Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 26: Mencari Pusaka


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


Tiba-tiba angin tornado yang menyeramkan dari kesaktian Bola Hitam itu mereda, menciptakan hujan api, batu, pasir dan kekayuan, termasuk tubuh tua berbalut pakaian jingga yang juga diterbangkan ke sembarang arah.


Clap!


Alma Fatara yang sudah menunggu kemunculan tubuh Wulan Kencana dilemparkan dari dalam pusaran angin tornado, menghilang dari tempat berdirinya dalam kondisi tubuh masih berselimut listrik sinar biru dan mata bersinar biru.


“Itu tubuh Wulan Kencana, kejar!” teriak Tampang Garang saat melihat tubuh Wulan Kencana meluncur jatuh dari atas menuju bumi.


Karena yang memberi perintah adalah Tampang Garang, maka sepuluh wanita bersenjata panah segera berlesatan menuju lokasi arah jatuhnya tubuh Wulan Kencana.


Beberapa titik di sekitar wilayah itu juga terbakar karena kejatuhan api sisa dari kesaktian Kipas Raja Dunia.


“Gusti Ratu!” sebut Senyumi Awan terkejut saat menemukan sosok Alma Fatara sudah ada di lokasi jatuhnya Wulan Kencana.


Alma Fatara dalam kondisi cukup menggentarkan hati-hati wanita itu. Senyumi Awan segera berlutut menghormat.


“Gusti Ratu!” sebut anggota Pasukan Sayap Panah Pelangi yang lain sambil berlutut menghormat.


Saat itu Alma Fatara sedang berdiri di sisi tubuh Wulan Kencana yang dalam kondisi pakaian utuh, tapi kondisi raganya sangat mengenaskan. Tubuh nenek itu telah menghitam gosong dengan kulit yang agak kering dan berasap seperti ubi panggang yang baru diangkat dari api.


“Kalian bantu cari kipas senjata Nenek Wulan. Beri tahu yang lain untuk mencari ke daerah sekitar. Kipas itu pasti jatuh di satu tempat!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.


Senyumi Awan dan rekan-rekannya segera pergi untuk melaksanakan perintah. Mereka pun menyebar untuk melakukan penyisiran.


Alma Fatara lalu melenyapkan ilmu Ratu Pemuja Bulan-nya. Ia kembali kepada penampilan cantiknya.


“Jarum Kesaktian pasti ada tersimpan baik di balik pakaiannya,” pikir Alma Fatara.


Alma Fatara lalu turun berjongkok di sisi mayat Wulan Kencana. Ia lalu memeriksa tubuh dan pakaian Wulan Kencana. Sudah tidak ada yang menarik dari tubuh si nenek yang sempat masih mengaku paling cantik itu.


Alma Fatara memeriksa dengan teliti dan sabar, sebab ia mencari sebatang jarum yang dalam bayangannya adalah jarum yang besarnya tidak lebih besar dari paku.

__ADS_1


“Di mana disembunyikan?” ucap Alma Fatara lirih kepada dirinya sendiri, setelah memeriksa pakaian si nenek, termasuk memeriksa dua sarang gunung tandusnya.


Mendadak Alma Fatara terpikir pada suatu tempat di tubuh mayat Wulan Kencana.


“Ah, apakah jarumnya disimpan di tempat itu? Tapi, itu memang tempat paling aman untuk menyembunyikan benda kecil. Karena jika menyembunyikan benda besar …. Hahahak!” pikir Alma Fatara lalu tertawa kencang sendiri.


Akhirnya Alma Fatara memeriksa pakaian dalam sebelah bawah milik Wulan Kencana.


“Maafkan aku telah bertindak lancang, Nek. Aku hanya bisa melakukannya di saat kau mati,” ucap Alma Fatara sambil memelorotkan celana luar Wulan Kencana, sehingga tampaklah “Segitiga Bermuda” yang terkenal angker.


Setelah memeriksa kain segitiga yang berwarna jingga pula, akhirnya Alma Fatara menemukan sebatang jarum yang diselipkan secara biasa di kain.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara. Bukan menertawakan kondisi area terlarang itu, tetapi dia menertawakan perbuatannya yang tidak senonoh, terlebih kepada seseorang yang sudah mati. Untung hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Alma Fatara lalu berdiri dengan jari sudah menjepit sebatang jarum pusaka yang bernama Jarum Kesaktian, pusaka pasangan dari Mustika Dewi Kenanga.


Alma Fatara menengok ke sekitar, ke segala arah. Bahkan ia pun mendongak ke langit, khawatir jika ada orang atau makhluk berekor yang tanpa ia sadari sedang memerhatikannya. Jika ada Mbah Hitam yang mengintip, biarkanlah. Namun, Mbah Hitam sudah pernah bersumpah tidak akan lancang secara diam-diam.


“Cara penyimpanan benda berharga yang paling aman,” batin Alma Fatara.


