
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Alma Fatara fokus menatap sebatang pohon pisang yang tumbuh jomblo, terpisah dari rekan-rekannya yang sudah berkeluarga. Pohon pisang itu berdiri menempel pada sebongkah batu besar di sisi belakangnya. Posisi berdiri Alma hanya empat langkah dari pohon pisang jomblo.
Tidak jauh di sisi kanan Alma Fatara, duduk bersila Wiwi Kunai, wanita cantik yang suka berbedak tebal dan berpakaian warna-warni. Guru Alma Fatara itu duduk santai sambil makan buah jambu biji sebesar genggamannya.
“Lakukan!” perintah Wiwi Kunai.
Alma Fatara lalu maju dengan cepat sambil mendorong lengan kanannya.
Pak! Bluar!
Telapak tangan kanan Alma menghantam gedebong pisang. Namun, yang hancur meledak dahsyat justru batu besar di balik batang pohon pisang. Si batang sendiri baik-baik saja tanpa rusak sedikit pun.
“Bagaimana, Guru?” tanya Alma Fatara sambil berjalan gembira menghampiri gurunya.
“Sempurna,” jawab wanita sakti yang berjuluk Pemancing Roh itu. Lalu katanya, “Ada satu senjata, yang jika kau lawan dengan Tapak Rambat Daya, maka kau pasti akan menang.”
“Apa guru?” tanya Alma.
“Tongkat,” jawab Wiwi Kunai.
Itulah percakapan singkat antara Alma Fatara dan gurunya ketika ia menyempurnakan ilmu Tapak Rambat Daya setahun yang lalu.
Maka, tidak heran jika ketika melawan empat guru tongkat yang mengeroyoknya di Kadipaten Guruput, Alma dengan mudah mempecundangi keempat tokoh tua itu.
Para prajurit kadipaten bergerak mengevakuasi Pengemis Tongkat Celaka, Satria Tongkat Ular, Dempak Debar, dan Ki Rusuh.
Alma Fatara masih berdiri di tengah arena sambil memandang ke arah atas tribun, di mana Adipati Dodo Ladoyo berada bersama Komandan Gegap Rawu. Cahaya matahari yang sudah terang semakin memperjelas kecantikannya yang pasti akan sulit dilupakan oleh setiap lelaki.
“Mbah Hitam!” panggil Alma Fatara, tanpa mengetahui di mana sebenarnya abdinya itu berada.
Clap!
Tiba-tiba Mbah Hitam dalam wujud ular hitam yang sedang melilit seorang wanita cantik berpakaian kuning, muncul tidak jauh dari Alma. Gadis yang adalah Kinai itu dalam kondisi tidak sadarkan diri.
“Kinai putriku!” pekik Adipati Dodo Ladoyo terkejut dan cemas.
“Paman Adipati!” seru Alma Fatara. “Apakah permintaanku sudah Paman siapkan?”
Adipati Dodo Ladoyo bangkit dari duduknya. Dengan wajah dan tatapan yang menunjukkan permusuhan, ia memandang Alma. Sebentar kemudian, dia melemparkan pandangannya ke arah jauh, di sisi barat alun-alun.
Ternyata di sisi barat alun-alun, sudah ada sebelas ekor kuda yang tampak gagah-gagah sehat wal afiat, negatif dari virus corona. Kuda-kuda itu, tali kekangnya dipegang oleh para prajurit di bawah komando Agung Rupo.
Adipati Dodo Ladoyo lalu memberi kode lambaian tangan kepada Agung Rupo yang merupakan orang kepercayaannya. Melihat kode itu, Agung Rupo segera memerintahkan para prajurit untuk menuntun kuda-kuda tersebut menuju panggung arena.
“Juling Jitu, bawa ke mari kudaku!” perintah Alma Fatara.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Juling Jitu yang sejak tadi berdiri menonton di dekat panggung. Ia menghormat lebih dulu sebelum berlari pergi menuju kedai makan, tempat kuda-kuda mereka sebelumnya ditambatkan.
