
*Setan Mata Putih (SMP)*
“Tunggu, tunggu, Kangkung!” kata Betok tiba-tiba berhenti sebelum mereka keluar dari lorong kandang kuda itu.
“Tunggu apa?” tanya Kungkang sambil mengerenyit tidak nyaman.
“Jika kita melapor tanpa melihat yang sebenarnya, kita tidak bisa menjawab jika Kanjeng Gusti bertanya ‘ada apa’?” jawab Betok.
“Jawab saja ‘ada kita’,” kata Kungkang asal.
“Ada kita batokmu!” maki Betok.
“Jadi bagaimana?” tanya Kungkang.
“Ya kita balik lagi untuk melihat apa yang sebenarnya membuat kuda-kuda itu bertengkar,” tandas Betok.
“Tapi kau buluan. Eh eala, kau duluan, maksudku,” kata Kungkang.
“Sini obornya. Jadi lelaki perutnya saja yang dibesarkan, tapi nyali dikebiri!” rutuk Betok sambil merampas obor di tangan Kungkang.
“Walah, dasar kerbau wadon. Tadi justru kau lari duluan!” balas Kungkang.
“Bagaimana bisa dalam sekejap kau melupakan kisah cinta kita berdua? Jelas-jelas kau lari duluan meninggalkan aku sendirian tanpa cahaya!” otot Betok.
“Kau yang pelupa!” tuding Kungkang.
“Kau!” balas Betok.
“Kau yang meninggalkanku lebih dulu. Aku lari kau malah tidak ikut mati. Eh ealah, tidak ikut lari, maksudku.”
“Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kau yang meninggalkanku!” debat Betok tidak mau kalah.
“Sudah, sudah, sudah. Dengarkan, kuda-kuda itu masih gairah. Eh ealah, masih gelisah, maksudku.”
“Ayo, kita maju pelan-pelan!” bisik Betok.
Mereka berdua memang sudah sampai di dekat kamar-kamar kuda.
“Turunkan obornya!” suruh Kungkang, nada suaranya tegang.
Betok pun menurunkan api obornya lebih rendah, membuat cahaya obor mereka lebih redup di atas dan lebih terlindung di bawah.
Sejumlah kuda masih gaduh karena panik. Suara ringkikan mereka terdengar berisik seiring suara kaki yang menghentak-hentak tanah, tapi mereka tidak bisa keluar.
“Maju terus. Iya, pelan-pelan, teruuus, maju, masuk masuk masuk,” ucap Kungkang pelan tapi bernada mendesah-desah, sambil satu tangannya menumpang di bahu kiri Betok.
“Husy! Kau ini sedang menghayal apa? Menghayal sedang bersetubuh dengan kuda?” bentak Betok sambil berbalik menghadap kepada Kungkang, tapi suaranya setengah berbisik.
“Sembarangan kau menusukku. Eh eala, sembarangan kau menuduhku, maksudku,” sangkal Kungkang balas mendelik. “Sudah, ayo terus masuk!”
“Tapi kau jangan mendesah-desah, aku yang mendengarnya geli,” kata Betok.
__ADS_1
“Iya.”
Akhirnya mereka kembali maju mengendap-endap dengan penglihatan mencoba memeriksa di dalam kegelapan.
Sejumlah kuda yang mereka lewati kamarnya memang terlihat tidak tenang. Mereka terus masuk. Kandang itu begitu luas.
Setelah mereka berdua sampai pada ujung kandang, mereka menuju ke pintu belakang. Sebab mereka belum melihat sesuatu yang menjadi penyebab kepanikan para kuda.
Mereka membuka pintu belakang.
Ternyata di area belakang kandang besar itu ada tanah lapang. Di sana ada kurungan kuda yang luas yang dipagari dengan pagar balok-balok kayu. Di dalam kandang terbuka itu ada puluhan ekor kuda yang ditempatkan jadi satu. Pada pagar dipasang empat tiang tinggi yang di ujung atasnya dipasang obor besar, sehingga bisa sedikit menerangi kondisi kandang dan kuda-kudannya.
“Eh, ada yang aneh,” bisik Kungkang sambil menahan langkah Betok dengan menyentuh bahunya.
“Apa?”
“Kuda-kuda itu berkumpul di pinggir!”
“Ayo kita lihat!”
“Kau saja, aku takut!” kata Kungkang.
“Jangan seperti anak kecil. Harus seperti anak besar sepertiku!” kata Betok sambil menarik tangan Kungkang agar mengikutinya.
Dengan berbekal keberanian yang sangat dipaksakan, akhirnya mereka berjalan mendekati pagar kandang luar kuda. Pandangan mereka fokuskan ke sisi kandang yang sepi oleh kuda.
