
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Pemenangnya adalah Ratu Siluman!” teriak Jenggot Sejari yang telah naik ke atas Panggung Tulang dengan membawa dua buah kendi biru.
“Yeee!” sorak para penonton pendukung Alma Fatara.
“Hua!” teriak Cucum Mili.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan cs lagi.
Alma Fatara sudah berdiri menjauh dari mayat Pendekar Keris Peri.
Enam Prajurit Kedamaian segera naik mengikuti pimpinannya. Salah satunya membawa nampan anyaman kulit bambu.
Para Prajurit Kedamaian lalu memeriksa mayat Pendekar Keris Peri. Dari balik sabuk si mayat ditemukan banyak keris mini. Karena keris-keris itu mengandung racun, cara mengambilnya dengan menggunak jepitan besi seperti alat pencabut uban. Selain itu, prajurit penggeledah menemukan sekantung uang kepeng serta sekantung kecil berisi cincin dan batu permata. Ada pula tabung bambu kecil berisi pil-pil yang diduga obat penawar racun keris.
Setelah itu, mayat Pendekar Keris Peri digotong dan harta warisannya disodorkan kepada Alma.
“Ini hak milik Gusti Ratu,” ujar Jenggot Sejari.
“Mbah Hitam!” panggil Alma Fatara.
Mbah Hitam segera naik dan menerima nampan anyaman bambu yang berisi senjata dan perhiasan.
“Apakah kau tidak berniat maju, Kunilam?” tanya pendekar jangkung tapi berwajah pendek. Pria separuh baya berjubah putih itu berambut pendek dengan jenggot panjang sedada, sehingga wajah pendeknya terkesan panjang mengimbangi kejangkungannya. Ia bernama Setan Jangkung Sepuluh Nyawa. Ia bertanya kepada wanita berpakaian hitam bersenjata pedang tanggung.
“Aku tidak akan menang melawannya. Dia memiliki kecepatan setan,” jawab wanita bernama Kunilam itu. “Aku justru ingin melihatmu melawannya. Bukankah kau memiliki sepuluh nyawa, jadi sulit bagimu bisa kalah.”
“Hahaha!” tawa datar Setan Jangkung Sepuluh Nyawa. Lalu katanya, “Dari para pendekar yang hadir di sini, hanya Tengkorak Pedang Kilat yang memiliki kecepatan setan.”
Keduanya lalu memandang ke arah seorang kakek kurus bermata cekung dan berkepala botak separuh. Botaknya karena lahan yang tandus, bukan karena pembalakan liar. Dia membawa dua pedang menyeramkan di punggungnya. Seram karena gagangnya model kepala tengkorak biru gelap dan kepala macan hitam yang berlidah panjang warna merah, mungkin maksudnya macan yang sedang kehausan. Kakek berpakaian hijau gelap itu dikenal luas dengan nama Tengkorak Pedang Kilat.
“Kau salah, Setan Jangkung. Di sini masih ada pendekar lain yang berkecepatan setan. Lihat wanita cantik berpakaian putih di belakang itu,” kata Kunilam.
Setan Jangkung cepat mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud oleh Kunilam. Ternyata wanita yang dimaksud oleh Kunilam adalah Nyai Wening Sukma.
“Apakah kau kenal dengan wanita sakti itu?” tanya Kunilam.
“Hmm … sepertinya aku kenal. Tunggu sebentar. Oh, Dewi Tangan Seribu,” kata Setan Jangkung setelah menguras keras memorinya untuk mengingat wajah Nyai Wening Sukma.
“Benar,” kata Kunilam. “Sepertinya dia cukup lama tidak terlihat di dunia persilatan.”
“Para pendekar! Tantangan Bertaruh Nyawa menyisakan dua kesempatan lagi. Jika kendi biru pecah di lantai, maka pertarungan di Arena Tulang resmi ditutup!” seru Jenggot Sejari lantang.
__ADS_1
Jenggo Sejari lalu melempar lambung salah satu kendi biru ke udara.
Set!
Namun, belum lagi kendi itu meluncur turun, tiba-tiba muncul begitu saja di udara, sesosok kakek yang menebas kendi dengan pedangnya. Hebatnya, kendi berbahan tanah liat itu tidak hancur pecah, tetapi terpotong seperti terpotongnya buah pisang oleh pisau.
Prak!
Barulah ketika menghantam lantai batu, kedua bagian kendi itu pecah secara wajar.
Sosok kakek gundul separuh yang sedang memegang pedang berbilah merah gelap, kini berdiri berhadapan dengan Alma Fatara dalam jarak lima tombak.
“Tengkorak Pedang Kilat!”
“Tengkorak Pedang Kilat turun!”
“Tengkorak Pedang Kilat akan bertarung!”
“Tengkorak Pedang Kilat melawan Ratu Siluman!”
Terdengar seruan-seruan para pendekar yang mengenal siapa Tengkorak Pedang Kilat adanya.
“Ini namanya sudah tidak sabar mati!” teriak Juling Jitu.
“Su-su-sudah mau ma-ma-mati, eh malah mi-mi-minta ma-ma-mati!” kata Gagap Ayu kepada Anjengan, tapi dengan nada yang kencang, seolah-olah bermaksud memperdengarkannya kepada penonton yang lain.
“Pendekar Pedang Kilat, apakah kau sudah mengerti aturan Tantangan Bertaruh Nyawa ini?” tanya Jenggot Sejari.
