Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 33: Gelang Permaisuri Surga


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Setelah penyerangan yang dilakukan oleh Si Paku Renggut Nyawa dan Lima Pembunuh Gelap, perbincangan serius berlangsung antara Raja Tanpa Gerak, Ineng Santi, Alma Fatara, Anjengan, dan Gagap Ayu, dilengkapi oleh Geranda dan empat Anggota Dewi Purnama.


Raja Tanpa Gerak berbincang sambil menjalani pengobatan pada kakinya yang dilakukan oleh Belik Ludah.


“Gelang Permaisuri Surga itu dibuat sepasang. Jika keduanya disatukan, maka akan menjadi satu pusaka sakti yang bisa membuat semua orang sekitar bergerak lambat, kecuali pemilik pusaka tersebut. Pusaka ini bukan pusaka terkenal seperti Bola Hitam yang Gusti Ratu bawa. Hanya keluarga dari pemilik pedang itu yang tahu tentang Gelang Permaisuri Surga,” kata Raja Tanpa Gerak yang berujung dengan menunjuk Pedang Macan Setan yang ada di punggung Anjengan.


“Hah!” kejut Anjengan.


Sebenarnya Alma Fatara dan Gagap Ayu juga terkejut, tapi mereka tidak bersuara seperti Anjengan.


“Pemilik Pedang Macan Setan adalah Tengkorak Pedang Kilat, berarti orang yang tahu tentang gelang itu adalah Keluarga Tengkorak. Kakek memiliki gelang itu, berarti Kakek Raja juga adalah bagian dari Keluarga Tengkorak?” terka Alma Fatara.


“Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak seakan membenarkan analisa sang ratu.


“Jika Kakek tahu bahwa pedang yang dipegang panglimaku ini adalah Pedang Macan Setan, kenapa Kakek tidak mempertanyakan ceritanya?”


“Kakek memang seperti itu, Gusti Ratu. Tidak langsung menanyakan jika melihat hal-hal yang membutuhkan penjelasan,” kata Ineng Santi.


“Hanya ada dua kemungkinan menurutku. Pertama, kalian membunuh Tengkorak Pedang Kilat. Kedua, dia menghadiahkan pedang saktinya kepada aakk!” kata Raja Tanpa Gerak yang tiba-tiba berteriak pada ujung kalimatnya.


“Hahahak!” tawa para wanita muda itu menertawakan Raja Tanpa Gerak yang menjerit kesaktian, saat tiba-tiba Belik Ludah memukul kaki si kakek dengan batok kelapanya.


“Anak, apakah seperti itu cara pengobatanmu?” tanya Raja Tanpa Gerak lembut kepada Belik Ludah.


“I-i-iya, Kek,” jawab Belik Ludah agak ketakutan.


“Ja-ja-jangan meledekku, Be-be-belik!” hardik Gagap Ayu.


“Ti-ti-tidak,” jawab Belik Ludah kepada Gagap Ayu, masih tergagap.


“La-la-lalu ke-ke-kenapa kau ikut gagap?” tanya Gagap Ayu setengah membentak.


“Hehehe!” Belik Ludah akhirnya hanya nyengir kambing. Dia lalu kembali fokus untuk mengobati kaki Raja Tanpa Gerak.


“Aku membunuh Kakek Tengkorak Pedang Kilat dalam pertarungan di Pasar Tulang. Dia gagal merebut Bola Hitam milikku,” aku Alma Fatara. Ia ingin terbuka. Jika pun memang ada hal yang ingin Raja Tanpa Gerak perkarakan terkait kematian Tengkorak Pedang Kilat, Alma Fatara siap menyelesaikannya.


“Aku tidak akan mempermasalahkan setiap kematian Anggota Keluarga Tengkorak. Kematian adalah takdir. Lagi pula akk!” kata Raja Tanpa Gerak yang lagi-lagi berujung jeritan, karena Belik Ludah kembali memukul kakinya yang bengkak.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekan lagi.


“Lagi pula aku anggota Keluarga Tengkorak yang sudah dianggap berada di luar keluarga,” lanjut Raja Tanpa Gerak.


