Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Pete Emas 11: Pasukan Siluman Ikan


__ADS_3

*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*


Tak!


Secangkang kecil kulit kerang melesat mengenai dada Wuwul. Terdengar suara berdetak ketika kulit kerang itu mengenai dada Wuwul.


Seketika terkejut dan terdiam Wuwul mendapat lemparan ringan dari Alma.


“Dia Siluman Ikan!” tuding Alma Fatara.


“Hah!” Kompak Ki Jolos dan semua warga terkejut, lalu memandang serius kepada Wuwul yang kemudian jadi ketakutan.


“Aku juga merasakan ada yang aneh dari telaga, tetapi tidak bisa melihatnya. Hanya Kang Wuwul yang bisa melihat,” kata Alma yang membuat Ki Jolos dan warga Desa Rangitan kian tegang. Alma lalu bertanya kepada Ki Jolos, “Paman, apakah dia benar warga desa ini?”


“Benar. Kami semua mengenalnya,” jawab Ki Jolos yakin.


“Paman tahu siapa ayahnya?” tanya Alma.


Terdiamlah Ki Jolos, seolah ia sedang mengingat-ingat.


Karena Ki Jolos tidak jua memberi jawaban, maka Alma bertanya kepada warga yang lain secara umum.


“Apakah ada yang tahu siapa ayah dan ibu Kakang Wuwul?”


Ternyata semua lelaki warga desa itu juga terdiam serta saling pandang dan bertanya. Akhirnya yang ada adalah suara kasak-kusuk di antara mereka.


“Apakah kalian tahu?” tanya Alma kepada Iwak Ngasin dan Juling Jitu.


“Hahaha! Kami mana tahu, Alma!” jawab Juling Jitu sambil tertawa.


“Aku bukan Siluman Ikan. Aku bukan bagian dari mereka. Mereka justru ingin membunuhku!” bantah Wuwul.


“Aku curiga ketika mengingat cerita Ki Jolos bahwa Siluman Ikan bisa menyamar menjadi manusia. Jika dia benar Siluman Ikan, dia pasti tidak punya ayah dan ibu di desa. Kalian dengar sendiri tadi ketika kulit kerang mengenainya, karena yang terkena adalah sisiknya. Tubuhnya itu adalah gambaran palsu yang menipu mata-mata kita,” kata Alma mengungkapkan hujjahnya.


“Tangkaaap!” teriak Jalu Segoro tiba-tiba sambil melompat ke belakang Wuwul dan memeluknya dengan dua tangan, bukan pelukan mesra, tapi pelukan mengunci.


“Jangan bunuh aku! Aku Siluman Ikan baik!” teriak Wuwul ketakutan yang secara tidak langsung mengakui jenis kelaminya. Maksudnya jenis rasnya.


“Kurap kudis panu! Dasar Siluman Ikan!” maki Sinjor lalu mendatangi Wuwul.


Plak! Plak!


Dua tamparan keras Sinjor daratkan ke wajah Wuwul, sakitnya seperti terkena tamparan hukuman selingkuh.


Wless!


Tiba-tiba wujud Wuwul yang manusia tahu-tahu telah berubah menjadi wujud Siluman Ikan yang selama ini mereka pernah lihat.

__ADS_1


“Wuaaah!” pekik Jalu Segoro terkejut bukan main, setelah melihat dirinya tahu-tahu telah memeluk erat sosok Siluman Ikan.


Sontak semua warga berbalik lari, seperti orang kepergok pocong di saat sedang buang hajat di kali. Setelah itu mereka berhenti dan berbalik memandang kepada Wuwul yang kini berwujud Siluman Ikan.


Tinggallah Alma dkk dan Ki Jolos yang masih tetap di tempatnya.


“Ha-ha-ha ….”


“Hantu?” terka Iwak Ngasin dan Juling Jitu memotong teriakan Gagap Ayu.


“Bu-bu-bukaaan! Ha-ha-hajaaar!” teriak Gagap Ayu, tapi tetap diam di tempatnya.


“Ha-ha-hajaaar!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan bersamaan, ikut-ikutan gagap, lalu bergerak bersama menyerang Siluman Ikan Wuwul.


“Hahahak!” tawa Alma melihat tingkah rekan-rekannya. Namun, tiba-tiba ia terkejut dan berhenti tertawa, lalu cepat-cepat berteriak, “Tahan!”


Siluman Ikan Wuwul sudah memejamkan mata saat tiga serangan datang kepadanya. Namun, tendangan Iwak Ngasin berhenti satu jengkal dari wajah ikan Wuwul. Tinju Juling Jitu juga berhenti tiga jari dari sudut ************ Wuwul, rupanya dia mengincar area sensitif. Teriakan Alma tadi berhasi membuat Iwak Ngasin dan Juling Jitu berhenti seperti patung.


Namun, tidak berhasil terhadap Anjengan. Ia terus berlari heboh.


Bung!


Anjengan menabrakkan tubuh depannya kepada tubuh Siluman Ikan Wuwul. Siluman Ikan itu langsung terpental jauh ke arah pantai tepian air telaga.


