Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 14: Wanita Pembunuh


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


“Lalu di mana Keris Pemuja Bulan itu, Kang?” tanya Anjengan kepada Rawil Sembalit.


“Dulu Kakek menyangka pusaka itu ada di dasar Mata Air Pahit. Ayah dan kakakku sudah beberapa kali mencarinya, tetapi tidak pernah ketemu,” jawab Rawil Sembalit.


“Mata Air Pahit itu di mana?” tanya Alma.


“Di atas, di hulu Sungai Hijau ini,” jawab Rawil Sembalit.


“Nanti akan kita coba cari di sana. Sekarang itu ….”


“Se-se-sekarang itu ha-ha-harus cari Ju-ju-juling Jitu dan Iwak Nga-nga-ngasin.” Gagap Ayu memotong perkataan Alma.


“Oh iya benar. Aku khawatir mereka berdua justru tertangkap. Kalian harus menunggu di dalam hutan ini sampai aku kembali. Ingat, jangan pergi ke mana-mana, kecuali jika ada bahaya mengancam,” kata Alma Fatara.


“Bagaimana dengan Wangiwulan?” tanya Rawil Sembalit.


“Aku harus menemukan dua sahabatku dulu, baru kami akan membantu menculik kekasih Kakang,” kata Alma. “Ingat, jangan ke mana-mana. Dan kalian berdua, jangan memperkosa Kakang Rawil!”


“Hahaha!” tawa Anjengan.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.


Rawil Sembalit hanya tersenyum kikuk, bukan tersenyum wik-wik.


“Te-te-tenang saja, Alma. Ka-ka-kami akan menjaganya se-se-seperti menjaga ba-baba ….”


“Babi?” terka Alma memotong perkataan Gagap Ayu.


“Bayiii!” teriak Gagap Ayu.


“Hahahak!” tawa Alma sambil bangkit berdiri.


Sambil tertawa-tawa, Alma pergi meninggalkan persembunyian mereka.


Alma berjalan santai keluar dari hutan. Meski gerak-geriknya santai, tetapi ia tetap waspada, pandangan matanya memandang jauh ke sana dan ke sini.


Akhirnya Alma tiba di pinggiran Sungai Hijau. Ia berjalan menuju ke arah hilir, sebab posisi Kademangan Santun Pongah sedikit ke hilir.


Blaar!

__ADS_1


Tiba-tiba Alma Fatara mendengar suara ledakan tenaga sakti. Buru-buru ia berkelebat lebih ke hilir. Ia cepat bersembunyi dengan cara melompat naik ke atas pohon besar di pinggir kali.


Suara ledakan itu berasal dari seberang sungai.


“Aaakr!”


Tiba-tiba terdengar suara jeritan lelaki yang bersumber dari seberang sungai.


Alma Fatara hanya bisa menyaksikan seorang lelaki muda berbaju biru putih, dalam kondisi leher sudah ditusuk oleh jari-jari tangan bersinar biru gelap milik seorang wanita berpakaian kuning. Wanita berambut sebahu itu tidak jelas kecantikannya, karena memunggungi sungai.


Alma mengenali pemuda yang lehernya kini memancarkan darah dengan deras. Itu adalah Jaran Telu, kakak dari Rawil Sembalit.


Terlihat tangan kanan si wanita berlumuran darah. Ketika wanita itu menarik kembali tangannya, Jaran Telu jatuh berlutut dengan mata mendelik dan leher yang berlubang besar menyemburkan darah segar.


Alma Fatara hanya bisa mendelik melihat tumbangnya Jaran Telu. Ia melihat tongkat biru Jaran Telu dalam posisi menancap di salah satu batang pohon.


Jaran Telu kemudian tumbang tengkurap di tanah. Wanita berpakaian kuning sejenak menengok ke kanan dan ke kiri. Dari situlah Alma bisa melihat bahwa wanita yang membunuh Jaran Telu berwajah ibu-ibu atau tante-tante.


Setelah menengok melihat area sekitar, wanita berpakaian kuning lalu berlari pergi dan kemudian berkelebat cepat meninggal area pinggir sungai.


Belum lagi Alma melakukan sesuatu, Alma menangkap satu pergerakan di balik batu sungai yang besar. Ada seorang lelaki yang keluar dari balik batu dan hendak naik ke arah posisi mayat Jaran Telu. Alma mengenali lelaki itu bernama Juling Jitu, sahabatnya sendiri.


Set!


Dengan mata mendelik dan gigi gemetar, Juling Jitu cepat menengok ke arah seberang. Ternyata Alma sudah berlari di atas air menuju ke arahnya.


“Alma!” sebut Juling Jitu berubah sumringah. Kegemetarannya seketika sirna.


