
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Marah, kesal dan heran. Perasaan itu bercampur aduk di diri Ki Jolos dan para warganya melihat tingkah Alma Fatara dkk. Di saat mereka semua sedang bertaruh nyawa melawan tiga Siluman Ikan, bahkan sudah ada warga desa yang dibunuh, Alma Fatara dkk justru muncul menerabas kekacauan itu dengan lagak seperti wayang orang.
Tingkah mereka begitu menjengkelkan, apalagi melihat tingkah Alma Fatara yang cantik tapi membuat tangan ingin menimpuk wajahnya.
Sementara tiga Siluman Ikan hanya bisa terperangah takjub melihat kecantikan Alma Fatara. Di benak mereka langsung terbayang bonus voucher belanja tujuh turunan dari sang junjungan, jika Alma bisa dibawa dipersembahkan kepada sang raja.
Di saat pertarungan berlangsung sengit, dengan santuy-nya kelima pemuda itu berjalan menerabas keramaian, bahkan tiga Siluman Ikan dibuat tidak punya wibawa dan harga diri.
Namun, beruntung bagi Jalu Segoro yang nyawanya jadi terselamatkan dari cengkeraman Siluman Ikan.
“Tunggu! Berhenti!” seru Alma Fatara tiba-tiba, membuat Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu yang berlakon sebagai pengawal sang putri jadi berhenti.
Mereka berhenti di tengah-tengah warga yang sudah terengah-engah karena tidak kunjung bisa melukai Siluman Ikan.
“Sepertinya ada keramaian,” kata Alma pura-pura tidak tahu.
“Bukan sepertinya, Dewi, tapi memang ramai,” kata Anjengan.
“Oh. Hahaha!” desah Alma Fatara seolah tersadar, lalu tertawa terbahak, memperlihatkan gigi ompongnya.
“Hahaha …!” tawa terbahak sebagian warga, ketika melihat kecantikan Alma yang mendadak lucu gegara gigi yang tidak ada di posisinya.
“Woi! Siapa yang suruh menertawakan Dewi Dua Gigi?!” bentak Juling Jitu sambil melotot dan menunjuk para warga yang melotot.
“Hahaha …!” Tambah tertawa warga ketika melihat sepasang mata juling Juling Jitu. Mereka seakan melupakan ketegangan yang baru saja mereka alami.
“Hai, para prajuritku!” panggil Alma bak seorang putri dari negeri dongeng. “Lihatlah, makhluk apa itu!”
Alma Fatara menunjuk kepada tiga Siluman Ikan. Keempat sahabat Alma itu lalu alihkan pandangannya kepada trio Siluman Ikan.
“Waaak!” jerit Iwak Ngasin sambil melompat cantik ke dalam pelukan dan gendongan Juling Jitu.
“Muka ayam!” jerit Anjengan pura-pura terkejut dan melompat memeluk Gagap Ayu.
Gagap Ayu yang dilompati hanya bisa terkejut dan menimang tubuh besar Anjengan. Tubuh Gagap Ayu yang jauh lebih kecil tidak bisa bertahan sejenak pun, ia langsung jatuh tertindih tubuh berlemak Anjengan. Benar-benar mirip kambing tertindih kerbau hamil sepuluh bulan.
“Hahahak …!” Alma Fatara benar-benar tidak bisa menahan tawanya melihat aksi kocak Anjengan dan Gagap Ayu.
__ADS_1
“Hahaha …!” Warga Desa Rangitan tidak bisa menjadi munafik untuk menahan tawa. Mereka ikut tertawa ramai. Hanya Ki Jolos yang kuat untuk tidak tertawa, karena yang ada di pikirannya, ia sedang melihat orang-orang pandir sedang berlakon.
“Woi, rencana lakonnya bukan seperti itu!” teriak Alma memprotes rekan-rekannya. “Tadi rencananya bukan seperti itu. Rencananya, setelah kalian melihat tiga pangeran itu, kalian terkejut. Juling Jitu melompat ke Iwak Ngasin dan Gagap Ayu melompat ke Anjengan. Seperti itu, bukan sebaliknya!”
“Anjengan Ku-ku-kutuuu!” teriak Gagap Ayu memaki sambil mendorong bokong Anjengan dengan sodokan kakinya. “Kau pi-pi-pikir tubuhmu se-se-seberat kentutmu?”
“Hahaha …!” tawa khalayak kembali pecah mendengar makian dan kegagapan Gagap Ayu.
“Hahahak!” Anjengan yang dimaki justru tertawa. “Aku lupa, Ayu. Hahaha!”
“Hei, kalian!” teriak Ki Jolos tiba-tiba menggelegar. Wajah dan tatapannya menunjukkan kemarahan yang besar.
Alma Fatara dkk langsung terdiam dan memandang kepada Ketua Desa.
“Apa yang kalian lakukan?! Kami semua sedang bertaruh nyawa demi lepas dari penghuni telaga ini, tapi kalian malah datang bergurau dan tertawa-tawa!” Ki Jolos benar-benar memarahi Alma dkk seperti sedang memarahi tetangga yang tidak tahu diri.
