
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Nenek gemuk yang ternama dengan julukan Tengkorak Pedang Siluman akhirnya membuka sepasang matanya. Wajah tuanya seketika mengerenyit menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya, terutama pada bagian dada.
Sambil menahan rasa sakit yang mendera, si nenek memandangi alam tempat dia kini berada. Yang dilihatnya adalah langit-langit bergenting dan dinding berpapan. Satu orang yang pertama dilihatnya adalah wajah bakpao Bocah Tabib Belik Ludah. Anak gemuk itu sedang mengaduk sesuatu di dalam wadah mangkuk.
“Pegang, Nek,” kata Belik Ludah sambil meletakkan mangkuk tersebut begitu saja di dada tua Tengkorak Pedang Siluman.
“Apa ini?” tanya si nenek sambil ganti memegangi mangkuk tersebut.
“Obat. Jika aku yang balurkan ke seluruh tubuh Nenek, nanti aku dituduh kurang ajar,” jawab Belik Ludah.
“Siapa kau, Bocah?” tanya Tengkorak Pedang Siluman. Dia tidak mengenal Belik Ludah.
“Namaku Belik Ludah, Nek. Aku Tabib Kerajaan Siluman,” jawab Belik Ludah sambil sibuk membereskan sampah racikan obatnya.
“Rupanya Ratu Siluman tidak membunuhku,” ucap Tengkorak Pedang Siluman lirih kepada dirinya sendiri, tapi didengar oleh Belik Ludah.
“Gusti Ratu itu orang baik. Tidak suka membunuh orang yang tidak bersalah,” timpal Belik Ludah.
“Di ma ….”
Dak!
“Akk!” jerit Tengkorak Pedang Siluman tiba-tiba, memutus kata-katanya sendiri saat tiba-tiba Belik Ludah memukul jidatnya dengan batok kelapanya. Ia pun berubah marah, “Apa yang kau lakukan, Anak Setan?!”
Bentakan itu seketika membuat Belik Luda buru-buru kabur ke pintu kamar yang terbuka. Dia berhenti di sana sambil memandang kepada Tengkorak Pedang Siluman lagi.
“Aku … aku … hanya mengobatimu, Nek!” sahut Belik Ludah tergagap karena takut.
“Tapi kenapa memukul dahiku?!” tanya si nenek masih berteriak marah.
“Karena memang seperti itu cara pengobatan Belik Ludah, Nek,” jawab satu suara perempuan sambil sosoknya berjalan masuk ke dalam kamar. Sosok cantik berjubah hitam dan berambut panjang itu tidak lain adalah Alma Fatara, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi. “Bagaimana kondisimu, Nek?”
“Tidak mati,” jawab Tengkorak Pedang Siluman ketus dengan wajah yang masam.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang kondisinya sudah sehat wal afiat.
Alma sudah menyembuhkan diri menggunakan Bola Hitam. Saat itu dia membawa sebuah pedang bagus berwarna biru gelap yang gagangnya berbentuk kepala ular menganga lebar. Sarung pedang itu memiliki ukiran bergambar sejumlah ular yang berbeda jenis. Itulah Pedang Sepuluh Siluman yang kesaktiannya nyaris membunuh Alma Fatara.
“Kenapa kau tidak membunuhku, Anak Siluman?” tanya Tengkorak Pedang Siluman.
__ADS_1
Alma Fatara lalu duduk di sisi ranjang dan kemudian menjawab.
“Pertama, aku butuh alasan untuk membunuh seseorang. Aku merasa tidak memiliki alasan untuk membunuh Nenek Siluman. Kedua, aku sudah berjanji kepada Raja Tanpa Gerak untuk tidak membunuh anggota Keluarga Tengkorak yang lain, selain orang yang ingin membunuh Raja Tanpa Gerak dan cucunya.”
“Kau memiliki alasan untuk membunuhku. Jika kau membiarkan aku hidup, maka aku akan mencoba membunuhmu lagi,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
“Hahaha! Tidak semudah itu, Nek. Jika aku sudah pernah mengalahkan Nenek, berarti Nenek tidak akan bisa menang lagi. Kecuali Nenek bermain curang. Tapi aku rasa, Nenek tidak mungkin melakukannya. Nenek sudah tua. Nenek akan ditertawakan oleh kaum siluman jika mencurangi anak ingusan seperti aku.”
“Lalu apa yang ingin kau lakukan terhadapku sekarang?” tanya Tengkorak Pedang Siluman.
“Mengobatimu sampai sembuh, Nek. Aku pun hanya ingin memberi tahu, sesuai aturan Kerajaan Siluman, semua harta bendamu menjadi milik Kerajaan Siluman. Kedua pedang pusakamu kini menjadi milik kami dan aku juga mengambil kedua gelang emas Nenek. Aku juga ingin menawarkan Nenek untuk mengabdi kepada Ratu Siluman dan menjadi abdiku,” tutur Alma Fatara.
“Aku tidak sudi menjadi abdi pembunuh adikku!” tolak Tengkorak Pedang Siluman.
“Hahaha! Baiklah, Nek. Aku hanya menawarkan, aku tidak akan memaksa. Aku ingin meminta restumu mewarisi pedang hebat ini,” kata Alma Fatara.