“Nisanak berjubah hitam!” teriak kencang seorang wanita dari kejauhan.
“Surken!” sebut Adipati Dodo Ladoyo saat melihat siapa yang berteriak.
“Iwak Ngasin!” sebut Anjengan dan Kembang Bulan terkejut.
Agak jauh di sisi selatan panggung arena, seorang gadis cantik yang penampilannya sudah kotor oleh lumpur encer, datang dengan menyeret seorang pemuda jangkung berbaju cokelat yang juga kotor oleh lumpur. Namun parahnya, wajah lelaki itu sudah bengkak pada bibir dan bawah matanya, hidungnya pun mengucurkan darah segar. Lehernya diikat dengan tali kuit kayu sehingga dia ditarik seperti hewan.
Lelaki yang adalah Iwak Ngasin itu, tidak sepenuhnya diseret, sebab dia masih bisa berjalan, meski terpincang-pincang. Gadis cantik yang menyeretnya adalah Surken. Sepertinya dia telah berhasil menghajar Iwak Ngasin, yang juga menunjukkan bahwa ia memiliki kesaktian di atas pemuda mata keranjang itu.
“Hahahak …!” Alma Fatara justru tertawa setelah memastikan kondisi Iwak Ngasin seperti apa.
Surken berhenti dua tombak dari pinggir panggung.
Sementara para warga hanya menjadi penonton yang tidak mau ikut campur lagi. Mereka hanya menyaksikan.
“Alma, tolong aku!” teriak Iwak Ngasin yang kedua tangannya diikat di belakang pinggang.
“Nisanak, bebaskan adikku!” teriak Surken dengan tatapan marah. “Atau lelaki menjijikkan ini aku bunuh dengan sekali gerak!”
“Hahaha!” tawa Alma datar mendengar ancaman Surken. Lalu katanya kepada Surken, “Kebebasan adikmu sudah ditebus dengan sebelas kuda bagus. Jadi ancamanmu tidak berlaku!”
Clap! Set!
Terkejut semua orang, terutama Surken.
Iwak Ngasin buru-buru berlari terpincang-pincang menjauhi Surken. Anjengan dan Gagap Ayu segera berlari menyongsong Iwak Ngasin.
“Surken!” teriak Adipati Dodo Ladoyo sambil berkelebat cepat di udara dan mendarat tidak jauh dari Alma dan Surken. Ia pun tidak berani bertindak apa-apa melihat putrinya di bawah ancaman.
Alma Fatara hanya tersenyum tipis kepada sang adipati.
“Maafkan aku, Paman, sudah membuatmu khawatir,” kata Alma sambil mendorong dada Surken, membuat gadis itu terdorong kepada ayahnya.
“Ayahanda, kenapa Ibu tidak datang membantu kita?” tanya Surken kepada ayahnya.
Alma Fatara yang mendengar pertanyaan Surken kepada ayahnya, tidak mau ambil peduli. Ia memutuskan berkelebat dan berlari di udara, lalu mendarat kembali di atas panggung arena.
“Pasukan, kita lanjutkan perjalanan!” teriak Alma Fatara berkomando.
Maka, anggota rombongan Alma Fatara segera pergi memilih kuda-kuda baru pemberian Adipati Dodo Ladoyo.
Alma Fatara berkelebat dan langsung mendarat duduk di kudanya yang dibawa oleh Juling Jitu.
Juling Jitu segera berlari pergi memilih kuda baru. Ia sempat terkejut melihat Iwak Ngasin yang sudah lebih dulu naik ke kudanya, tapi kemudian menertawakannya.
“Hahaha! Untung kucing betina itu tidak membunuhmu, Iwak!” kata Juling Jitu.