“Sudah. Jika aku kalah, nyawa dan ragaku milik Pasar Tulang. Semua peninggalanku akan menjadi milik Ratu Siluman muda ini,” kata Tengkorak Pedang Kilat.
“Apa yang kau inginkan dari Ratu Siluman?” tanya Jenggot Sejari.
“Bola Hitam,” jawab Tengkorak Pedang Kilat.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara santai. “Maafkan aku jika harus berbuat lancang kepadamu, Kek.”
“Hahaha! Menang dan kalah akan menjadi kebanggaan bagiku, Gusti Ratu. Jadi, silakan jangan sungkan untuk membunuhku,” kata Tengkorak Pedang Kilat dengan tenang.
“Baiklah, Kek,” kata Alma Fatara sambil tersenyum.
“Ratu Siluman! Tengkorak Pedang Kilat! Pertarungan di atas Arena Tulang tanpa aturan. Kalianlah yang menentukan hasilnya. Penguasa Pasar Tulang hanya menerima hasil. Pertarungan dimulai sejak pecahnya kendi biru ini!” kata Jenggot Sejari kepada kedua pendekar yang sudah siap bakuserang.
Jenggot Sejari lalu melempar lambung kendi biru yang masih ada satu di tangannya. Ia lalu berkelebat mundur keluar dari Arena Tulang.
Prak!
__ADS_1
Kendi biru akhirnya menghantam lantai batu hingga dirinya hancur tanpa isi.
Set! Clap!
Tengkorak Pedang Kilat langsung melesat dengan satu tebasan pedang secepat kilat. Namun, Alma Fatara menghindar dengan cara menghilang seperti setan dari tempat berdirinya, membuat pedang menebas ruang kosong.
“Yeee!” sorak para penonton ketika pertarungan kedua telah dimulai.
Sejumlah penonton terlihat kembali berjudi dengan cara bertaruh. Namun, Geranda justru tidak bertaruh setelah menang uang cukup banyak di pertarungan pertama.
“Hahaha!” tawa Alma terdengar jauh di salah satu sudut arena. Ia muncul di sana seperti kuntilanak.
Jarak kedua pendekar cukup jauh.
Clap! Clap!
Melihat Alma memamerkan apa yang disebut “kecepatan setan” oleh para pendekar senior, Tengkorak Pedang Kilat pun mengerahkan gerakan level tingginya. Ia pun melakukan gerakan berkecepatan setan.
Tiba-tiba dia terlihat menghilang dari tempat berdirinya. Pada saat yang sama, Alma Fatara pun menghilang dari sudut arena.
Meski keduanya menghilang begitu saja, tetapi para penonton tidak perlu mencari. Sebab, pada detik berikutnya, keduanya muncul di pertengahan jarak. Namun, para penonton dibuat tidak bisa melihat jelas adu serangan yang terjadi begitu cepat.
Secara slow motion, Tengkorak Pedang Kilat menyerang dengan pedang di tangan kanan dan pukulan bertenaga dalam tinggi pada tangan kiri. Alma Fatara meladeni dengan serangan tangan yang mengimbangi tenaga dalam tinggi lawannya. Namun, jika Tengkorak Pedang Kilat menggunakan senjata pedang, Alma menggunakan senjata Benang Darah Dewa yang sulit terlihat.
“Akk akk!” Tiba-tiba terdengar jerit tertahan Tengkorak Pedang Kilat beberapa kali tanpa jelas terlihat apa yang terjadi.
Buss! Zress! Bluarr!
Tahu-tahu terjadi ledakan sinar ungu dan kuning yang begitu keras di tengah-tengah kedua petarung, membuat semua penonton tegang tingkat setan.
Mereka melihat kedua pendekar terpental keras ke belakang. Alma Fatara terpental sampai jatuh berguling-guling di lantai arena, membuat Mbah Hitam dan Pasukan Genggam Jagat menjerit cemas.
“Gusti Ratuuu!” teriak Anjengan dan rekan-rekan cemas.
Tengkorak Pedang Kilat juga terlempar keras hingga memantul-mantul di lantai lalu terhenti tersangkut di satu tulang pagar arena.
Perlu dijelaskan apa yang terjadi sebelum keduanya terpental keras.
Alma Fatara bisa mementahkan semua pukulan maut tangan kiri Tengkorak Pedang Kilat, karena ia pun bertenaga dalam tinggi. Ketajaman pedang bergagang kepala macan hitam tidak membuat Alma takut, karena dia berkulit kebal tajam, sehingga pedang si kakek tidak berfungsi banyak.
Namun, justru Tengkorak Pedang Kilat dibuat terkena serangan dari Benang Darah Dewa. Dalam pertarungan sengit itu, Alma tidak tanggung-tanggung menggunakan jasa senjata rahasianya. Dua tusukan dalam menyerang tangan kanan Tengkorak Pedang Kilat hingga tembus ke siku. Lalu satu tusukan halus tapi dalam, menyerang dada tua si kakek hingga melubangi jantung.
Serangan Benang Darah Dewa itulah yang membuat Tengkorak Pedang Kilat terdengar menjerit tertahan beberapa kali.
Kejap berikutnya, Alma Fatara menghantam badan depan Tengkorak Pedang Kilat dengan Tinju Roh Bumi yang bersinar ungu. Namun, tangan kiri si kakek juga bertindak cepat menahan sinar ungu itu dengan sinar kuningnya yang berkekuatan besar.
__ADS_1
Pertemuan dua kesaktian itulah yang mementalkan Alma Fatara dan Tengkorak Pedang Kilat. (RH)