
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Terlihat jelas bahwa Tengkorak Api memenuhi kriteria pendekar idaman. Selain tampan, dia juga merupakan pendekar berkesaktian tinggi. Bisa dilihat dari ilmu apinya dan gerakannya yang begitu cepat dalam menyerang Alma Fatara.
Lidah api pada kedua tangan Tengkorak Api meliuk-liuk ketika melintas di depan wajah cantik jelita Alma Fatara. Namun, Alma Fatara terlihat begitu tenang menghindari agresi tingkat tinggi Tengkorak Api.
Agresi tinju apinya yang tidak kunjung menyentuh lawan, lama-kelamaan membuat pemuda itu agak frustasi, tapi tetap penasaran. Karena itu, Tengkorak Api memperpanjang durasi serangannya dengan jurus yang sama.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara, seolah menertawakan ketidakmampuan pemuda itu.
“Sial, dia menertawakanku. Tapi, dia cantik sekali jika tidak tertawa,” ucap Tengkorak Api, tapi di dalam hati.
“Selama apa pun kau menyerang seperti ini, aku akan sabar meladenimu,” kata Alma Fatara.
Plak!
Ketika Alma Fatara melakukan gerakan mengelak dengan memutar tubuhnya ke belakang Tengkorak Api, ia tiba-tiba menyerang dengan cara menepak kepala belakang pemuda itu.
“Hahaha!” tawa Pasukan Genggam Jagad melihat Alma Fatara iseng memukul kepala Tengkorak Api.
“Ayolah, kau sekarang sedang bertarung di depan mata Ineng Santi, jangan sampai tampil memalukan,” kata Alma Fatara.
“Baiklah, aku tidak akan segan!” seru Tengkorak Api gusar.
“Hah, aku kira kau sejak tadi sudah tidak segan!” kejut Alma Fatara, tapi pura-pura terkejut.
Bruss!
Tengkorak Api menghentakkan kedua lengannya. Tiba-tiba api kuning pada kedua tangannya berubah menjadi api warna biru.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa. “Apa gunanya mengganti api jika menyentuhku saja tidak mampu?”
“Hiaat!” pekik Tengkorak Api sambil kembali memulai serangan gelombang kedua.
Ternyata benar kata Alma Fatara, meski level api Tengkorak Api sudah naik, tetap saja tidak ada gunanya karena kecepatan serangan itu tidak kunjung lebih cepat.
“Ayo, siapa mau bertaruh? Aku tahu, kalian semua punya kepeng. Ayo, siapa pilihan kalian?” teriak Geranda sambil berjalan di depan rekan-rekannya yang sedang menonton.
“Aku bertaruh untuk kemenangan Gusti Ratu!” seru Kolong Wowo.
“Aku juga bertaruh untuk kemenangan Gusti Ratu!” kata Setoro Beksi pula.
“Aku juga, Gusti Ratu yang menang!” kata Segara.
“Aku juga sama!” kata Gempar Gendut pula.
Tersadarlah Geranda.
“Ah, tidak jadi, tidak jadi. Bandar bisa bangkrut jika semuanya memilih Gusti Ratu!” kata Geranda akhirnya.
“Jika kau tidak mau bangkrut, jangan menawarkan perjudian saat Gusti Ratu bertarung! Hahaha!” hardik Tampang Garang.
“Aku lupa. Hehehe!” kilah Geranda lalu cengengesan sendiri.
Kembali ke pertarungan.
“Sudah waktunya mengakhiri mempermainkanmu, Kakang!” kata Alma Fatara.
__ADS_1
Tap tap!
“Hah!” kejut Tengkorak Api mendelik saat kedua tinjunya ditangkap oleh cengkeraman kedua tangan Alma Fatara.
Tengkorak Api merasakan kedua tinjunya dicengkeram dengan kuat, seolah berniat meremukkan tulang jemarinya. Selain itu, jelas-jelas tangan Alma Fatara tidak terbakar oleh api dan juga tidak terlihat seperti sedang menahan rasa panas.
Tus tus tus …!
“Ak ak ak …!” jerit Tengkorak Api berulang saat merasakan perut kekarnya ditusuki oleh jarum yang berulang.
Bak!
Pada saat kedua tangan Tengkorak Api masih dicengkeram kuat, tiba-tiba dari arah bawah melesat naik telapak kaki kanan Alma Fatara yang langsung menghantam keras dagu si pemuda.
“Hugk!” keluh Tengkorak Api dengan tubuh terlompat ke belakang dan Alma Fatara melepaskan cengkeramannya.
Bduk!
Hal itu membuat Tengkorak Api jatuh dengan punggung lebih dulu ke tanah.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan tiba-tiba memanaskan situasi.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad ramai sekali, seolah jalanan itu sudah menjadi arena perang.
“Hajar habis!” teriak Geranda.
“Jangan beri iba!” teriak Juling Jitu pula.
“Injak seperti kepiting kopong!” teriak Tampang Garang pula yang membuat Ratu Kepiting mendelik dan melirik kepada panglima panah itu.
“Panggang jadi udang bakar!” teriak Alis Gaip pula.