Ternyata pada bagian bawah, di pinggir sisi dalam pagar kandang, ada sesuatu yang mencurigakan. Di dalam kegelapan mereka melihat samar-samar bayangan yang sedang berjongkok menghadapi benda besar yang tergeletak.
Keduanya bisa menduga dengan yakin bahwa bayangan yang tergeletak itu adalah seekor kuda, sedangkan bayangan pendek di dekatnya adalah sesosok manusia yang sedang berjongkok membelakangi kedatangan Betok dan Kungkang.
“I-i-itu pasti se-se-setannya!” bisik Kungkang tergagap ketakutan.
“Itu bayangan hitam, bukan setan,” sangkal Betok.
“Itu se-se-setan dalam wu-wu-wujud bayangan hitam!” tandas Kungkang masih tergagap.
“Kenapa penyakitmu tambah parah, Kangkung?” tanya Betok.
Mendengar suara kasak-kusuk di belakangnya, sosok bayangan hitam yang sedang berjongkok di dekat bangkai kuda, bergerak menengokkan kepalanya ke belakang.
“Huaaak!” jerit Betok dan Kungkang keras saat melihat dua mata makhluk yang berjongkok itu bersinar putih seperti lampu yang redup.
“Harrggk!” Makhluk itu menggeram menunjukkan kemarahannya kepada Betok dan Kungkang. Perlahan dia bergerak hendak berdiri.
“Lariii!” teriak Betok sambil menyambar Kungkang dan mengajaknya berlari.
Bdak!
Kungkang terjengkang keras karena Betok menarik rambutnya, bukan menarik tangannya. Namun, sambil menahan sakit, Kungkang buru-buru bangkit berlari terbirit-birit menyusul Betok.
“Hargk!” geram makhluk bermata sinar putih sambil berlari dan melompati pagar kandang kuda.
__ADS_1
Tindakan makhluk bermata putih itu membuat kuda-kuda di dalam kandang bergerak panik.
Makhluk itu berlari sangat cepat mengejar Betok dan Kungkang. Mengetahui makhluk itu mengejar, kedua orang gendut itu semakin panik.
Brak!
Betok buru-buru menutup pintu belakang kandang.
Dok dok dok!
“Betok! Jangan tutupi aku! Bukaaa! Huu huu …!” teriak Kungkang sambil menangis dan menggedor-gedor pintu dari luar.
Betok terkejut bukan main setelah tersadar bahwa Kungkang belum masuk. Ia buru-buru membuka kembali pintu belakang kandang itu. Ketika dibuka, dilihatnya makhluk bayangan hitam bermata lampu datang berlari mendekat dari belakang Kungkang.
Buru-buru Betok menarik Kungkang masuk ke dalam lalu langsung menutup kembali pintu tersebut. Betok cepat memasang palang penguncinya.
Brokr!
“Huaaak!” pekik Betok dan Kungkang bersamaan dengan full ekspresi, ketika daun pintu itu dijebol dari luar. Ada sebuah tangan yang berkuku panjang-panjang dan berlumur darah mencoba menggapai wajah kedua lelaki gendut itu, tetapi tangan itu tertahan oleh pintu.
Spontan kedua orang itu berlari terbirit-birit melewati depan kamar-kamar kuda. Para kuda itu hanya bisa memandangi mereka berlari seperti dua atlet sprinter Olimpiade.
Sekeluarnya dari kandang besar itu, Kungkang langsung berlari pergi sambil berteriak-teriak.
“Ada Setan Mata Putih! Ada Setan Mata Putih!” teriak Kungkang yang berlari menuju pos.
Sementara itu, Betok berpikir lebih jernih di masa ketakutannya. Dia berusaha membangunkan keempat prajurit yang tertidur.
“Bangun! Bangun! Ada Setan Mata Putih! Bangun!” teriak Betok sambil mengguncang-guncang bahu prajurit itu.
Dak! Dak!
Karena tidak bangun-bangun, Betok menendang kepala para prajurit itu agar terbangun. Ternyata efektif.
“Ada apa, ada apa?” tanya salah satu dari prajurit itu, seperti mayat yang baru bangun dari siksa kubur.
“Ada Setan Mata Putih!” jawab Betok dengan berteriak sambil mengekspresikan wajahnya seperti setan.
“Appa?! Setan Mata Putih?!”
Mendengar itu, keempat prajurit yang sudah bangun itu jadi terkejut kompak bukan alang kepalang.
Betok cepat lari lebih dulu meninggalkan pintu kandang. Keempat prajurit itu jadi saling pandang. Kemudian ….
“Lariii!”
Keempatnya pun lari tunggang langgang meninggalkan kandang. Padahal, makhluk yang mereka sebut sebagai Setan Mata Putih tidak muncul mengejar. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.