
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Blar blar blar …!
Aliang Bowo, Desah Rindang dan murid-murid mendiang Jerat Gluduk menggunakan ilmu Jerat Ledak-Ledak untuk membunuh pasukan mayat kedua kalinya. Anggota-anggota tubuh mayat-mayat itu berhancuran sebagian oleh ledakan yang tiba-tiba saja muncul.
Namun, Aliang Bowo dan rekan-rekan hanya bisa mendelik melihat mayat-mayat itu tidak menjerit dan tidak mati.
“Tebas kepalanya!” teriak Kalang Kabut kepada rekan-rekannya.
Cras!
“Matilah kau, Mayat!” seru Murai Ranum usai menebas leher satu orang mayat.
Kepala mayat itu jatuh menggelinding pergi ke tanah rendah. Namun, tubuhnya tetap berjalan mendekati Murai Ranum.
“Aaa! Dia masih hidup!” pekik Murai Ranum terkejut.
Cras!
Dengan pedang barunya, Alis Gaib juga menebas leher satu mayat hidup.
“Hah! Masih hidup?” kejut Alis Gaib.
Ia lalu bergerak ke belakang tubuh si mayat. Ia tepuk bahu si mayat dengan sisi datar pedangnya.
“Hei, di belakang sini! Hihihi!” kata Alis Gaib sambil tertawa bermaksud mempermainkan si mayat.
Namun, si mayat terus berjalan ke depan sambil tangannya menggapai-gapai.
Bdak!
“Hihihi …!” tawa Alis Gaib berkepanjangan karena si mayat menabrak pohon petai dan jatuh berguling.
Mayat itu tetap bergerak bangun, meski tanpa kepala dan kelapa.
“Aku potong kepalamu!” teriak Anjengan pula sambil memenggal satu leher mayat.
Anjengan pun mendelik melihat si mayat masih bisa bergerak, bahkan berjalan.
“Aku potong kakimu!” teriak Anjengan lagi sambil membabat kedua kaki mayat itu sekaligus.
Mayat pun tumbang berdarah-darah tanpa kepala dan kaki lagi. Namun, tetap saja si mayat bergerak dengan tangan yang menyeret badannya.
“Hah! Belum mau mati juga?” tanya Anjengan terkejut. Ia lalu bergerak cepat menebas kedua tangan si mayat. “Aku potong tanganmu!”
Pada akhirnya, badan si mayat tanpa kepala, kedua kaki dan kedua tangan. Namun, dia tetap bergerak, tapi tidak bisa bergeser lagi.
__ADS_1
“Hahahak …!” tawa terbahak Anjengan melihat kondisi badan mayat yang bergerak tapi tidak bisa ke mana-mana.
Karena tidak bisa membunuh mayat-mayat itu untuk kedua kalinya, maka Aliang Bowo dan murid-murid mendiang Jerat Gluduk menggunakan ilmu Jaring Pengaman Hati, yaitu jaring sinar biru.
Dengan ilmu itu, mereka bisa membuat para mayat itu terjerat dan tidak bisa ke mana-mana, kecuali bergerak di tempat dalam posisi tergeletak, seperti kecoa terbalik.
Ada pula pendekar yang membakar si mayat, tapi tidak mati pula. Mayat itu menjadi api berjalan tanpa menjerit kepanasan.
Melihat pasukan mayat itu menjadi hanya seperti rombongan pengganggu karena tidak bisa berbuat banyak untuk melukai para pendekarnya, Alma Fatara lalu mengambil keputusan.
“Cari orang yang mencurigakan di sekitar daerah ini!” perintah Alma Fatara kepada Tampang Garang.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang.
Tampang Garang lalu memanggil semua personelnya. Setelah diberi pengarahan, Senyumi Awan dan kesembilan rekannya segera berkelebat menyebar dengan format dua-dua. Mereka kemudian menghilang dari pandangan.
“Tinggalkan mayat-mayat itu, lanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan, tetapi dia sendiri berjalan tanpa kuda ke tengah pertempuran.
“Baik, Gusti Ratu. Tapi, kau mau ke mana, Alma?” sahut Anjengan.
“Aku akan mengurus mayat-mayat itu,” jawab Alma Fatara.
“Pasukaaan! Lanjutkan perjalanaaan! Lambaikan tangan kepada mayat kekasihmu!” teriak Anjengan lantang membahana.
“Hahaha!” tawa sejumlah mendekar mendengar komando Anjengan.
“Jangan tertawa! Ini bukan lelucon sambil minum kopi!” bentak Anjengan.
“Hahahak!” Pasukan Genggam Jagad pun semakin tertawa ramai.
Benar-benar malang para mayat hidup, mereka diabaikan, seolah mereka tidak cukup mengerikan untuk menarik perhatian orang-orang hidup itu.
Para pendekar Pasukan Genggam Jagad segera pergi menaiki kudanya masing-masing. Para panglima segera mengatur pasukannya untuk melanjutkan pawainya sesuai urutan menuju Kademangan Nuging Muko.