“Sesuai peraturanmu, kedua pedangku menjadi milikmu.”
“Apa nama pedang ini, Nek?” tanya Alma Fatara sambil memandangi pedang yang ada di pangkuannya.
“Pedang Sepuluh Siluman dan Pedang Siluman Hijau,” jawab Tengkorak Pedang Siluman jujur.
“Lalu, bagaimana cara mengeluarkan kesaktiannya? Atau kesaktiannya sudah habis karena aku menghancurkan semua silumannya?”
“Setelah tiga hari, Pedang Sepuluh Siluman akan terisi kembali. Sebagai pendekar, kau tidak perlu bertanya bagaimana cara mengeluarkan siluman-siluman itu,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
“Siapa anggota Keluarga Tengkorak yang ingin membunuh Raja Tanpa Gerak?” tanya Tengkorak Pedang Siluman.
“Orang yang menginginkan Gelang Permaisuri Surga dan memiliki dendam kepada Demang Mahasugi,” jawab Alma Fatara.
“Tengkorak Sabit Putih?” terka Tengkorak Pedang Siluman.
“Nenek pun bisa menerkanya dengan cepat. Namun, sebelum aku membunuhnya, aku harus benar-benar memastikan bahwa dialah dalang di balik orang-orang yang diperintahkan,” tandas Alma Fatara.
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya si nenek.
“Hanya sampai pagi,” jawab Alma Fatara, lalu bangkit berdiri. “Sudah waktunya aku pergi membunuh!”
Alma Fatara lalu berjalan meninggalkan Tengkorak Pedang Siluman yang memang belum bisa bangun dari berbaringnya.
“Jika Nenek Siluman memarahimu, pukul saja dengan batok kelapamu itu, Belik,” kata Alma Fatara kepada Belik yang sejak tadi berdiri memeluki kusen pintu.
Alma Fatara terus berjalan. Ternyata di luar kamar telah menunggu Gagap Ayu dan keempat anak buahnya. Mereka langsung mengikuti Alma Fatara berjalan menuju ke luar rumah Demang Mahasugi.
__ADS_1
Di teras rumah, sudah ada Demang Mahasugi, Putri Cicir Wunga, Lolongo yang kini bertongkat, dan Ronga Kamboja.
Di dalam pasukan itu ada juga lima pendekar milik Demang Mahasugi yang dipimpin oleh Begar dan Nuri Glatik. Selain itu, tiga trio gendut pengurus kuda ikut serta, yaitu Betok, Kungkang dan Jungkrik.
“Kembang Bulan, bawakan pedang baruku!” perintah Alma Fatara sambil melemparkan Pedang Sepuluh Siluman kepada Kembang Bulan yang sudah duduk di punggung kuda.
Crak!
“Baik, Gusti Ratu!” sahut Kembang Bulan senang setelah menangkap pedang tersebut dengan tangkas. Senyumnya kemudian berkepanjangan karena penunjukan itu jelas suatu kepercayaan yang diberikan oleh Ratu Siluman.
“Wow! Pedang yang mengerikan!” kata Murai Ranum kepada Kembang Bulan.
“Hihihi!” Kembang Bulan hanya tertawa. Ia lalu memasang pedang itu di punggungnya, karena pedang tersebut memang memiliki tali selempangan, membuat dada gadis cantik itu kian menonjol.
Sementara Pedang Siluman Hijau sudah berada di punggung Alis Gaib. Ketika berada di Pasar Tulang, Alis Gaib adalah anggota pasukan yang tidak kebagian jatah senjata. Maka hari inilah dia diberi senjata pusaka yang tidak kalah hebat dari rekan-rekan seangkatannya. Kepandaiannya bermain golok tentunya tidak begitu menyulitkannya untuk bermain pedang.
“Kami berangkat, Paman, Bibi!” pamit Alma Fatara kepada Demang Mahasugi dan istrinya.
Pasangan suami istri itu hanya mengangguk. Mereka telah mempercayakan nyawa Bandar Bumi kepada Alma Fatara dan pasukannya.
“Janda Beliaaa! Pulanglah dengan selamat!” teriak Lolongo tiba-tiba.
Bukan hanya Janda Belia yang terkejut, hampir semua orang terkejut. Teriakan itu jelas mewakili isi perasaan putra adipati terhadap mantan kekasih saudara kembarnya itu.
“Aku akan kembali membawa kemenangan, Kakang!” sahut Janda Belia yang diikuti oleh tawa ramai para sahabatnya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil melompat ke punggung kuda pinjamannya.
Lima Dewi Purnama juga menyusul melompat ke kuda-kudanya.
“Berangkat!” seru Alma Fatara singkat.
“Pasukaaan, siapa kitaaa?!” teriak Panglima Besar Anjengan sambil mengangkat tinggi pedang pusakanya yang terhunus.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh pasukan sambil mengacungkan kepal tangan kanan ke udara.
“Hua hua hua!”
“Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
__ADS_1
“Serbu Kademangan Nuging Muko! Hea hea!” teriak Anjengan lagi.
“Hea hea!” gebah para pendekar tersebut sambil menghentakkan tali kekang kuda. (RH)