
*Episode Terakhir (PITAK)*
Panglima Besar Anjengan dan Panglima Laut Cucum Mili bersama Pasukan Sayap Laba-Laba pergi ke sungai, menindaklanjuti laporan penemuan mayat.
Ternyata benar, di sungai, ada beberapa mayat yang tersangkut. Mereka semua berpakaian prajurit Kadipaten Gulangtara, sama seperti prajurit yang mengawal pedati pengangkut batu-batu emas.
Arung Seto dan pasukannya turun ke sungai untuk memeriksa mayat-mayat tersebut. Mayat-mayat itu rata-rata tewas karena ada anggota tulang yang patah parah pada bagian kulit yang menghitam warnanya.
“Mereka tewas oleh pukulan maut, Panglima Besar,” lapor Panglima Arung Seto kepada Anjengan dan Cucum Mili.
“Telusuri ke hulu. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana!” perintah Cucum Mili.
“Baik, Panglima!” jawab Arung Seto.
Maka, Arung Seto bersama Juling Jitu, Kalang Kabut, Aliang Bowo, dan Tengkorak Telur Bebek yang sudah kembali membawa telur bebek, bergerak menyusuri naik ke arah hulu.
Sepanjang menyusuri aliran sungai di ke hulu, mereka menemukan sejumlah mayat dengan luka yang sama, baik mayat yang terbawa arus, maupun mayat yang tersangkut.
“Mayat ini berbeda cara matinya!” teriak Aliang Bowo setelah memeriksa satu mayat lain.
Arung Seto dan yang lainnya segera bergerak ke tempat Aliang Bowo berada. Mereka melihat kondisi mayat yang tersangkut di bawah batu sungai yang besar. Mayat prajurit itu memiliki luka cakaran empat jari yang berwarna hitam dan hijau gelap.
“Ini Cakaran Hijau milik Cantik Kuku Hijau,” kata Kalang Kabut.
“Jika Cantik Kuku Hijau terlibat, berarti mereka yang membunuh adalah para pendekar berkesaktian tinggi,” kata Tengkorak Telur Bebek.
“Mayat di sini juga sama, tewas oleh cakaran!” teriak Juling Jitu yang menemukan mayat lain.
“Membunuhi para prajurit kadipaten sama saja memberontak kepada pemerintah Kerajaan Singayam,” kata Tengkorak Telur Bebek.
“Ayo terus naik ke hulu!” ajak Arung Seto.
Mereka berlima melanjutkan bergerak naik ke hulu. Sesekali mereka menemukan mayat prajurit.
Namun kemudian, mereka berhenti dan berdiri memandangi lubang di bawah tebing yang menjadi jalan keluarnya air sungai. Itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki akses lagi untuk terus ke hulu, kecuali mau masuk menyelam ke dalam lubang tebing.
“Bagaimana?” Sang panglima yang justru bertanya.
“Kita kembali saja. Terlebih ini bukan urusan kita,” kata Kalang Kabut.
“Betul,” setuju Aliang Bowo.
“Ayo kita kembali!” ajak Juling Jitu Pula.
Akhirnya Arung Seto setuju untuk kembali ke basis peristirahatan.
“Jika demikian, kita lanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara. Ia tidak banyak komentar mendengar laporan Arung Seto.
__ADS_1
Ratu Siluman dan Pasukan Genggam Jagad melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi sungai. Dengan adanya Gagap Ayu, kereta kuda tidak masalah untuk menyeberang. Gagap Ayu bisa membawa terbang keretanya. Sedangkan kuda-kuda masih bisa menyeberang.
Untuk sampai ke Tanah Kutukan, mereka harus melewati lembah dan sebuah desa.
Ketika sebentar lagi mereka akan memasuki lembah, tiba-tiba Penombak Manis yang berjalan di depan berbalik pergi ke kereta kuda.
“Lapor, Gusti Ratu. Aku melihat ada pergerakan satu orang jauh di hutan sisi kiri!” lapor Penombak Manis.
“Kemungkinan itu adalah penyerang tadi malam,” kata Alma Fatara.
Jarak hutan dari posisi pasukan pendekar itu cukup jauh. Mata pendekar sakti pun tidak bisa melihat pergerakan seorang manusia di hutan tersebut. Namun, berbeda dengan mata pemilik Sisik Putri Samudera seperti mata Penombak Manis. Dia bisa melihat hingga jarak jauh asalkan obyek yang dilihat tidak terhalang oleh sesuatu.
“Mbah Hitam,” panggil Alma Fatara pelan.
Clap!
Mbah Hitam pun muncul tiba-tiba di sisi Penombak Manis.
“Periksa hutan di sisi kiri sana!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam patuh dengan suara kakek-kakeknya.
Clap!
Kakek ganteng itu kembali menghilang.
“Biar aku juga memeriksa ke sana,” kata Ratu Tengkorak.
