanya seorang anggota bajak laut yang sedang berjaga sambil bersandar di batu yang terletak di pinggir alun-alun. Dia bersama satu rekannya.
“Aku mules!” sahut Rengkah sambil terus berlari menuju pinggir sungai.
Setibanya di pinggir sungai, Rengkah mendatangi sebatang pohon. Di sana, tanpa ragu dia melorotkan celananya dengan buru-buru. Masalahnya, hal mendesak miliknya sudah menggedor di ujung saluran.
Ada akar pohon yang menjorok di atas air sungai. Itu menjadi tempat yang sangat bagus untuk bertengger. Setelah menyandarkan obornya di pohon, Rengkah segera ke akar pohon. Di sana ia berjongkok dengan tangan kanan berpegangan agar tidak jatuh. Sementara dengan damainya air mengalir di sebelah bawah akar.
Prooot! Prot!
Belum lagi sempurna jongkokan Rengkah, sesuatu yang sudah membludak di pintu gerbang bokong langsung tersemprot dahsyat dengan suara yang meyakinkan. Meyakinkan bahwa itu adalah tinja yang dorong oleh angin yang terpendam.
“Oh Dewa, nikmatnya hidup!” puji sukur Rengkah dengan ekspresi yang terlihat begitu nikmat.
Namun, tanpa sepengetahuannya, dari dalam air muncul dua wajah, bisa disebut tepat di bawah bokong Rengkah. Pemilik dua wajah dalam gelap itu adalah Anjengan dan Gagap Ayu yang sedang berlakon sebagai pasukan kodok.
“Puih! Apaan ini?” maki Anjengan sambil mengusap wajahnya yang tertempel sesuatu yang lembut tapi berbau tidak asing.
“Jurig busuk!” maki Rengkah memekik lantaran tiba-tiba mendengar suara wanita di bawah perabotnya. Sontak dia berdiri dan melihat ke bawah.
Tap! Bdak!
“Aaak …!”
Apesnya, jatuhnya kaki kanan dan kiri tidak satu sisi, tapi berseberangan akar, sehingga pangkal paha Rengkah tersangkut. Rengkah pun memekik seperti raungan siluman serigala di malam pertama. Pasalnya, dia lelaki, perabotnya sangat sensitif oleh hantaman. Rasa sakitnya lebih sakit dari kematian.
Suara jeritan Rengkah sampai terdengar samar oleh dua rekannya yang ada di batu. Mereka sejenak diam dan saling pandang, seperti ayam yang mendengar siksa kubur.
“Ayo periksa!” ajak salah satunya.
Keduanya pun bangkit dan membawa golok besarnya masing-masing. Mereka pergi tanpa membawa obor.
Namun, lima rekan lainnya tidak mendengar jeritan Rengkah karena faktor jarak yang memisahkan.
Saat itu di sungai. Anjengan dan Gagap Ayu telah menarik jatuh Rengkah ke dalam air. Anjengan mencekik Rengkah dengan kepitan tangan kanannya, membuat lelaki kurus itu tidak bisa bersuara dan bernapas. Sementara Gagap Ayu menonjoki perut Rengkah berulang kali di dalam air, menghancurkan isi perut lelaki berumur tersebut.
Setelah memastikan Rengkah tewas, mayatnya di dorong ke tengah arus sungai.
Anjengan dan Gagap Ayu bergerak menepi ke pinggir, tapi tidak naik. Mereka bersembunyi di dalam gelap.
Tidak berapa lama, dua orang lelaki bersenjata golok besar datang ke tempat itu.
__ADS_1
“Rengkah!” panggil mereka, tetapi tidak ada sahutan atau jawaban.
“Obornya ada, celananya ada,” ucap lelaki bertubuh besar berbaju putih dan bercelana pendek ala bajak laut. Ia memungut celana Rengkah sambil mengerenyit menahan napas.
Celana itu kemudian dilepas begitu saja.
“Jangan-jangan Rengkah dibawa oleh dedemit sungai ini,” kata lelaki berkumis tebal dan berperut gendut.
“Ah, mana ada dedemit sungai. Kalau dedemit laut, aku percaya!” kata lelaki bercelana pendek, ngotot lebih dulu.
“Tapi Rengkah ke mana?”
“Dia pasti terpeleset, karena tadi dia terburu-buru. Dia pasti jatuh ke sungai dan hanyut.”
“Kita ini bajak laut, kalau jatuh pasti berenang.”
“Nah, tidak salah lagi, Rengkah dibawa oleh dedemit. Dedemit itu, wajah jelek dianggap ganteng, nah wajah ganteng, bagi mereka itu jelek.”
“Kumis dan otakmu sama-sama tebal!”
“Hahahak!”
Tiba-tiba ada suara wanita tertawa terbahak dari sisi atas.
“Apa itu?!” kejut mereka berdua dan spontan mendongak ke atas.
Samar-samar mereka melihat sosok hitam yang bergantung di dahan pohon yang gelap. Cahaya obor tidak mampu menerangi sampai atas.
Belum lagi kedua lelaki itu lari ketakutan atau menyerang, sosok hitam di atas telah jatuh dan mendarat berdiri tepat di depan keduanya.
Tus tus tus …!
Belum sempat kedua lelaki itu beralih ke rasa bahagia karena melihat wajah cantik jelita si dedemit, keduanya langsung kejang dengan mata mendelik, seolah bola matanya ingin melompat keluar.
Tanpa terlihat, dua ujung Benang Darah Dewa menusuki leher kedua lelaki itu dengan kecepatan mesin jahit. Darah memancur dari leher keduanya seperti air kran shower karena banyak lubang yang dibuat oleh Benang Darah Dewa.
Alma Fatara hanya melangkah mundur setindak agar darah kedua lelaki itu tidak mengotorinya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1