Lalu, sambil terus memerhatikan daerah sekitar, Alma Fatara menyusupkan dua tangannya ke balik celana. Ia bermaksud menyimpan Jarum Kesaktian di tempat serupa sebagaimana yang dilakukan oleh Wulan Kencana.


Alma Fatara berdiri memandang kepada kedatangan Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari, dan Sukma Senja. Hingga akhirnya mereka tiba dan berlutut menghormat.


Setelah melihat kehebatan dan kedahsyatan ilmu Angin Tujuh Langit, para pendekar yang tergabung dalam Pasukan Genggam Jagad semakin merasa begitu kecil dibandingkan dengan ratu mereka. Aura kebesaran dan kewibawaan Alma Fatara semakin kuat dengan sendirinya.


“Izinkan kami mengurus dan memakamkan jasad guru kami, Gusti Ratu,” ujar Semai Cinta.


“Lakukanlah!” perintah Alma Fatara.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap keempat gadis cantik itu.


“Beruntung guru kalian memiliki ilmu Raga Abadi, jadi jasadnya tidak hancur saat tersengat ilmu Ratu Pemuja Bulan milikku. Jadi, masih bisa dikuburkan dengan layak,” kata Alma Fatara.


Clap!


Setelah berkata seperti itu, Alma Fatara lalu menghilang dari tempat berdirinya. Keempat wanita itu tidak bisa melihat kecepatan gerak ratu mereka. Hal itu mereka tidak indahkan, fokus mereka saat ini adalah memakamkan sang guru.

__ADS_1


Tampak Jeng Menari dan Sukma Senja baru mengungkapkan tangisnya saat melihat kondisi mayat guru mereka. Memang, mereka berempat termasuk murid utama yang lebih dari lima tahun menjadi pengawal pribadi sang guru. Kedudukan mereka jauh di atas kedudukan Purnama Bingar saat Wulan Kencana masih mengetuai Perguruan Bulan Emas.


Sementara itu, di salah satu titik di daerah itu.


“Siapa kau?” tanya Janda Belia ketika dia bertemu dengan seorang gadis berkulit hitam manis berambut panjang terurai dan berpakaian kuning.


“Apakah kalian mencari kipas pusaka ini?” tanya gadis manis itu seraya tersenyum kian manis semanis madu. Ia menunjukkan selembar kipas hitam yang dibentangkan.


Terkejutlah Janda Belia melihat kipas yang sedang mereka cari telah berada di tangan wanita yang tidak dikenalnya.


“Siapa dia, Belia?” tanya Senyumi Awan yang datang bersama Embun Bunga yang dipunggungnya ada panji Pasukan Sayap Panah Pelangi.


“Namaku Semanis Madu. Aku adalah pengawal dari Penjaga Candi Alam Digdaya,” jawab wanita berpakaian kuning.


Clap!


Tiba-tiba Alma Fatara muncul di antara keempat wanita tersebut.


“Gusti Ratu!” sebut Senyumi Awan dan kedua rekannya sambil menjura hormat seperlunya.


“Sembah hormatku, Gusti Ratu Siluman!” ucap Semanis Madu sambil turun berlutut menghormat.


“Bangunlah, Kakak!” perintah Alma Fatara seraya tersenyum rapat kepada Semanis Madu.


Semanis Madu segera bangkit.


“Bagaimana Kakak bisa mengenalku sebagai Ratu Siluman?” tanya Alma Fatara.


“Tentunya Gusti Ratu sudah mengenal Semanis Sari dari Candi Alam Digdaya. Aku bernama Semanis Madu, pengawal Penjaga Candi yang lain,” jawab Semanis Madu.


“Kemunculan Kakak di sini dan sudah mendapatkan Kipas Raja Dunia, pastinya Kakak mendapat tugas dari Penjaga Candi untuk mengikuti Nenek Wulan Kencana?” terka Alma Fatara.


“Gusti Ratu benar adanya. Penjaga Candi sudah yakin bahwa Wulan Kencana akan mengalami kemalangan karena telah melanggar aturan Candi Alam Digdaya. Ia telah mencuri dua benda di luar dari yang dia niatkan, yaitu Kipas Raja Dunia dan Jarum Kesaktian. Namun, Penjaga Candi menginginkan Kipas Raja Dunia kembali ke Candi. Pusaka ini sangat berbahaya jika jatuh di tangan orang yang salah,” jelas Semanis Madu.


“Bagaimana dengan Jarum Kesaktian? Jarum itu kini ada padaku,” tanya Alma Fatara jujur, meski berisiko jika seandainya pusaka itu akan dipinta juga oleh Semanis Madu.


“Penjaga Candi tidak menyebut Jarum Kesaktian agar dikembalikan ke Candi. Aku hanya melaksanakan apa yang diperintahkan,” jawab Semanis Madu.

__ADS_1


“Baiklah jika demikian, Kakak. Aku tidak akan berusaha memiliki kipas itu. Terbukti pusakaku lebih ampuh dari itu,” kata Alma Fatara.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Semanis Madu seraya tersenyum. (RH)


__ADS_2