“Hahaha …!” tawa mereka ramai-ramai.
Tengkorak Api merasa jadi orang yang dikeroyok mendengar teriakan-teriakan itu. Ia merasa seperti musuh yang terkucilkan.
Sambil menahan sakit pada kedua tangan, perut dan dagunya, Tengkorak Api kembali bangkit. Dengan tatapan tajam tetap memandang kepada Alma Fatara yang tertawa-tawa, ia menyusupkan tangannya ke balik baju dan meraba perutnya. Ia merasakan becek. Ketika ia mengeluarkan kembali telapak tangannya, ada lumuran darah. Itu bukan darah menstruasi, tapi darah dari tusukan Benang Darah Dewa yang berulang-ulang.
Wus wus wus …!
Tiba-tiba Tengkorak Api bermain api lagi. Kali ini, bola-bola api dilemparkan beruntun dengan ritme yang cepat ke arah Alma Fatara.
Bras bras bras …!
Alma Fatara lagi-lagi bermain menghindar, membuat bola-bola api itu lewat dan membakar berbagai tempat di sekitar jalan itu.
Para penonton yang mendapat serangan bola-bola api nyasar, segera berpindah tempat.
Wusss!
Saking asiknya menghujani Alma Fatara dengan bola api yang bertubi-tubi, sampai-sampai Tengkorak Api tidak sigap menghindari serangan angin lepasan Alma Fatara.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara saat melihat Tengkorak Api diterbangkan cukup jauh lalu menghantam sebatang pohon.
“Aaaakh!” teriak Tengkorak Api kesal sambil memukul tanah. Ia tidak langsung bangun berdiri, tetapi menatap tajam Alma Fatara yang sedang menertawainya. Lalu ucapnya lirih, “Sepertinya aku memang bukan tandingannya.”
“Bagaimana Kakang Tengkorak Api? Apakah masih ingin membalas dendam? Ini adalah tawaran terakhirku. Silakan pergi jika memang merasa tidak mampu,” kata Alma Fatara.
“Tidak ada ceritanya Anggota Keluarga Tengkorak lari dari pertarungan!” seru Tengkorak Api sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa.
Jrus!
Tengkorak Api menusukkan kedua tangannya lurus ke langit. Seiring itu muncul api putih yang menyelimuti seluruh tangannya tanpa membakar kulit, rambut ataupun kain pakaian.
“Itu ilmu Api Suci,” ucap Kalang Kabut yang mengenali kesaktian tersebut.
“Tetap tidak akan ada artinya bagi Gusti Ratu,” timpal Juling Jitu.
Tengkorak Api lalu secara perlahan menurunkan kedua tangannya secara perlahan ke samping sehingga terentang. Dari gerakan itu tercipta api putih yang kian besar. Tengkorak Api terlihat begitu mengerikan dengan api putihnya.
“Hitung sampai tiga!” teriak Alma Fatara kepada pasukannya.
“Satu!” teriak Pasukan Genggam Jagad bersamaan.
“Sa-sa-satu!” teriak Gagap Ayu terlambat finish.
“Dua!” teriak mereka semua lagi.
“Du-du-dua!” teriak Gagap Ayu menyusul.
Tuk!
“Hukrr!”
Belum juga hitungan ketiga diteriakkan, ternyata Alma Fatara tahu-tahu sudah merapat pada tubuh Tengkorak Api. Jari telunjuk kanan Alma Fatara sudah menusuk pada titik diafragma Tengkorak Api.
Seketika seluruh api putih Tengkorak Api padam. Punggungnya melengkung ke belakang dengan wajah memerah padam dan urat-uratnya bertonjolan. Sepasang matanya memerah dan berair. Sepasang bibirnya terbuka dan ada cairan merah kental yang menetes.
Alma Fatara yang telah mengeluarkan ilmu Telunjuk Roh Malaikat-nya, lalu menarik telunjuknya dari dada Tengkorak Api.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang hanya mengeluarkan sepertiga kekuatan dari ilmu Telunjuk Roh Malaikat. Namun, kekuatan itu cukup membuat Tengkorak Api menjadi sekarat.
Dak! Bdak!
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara setelah menyepak tulang kering Tengkorak Api, membuat pemuda itu jatuh terbanting dengan sendirinya ke depan.
Ineng Santi yang menyaksikan itu hanya mengerenyit merasa ngilu melihat nasib pemuda yang ditaksirnya.
“Pertarungan selesai!” teriak Alma Fatara.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad.
“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi penuh semangat.
“Wik wik wik wik wik!” teriak Pasukan Genggam Jagad.
“Kakang Api!” sebut Ineng Santi sambil berlari kecil mendatangi posisi Tengkorak Api yang tengkurap di tanah.
“Hahaha!”
Melihat tindakan Ineng Santi, Alma Fatara hanya tertawa sambil berjalan ke arah pasukannya.
“Lanjutkan perjalanan!” seru Alma Fatara kepada Anjengan.
“Pasukaaan, lanjutkan perjalanan!” teriak Anjengan kepada seluruh pasukannya. (RH)
__ADS_1