“Jadi, Kakek Raja curiga bahwa orang yang berada di balik Bandar Bumi adalah salah satu anggota Keluarga Tengkorak?” terka Alma Fatara.


“Benar. Ada dua kemungkinan siapa orang yang menginginkan Gelang Permaisuri Surga. Pertama dia adalah pemilik Gelang Permaisuri Surga yang lain. Kedua, dia adalah anggota Keluarga Tengkorak yang tidak memiliki gelang itu, tapi ingin merebutnya dari dua orang pemiliknya,” jelas Raja Tanpa Gerak.

__ADS_1


“Ma-ma-maksud Kakek, pe-pe-penjahatnya adalah orang yang pu-pu-punya ge-ge-gelang itu juga?” terka Gagap Ayu, mencoba peruntungannya juga dalam menganalisa.


“Mungkin,” jawab Raja Tanpa Gerak.


“Waaah, hebaaat! Ayu sekarang tambah cerdas!” sorak Anjengan heboh sambil menepuk keras punggung Gagap Ayu, membuat sahabat mungilnya itu tersentak ke depan nyaris tersungkur.


“Mungkin juga bukan,” kata Raja Tanpa Gerak lagi.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara, sementara Ineng Santi dan keempat Anggota Dewi Purnama hanya senyum-senyum.


“Sebab yang memiliki sejarah permusuhan dengan Demang Mahasugi adalah Anggota Keluarga Tengkorak yang lain akk!” kata Raja Tanpa Gerak yang kemudian kembali menjerit karena kakinya dipukul untuk ketiga kalinya oleh Belik Ludah.


“Sudah selesai, Kek,” kata Belik Ludah sambil tersenyum getir.


“Oooh. Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak sambil memerhatikan kakinya yang sebelumnya menderita keracunan. Dilihatnya, kakinya memang masih ada pembengkakan, tetapi warnanya sudah segar kembali, yang berarti racunnya sudah dibuang oleh Bocah Tabib.


“Aku tidak bisa membiarkan ada orang yang ingin membunuh Kakek. Aku tidak peduli apakah dia Anggota Keluarga Tengkorak atau siapa pun. Kita harus menghentikan upaya orang itu mengirim pembunuh bayaran terus-menerus,” kata Ineng Santi.


“Kesaktianmu belum memungkinkan untuk melawan Anggota Keluarga Tengkorak, Ineng,” kata Raja Tanpa Gerak.


“Tapi kesaktian Gusti Ratu bisa. Buktinya Gusti Ratu bisa membunuh Tengkorak Pedang Kilat,” tandas Ineng Santi.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu, Ineng,” kata Raja Tanpa Gerak keberatan.


“Hmmm,” gumam Raja Tanpa Gerak berpikir. “Baiklah, tapi pintaku, cukup kau urus orang yang terbukti meyakinkan sebagai dalang di balik Bandar Bumi.”


“Siapa yang Kakek curigai sebagai dalang di balik serangan ini?” tanya Alma Fatara.


“Pemilik Gelang Permaisuri Surga lainnya selain aku adalah Putri Tengkorak, tapi aku tidak mencurigainya. Aku lebih mencurigai Jenggala yang berjuluk Tengkorak Sabit Putih. Dia pernah berseteru dengan Demang Mahasugi. Namun, kau harus benar-benar membuktikan bahwa Tengkorak Sabit Putih yang menjadi dalangnya. Bagaimanapun juga, aku adalah bagian dari Keluarga Tengkorak, meski sudah tidak diakui,” ujar Raja Tanpa Gerak.


“Baik, Kek,” ucap Alma Fatara.


“Jadi, aku akan ikut dengan Gusti Ratu, Kek?” tanya Ineng Santi.


“Iya. Bukankah kau mengandalkan Gusti Ratu?” jawab Raja Tanpa Gerak.


Ineng Santi hanya tersenyum lebar.


“Ti-ti-tidak boleh!” larang Gagap Ayu tiba-tiba, membuat semuanya jadi beralih memandang kepadanya, bertanya alasan.


“Kenapa?” tanya Anjengan.


