Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 22: Basa Basi Pra Tarung


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)*


 


“Hahahak!”


Tawa khas Alma Fatara yang seperti tawa bapak-bapak sangat dikenal oleh Wulan Kencana.


“Aura Bola Hitam!” sebut Wulan Kencana yang masih berada di dalam Gua Ular. Ia merasakan keberadaan Bola Hitam yang sangat dikenal oleh tokoh-tokoh sakti kalangan tua. “Suara tawanya sangat aku benci!”


Wulan Kencana segera berjalan ke luar gua, meninggalkan Purnama Bingar yang sedang sekarat di dalam gua. Empat murid Wulan Kencana memilih mengurusi Purnama Bingar. Mereka pun tahu bahwa pertarungan yang akan terjadi berikutnya pasti urusan orang-orang sakti.


“Hahahak!”


Ketika Wulan Kencana tiba di luar gua, dilihatnya wanita cantik jelita berambut hitam lurus panjang dan berjubah hitam, sedang berdiri di atas tebing batu sambil tertawa memamerkan ompongnya yang tidak menarik.


Di sisi wanita berjubah yang tidak lain adalah Alma Fatara, berdiri beberapa orang pendekar, tetapi Wulan Kencana hanya mengenal Cucum Mili, karena saebelumnya mereka pernah bertemu pada pertemuan pertama di Perguruan Bulan Emas.


Sedangkan Pangeran Sugang Laksama dan Panglima Ragum Pangkuawan tidak dikenali oleh Wulan Kencana.


“Senang melihatmu sehat, meski kini kau benar-benar dalam wujud aslimu, Nek! Hahaha!” sapa Alma Fatara dari atas yang disusul oleh tawanya.


“Hentikan tawamu itu, aku pusing mendengarnya!” teriak Wulan Kencana sambil menunjuk lurus kepada Alma Fatara.


“Kau masih tetap pemarah saja, Nek,” kata Alma Fatara, tapi kali ini ia tersenyum lebar.


“Bagus kau datang sendiri kepadaku, Ratu Setan. Jadi aku ….”


“Ratu Siluman, Nek. Aku adalah Ratu Siluman, bukan Ratu Setan!” sela Alma Fatara memotong kata-kata Wulan Kencana.


“Benar-benar kurang ajar!” gusar Wulan Kencana.


“Hahahak!” Alma Fatara justru tertawa mendengar kemarahan Wulan Kencana.


“Begini saja, Bocah Setan. Aku berbaik hati sedikit. Aku tidak akan mengincar Bola Hitam milikmu, tetapi serahkan Telur Gelap kepadaku!” ujar Wulan Kencana agak melemah.


“Aku dengar kau masuk ke Candi Alam Digdaya, Nek. Cepat sekali kau keluar. Aku jadi curiga,” ujar Alma Fatara yang penasaran.


“Kenapa?” tanya Wulan Kencana.


Alma Fatara lalu memilih melompat turun dengan begitu ringan. Ia mendarat di tanah berpasir, di mana ada banyak mayat yang bergelimpangan.


“Tidak baik membuatmu terus melihat ke atas, Nek,” kata Alma Fatara. Lalu katanya, “Seharusnya kau berada di dalam Candi selama berbulan-bulan, tapi kenapa kau hanya beberapa hari saja?”


“Ada pengkhianat dari Tikus Belukar,” jawab Wulan Kencana.


“Tikus Belukar?” sebut ulang Alma Fatara sambil mencoba mengingat. Ia pun teringat dengan Tikus Belukar, kelompok orang katai pemandu di wilayah Bukit Tujuh Kepala. "Oooh, aku ingat. Lalu mana orangnya? Aku paling tidak suka dengan seorang pengkianat, biar aku langsung bunuh dengan satu serangan saja.”

__ADS_1


“Orang pendek itu sudah mati aku bunuh,” jawab Wulan Kencana. “Cukup! Sekarang serahkan Telur Gelap, maka aku akan membiarkanmu pergi!”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Jika kau keras kepala, jangan salahkan aku jika kau harus mati sore ini juga. Aku beri tahu kau, sekarang aku memiliki Kipas Raja Dunia. Hihihi …!” kata Wulan Kencana lalu tertawa senang, seolah ia sudah unggul sebelum bertarung.


“Memang ada apa dengan Kipas Raja Dunia, Nek?” tanya Alma Fatara lugu di saat para pendekar yang lain terkejut, terutama Pangeran Sugang Laksama dan Ragum Pangkualam.


“Kenapa kau tidak terkejut? Apakah kau meremehkan pusaka yang lebih hebat dari kipasnya Tiga Malaikat Kipas? Ratu Setan macam apa kau? Tidak memiliki wawasan yang luas!” omel Wulan Kencana.


Alma Fatara terdiam terpaku mendapat omelan pedas seperti itu. Namun dasar Alma Fatara, ujung-ujungnya mantan anak nakal itu membuat si nenek jingga semakin uring-uringan.


“Hahahak! Kau pasti telah berubah menjadi nenek pencuri di Candi Alam Digdaya. Tidak aku sangka kau sekarang sehina itu, Nek,” tukas Alma Fatara dengan santainya.


“Kurrrang ajar sekali kau, Anak Setaaan!  Matilah kau! Hiaaat!” teriak Wulan Kencana benar-benar murka, sampai-sampai sepasang matanya memerah.


Swiiing!


Sepuluh piringan sinar emas dilesatkan oleh Wulan Kencana. Berbeda dengan ilmu Sepuluh Purnama Kematian milik Purnama Bingar, piringan sinar emas ini lebih seram, baik dari segi kecepatannya maupun suaranya yang lebih menderu seperti suara mobil Formula One melintas.


