Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 36: Menyusup ke Bulan Emas


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Giling Saga terus mengikuti lari Yono menyusuri parit sempit tapi dalam itu, seperti parit perlindungan perang.


Yono yang bertubuh mungil berlari lincah, seolah-olah parit berair kecil itu sudah menjadi rute larinya setiap hari. Giling Saga memang merasa kerepotan mengikuti Yono, tetapi dia tidak mau menyerah, sebab mereka harus berlomba dengan senja.


Menurut Yono, parit itu adalah jalan teraman untuk melewati beberapa pos penjagaan orag-orang Perguruan Bulan Emas di luar perguruan. Mereka memang sudah melewati tiga pos dengan aman.


Tiba-tiba Yono berhenti berlari dan merunduk dengan tangan kanan memberi tanda “diam”. Giling Saga mau tidak mau ikut berhenti dan berjongkok diam. Ia tidak tahu penyebab Yono berhenti, tapi dugaannya karena di sisi atas ada orang.


“Tunggu sebentar, Bombong. Aku terdesak sekali!”


Terdengar suara seorang lelaki kepada rekannya di sisi atas Yono dan Giling Saga.


“Segera, kita sudah telat!” sahut lelaki kedua.


Saat itu, posisi Yono dan Giling Saga berada di parit, yang salah satu sisi atas tanahnya ditumbuhi rerumputan yang menjuntai ke bawah, tepatnya memayungi atas kepala keduanya.


Serr!


Alangkah terkejutnya Yono saat melihat tetes-tetes air jatuh dari rumput-rumput yang menjuntai di atas. Beruntung tetes air yang seperti hujan lokal itu jatuh satu langkah di depannya.


Giling Saga ingin tertawa melihat air kencing yang jatuh di depan wajah Yono. Namun, untung tidak kena.


“Gara-gara kau kencing jadi aku ketularan ingin kencing juga,” gerutu salah satu lelaki di sisi atas, sambil berdiri di sisi rekannya.


“Hahaha!” tawa lelaki satunya sambil menengok melihat punya rekannya. “Wih, aku baru tahu kalau punyamu belum dibotak.”


“Sampai sekarang aku ngeri jika punyaku mau dibotak.”


“Hahaha!”


Serr!


Yono benar-benar dibuat naik pitam. Pasalnya air kencing lelaki kedua jatuh di rumput tepat di atasnya, lalu selanjutnya menetesinya.


Namun, Yono menahan diri sekuat jiwa demi keprofesionalan tugasnya sebagai pemandu. Jika dia bertindak menghukum kedua lelaki di atas, kemungkinan besar mereka akan ketahuan. Ia hanya mengerenyit dengan wajah yang memerah.


Namun, pengencingan itu tetap saja masalah waktu, hingga akhirnya kucuran air seni terhenti. Kedua lelaki yang berseragam kuning itu akhirnya berbalik pergi meninggalkan pinggir parit setelah menamatkan pipisnya.


“Hahaha!” tawa datar Giling Saga setelah yakin bahwa dua orang di atas sudah pergi jauh.


“Jangan tertawa. Beruntung aku masih bisa menahan diri, jika tidak, habis mereka, tapi kita akan ketahuan,” kata Yono dengan setengah berbisik. “Ayo lanjut!”


Yono kembali melanjutkan berlari di dalam parit itu. Giling Saga pun harus kembali bekerja keras mengikuti si lelaki mini.


Hingga akhirnya mereka berhenti karena parit itu berujung udara lepas, yaitu jurang ke bawah. Jadi mereka harus naik ke atas. Namun masalahnya, di atas ada bangunan bambu yang menjadi pos penjagaan.

__ADS_1


Ada sejumlah lelaki berseragam kuning di bangunan bambu yang berbentuk seperti pagar benteng yang tanggung, tidak sepenuhnya menutup jalan di atas sana.


“Kita harus melewati pos ini tanpa terlihat,” bisik Yono kepada Giling Saga yang merapat kepadanya sambil tutup hidung.


Mereka mengintai dari celah-celah rumput yang menjuntai di atas kepala mereka.


“Bagaimana? Jika kita naik, mereka pasti akan melihat kita,” tanya Giling Saga berbisik.


“Kita harus menunggu ada petinggi perguruan yang masuk atau keluar,” jawab Yono, tetap berbisik.


“Berapa lama kita akan menunggu? Hari mulai gelap.”


“Entahlah. Hanya itu jalan satu-satunya jika ingin masuk tanpa diketahui. Jika berhasil melewati ini, dua pos lainnya akan mudah. Setelah itu masuk ke dalam perguruan lewat jalan rahasia. Lalu kau aku tinggalkan,” kata Yono.


“Baiklah,” kata Giling Saga pasrah.


Setelahnya, mereka hanya diam mengamati pergerakan orang-orang berseragam kuning di atas pos yang seperti benteng bambu, tapi tanggung.


Waktu terus berputar, meski tidak ada jam dinding. Alam secara perlahan mulai meremang.


“Alam bisa-bisa gelap lebih dulu,” keluh Giling Saga.


“Apa boleh buat,” timpal Yono.


Setelahnya mereka kembali diam menunggu.


“Ada petinggi perguruan yang datang. Ayo cepat naik, tapi jangan berisik!” bisik Yono.


Yono lalu melompat naik dengan ringannya. Ia menggunakan sedikit ilmu peringan tubuh agar mendarat tanpa suara yang keras. Giling Saga cepat mengikuti melakukan hal yang sama.