“Na-na-nanti ke-ke-kecantikanku te-te-tersaingi,” jawab Gagap Ayu.


“Hahahak …!” Meledaklah tawa mereka.


“Aku cekik kau, Ayu!” geram Anjengan sambil meraih kepala Gagap Ayu dengan cekikan lengan berlemaknya.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu.


“Tapi, sembuhkah dulu luka dalammu itu,” kata Raja Tanpa Gerak.


“Biar aku yang nanti mengobatinya dengan Bola Hitam, Kek,” ujar Alma Fatara.


“Baguslah jika demikian,” ucap Raja Tanpa Gerak.


“Kakek,” panggil Ineng Santi.


“Hmm?” gumam Raja Tanpa Gerak bertanya kepada cucu jelitanya.


“Gelang emas Gusti Ratu mirip dengan Gelang Permaisuri Surga,” ujar Ineng Santi.


Terkesiaplah Alma Fatara mendengar perkataan Ineng Santi. Sementara Anjengan dan Gagap Ayu terkejut belakangan, alias telat.


Raja Tanpa Gerak segera memandang ke pergelangan kaki kanan Alma Fatara. Di pergelangan kaki berkulit putih itu, memang melingkar sebuah gelang emas tebal yang memiliki lima permata merah kecil pada garis lingkarnya. Gelang itu tidak sepenuhnya melingkar bersambung, tapi ada bagian putusnya. Salah satu ujung gelang itu berbentuk kepala macan bertanduk dua.


“Maksud Kakak Ineng, apakah gelang kakiku sama dengan Gelang Permaisuri Surga milik Kakek Raja?” tanya Alma Fatara cepat, dengan mimik yang total serius.


Suasana seolah-olah berubah tegang.


“Hanya ujungnya saja yang sama, yaitu berbentuk kepala macan bertanduk dua,” jawab Raja Tanpa Gerak.


“Bolehkah aku melihat Gelang Permaisuri Surga itu, Kek?” tanya Alma Fatara.


“Tolong kau ambilkan di kamar Kakek, Ineng,” pinta Raja Tanpa Gerak.


“Baik, Kek,” ucap Ineng Santi patuh.


Gadis cantik putih bersih itu bangkit dan masuk ke dalam pondok.


“Sepertinya gelang itu sangat berarti bagimu, Gusti Ratu?” tanya Raja Tanpa Gerak.


“Aku adalah anak yang dibuang di lautan saat bayi. Kemudian ayahnya Anjengan yang menemukan dan merawatku, Kek. Gelang ini adalah satu-satunya petunjuk yang ditemukan di dalam peti bayiku. Jadi aku sedang mencari siapa pembuat gelang ini, dan siapa yang memesan gelang ini,” tutur Alma Fatara.


“Oooh,” desah Raja Tanpa Gerak seraya manggut-manggut dua kali. “Kau bisa menanyakan kepada Eyang Kubur Biru. Dialah yang tahu siapa pembuat Gelang Permaisuri Surga. Eyang Kubur Biru tinggal di Tanah Kutukan.”


“Semoga ini adalah petunjuk terang bagiku,” ucap Alma Fatara.


Dari dalam keluar Ineng Santi. Ia membawa sebuah benda emas di tangannya. Ineng Santi duduk kembali dan memberikan gelang emas yang dibawanya kepada Alma Fatara.


“Ini Gelang Permaisuri Surga,” kata Ineng Santi.


Gelang itu bermodel hampir sama dengan gelang di kaki kanan Alma Fatara. Salah satu ujungnya berbentuk kepala macan kecil dan memiliki dua tanduk. Namun, batangannya berbentuk uliran separuh dan satu sisinya membentuk pola khusus seperti belahan yang rompal. Gelang emas itu tidak memiliki batu permata seperti milik Alma Fatara.


“Gelang pusaka ini hanyalah gelah emas biasa jika tidak digabungkan dengan pasangannya,” kata Raja Tanpa Gerak.


“Hampir sama. Aku yakin, orang yang membuat kedua gelang ini adalah satu orang,” ucap Alma Fatara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2