“Ayo pergi! Jangan pedulikan mayat itu!” ajak Alma Fatara sambil menarik tangan Juling Jitu agar menjauhi posisi mayat.


“Kenapa kau mencegahku, Alma?” tanya Juling Jitu serius, setelah mereka berada cukup jauh dari lokasi pertarungan.


“Aku harus mengejar perempuan pembunuh itu. Kau pergilah ke hutan seberang sungai, cari Anjengan dan Gagap Ayu. Jangan ceritakan dulu kematian orang tadi!” perintah Alma.


“Tapi ….”


Juling Jitu tidak jadi berkata-kata karena Alma sudah berkelebat pergi.


“Aku harus cepat ke seberang. Lewat mana ya?” ucap Juling Jitu kepada dirinya sendiri, seperti pemain sinetron galau.


Juling Jitu tidak sesakti Alma, jadi dia tidak bisa berlari di atas permukaan air sungai yang mengalir. Karenanya, dia terus pergi ke hilir. Hingga akhirnya, Juling Jitu meminta bantuan seorang nelayan yang ditemuinya agar ia diseberangkan dengan perahu.


“Terima kasih, Ki!” ucap Juling Jitu kepada nelayan tua yang membantunya menyeberang.

__ADS_1


Di seberang, Juling Jitu segera pergi ke arah hutan yang ada di sisi hulu.


Sementara itu, Alma justru meninggalkan Kademangan demi mengikuti sosok pendekar wanita berbaju kuning. Tingginya ilmu peringan tubuh Alma, membuatnya bisa dengan mudah mengejar wanita pembunuh tadi. Namun, Alma hanya bertujuan mengikuti, bukan untuk menuntut pertanggungjawaban atas kematian Jaran Telu.


Wanita berpakaian kuning yang memiliki usia kisaran lima puluh tahunan, terus berjalan tanpa sedikit pun merasa curiga ada orang yang mengikuti. Itu ditunjukkan dengan tidak pernahnya dia menengok ke belakang, seolah langkahnya aman.


Hingga akhirnya, wanita itu memasuki kebun kopi.


Bom bom bom …!


Tiba-tiba terdengar suara dentuman beruntun lagi rapat yang bersumber dari kedalaman kebun. Itu menunjukkan bahwa sedikitnya ada satu orang di dalam kebun.


Wanita berbaju kuning terus berjalan tanpa terganggu atau terkejut, seolah ia sudah tahu apa yang terjadi di dalam sana.


Setelah masuk lebih dalam, wanita berpakaian kuning akhirnya tiba di sebuah tempat lapang tapi berantakan. Lapang dan berantakan karena sejumlah pohon sudah dalam kondisi bertumbangan.


Pohon-pohon yang tumbang memiliki kehancuran pada bagian batang bawahnya, seolah usai mengalami ledakan yang hebat.


Di tengah-tengah tempat itu berdiri seorang lelaki tua berjubah hijau gelap. Kepalanya dililit totopong warna hitam. Meski tua, lelaki itu tidak berkumis atau berjenggot.


Lelaki tua berambut hitam putih itu terkejut ketika melihat kedatangan wanita berbaju kuning.


“Ki Bending!” sebut wanita berpakaian kuning.


“Kenapa kau datang membawa aura Bola Hitam?” tanya lelaki yang bernama Ki Bending cepat.


Alma yang menajamkan pendengarannya, bisa mendengar pertanyaan Ki Bending. Ia pun terkejut. Itu artinya keberadaan Alma telah diketahui.


“Aura itu ada di belakangku. Dia mengikutiku sejak di Kademangan,” kata wanita berbaju kuning.


Kian terkejut Alma mendengar perkataan wanita berbaju kuning, menunjukkan bahwa sebenarnya dia sudah ketahuan sejak jauh-jauh waktu. Wanita berbaju kuning itu hanya berpura-pura tidak tahu bahwa ada yang mengikutinya, padahal dia bisa mendeteksi aura Bola Hitam yang merupakan senjata milik Alma.


Clap!


Karena itulah, Alma langsung menghilang dari tempat persembunyiannya. Ia kabur.


“Cepat tangkap, Kluwing!” teriak Ki Bending lalu tahu-tahu melesat cepat ke arah kepergian Alma.


Mau tidak mau wanita bernama Kluwing juga melesat cepat menyusul Ki Bending.


Namun, Ki Bending dan Kluwing harus gigit jari, sebab orang yang mereka kejar telah menghilang, termasuk aura sakti Bola Hitam. Keduanya tidak sempat melihat keberadaan Alma, termasuk tidak sempat melihat bayangannya.


“Sial! Siapa sebenarnya orang itu? Tidak mungkin itu adalah Raja Tanpa Tahta,” kata Ki Bending. (RH)

__ADS_1


__ADS_2