
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Tidak ada lagi pemandangan kehancuran, makanan berserakan di mana-mana, atau mayat dan ceceran darah. Kini Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara duduk di kursi batu singgasananya di Ruang Purnama.
Mbah Hitam dalam wujud lelaki muda yang tampan dan empat pengawal wanita telah menempati posisinya seperti biasa.
Sementara itu, para petinggi perguruan dan tamu telah berada di tempat yang semestinya di bawah singgasana.
Murid-murid Perguruan Bulan Emas dan Jari Hitam tidak banyak yang hadir, karena mereka mendapat tugas membereskan kekacauan pesta.
“Perguruan Bulan Emas tidak akan merebut Bukit Tujuh Kepala sebagai wilayah kekuasaan. Namun, aku sebagai Ratu Kerajaan Siluman menawarkan para tetua dan yang lainnya untuk bergabung ke dalam Kerajaan Siluman. Jika kalian menolak pun, aku tidak akan melakukan pemaksaan!” seru Alma Fatara yang berdiri dari duduknya.
“Kami sepuluh anggota Pemanah Ujung Pelangi dan juga murid Guru Kebo Pute, menyatakan ingin bergabung ke dalam Kerajaan Siluman dan mengabdi kepada Ratu Siluman!” kata Senyumi Awan menyambut seruan Alma Fatara. Ia memimpin sembilan rekannya yang lain.
Sebagian orang dibuat terkejut oleh pernyataan Senyumi Awan. Bagaimana tidak? Baru saja guru mereka dibunuh oleh Alma Fatara langsung, tapi kesepuluh murid itu justru sudi mengabdi kepada pembunuh guru mereka?
“Siapa namamu?” tanya Alma Fatara.
“Senyumi Awan, Gusti Ratu,” jawab Senyumi Awan.
“Nama yang indah!” celetuk Gede Angin tiba-tiba.
Tak!
“Adaw!” pekik Gede Angin.
“Jangan suka menggganggu suasana!” hardik Penombak Manis yang baru saja memukul kepala Gede Angin dengan tombak barunya, yaitu tombak milik Gendis yang saat ini dipenjara dalam kondisi terluka.
“Hahaha!” tawa sebagian orang melihat nasib Gede Angin.
“Aku memang menyeru orang-orang untuk mengabdi kepadaku dan bersama-sama membangun Kerajaan Siluman, tapi aku bukan orang yang gila kehormatan. Aku akan selalu butuh alasan, mengapa seseorang ingin mengabdi kepadaku,” tandas Alma Fatara setelah suasana kembali agak hening.
“Memang ini terlihat tidak masuk akal, Gusti Ratu. Jika Tetua Suraya Kencani berani mengungkap luka masa lalunya, maka kami pun tidak memilih malu untuk mengungkap sebuah rahasia ….”
“Katakan!” perintah Alma memotong perkataan Senyumi Awan.
“Kebo Pute memanglah guru kami, tapi kami pun adalah tahanan ranjangnya. Di balik tawanya yang sering terdengar, dia sebenarnya dalah kakek pemangsa perempuan. Jika Gusti Ratu bisa mengangkat kehormatan Tetua Suraya yang hancur, maka kami pun memiliki harapan yang sama,” ungkap Senyumi Awan.
Terbeliaklah Alma Fatara dan semua orang mendengar rahasia yang diungkapkan. Hati-hati para lelaki seketika merasa iba dan jika memungkinkan, mereka berhayal menjadi lelaki yang bisa memberikan obat mujarab bagi para wanita cantik nan muda itu.
Juling Jitu pun mencolek bokong Geranda diam-diam.
“Apaan?” tanya Geranda berbisik.
__ADS_1
“Pasukan kita akan kebanjiran wanita cantik. Hihihik!” bisik Juling Jitu lalu tertawa seperti anjing yang licik.
“Jangan macam-macam kau, Jitu. Aku adukan kau kepada Manis, mati asmara kau nanti!” kata Geranda mengingatkan Juling Jitu.
“Aku sengaja mendukungmu, eh, kau malah mengancamku!” rutuk Juling Jitu.
“Kami sangat ingin meninggalkan bukit sejak lama, tapi apalah daya, kami tidak kuasa,” tambah Senyumi Awan.
“Baiklah. Selain kesepuluh murid Kebo Pute, masih adakah di antara kalian yang ingin bergabung dengan Kerajaan Siluman?” seru Alma Fatara.
“Hamba, Gusti Ratu!” seru Murai Ranum lantang dengan senyum menggodanya, bukan maksud menggoda Alma Fatara, tidak mungkin papaya makan papaya. Senyumnya itu dimaksudkan kepada setiap lelaki yang ada di Ruang Purnama itu.
“Siapa namamu, Nisanak Cantik?” tanya Alma Fatara dengan sekata pujian.
“Nama hamba Murai Ranum, Gusti Ratu. Aku murid Hantu Tiga Anak,” jawab Murai Ranum tanpa memiliki segurat wajah kesedihan usai tewasnya sang guru.
“Hamba bernama Kalang Kabut. Hamba juga murid Hantu Tiga Anak. Hamba juga ingin bergabung dengan Kerajaan Siluman,” ujar murid tertua Hantu Tiga Anak itu.
“Apa alasanmu, Murai Ranum?” tanya Alma Fatara. “Gurumu pun mati di tangan kami. Tentunya kau tidak memiliki cerita yang sama dengan Senyumi Awan.”
