
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Pemenangnya adalah Ratu Siluman!” teriak Jenggot Sejari yang telah naik ke atas Panggung Tulang dengan membawa dua buah kendi biru lagi.
“Yeee!” sorak para penonton pendukung Alma Fatara.
“Hua!” teriak Cucum Mili.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan cs lagi.
“Hua hua hua!” teriak para penonton pula.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa datar.
Para Prajurit Kedamaian segera bekerja memungut dua pedang pusaka milik Tengkorak Pedang kilat. Setelah menggeledah mayat si kakek, ternyata ditemukan sedikit uang kepeng, sebuah gulungan kulit tipis, dan sebuah kotak kayu kecil sebesar jempol.
Barang-barang milik Tengkorak Pedang Kilat lalu diletakkam pada nampan anyaman bambu, yang kemudian diserahkan kepada Mbah Hitam. Adapun mayat Tengkorak Pedang Kilat segera dibawa pergi oleh Prajurit Kedamaian.
“Tantangan Bertaruh Nyawa menyisakan satu kesempatan lagi!” teriak Jenggot Sejari lantang membahana. “Pecahnya kendi biru ini di lantai menandakan Tantangan Bertaruh Nyawa ditutup!”
“Dewi Tangan Seribu!” panggil Setan Jangkung Sepuluh Nyawa.
Panggilan itu mengejutkan sejumlah pendekar yang mengenal nama yang disebut. Lebih mengejutkan bagi Nyai Wening Sukma. Pasalnya Setan Jangkung Sepuluh Nyawa dan para pendekar jadi memandang berjemaah kepadanya.
Surken yang duduk di sisi ibunya jadi heran.
Alma Fatara, Penguasa Pasar Tulang, Pasukan Genggam Jagad, dan yang lainnya jadi ikut memandang ke arah Nyai Wening Sukma.
“Ibunda!” sebut Geranda terkejut saat baru melihat keberadaan Nyai Wening Sukma di tempat itu.
Cucum Mili, Anjengan dan yang lainnya jadi memandangi Geranda.
“Ibunda!” teriak Geranda kencang lalu segera berlari pergi menuju ke tempat Nyai Wening Sukma dan putrinya duduk.
“Dewi Tangan Seribu, apakah kau tidak tertarik untuk bertarung?” tanya Setan Jangkung Sepuluh Nyawa.
“Tidak aku sangka, ternyata di sini ada si cantik Dewi Tangan Seribu!” seru Kakek Kembar Lurus.
“Para pendekar, pecahnya kendi biru ini di lantai menandakan Tantangan Bertaruh Nyawa ditutup!” seru Jenggot Sejari lagi untuk mengingatkan para pendekar yang mungkin masih ada berminat untuk melawan Alma.
“Ayo kita pergi, Surken,” kata Nyai Wening Sukma tanpa mengindahkan perkataan dan pandangan pendekar lain kepadanya.
Nyai Wening Sukma dan Surken lalu bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan bangku penonton.
__ADS_1
Sementara itu di Arena Tulang, kendi biru sudah dilambungkan oleh Jenggot Sejari.
Prak!
Akhirnya Tantangan Bertaruh Nyawa ditutup karena kendi biru hancur pecah di lantai Arena Tulang.
“Tantangan Bertaruh Nyawa ditutup!” teriak Jenggot Sejari. “Pasar Tulang dibuka kembali!”
“Sayang sekali, Dewi Tangan Seribu tidak turun bertarung. Padahal akan sangat seru jika melihat dua wanita cantik saling bunuh. Hahaha!” kata Kakek Kembar Keriting.
“Apakah kita akan mengikhlaskan Bola Hitam yang sudah ada di depan mata?” tanya Kakek Kembar Lurus.
“Jika kau mengajak kita untuk mengikhlaskan nyawa kita, kita bisa lakukan di luar Pasar Tulang. Awalnya aku berharap Ratu Siluman setidaknya terluka, sehingga kita bisa menghabisinya di luar,” kata Kakek Kembar Keriting.
“Ah sudahlah, Tengkorak Pedang Kilat saja dengan mudah ia bunuh. Bahkan kita tidak tahu, bagaimana dia membunuh Tengkorak Pedang dari jarak jauh seperti itu.”
“Ibunda! Bagaimana bisa Ibunda dan Surken berada di tempat sejauh ini?” tanya Geranda yang sudah menghadang langkah ibu dan adiknya.
“Apakah kau sudah yakin ingin mengikuti Ratu Siluman?” Nyai Wening Sukma justru bertanya tanpa menjawab.
“Aku sudah bersumpah setia mengabdi kepada Ratu Siluman. Aku sudah menjadi bagian dari Pasukan Genggam Jagad, Ibunda. Pastinya Ayahanda tidak akan keberatan jika aku pergi jauh,” ujar Geranda sambil tersenyum.
“Sepertinya itu akan menjadi kebaikan bagimu. Kau harus tunjukkan kepada ayahmu bahwa kau bisa menjadi anak yang dibanggakan kelak. Junjung tinggi-tinggi yang namanya kesetiaan, Geranda,” kata Nyai Wening Sukma. “Aku dan adikmu akan pulang.”
