
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Di permukaan telaga telah muncul sejumlah bongkahan batu es besar. Suhu air telaga mulai terpengaruh oleh dingin.
Alma Fatara kembali naik ke permukaan. Ia mendarat di bongkahan es yang mengapung. Alma melakukan gerakan pelan bertenaga dalam. Gerakan itu ditutup oleh penarikan napas yang panjang. Dalam waktu yang sekilas, tiba-tiba sepasang mata Alma menyala ungu.
Jbur!
Alma Fatara lalu kembali terjun masuk ke dalam air telaga yang dingin. Tubuh Alma Fatara langsung menyelam dengan cepat menuju istana karang yang ada di dasar. Siluman Ikan Wuwul cepat pula berenang menyelam. Ia bahkan ketinggalan oleh Alma. Di dalam hati, Wuwul hanya bisa geleng-geleng melihat kesaktian gadis jelita itu.
Ternyata, tidak ada lagi prajurit Siluman Ikan yang datang menyerang atau menyambut. Namun, ketika ada sekelompok prajurit Siluman Ikan yang berenang di sekitar istana karang, Alma Fatara dan Wuwul cepat sembunyi di balik lebatnya tumbuhan dasar telaga.
Setelah rombongan prajurit Siluman Ikan itu berlalu, Wuwul menunjukkan ke satu arah. Alma memberi isyarat agar Wuwul berenang lebih dulu. Wuwul berenang lebih dulu. Alma mengikuti di belakang.
Mereka berhenti di sebuah lubang yang gelap. Meski gelap, tetapi Wuwul tidak ragu untuk berenang masuk. Alma pun mengikuti dengan kepercayaan tinggi. Ketika keadaan benar-benar gelap, Alma Fatara mengeluarkan sinar emas menyilaukannya di tangan kirinya sebagai penerangan.
Tidak berapa lama, mereka berdua timbul di sebuah permukaan air yang ada di dalam sebuah ruangan gua. Anehnya, di tempat itu ada ruangan yang berudara.
“Ada ruangan berudara?” sebut Alma seakan tidak percaya.
Ruangan gua itu identik berwarna hijau karena dinding gua dilapisi tumbuhan hijau seperti lumut.
“Ruangan apa ini, Kakang Wuwul?” tanya Alma.
“Siluman Ikan lebih suka berada di luar air karena bisa menghirup udara yang terasa segar. Jadi kami membuat ruang-ruang berudara di dalam istana,” jelas Wuwul.
“Lalu di mana ruangan raja kalian?” tanya Alma.
“Aku tidak berani masuk. Aku sudah menuntunmu sampai ke dalam, berarti tugasku sudah selesai, Alma. Lebih baik aku menunggu di permukaan,” ujar Wuwul.
“Baik. Terima kasih, Kakang Wuwul.”
Wuwul lalu kembali menyelam untuk keluar dari Istana Siluman Ikan. Sementara Alma bergerak naik ke lantai batu yang lembab.
“Setidaknya ini tidak menyulitkan, akan mempermudah,” pikir Alma.
Ia lalu berjalan mengikuti lorong gua yang ada.
Ketika Alma hendak memasuki lorong gua yang lain, tiba-tiba ia berpapasan dengan dua prajurit Siluman Ikan.
“Huwwaaah!” teriak Alma sambil menghentakkan wajahnya dengan maksud untuk mengejutkan kedua prajurit Siluman Ikan.
“Hiaaa!” pekik kedua prajurit itu sambil termundur karena terkejut. Satu orang bahkan sampai jatuh terduduk.
Meskipun Alma Fatara cantik jelita, tetapi bagi prajurit Siluman Ikan, Alma Fatara seperti kuntilanaknya di dunia Siluman Ikan.
__ADS_1
Namun kemudian, kedua prajurit Siluman Ikan tersadar bahwa Alma adalah penyusup.
Seet! Seet!
Zing! Blar! Blar!
Kedua prajurit Siluman Ikan itu kompak melesatkan sinar merah dari kedua matanya. Namun, Alma memasang ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Empat sinar merah itu mengenai lapisan sinar ungu tebal yang melindungi tubuh Alma.
Hasilnya, serangan itu memantul dan mengenai pemiliknya masing-masing. Tubuh kedua prajurit Siluman Ikan itu hancur rusak berat, sekaligus membunuhnya.
Alma Fatara melanjutkan penyusurannya lebih dalam.
Setelah masuk semakin jauh, Alma keluar ke sebuah ruangan gua yang besar dan memiliki langit-langit nan tinggi. Ada dua kolam air. Di salah satu sisinya ada sebuah singgasana dengan kursi tahta yang terbuat dari batu pualam warna kebiruan. Kursi tahta itu kosong.
Namun, di ruangan besar itu ada sebanyak dua belas prajurit Siluman Ikan yang sedang berdiri berjaga. Mereka semua terkejut melihat kemunculan Alma Fatara yang tidak mereka kenal. Maklum belum kenalan.