__ADS_1
“Ini semua gara-gara kau, Jitu. Kau tidak membantuku!” tukas Iwak Ngasin yang hanya ditanggapi dengan tawa.
Anjengan, Gagap Ayu, Kembang Bulan, Penombak Manis, Alis Gaib, dan Tampang Garang hanya tertawa kecil melihat nasib Iwak Ngasin.
Cucum Mili juga sudah anggun di atas kuda putih pilihannya, membuat warna merahnya terlihat begitu cantik.
Ada dua kuda baru yang masih kosong.
“Bawa kedua kuda itu!” perintah Cucum Mili kepada rekan-rekannya.
Juling Jitu dan Tampang Garang berinisiatif menggandeng dua kuda lainnya.
“Wahai warga Kadipaten Guruput!” seru Alma Fatara kepada khalayak ramai. “Terima kasih atas dukungan kalian. Sampai jumpa di masa depan!”
“Hidup Ratu Siluman Ikan!” teriak Geranda.
“Hidup Ratu Siluman Ikan!” teriak sebagian warga Ibu Kota, lebih ramai daripada saat pertarungan tadi.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil melambaikan tangan kepada para warga, yang nyatanya tidak membencinya karena telah memberikan pertunjukan yang hebat dan memuaskan. Lalu ia pun menggebah kudanya, “Heah heah!”
“Hidup Ratu Siluman Ikan! Hidup Ratu Siluman Ikan!” teriak warga mengelu-elukan Alma yang melesat bersama kudanya.
Geranda yang sudah menenteng kantung kain besar yang berat oleh uang hasil taruhannya, tiba-tiba berlari pergi meninggalkan keramaian. Entah apa yang hendak ia lakukan.
Seluruh anggota rombongan Alma segera mengikuti pemimpinnya, kecuali Mbah Hitam yang masih bertahan di tengah panggung dengan kondisi masih melilit tubuh Kinai. Hal itu membuat suasana masih menyisakan ketegangan.
Clap!
Namun, ketika rombongan Alma Fatara sudah tidak terdengar suara derap kaki kudanya, Mbah Hitam tiba-tiba lenyap, meninggalkan tubuh Kinai.
“Kinai!” sebut Adipati Dodo Ladoyo sambil cepat melesat hendak menangkap jatuh tubuh putrinya.
Clap!
Namun, bukan sang ayah yang menahan tubuh Kinai, tetapi seorang wanita cantik berpakaian putih, yang muncul seperti sulap dan menahan jatuh tubuh Kinai.
Sosok wanita cantik berperhiasan emas dan perak itu, layaknya seorang bangsawan dengan baju model kebaya berbahan mahal. Usianya kisaran kepala empat, tetapi kecantikannya begitu kental dalam riasan yang sempurna.
“Istriku,” sebut Adipati Dodo Ladoyo agak terkejut melihat kemunculan wanita tersebut.
“Nyai Wening Sukma!” ucap sejumlah warga yang segera mengenali siapa adanya wanita memesona yang muncul dengan tampilan tubuh yang indah berliuk.
“Kenapa kau baru muncul, Nyai?” tanya Adipati Dodo Ladoyo.
“Aku menyaksikan apa yang terjadi,” kata Nyai Wening Sukma, istri sang adipati. Suaranya terdengar agak berat seperti suara setengah lelaki. “Kesaktian anak itu begitu tinggi. Kakang Adikpati tidak ada apa-apanya. Jika aku turun tangan pun belum tentu aku mampu, terlebih jika dia menggunakan Bola Hitam dalam pertarungan. Aku tidak mau kehormatan kita benar-benar dihancurkan tanpa sisa.”
“Bagaimana kondisi Kinai, Ibu?” tanya Surken yang datang mendekat.
“Hanya pingsan. Aku akan membuntuti ratu siluman itu, apakah kau mau ikut?” kata Nyai Wening Sukma.
__ADS_1
“Aku ikut.” (RH)