
*Episode Terakhir (PITAK)*
Seperti pasukan pulang dari perang, Gagap Ayu dan Nining Pelangi bersama pasukannya menyambut kedatangan Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara dan rombongan. Kondisi Nining Pelangi sudah lebih baik setelah diobati oleh Bocah Tabib Belik Ludah.
Rombongan Alma Fatara tiba di kediaman Demang Mahasugi tepat ketika sang surya terbit. Agenda selanjutnya adalah mereka beristirahat hingga menjelang sore, setelahnya baru melanjutkan perjalanan menuju Tanah Kutukan bersama Ratu Tengkorak.
Pagi itu juga, Ratu Tengkorak menjenguk keadaan Tengkorak Pedang Siluman. Ia menceritakan apa yang terjadi di kediaman Tengkorak Sabit Putih.
“Anak itu memang gila,” komentar Tengkorak Pedang Siluman setelah mendengar tuntas hasil pertarungan Alma Fatara melawan empat anggota tua Keluarga Tengkorak.
“Kedua pedangmu sudah menjadi milik Ratu Siluman, itu berarti separuh kesaktianmu hilang,” kata Ratu Tengkorak.
“Tidak mengapa. Aku masih memiliki Pedang Siluman Kodok,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
Sementara itu, kondisi Tengkorak Telur Bebek sudah sehat sempurna, tapi dia masih bertahan karena menunggu kondisi Tengkorak Bayang Putih pulih.
Ineng Santi izin pulang ke Bukit Selubung pagi itu juga. Selain izin kepada Demang Mahasugi dan Putri Cicir Wunga sebagai tuan rumah, kepada Alma Fatara, dan kepada kedua nenek Tengkorak, Ineng Santi juga pamit kepada Arung Seto.
Saat Arung Seto sedang meladeni kemanjaan Nining Pelangi yang dalam kondisi sakit, meski sudah lebih baik dari kemarin, Ineng Santi datang dengan senyum manisnya.
Melihat kedatangan Ineng Santi, Nining Pelangi yang sedang berbantalkan paha Arung Seto di bawah pohon jengkol, seketika wajahnya berubah masam. Ia segera bangun dari rebahannya kepada duduk.
Melihat kedatangan seorang cantik jelita, tidak mungkin Arung Seto menolak tersenyum, membuat Nining Pelangi kian merengut.
“Kakang Arung!” sapa Ineng Santi seraya tersenyum.
“Ada apa, Ineng?” tanya Arung Seto lembut.
“Aku mau izin pulang ke Bukit Selubung,” ujar Ineng Santi.
“Oooh, sayang sekali,” ucap Arung Seto yang seketika hilang senyum.
“Memang itu lebih baik. Tidak bagus meninggalkan kakekmu lama-lama sendirian di bukit, nanti diculik orang, repot jadinya,” timpal Nining Pelangi ketus dengan wajah hambarnya.
Ineng Santi hanya tersenyum mendengar kata-kata Nining Pelangi.
“Aku pulang ke Bukit Selubung hanya untuk minta izin kepada Kakek, karena aku ingin bergabung dalam Pasukan Genggam Jagad,” kata Ineng Santi.
“Hah!” kejut Nining Pelangi.
“Hihihi!” tawa Ineng Santi sambil men-dada kepada Arung Seto.
“Iya, aku akan menunggu,” kata Arung Seto gembira.
“Kakang!” pekik Nining Pelangi merajuk sambil mencubit perut kekasihnya itu.
“Aw! Iya, maaf!” pekik Arung Seto terkejut. Lalu ucapnya lagi kepada Ineng Santi sebelum gadis cantik itu benar-benar pergi, “Kami akan menunggumu!”
“Hihihi!” tawa Ineng Santi lalu berbalik pergi.
Ineng Santi pun meninggalkan kediaman Demang Mahasugi dengan menunggangi kuda milik Kerajaan Siluman.
“Ayu, kau ketinggalan perkembangan terbaru tentang Alma!” ujar Anjengan berapi-api kepada Gagap Ayu.
“Ada apa? Kau me-me-mengejutkan aku sa-sa-saja,” kata Gagap Ayu yang kini selalu bersama keempat mantan murid Wulan Kencana.