Semendaratnya di tanah atas, keduanya langsung merunduk sambil berlari cepat seperti seorang ninja. Giling Saga hanya mengikuti Yono.


Jika seandainya ada penjaga yang menengok ke belakang, bisa jadi pandangannya bisa menangkap pergerakan kedua penyusup itu.


“Hormat kepada Ketua Sayap Kanan Bulan Emas!”


Terdengar seseorang berteriak memberi komando.


“Hormat!” seru seluruh murid Perguruan Bulan Emas serentak sambil membungkuk dan kedua tangannya bertemu di depan dahi yang menunduk. Posisi mereka ada di sisi atas, sedangkan orang yang dihormati berjalan di bawah dengan menunggang kuda bersama dua murid yang mengawalnya.


Ternyata, orang yang disebut sebagai Ketua Sayap kanan Bulan Emas adalah seorang wanita cantik, tapi terkesan lelaki. Ya, pokoknya seperti lelaki.


Yono dan Giling Saga berhasil menyelinap di balik semak belukar yang tumbuh di bagian sudut belakang benteng pagar. Selanjutnya, mereka bisa dengan leluasa meninggalkan kawasan pos itu. Mereka lewat di sela-sela pepohonan yang sudah semakin gelap.


Ternyata, Yono dan Giling Saga harus melewati dua pos penjagaan lagi, tetapi kondisi tempatnya lebih mendukung untuk menyusup. Selain faktor gelap, ada bagian titik yang mudah untuk dipakai berlindung dari pandangan penjaga.


Di pos terakhir adalah daerah berbatu. Yono dan Giling Saga harus merayap di medan berkerikil sejauh belasan tombak demi tidak terlihat.


Pada akhirnya, mereka berhenti sejenak di balik rimbunan kebun bambu. Mereka bisa melihat keberadaan bangunan Perguruan Bulan Emas yang diapit oleh dua tebing batu, mirip seperti bangunan yang terjepit.

__ADS_1


Bangunan berbenteng batu itu memiliki gerbang besar yang megah dengan warna kuning berbingkai warna keemasan. Obor-obor besar sudah menyala di banyak titik. Benteng batu yang tinggi membuat bangunan di dalam tidak terlihat dengan leluasa. Namun, ada satu bangunan tinggi yang atap gentengnya terlihat jelas berwarna biru terang.


Jika dilihat menggunakan kamera drone di langit, maka bangungan perguruan akan nyaris tidak terlihat, sebab posisinya di jurang dari dua pertemuan bukit. Meski demikian, tidak ada akses yang bisa dilewati jika ingin lewat dari atas kedua bukit yang merupakan bagian dari Bukit Tujuh Kepala.


Meski sudah gelap, tetapi jumlah orang yang berjaga di gerbang utama perguruan terbilang banyak, baik di sisi bawah maupun di sisi atas.


“Perguruan ini besar sekali,” ucap Giling Saga.


“Karena itu mereka merasa merekalah perguruan terhebat di dunia persilatan. Kalian akan buang-buang nyawa jika menyerang hanya dengan delapan orang,” kata Yono. “Ayo, aku bawa kau ke jalan masuk rahasia.”


Giling Saga lalu mengikuti pergerakan Yono yang pergi semakin menjauhi gerbang utama, tetapi mendekati dinding paling ujung di sisi depan perguruan.


Yono berhenti di sebuah semak belukar lebat yang tumbuh liar di ujung dinding perguruan. Mereka tidak merapat ke dinding.


Yono bekerja menyingkap semak belukar. Ternyata ada sebuah lubang batu di balik semak itu.


“Ayo!” ajak Yono lalu bergerak merayap masuk ke dalam lubang batu yang gelap gulita.


“Lubang ini kecil,” kata Yono.


“Masuk saja, jika tidak muat, berarti kau tidak beruntung!” kata Yono masih setengah berbisik.


Mau tidak mau, Giling Saga merayap masuk ke dalam lubang batu.


“Akk! Aku tersangkut!” keluh Giling Saga, saat merasakan pinggulnya tertahan.


“Gerakkan!” kata Yono dari depan.


Giling Saga lalu memutar posisi pinggulnya. Beruntung bisa lolos.


Pada akhirnya, keduanya keluar dari lubang dengan selamat, tanpa luka atau dipatuk ular.


Kini, mereka berada di sebuah ruangan gelap, hanya ada sedikit cahaya obor yang posisinya cukup jauh.


“Di mana ini?” tanya Giling Saga.


“Di dalam gudang. Ini sudah di dalam Perguruan Bulan Emas. Aku sudah mengantarmu masuk. Selanjutnya jaga nyawamu sendiri, Giling. Tugasku sudah selesai,” kata Yono.


“Lalu bagaimana aku keluar?” tanya Giling Saga.


“Lewat lubang ini lagi, atau lewat gerbang, atau lewat air terjun di belakang perguruan,” jawab Yono. Lalu pamitnya, “Aku pergi.”


“Sebentar!” tahan Giling Saga.


“Tolong sampaikan kepada teman-temanku. Jika sampai besok siang aku tidak kembali, seranglah perguruan ini jika semua murid Perguruan Jari Hitam sudah berkumpul satu,” ujar Giling Saga.


“Baik. Berhati-hatilah!” ucap Yono.


Giling Saga hanya mengangguk. Yono pun masuk kembali ke dalam lubang yang posisinya terlindungi oleh tumpukan kayu-kayu usang yang sudah tidak terpakai. (RH)

__ADS_1


__ADS_2