Bluk!


Tubuh Wuwul jatuh berdebam di pasir. Untung dia Siluman Ikan dan jatuh di tanah pasir, jadi tidak begitu sakit atau patah tulang.


Ternyata di garis pantai telah berdiri berbaris sekitar dua puluh makhluk Siluman Ikan dengan satu makhluk berdiri paling depan.


Melihat kehadiran pasukan Siluman Ikan itu, Wuwul jadi ketakutan luar biasa. Buru-buru Wuwul bangkit dan berlari terbirit-birit ke arah Ki Jolos dan Alma.


“Tolong aku, Almaaa!” teriak Wuwul.


Siluman Ikan yang berdiri paling depan mengangkat tangan kanannya lurus ke depan. Ia bidikkan ke arah Wuwul yang sedang berlari.


Zress!


Tiba-tiba dari tiga jari tangan berselaput pemimpin Siluman Ikan melesat tiga larik sinar merah panjang tapi putus dari jari-jari.


Clap! Zing! Zress!


Bluar!


Tiba-tiba Alma muncul begitu saja di belakang punggung Wuwul dengan tubuh telah bertameng lapisang sinar ungu bening tapi tebal. Tiga sinar merah pemimpin Siluman Ikan mengenai dindig perisai ungu, membuat ketiga sinar itu memantul balik menyerang majikannya.


Namun, pemimpin Siluman Ikan dengan mudah menggeser tubuhnya. Ujung-ujungnya, seekor atau seorang siluman prajurit yang tubuhnya hancur terkena tiga sinar merah itu. Namun, pemimpin Siluman Ikan tetap santai meski seorang prajuritnya mati.

__ADS_1


Perlindungan yang dilakukan oleh Alma Fatara jelas menyelamatkan Wuwul dari kematian.


“Iwak Ngasin, Juling Jitu, Kakang Anjeng, Gagap Ayu!” panggil Alma lantang tanpa mengalihkan perhatian dari pasukan Siluman Ikan.


“Apa?!” teriak keempat orang yang dipanggil Alma.


“Majuuu!” teriak Alma.


“Tidak mauuu!” teriak keempat sahabat Alma itu.


Alma terkejut mendengar jawaban itu. Ia cepat menengok ke belakang, memandang teman-temannya.


“Mereka banyak, Alma!” kata Iwak Ngasin.


“Satu Siluman Ikan kami bunuh. Dua Siluman Ikan kami hajar. Tapi dua puluh Siluman Ikan, kami mati!” kata Juling Jitu.


“Da-da-dasar, lelaki penakut!” maki Gagap Ayu.


“Ya sudah, ke sana maju!” kata Anjengan sambil mendorong punggung Gagap Ayu agar maju.


“Ja-ja-jangan do-do-dorong-dorong!” sergah Gagap Ayu.


“Bukannya kau berani?” bentak Anjengan.


“Si-si-siapa bilang aku be-be-berani?” bantah Gagap Ayu.


“Woi! Kalau kalian tidak mau maju, aku laporkan kepada Guru!” teriak Alma mengancam.


Terkejutlah keempat sahabat Alma tersebut. Mereka buru-buru berlari maju dan berdiri di sisi kanan kiri Alma. Iwak Ngasin dan Anjengan berdiri di sisi kanan Alma. Sementara di sisi kiri berdiri Juling Jitu dan Gagap Ayu.


Melihat di sisinya adalah Anjengan, Iwak Ngasin jadi terkejut. Demikian pula dengan Gagap Ayu, ia terkejut saat sadar bahwa lelaki tampan yang berdiri di sisinya adalah Juling Jitu.


Akhirnya, Iwak Ngasin segera pindah ke sisi kiri Alma. Demikian pula Gagap Ayu, buru-buru pindah ke sisi kanan Alma. Maka formasinya dari kanan ke kiri adalah Gagap Ayu, Anjengan, Alma Fatara, Juling Jitu dan Iwak Ngasin.


“Hahaha!” tawa sebagian warga melihat tingkah rumit Alma dkk.


“Tangkaaap!” teriak Jalu Segoro saat tiba-tiba ia menjerat tubuh Wuwul dari belakang menggunakan jala besar.


Wuwul jadi kelabakan untuk membebaskan diri, terlebih ketika sejumlah warga bergerak cepat untuk merigkusnya dengan jala itu.


“Tangkap! Tangkap! Tangkap!” teriak Sinjor bersama warga lain sambil datang membantu Jalu Segoro menangkap Wuwul.


“Ikat di tiang kakus!” teriak Aji Tungka.


Sementara itu di pantai.


Alma dkk berjalan gagah maju ke arah telaga, persis seperti boyband K-Pop berjalan memasuki panggung ketika pintu latar panggung terbuka. Atau, seperti sekelompok koboy yang datang memasuki kota tengah gurun tanpa menunggang kuda. Mereka siap adu tembak. (RH)

__ADS_1


************


Ayo bantu ramaikan novel ini di kolom komentar, walau hanya satu emo jempol. Semoga mulai konsisten up-nya.


__ADS_2