“Kau ingat waktu Alma menemukan Keris Pemuja Bulan di mata air tempat Mbah Hitam tinggal?” tanya Anjengan.
“Ingat.”
“Tadi malam waktu bertarung di kediaman Tengkorak Sabit Putih, kekuatan Keris Pemuja Bulan yang masuk ke tubuh Alma, tiba-tiba muncul dengan luar biasa saktinya,” kata Anjengan berapi-api, sampai mulutnya berair-air.
“Sa-sa-sakti seperti apa?” tanya Gagap Ayu.
Mulailah Anjengan bercerita tentang kesaktian baru Alma Fatara yang bernama Ratu Pemuja Bulan.
Di sisi lain, karena Alma Fatara dianggap berjasa, ia dan pasukannya diberi hadiah berupa beberapa kantung uang kepeng dan dua ekor kuda. Namun, seperti pepatah mengatakan “Diberi telur dadar, eh malah minta telur mata sapi”. Sudah diberi hadiah, Alma Fatara justru minta tambahan.
“Maafkan aku Paman, Bibi. Aku ingin meminta ketiga pengurus kuda itu sebagai abdiku. Jika perlu, aku tukar mereka bertiga dengan dua ekor kuda yang diberikan,” ujar Alma Fatara kepada Demang Mahasugi dan Putri Cicir Wunga.
“Tidak usah ditukar, aku berikan mereka bertiga kepada Gusti Ratu,” kata Putri Cicir Wunga.
__ADS_1
Demang Mahasugi tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum palsu. Jika istrinya sudah punya keputusan, sulit untuk diputus. Terpaksa dia nantinya harus mencari tiga orang pengurus kambing dan kuda baru.
Beberapa waktu sebelumnya, ketika pasukan itu beristirahat sebentar dalam perjalanan pulang, tiga trio gendut tiba-tiba memberanikan diri menghadap kepada Alma Fatara.
“Sembah hormat kami, Gusti Ratu!” ucap Betok mewakili mereka bertiga.
“Ada apa, Kakang Betok?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum. Khusus trio gendut, baru melihatnya saja, Alma Fatara selalu ingin tertawa.
“Seperti ini, Gusti Ratu,” ucap Betok.
“Mana ininya?” tanya Alma Fatara cepat, bermaksud menggoda ketiganya.
“Ininya itu ….” Bingunglah Betok menjawabnya. Ia begitu grogi, maklum di depan cewek secantik Alma Fatara.
“Payah, biar aku saja yang bicara!” sergah Jungkrik sok percaya diri.
“Bicaralah, Kakang Jangkrik!” perintah Alma Fatara.
“Maaf, Gusti Ratu. Namaku Jungkrik, bukang jangkrik yang suka diadu anak desa itu. Hehehe!” ralat Jungkrik.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Hua hua hua. Katakan, Kakang!”
“Kami selama sebelas tahun menjadi pengurus kuda dan selalu menjadi pengurus kuda. Kehidupan kami sangat menyedihkan, Gusti Ratu. Tidak pernah ada perubahan. Jika selama ini kami bekerja sebagai pengurus janda, mungkin kami masih bisa bahagia. Tapi kami setiap hari mengurus kambing dan kuda. Huuu huuu!” cerita Jungkrik yang tiba-tiba bernada dan berekspresi sedih. Ujung-ujungnya dia menangis kadal.
“Hahaha! Lalu Kakang bertiga maunya hidup seperti apa?” tanya Alma Fatara yang tertawa bersama Ratu Tengkorak dan Ineng Santi di sisinya.
“Kami ingin hidup beruban!” jawab Kungkang penuh semangat.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara.
“Eh ealah, hidup berubah maksudku, Gusti Ratu,” ralat Kungkang sambil tersenyum malu.
“Berubah dari manusia menjadi kambing atau kuda maksudnya?” tanya Alma Fatara pura-pura belum mengerti.
“Bu-bu-bukaaan!” pekik Jungkrik kencang mendadak gagap.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara, lalu membiarkan ketiga trio gendut itu menjelaskan maksudnya.