“Ganas sekali!” pekik Alma Fatara sambil buru-buru melompat berputar di udara demi menghindari serangan maut itu.


Namun, selagi belum menemukan sesuatu, kesepuluh piringan sinar itu tidak akan berhenti.


Set!


Blablar blablar …!


“Keparat asu kampret cebong!” maki Wulan Kencana sambil menatap sakit hati kepada Cucum Mili yang telah melesatkan gundu-gundu kecilnya.


“Terima kasih, Kakak Putri!” sahut Alma Fatara kepada Cucum Mili yang berdiri di atas tebing.


“Tetua Wulan Kencana!” seru Ragum Pangkualam. “Kau telah memberontak kepada pemerintah Kerajaan Singayam. Maka tidak ada hukuman lain untukmu selain hukuman mati!”


“Siapa kau?!” bentak Wulan Kencana.


“Aku adalah Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan, namaku adalah Ragum Pangkuawan.”


Terkesiap Wulan Kencana mendengar nama lelaki yang lebih muda darinya itu. Ia pernah mendengar nama orang sakti itu.


“Dan pemuda yang berdiri di sisiku ini adalah Pendekar Pedang Dedemit, Pangeran Sugang Laksama, Putra Mahkota Kerajaan Singayam,” kata Ragum Pangkualam.


Semakin terkejut Wulan Kencana mendengar status pemuda tampan di atas sana.


“Jangankan Ratu Setan, Pangeran Setan, Raja Manggala Pasa pun yang datang, aku tidak gentar. Jika kalian menantangku, baiklah, bukan hanya tambang emas ini, tapi juga tahta Kerajaan Singayam akan aku gulingkan!” koar Wulan Kencana semakin menjadi karena sudah terlanjur tertangkap basah sebagai seorang pemberontak.


“Lancang kau, Wulan Kencana!” teriak Ragum Pangkualam marah sambil menunjuk kepala Wulan Kencana.

__ADS_1


“Apa gunanya kau berkoar seperti ayam jago di waktu subuh? Jika kau ingin mati, turun sini!” tantang Wulan Kencana.


“Eh eh eh!” seru Alma Fatara cepat, mencegah akan terjadinya pertarungan antara kedua orang tua itu. Lalu tanyanya kepada Wulan Kencana, “Nek, sebenarnya yang mau kau lawan siapa? Aku atau paman guruku? Aku tidak sudi diduakan.”


Mendapat pertanyaan seperti itu, Wulan Kencana tidak langsung menjawab. Ia bergantian menatap tajam kepada Alma Fatara dan ke atas tebing.


“Aku perintahkan kepada kalian semua pemberontak untuk menyerah. Jika tidak, kalian akan kami hukum mati di sini juga!” seru Pangeran Sugang Laksama tegas.


Kecuali Wulan Kencana, bingunglah mereka yang kini berstatus sebagai kelompok pemberontak.


“Bagaimana ini, Pawang?” tanya Garap Jaran berbisik kepada Pawang Tengkorak, meski tidak menempelkan bibirnya di telinga rekannya.


“Kita berdua dalam kondisi terluka parah, kita kabur saja,” kata Pawang Tengkorak, juga setengah berbisik.


“Kita kabur lewat sungai bawah gua, kita tidak akan terkejar,” bisik Garap Jaran.


Pada saat itu, pasukan berseragam cokelat yang masih tersisa, sudah menjatuhkan pedang dan berlutut di tanah pasir sekitar mulut gua.


“Tunggu apa lagi? Ayo cepat pergi!” kata Garap Jaran kepada Pawang Tengkorak.


Keduanya lalu berbalik dan berlari tertatih menuju aliran sungai.


“Mau ke mana kalian berdua, Pawang Tengkorak?!” teriak Wulan Kencana yang melihat pergerakan kedua pendekar sekutunya. “Kalian mau kabur? Keparat!”


Set set!


Wulan Kencana cepat mengayunkan satu tangannya. Maka sepuluh piringan sinar emas melesat ganas menyerang Pawang Tengkorak dan Garap Jaran.


Bless!


“Aaak!” jerit Pawang Tengkorak yang tidak sempat menghindar karena telat melihat serangan. Dua piringan sinar emas menjebol ganas tubuhnya.


Sementara Garap Jaran cepat melompat tinggi ke udara menghindari serangan yang sangat cepat itu.


Jbur!


Rupanya lompatan tinggi itu sekalian melompat ke air sungai.


“Pasukaaan!” teriak satu suara perempuan dari atas tebing, tapi tidak terlihat oleh mereka yang berada di bawah karena posisinya agak jauh dari bibir tebing. “Siapa kitaaa?!”


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak banyak suara, tapi didominasi oleh suara wanita.


“Tangkap semua pemberontak!” teriak suara komando yang adalah milik Panglima Besar Anjengan.


“Seraaang!” teriak banyak suara perempuan itu.


Seiring teriakan ramai itu, Pangean Sugang Laksama, Ragum Pangkualam dan Cucum Mili melompat turun dan mendarat di dekat Alma Fatara.

__ADS_1


Wulan Kencana terlihat tegang, sementara sekitar dua puluh pasukan berseragam cokelat yang sudah menyerah menjadi panik dan saling pandang antarekan.


“Nenek Wulan, kau menjadi lawanku!” seru Alma Fatara sambil melesat maju menyerang si nenek. (RH)


__ADS_2