“Aku akan menunggu Kakang untuk bertarung suatu hari nanti,” kata Surken.
“Pasti. Aku akan menggunakan uangku untuk membeli banyak kesaktian. Hahaha!” kata Geranda berseloroh.
“Hihihi!” tawa Surken.
Sementara Nyai Wening Sukma hanya tersenyum. Ia lalu melangkah pergi melewati Geranda. Surken segera mengikuti ibunya.
Geranda hanya berbalik dan memandangi kepergian kedua wanita cantik itu dengan tatapan berbayang sedih dan senyuman yang hambar.
“Geranda, kau punya hubungan apa dengan kedua wanita itu?” tanya Iwak Ngasin yang sebelumnya bersembunyi dari penglihatan Surken.
“Itu ibu dan adik tiriku. Ibu tiriku adalah wanita yang sangat sakti. Bahkan adikku lebih sakti dariku. Kau sendiri sudah merasakan keganasan adikku, bukan?” jawab Geranda.
“Geranda, Iwak!” teriak Tampang Garang memanggil kedua pemuda yang tampannya dua belas lima belas itu.
Geranda dan Iwak Ngasin segera menengok ke seberang arena. Mereka melihat Alma Fatara dan rombongan telah bergerak mengikuti Penguasa Pasar Tulang.
Buru-buru keduanya segera berlari menyusul.
Di saat para penonton membubarkan diri lewat satu pintu besar, Alma dan rombongan berjalan ke arah lain mengikuti ajakan Sudigatra sebagai penguasa di tempat itu.
__ADS_1
Sebagai orang yang sangat istimewa bagi Ketua Perguruan Pisau Merah, Alma jelas sangat dihormati oleh Sudigatra dan dijadikan sebagai tamu.
Ketika mereka berada di sebuah lorong besar yang sudah merupakan wilayah privasi Penguasa Pasar Tulang, Anjengan membuat ulah.
Tiba-tiba Anjengan menyergap Alma Fatara dari belakang. ia mencekik leher Alma dengan lengan berlemaknya.
“Benar-benar adik kurang ajar kau, Gusti Ratu! Kau pikir tadi perbuatan lucu membuat kami cemas, hah?!” bentak Anjengan sambil menjepit leher Alma sekuat tenaga.
“Hahahak!” Alma Fatara hanya tertawa sambil terhuyung-huyung karena tekanan berat tubuh besar Anjengan.
“Hahaha!” Iwak Ngasin dan Juling Jitu hanya tertawa melihat tindakan Anjengan.
“Hihihi!” Gagap Ayu juga tertawa tanpa gagap.
Tidak peduli bahwa sekarang Alma sudah mereka nobatkan sebagai seorang ratu, kebiasaan dalam keakraban mereka belum mudah untuk hilang.
“Uhhuk uhhuk!”
Alma Fatara tiba-tiba terbatuk-batuk dalam cekikan Anjengan. Hal yang mengejutkan Sudigatra dan Rogo Sogo adalah karena mereka melihat ada darah yang keluar dari batuk itu.
“Lepaskan, Nisanak! Alma terluka!” seru Sudigatra cepat kepada Anjengan.
“Hah!” pekik terkejut Anjengan, lalu buru-buru melepaskan rangkulan tangannya dan melihat wajah adik angkatnya itu.
“Uhhuk uhhuk!” Alma Fatara kembali terbatuk dan memuncratkan darah lebih banyak.
“Gusti Ratu!” sebut para anggota Pasukan Genggam Jagad terkejut.
“Apa yang kau lakukan, Anjeng?!” bentak Juling Jitu.
“Kau mau be-be-benar mau me-me-membunuh Gusti Ra-ra-ratu?” tukas Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan. “Aku terluka oleh kakek-kakek tadi, bukan karena Kakak Anjengan.”
“Oooh!” desah para abdi Alma tanda baru mengerti. Namun, mereka tetap cemas.
“Apakah lukamu sangat berbahaya, Gusti Ratu?” tanya Sudigatra.
“Tidak apa-apa, Paman. Sejak tadi aku menahannya. Saat aku lama bangun dari lantai, sebenarnya aku berusaha menyembunyikan lukaku. Aku bisa mengobati diriku sendiri. Aku hanya butuh kamar khusus untuk pemulihan,” jelas Alma.
“Tenang, tenang, Gusti Ratu baik-baik saja dan bisa segera pulih!” kata Anjengan kepada rekan-rekannya, membuat mereka lega.
“Lebih baik Gusti Ratu bermalam di sini. Sekarang sudah senja. Aku pun khawatir jika ada pendekar-pendekar licik yang ingin menyerang di luar Pasar Tulang,” kata Sudigatra.
“Baiklah, Paman,” kata Alma sambil menyeka darah di sekitar bibirnya dengan kain pemberian Mbah Hitam. (RH)
__ADS_1