“Kami ingin ikut selalu dengan pasukan Gusti Ratu. Kami sepakat untuk tidak mau bekerja lagi sebagai pengurus kuda di kediaman Demang Mahasugi. Jika kami ikut mengabdi bersama Gusti Ratu, mungkin kami nantinya bisa ikut jadi pendekar atau menjadi orang kaya, atau menjadi suami salah satu pendekar wanita di sini. Hehehe!” jelas Jungkrik.
“Tapi, Gusti Ratu. Kami tidak mungkin berhenti begitu saja tanpa bicara kepada Kanjeng Gusti Demang,” kata Jungkrik.
“Oh, jadi maksud Kakang bertiga, aku yang bicara kepada Demang atas keinginan kalian ini?” terka Alma Fatara.
“Benar sekawin, Gusti Ratu. Eh ealah, benar sekali maksudku, Gusti Ratu,” jawab Kungkang.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
Itulah permintaan trio gendut kepada Alma Fatara tadi malam.
Ketika sudah waktunya Pasukan Genggam Jagad meninggalkan kediaman Demang Mahasugi, tiba-tiba ….
“Gusti Ratu Siluman!” seru Tengkorak Telur Bebek sambil berjalan ke sisi kereta kuda bersama Tengkorak Bayang Putih yang wajahnya tidak ganteng lagi, karena dibedaki dengan krim herbal berwarna hijau muda.
“Hahahak!” tawa terbahak para pendekar lelaki.
“Hihihi!” tawa terkikik para pendekar wanita.
Yang membuat mereka tertawa tidak bukan tidak lain adalah wajah Tengkorak Bayang Putih. Dia pun berjalan agak terpincang. Justru Alma Fatara yang menahan tawa kali ini.
Di belakang keduanya berjalan Ratu Tengkorak dan Tengkorak Pedang Siluman.
“Kami berdua ingin mengabdi kepada Gusti Ratu!” tandas Tengkorak Telur Bebek.
Terkejutlah hampir semua Pasukan Genggam Jagad mendengar hal itu.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa ringan.
“Apakah kalian sudah mempertimbangkan dengan baik-baik?” tanya Alma Fatara.
“Sudah, Gusti Ratu.” Kali ini yang menjawab adalah Tengkorak Bayang Putih.
__ADS_1
“Aku butuh alasan kuat,” kata Alma Fatara.
“Selama ini kami berdua adalah dua pemuda yang menganggur. Hidup ke sana dan ke sini hanya mencari kesenangan. Kami ingin memiliki tujuan hidup dengan bergabung bersama Pasukan Genggam Jagad,” jawab Tengkorak Telur Bebek.
“Hihihi! Orang ganteng semakin banyak di dalam Pasukan Genggam Jagad,” ucap Murai Ranum di sisi lain, yang didahului tawa genitnya.
“Dasar wanita mata lelaki!” rutuk Roro Wiro yang berdiri di sisi Murai Ranum.
“Hihihi!” Murai Ranum hanya tertawa.
“Penombak Manis, periksa mereka!” perintah Alma Fatara.
“Mereka aman dari niat jahat, Gusti Ratu,” jawab Penombak Manis yang tidak menemukan setitik pun ekspresi niat jahat tersembunyi.
“Panglima Besar, panggil mereka yang belum bersumpah setia!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.
Maka dipanggillah trio gendut, Kulung, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong.
“Mbah Hitam!” panggil Alma Fatara.
Clap!
Tahu-tahu sosok pemuda ganteng berpakaian serba hitam muncul di sisi kereta kuda yang kini diduduki oleh Alma Fatara.
Kemunculan Mbah Hitam dalam sosok gantengnya mengejutkan mereka yang ingin berjanji setia. Ia sudah dalam kondisi prima setelah diobati tuntas dengan Bola Hitam.
“Aku ikut berjanji setia, Gusti Ratu!” teriak seorang lelaki tiba-tiba, dari dalam rumah Demang Mahasugi.
Mereka semua beralih memandang ke sumber suara itu. Ternyata orang itu adalah Lolongo yang berjalan terpincang diiringi oleh Buluk. Terkejutlah Demang Mahasugi dan istrinya.