Pasukan itu kini dipimpin oleh Cucum Mili dan Ineng Santi. Sementara Gagap Ayu dan keempat anak buahnya tidak ikut melanjutkan perjanan. Mereka menunggu di sisi yang cukup jauh dari Alma Fatara.
Pasukan Genggam Jagad meninggalkan ratunya yang kini dalam posisi dikepung oleh pasukan mayat hidup yang kondisinya sudah beragam. Beberapa mayat bahkan sudah tanpa kepala dan beberapa sudah tidak berbentuk karena hancur di sana sini.
Ketika para mayat itu semakin mendekat dari segala arah, Alma Fatara melompat naik ke udara lalu tiba-tiba membanting Bola Hitam lurus ke tanah.
Sess! Ctar!
Seset seset!
Bola Hitam meluncur deras dan menghantam tanah. Terjadi ledakan nyaring, tapi bukan tanah yang hancur, melainkan sinar-sinar biru berekor berlesatan ke segala arah dari hantaman itu.
Setelah sebaran sinar-sinar biru berekor itu reda, barulah terlihat bahwa sinar-sinar itu bersifat begitu tajam. Puluhan mayat hidup terpotong di berbagai anggota tubuh. Begitu tajamnya sinar-sinar biru tersebut, bahkan satu sinar bisa memotong tiga lapis mayat sekali tebas.
Dalam sekali gebrak, sebagian dari mayat hidup tersebut ambruk. Namun, masih ada yang bisa bangkit dan melanjutkan merangsek ke arah Alma Fatara yang sudah turun.
__ADS_1
Melihat situasi itu. Alma Fatara kembali naik ke udara dan melakukan tindakan yang sama menggunakan senjatanya.
Sess! Ctar!
Seset seset!
Sinar-sinar biru berekor kembali melesat ke segala arah. Memangkas mayat-mayat itu yang membuatnya berambrukan semakin banyak.
Sungguh mengerikan, jalan kaki bukit itu benar-benar menjadi lahan penjagalan yang banjir darah di mana-mana.
Sudah dua kali serangan Bola Hitam dilakukan, jumlah mayat hidup yang tersisa tinggal belasan jasad.
Bluk! Bluk! Bluk!
Namun tiba-tiba, semua mayat hidup yang masih bisa bergerak dan berjalan ambruk dengan sendirinya dan tidak bergerak lagi. Total mati untuk kedua kalinya.
“Berarti Pasukan Sayap Panah sudah menemukan pawangnya,” batin Alma Fatara.
Alma Fatara lalu berjalan pergi menghampiri Dua Tengkorak Putih yang sedang menikmati kebersamaan mereka di bawah pohon, sama-sama dalam kondisi terluka parah.
“Apakah kau akan membunuh kami?” tanya Tengkorak Telur Bebek cemas. Kondisinya sudah lebih baik karena racunnya sudah berangsur hilang.
Alma Fatara tidak langsung menjawab. Ia memerhatikan kedua pemuda yang salah satunya sudah tidak tampan.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara kemudian. “Aku hanya ingin memastikan kondisi kalian. Aku sudah berjanji kepada Kakek Raja Tanpa Gerak untuk tidak membunuh satu pun anggota Keluarga Tengkorak, kecuali satu orang yang jahat.”
“Siapa yang akan kau bunuh?” tanya Tengkorak Telur Bebek.
“Anak muda tidak perlu tahu. Ini urusan orang tua. Oh ya, apakah kalian butuh diobati? Aku punya tabib bagus jika kalian mau.”
“Bagaimana, Putih?” tanya Tengkorak Telur Bebek kepada saudaranya.
“Terima saja, wajah sangat perih,” kata Tengkorak Bayang Putih sembari meringis kesakitan.
“Kami mau, Gusti Ratu,” jawab Tengkorak Telur Bebek akhirnya.
“Pengawal cantik-cantikku akan membawa kalian untuk diobati,” kata Alma Fatara.
Setelah itu, dia langsung berbalik pergi. Alma berkelebat pergi menuju ke Lima Dewi Purnama yang sedang menunggu.
“Kalian bawa dua Tengkorak itu untuk diobati oleh Belik Ludah!” perintah Alma Fatara kepada kelima pengawal pribadinya.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka.
“Ba-ba-baik, Gu-gu-gusti Ratu,” ucap Gagap Ayu tertinggal.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Dia selalu tertawa jika mendengar keterlambatan sahabatnya itu. Namun, Gagap Ayu sudah abai dengan tawa Alma Fatara.
Lima Dewi Purnama lalu menjalankan kudanya ke tempat Dua Tengkorak Putih berada. Sementara Alma Fatara menggebah kudanya untuk menyusul pasukannya.
__ADS_1
Namun, belum jauh Alma Fatara meninggalkan ladang pembantaian di kaki bukit, tiba-tiba ia menarik kencang tali kekang kudanya, membuat sang kuda mengerem tajam.
Tepat pada tikungan di balik rapatnya sekumpulan pohon bambu, ada sepagar sinar merah yang berkobar-kobar seperti api. Pagar itu lebar menutup jalan secara penuh dengan ketinggian dua tombak. (RH)