“Hihihi!” tawa Murai Ranum dengan genit tapi bersikap setengah malu-malu. Ia lalu melirik kepada Arung Seto. Lalu jawabnya, “Aku punya harapan yang tinggi untuk bisa dekat dengan pemuda tampan itu!”
Dengan terang-terangan, Murai Ranum menunjuk Arung Seto. Terkejutlah pemuda putra adipati itu. Nining Pelangi pun lebih terkejut dan seketika naik pitam.
Namun, sebelum dia berteriak marah, tiga totokan dari Riring Belanga sudah mendarat yang membuatnya terdiam berdiri kaku dengan mata mendelik liar.
“Lalu apa alasanmu, Kalang Kabut?” tanya Alma Fatara.
“Jika guruku telah mati, maka seharusnya akulah yang menjadi penguasa Bukit Lima, tapi aku belum mampu untuk menjadi penguasa. Guruku saja bisa mati, apa lagi aku yang kesaktiannya lebih rendah. Aku perlu pemimpin yang lebih hebat agar aku kelak bisa belajar menjadi pemimpin,” ujar Kalang Kabut tanpa ragu.
“Baik, alasan kalian aku terima,” kata Alma Fatara. “Apakah ada lagi?”
“Aku tidak mau menjadi orang yang diperintah, Gusti Ratu,” sahut Setan Gagah.
“Baik, tidak masalah. Perguruan ini akan bersahabat dengan perguruanmu, Kek,” kata Alma Fatara.
“Namun, aku ingin menitipkan Roro Wiro di dalam kerajaan Gusti Ratu,” kata Setan Gagah.
“Guru,” sebut Roro Wiro terkejut. Wanita seperti lelaki itu belum diajak bicara sebelumnya terkait niatan gurunya.
“Apa alasanmu, Kek?” tanya Alma Fatara.
“Aku ingin Roro Wiro menambah pengalamannya di dunia persilatan di bawah asuhan seorang ratu hebat seperti Gusti Ratu,” tandas Setan Gagah.
__ADS_1
“Apakah ada lagi yang ingin bergabung?” tanya Alma Fatara seperti tukang lelang saja.
“Hahaha!” tawa Jongkol Pedih selaku Ketua Tikus Belukar. “Menyaksikan kesaktian Gusti Ratu, kehebatan orang-orang Kerajaan Siluman, dan apa yang terjadi di perguruan hari ini, sungguh sangat memikat hatiku. Namun, jika Kelompok Tikus Belukar bergabung dengan Kerajaan Siluman, maka kelompok kami tidak akan bisa dinilai bekerja secara adil lagi. Jadi, mungkin Kelompok Tikus Belukar memilih sebagai rekan yang bersahabat saja dengan Kerajaan Siluman. Demikian Gusti Ratu.”
“Atas nama Penjaga Candi, hamba pun tidak menerima atau menolak, terlebih Candi Alam Digdaya tidak boleh berada di bawah kekuasaan penguasa mana pun,” kata Semanis Sari sebagai utusan Penjaga Candi.
“Jika ada di antara kalian yang berpura-pura mengabdi, maka dia harus tahu, bahwa aku memiliki mata dewa yang bisa membaca wajah orang yang berniat jahat,” ujar Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Penombak Manis, “Bagaimana penglihatanmu, Manis?”
“Hamba tidak melihat ada wajah-wajah dan tatapan-tatapan licik dari mereka yang berniat bergabung, Gusti Ratu,” jawab Penombak Manis.
“Baik. Sebelum aku mengambil sumpah setia kalian, aku akan mengumumkan satu perkara yang sangat penting bagi perguruan ini!” seru Alma Fatara cukup keras.
Maka heninglah semua orang untuk mendengarkan perkara yang tidak boleh diterima karena kurang dengar atau tidak mendengar.
“Mulai besok pagi, ketika matahari terbit, Tetua Suraya Kencani akan resmi sebagai Ketua Perguruan Bulan Emas di bawah perintahku!” seru Alma Fatara.
Maka terdengarlah suara kasak kusuk yang tidak jelas di lantai bawah.
“Apakah ada petinggi dari Perguruan Bulan Emas yang keberatan?” tanya Alma Fatara, membuat semua orang yang berbicara berbisik jadi terdiam senyap.
Hening. Alma Fatara memandang ke sekitar. Tidak ada yang bersuara atau memberi isyarat ingin berbicara.
“Aku ulang sekali lagi pertanyaanku. Apakah ada petinggi dari Perguruan Bulan Emas yang keberatan?” tanya Alma Fatara.
Lagi-lagi tidak ada yang bersuara.
“Diamnya kalian apakah pertanda kalian setuju?” tanya Alma Fatara lagi.
“Ya, kami setuju, Gusti Ratu!” ucap para petinggi Perguruan Bulan Emas.
“Baik, besok pagi Tetua Suraya Kencani akan dinobatkan sebagai Ketua Perguruan Bulan Emas!” seru Alma Fatara. Lalu katanya kepada Mbah Hitam, “Mulailah pengambilan sumpat setianya!”
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam patuh. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.
AUTHOR tidak ada yang sempurna dalam menyuguhkan sebuah karya. Saya Rudi Hendrik, secara pribadi mengucapkan "mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf dan dosa. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin".
__ADS_1