“Lolongo!” panggil Demang Mahasugi dan Putri Cicir Wunga bersamaan. Mereka berdua berdiri di teras rumah panggung itu.
“Aku ingin ikut dengan Gusti Ratu, Ayahanda!” sahut Lolongo dengan wajah yang tegas.
“Sekarang kau adalah satu-satunya anakku. Jika kau pergi, lalu terbunuh, lalu harta kekayaan ayahmu ini untuk siapa?” tanya Demang Mahasugi setengah marah.
“Aku tidak peduli, Ayahanda. Pokoknya aku ingin ikut dengan pasukan Gusti Ratu dan mengabdi padanya!” tegas Lolongo setengah berteriak.
“Anakku, kenapa kau tiba-tiba ingin ikut Gusti Ratu?” tanya Putri Cicir Wunga dengan wajah sedih, meski tidak berair mata.
“Karena wanita yang aku cintai ada di dalam pasukan itu,” jawab Lolongo.
Mendengar jawaban pemuda tampan itu, sebagian besar personel Pasukan Genggam Jagad memandang kepada Janda Belia. Wanita cantik berpakaian hijau muda itu hanya diam sembari matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.
“Jika kau menginginkan wanita cantik, Ayahanda akan carikan yang lebih cantik daripada Janda Belia,” kata Demang Mahasugi.
“Tidak. Cintaku sekarang ada pada Janda Belia. Jika aku tetap tinggal di sini, aku akan tetap menjadi lemah, menjadi lelaki pemain wanita, menjadi tukang mabuk dan tukang judi. Aku ingin menjadi lelaki sejati,” jelas Lolongo.
Terpaku Demang Mahasugi dan Putri Cicir Wunga mendengar kata-kata putra tunggal mereka itu. Perkataan itu seolah-olah bukan dari mulut putra mereka.
Sementara itu, Alma Fatara dan yang lainnya masih dalam status menunggu hasil dari perdebatan anak dan orangtua tersebut.
Akhirnya Putri Cicir Wunga menghempaskan napas, seolah ia menyerah untuk mencoba membujuk Lolongo.
“Apa boleh buat, Kakang. Anak kita, jika sudah memiliki satu keinginan, tidak mungkin bisa dilarang. Aku tidak mungkin rela mengurungnya hanya untuk mencegahnya pergi. Aku berjanji akan memberimu setiap malam agar aku berpeluang hamil,” ujar Putri Cicir Wunga pelan kepada suaminya.
Mendengar perkataan istrinya, Demang Mahasugi akhirnya mengembuskan napas pasrah.
“Baiklah,” ucap Demang Mahasugi sepakat. Lalu serunya kepada Ratu Siluman, “Aku titip putraku satu-satunya kepadamu, Gusti Ratu!”
“Paman dan Bibi bisa memercayaiku,” jawab Alma Fatara.
“Terima kasih, Ayahanda, Ibunda!” ucap Lolongo seraya tersenyum sumringah.
Ia lalu pergi mendatangi kedua orangtuanya. Pada kesempatan itu, Lolongo memeluk ibunya. Menangis haluslah sang ibu. Bagaimana tidak sedih, jika baru beberapa hari ia kehilangan satu putranya, tapi kini ia kembali ditinggal oleh putra satu-satunya?
Lolongo juga memeluk ayahnya. Pada ayahnya, Lolongo menunjukkan ketegarannya sebagai seorang lelaki. Hari ini, sangat terlihat bahwa Lolongo berusaha menampilkan sisi kepribadian lainnya yang lebih baik dalam kondisinya yang terpuruk.
“Kau harus ingat, semua kekayaan ini akan menjadi milikmu kelak,” bisik Demang Mahasugi kepada putranya.
__ADS_1
“Aku baru akan merasa bahwa semua kekayaan ini adalah milikku, jika aku sudah menjadi orang yang pantas,” ucap Lolongo pula.
Maka bergabunglah Lolongo dan Buluk dalam ritual pengucapan sumpah setia kepada Ratu Siluman yang dipandu oleh Mbah Hitam. (RH)