Clap!
Tiba-tiba Ratu Tengkorak menghilang dari tempat duduknya di kereta kuda.
Ternyata dugaan Alma Fatara benar adanya. Seseorang yang melakukan pergerakan di pinggiran hutan di sisi kiri Pasukan Genggam Jagad adalah pemuda yang tadi malam memanah Alma Fatara.
Pemuda berpakaian hitam yang menyandang busur dan anak panah itu terus bergerak di dalam hutan. Dari posisinya, ia bisa melihat keberadaan rombongan pasukan Alma Fatara, tetapi tidak bisa melihat secara rinci.
Secara akal sehat, orang-orang dalam pasukan itu tidak mungkin bisa melihat pergerakan si pemuda karena keterbatasan jarak. Itulah yang diyakini si pemuda yang ternyata punya wajah tampan berhidung mancung.
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berlari kecil seiring rasa terkejutnya. Dari sisi depan, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang lebih tampan darinya dan berpakaian serba hitam.
“Siapa kau?” tanya pemuda berpanah sambil memasang kuda-kuda.
“Aku penunggu hutan ini!” jawab Mbah Hitam yang mengejutkan pemuda pemanah, karena mendengar suara tua. “Sedang apa kau di hutan ini?”
“Aku sedang berburu untuk makan siang,” jawab pemuda pemanah.
“Apakah kau berburu sejak malam tadi?” tanya Mbah Hitam.
“Tidak, aku berburu pagi ini,” sangkal pemuda pemanah.
__ADS_1
“Tapi bau tubuhmu sama dengan bau tubuh yang tertinggal di seberang sungai,” kata Mbah Hitam.
Terkejutlah pemuda pemanah. Ia langsung menyimpulkan bahwa pemuda tampan di depannya itu adalah bagian dari pasukan pendekar yang jauh di sana.
Pemuda pemanah tiba-tiba melompat menerjang Mbah Hitam.
Mbah Hitam cepat menangkis terjangan lawannya lalu balas menyerang dengan gerakan yang lebih cepat dan tangkas.
Mendapati musuhnya memiliki gerakan yang lebih cepat darinya, pemuda pemanah cepat melompat mundur sambil cabut anak panah dan memanah ke arah mana saja.
Set!
Anak panah itu melesat ke sembarang arah, bukan kepada Mbah Hitam.
Mbah Hitam melesat cepat kepada pemuda pemanah. Namun, dalam lesatannya itu, tiba-tiba Mbah Hitam berubah menjadi ular hitam yang besar.
“Hah!” kejut pemuda pemanah bukan main, tapi tanpa sempat menghindari lilitan Mbah Hitam yang begitu cepat.
Set! Dass!
Tiba-tiba muncul sebatang anak panah melesat cepat mengenai badan Mbah Hitam. Anak panah biasa itu memang terpental karena kerasnya sisik tubuh ular Mbah Hitam. Namun, ketika panah itu mengenai tubuh Mbah Hitam, ada percikan sinar biru terang yang sekejap. Ternyata panah itu membuat Mbah Hitam kesakitan dan bergerak liar, lalu melepaskan lilitanya pada tubuh pemuda pemanah.
Bruss! Dask!
Lepasnya lilitan Mbah Hitam membuat pemuda pemanah cepat menyalakan tinju kanannya dengan sinar hijau, lalu cepat melayangkan tinjunya ke kepala Mbah Hitam. Mbah Hitam tidak bisa menghindar karena kondisinya sedang tidak konsen sebab terkena panah tadi.
Mbah Hitam terbanting keras.
Pemuda pemanah cepat berlari melarikan diri meninggalkan Mbah Hitam. Si ular hitam yang tidak menderita luka berarti, merayap cepat mengejar pemuda pemanah.
Clap!
Tiba-tiba pemuda pemanah dihadang oleh Ratu Tengkorak.
“Kau tidak akan bisa kabur. Siapa kau?” kata Ratu Tengkorak.
Set! Tak!
Pemuda pemanah langsung memanah si nenek. Namun, terlalu cepat Ratu Tengkorak menepis panah itu dengan tongkatnya. Anak panah itu justru melesat ke arah lain, entah mau wisata ke mana.
Blet!
Tiba-tiba dari belakang, ular hitam Mbah Hitam muncul melilit tubuh pemuda pemanah.
“Aaak!” pekik pemuda pemanah karena lilitan Mbah Hitam membuatnya tidak berkutik.
Set!
Tiba-tiba dari arah belakang Ratu Tengkorak datang melesat anak panah, menargetkan si nenek.
__ADS_1
Clap!
Ratu Tengkorak tiba-tiba menghilang menghindari anak panah. Namun, dengan menghilangnya Ratu Tengkorak, anak panah itu langsung menancap tepat di leher pemuda pemanah. Hai itu langsung membunuh pemuda pemanah. (RH)