“Paman, lebih baik Paman menyerah. Mereka bisa mati semua, termasuk Paman bisa mati!” kata Alma menasihati tanpa merasa terintimidasi oleh kemarahan Ki Jolos.
“Jika Siluman Ikan Busuk itu tidak dilawan, mereka tidak henti-hentinya meminta anak gadis kami. Bisa-bisa gadis di desa ini habis!” kata Ki Jolos, masih berteriak.
“Ki Jolos!” panggil pemimpin Siluman Ikan tiba-tiba.
Ki Jolos dan mereka semua jadi berpaling memandang kepada pemimpin Siluman Ikan.
“Eh, Alma, Siluman Ikan langsung jatuh hati kepadamu!” celetuk Juling Jitu.
“Cie cieee!” goda Anjengan dan Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma mendapat godaan dari “setan yang terkutuk”.
Sambil tersenyum-senyum, Alma Fatara lalu berjalan ke depan tiga Siluman Ikan.
“Paman Siluman!” sebut Alma setelah berhenti dua tombak di hadapan Siluman Ikan. “Sebenarnya, yang jatuh hati kepadaku Paman Siluman atau Raja Siluman?”
“Hahaha …!” Ketiga Siluman Ikan justru tertawa berkepanjangan.
“Hahaha!” tawa Alma pula jadi ikut tertawa, tapi terkesan dipaksakan. Tawa yang tanpa rasa dan nyawa.
“Tangkap!” perintah pemimpin Siluman Ikan kepada kedua anak buahnya.
“Eeeh, jangan coba-coba!” teriak Alma cepat memperingatkan sambil merendahkan tubuhnya dengan kedua lutut menekuk memasang kuda-kuda.
__ADS_1
Kedua anak buah Siluman Ikan segera bergerak hendak mencekal Alma Fatara. Mereka tidak mengindahkan warning dari Alma.
Wess! Wusss!
Tangan kiri Alma lurus ke belakang menyedot udara dengan cepat, lalu tangan kanan menghentak ke depan.
Berbeda dengan dulu yang durasi proses penyedotan dan pelepasan angin terbilang agak lambat, kali ini prosesnya berlangsung cepat. Menyedot cepat udara dalam jumlah banyak, kemudian pakaian menggelembung seperti balon gas, lalu dilepas dalam waktu yang nyaris bersamaan saat menyedot.
Setelah berguru dua tahun lagi, ilmu angin Sedot Tiup milik Alma semakin cepat, besar dan ganas. Terbukti, ketika tangan kanannya menghentak, angin dahsyat menderu kencang laksana tembakan angin badai dari benua entah mana.
Hasilnya, angin dahsyat itu menerbangkan ketiga Siluman Ikan jauh ke belakang hingga jatuh di air telaga.
“Hahaha …!” tawa Alma dkk melihat ketiga Siluman Ikan terbang jauh seperti mau mudik.
Sementara Ki Jolos dan semua warganya terperangah.
Alma lalu berbalik badan menghadap kepada Ki Jolos dan warga.
“Paman-Paman, Kakang-Kakang! Siluman Ikan-nya sudah pulang. Ayo bubar!” seru Alma lalu tersenyum manis.
“Alma, Siluman Ikan-nya nongol lagi!” teriak Juling Jitu.
“Kalau nongol lagi, ya hajar. Kalian itu pendekar, jangan minta disuapi terus!” omel Alma kepada sahabat-sahabatnya.
Tiga Siluman Ikan yang jatuh di air dangkal, memang bangkit lagi dengan membawa kemarahan.
“Hajaaar!” teriak Anjengan berkomando sambil berlari maju ke arah garis pantai.
“Tunggu!” seru Alma tiba-tiba yang menghentikan lari rekan-rekannya.
Keempat sahabat yang baru saja berlari itu cepat menengok kepada Alma.
“Ada apa?” tanya mereka serentak dan kompak.
“Aku percayakan kepada kalian. Siapa pun yang mati dalam pertarungan ini, jangan melapor kepadaku, lebih baik lanjutkan matinya. Jangan lupa semangat. Kalian pasti bisa. Ingat, ini pertarungan pertama kalian. Jadi, jangan buat malu aku. Kalau kalian mati, jangan bawa-bawa nama Guru. Mengerti?” kata Alma bercerama sepanjang sambutan ketua panitia agustusan.
“Aaah!” teriak Juling Jitu kesal kepada Alma. Ia lalu berlari maju ke arah ketiga Siluman Ikan.
“Hajaaar!” teriak Anjengan lalu berlari dengan gaya yang paling heboh.
“Mari berpestaaa!” teriak Iwak Ngasin seperti teriakan semangat peserta Benteng Takeshi.
__ADS_1
“Tu-tu-tunggu akuuu!” teriak Gagap Ayu lalu berlari setelah kalimatnya sempurna.
“Hahaha!” tawa Alma melihat tingkah dan semangat para sahabatnya. Dengan seenaknya ia duduk bersila di pasir, tidak khawatir jika-jika nanti cacingan. (RH)