“Hei! Siapa kau, Perempuan?!” bentak seorang prajurit Siluman Ikan.
Kedua belas prajurit Siluman Ikan itu segera bergerak dan mengepung posisi Alma.
“Hahaha!” tawa Alma karena disebut “Perempuan”. “Aku Alma Fatara, utusan Desa Rangitan. Aku ingin menuntut nyawa kepada Raja Siluman Ikan!”
“Seraaaang!” teriak salah satu prajurit Siluman Ikan yang bisa langsung menyimpulkan maksud kedatangan Alma.
Serentak kedua belas Siluman Ikan bergerak menyerang Alma Fatara. Alma tidak mau menunggu serangan datang kepadanya.
Alma Fatara melesatkan sinar kuning emas menyilaukan mata lurus ke atas dan menghantam langit-langit ruangan. Satu ledakan dahsyat menghancurkan langit-langit dan mengguncang tempat itu seperti ada gempa bumi.
Dari atas berjatuhan runtuhan bebatuan yang besar-besar. Beberapa prajurit Siluman Ikan harus tertimpa. Kondisi menjadi kacau seketika. Sementara Alma berlindung dengan ilmu perisainya.
Sumber rusuh itu ternyata mengundang kedatangan banyak prajurit Siluman Ikan. Mereka langsung mengepung keberadaan Alma. Ada sekitar lebih dari lima puluh prajurit Siluman Ikan yang datang mengepung Alma.
Ziiing!
Alma Fatara telah memutarkan Bola Hitam di atas kepalanya seperti koboi sedang memutar tali lasso. Meski Bola Hitam tidak memiliki tali pengikat, tetapi dia bisa diputar meski lepas dari pegangan.
Di dalam lingkaran putaran Bola Hitam tercipta piringan sinar biru yang mendengung nyaring memberi pesan kematian.
“Mundur kalian semua, atau jangan salahkan jika kalian mati!” seru Alma Fatara mememperingatkan.
“Seraaang!” teriak seorang pemimpin Prajurit Siluman Ikan.
Ziiing!
Seiring para prjurit bergerak hendak menangkap atau menghajar Alma, Bola Hitam Alma lemparkan ke samping. Bola Hitam itu tidak melesat jauh, tetapi kembali ke tangan Alma seperti yoyo. Yang melesat adalah piringan sinar biru.
Sinar itu melesat ke samping, tapi berbelok menciptakan garis orbit sendiri.
__ADS_1
Alma Fatara dengan gesit menghindari serangan fisik yang berniat menghajar atau mencekalnya.
Ziiing! Sreets!
Di saat Alma sibuk menghindari lawan, kejadian mengerikan terjadi ketika piringan sinar biru yang melesat memutar, sangat cepat menerabas tubuh belasan prjurit Siluman Ikan. Sinar biru itu memangkas rata tubuh yang dipotongnya menjadi dua bagian. Meski Siluman Ikan bersisik tebal, tetapi tidak ada yang kebal dari kesaktian Bola Hitam.
Melihat kematian sejumlah besar rekan-rekannya hanya dengan sekali serang, para prajurit Siluman Ikan terkejut.
“Mundur! Jika tidak ingin mati, jangan ada yang menyerang!” seru Alma memperingatkan. Niatnya adalah ia tidak ingin membunuh semua prajurit Siluman Ikan. Bagaimanapun, mereka juga seperti manusia yang membutuhkan hidup.
“Seraaang!” teriak seorang Siluman Ikan. Entah apakah dia pemimpin prajurit atau bukan.
Sess sess sess …!
Para Siluman Ikan ramai-ramai melesatkan sinar merah dari sepasang mata mereka menyerang Alma.
Zing!
Sess sess sess …!
Blar blar blar …!
Menghadapi serangan berjemaah itu, Alma Fatara cukup dengan memasang Tameng Balas Nyawa. Akibatnya, semua sinar merah kecil yang menyerangnya terpantul lurus yang menyerang balik para pemiliknya sendiri.
Ada sekitar sepuluh prajurit Siluman Ikan yang hancur tubuhnya. Ada pula yang sigap menghindar.
“Sudah aku peringatkan agar tidak menyerang!” teriak Alma lalu melesatkan Bola Hitam yang kemudian menggesek lantai batu.
Cess! Sresss!
Dari gesekan itu tercipta jalaran api biru yang sangat cepat ke arah depan. Api yang muncul bukan hanya segaris, tetapi meluas membentuk pola kerucut yang semakin jauh semakin melebar di lantai.
“Panas! Panaaas! Akk …! Panasss!” teriak para prajurit Siluman Ikan yang terkena api biru dan terbakar.
Jbur! Jbur! Jbur …!
Belasan prajurit Siluman Ikan yang terbakar buru-buru berlari melompat ke dalam air kolam.
“Aaak! Panaaas! Panas panas!” teriak para prajurit itu di dalam kolam.
Ternyata, api biru yang membakar tubuh para Siluman Ikan tidak bisa padam oleh air. Api itu tetap menyala membakar tubuh Siluman Ikan. Jeritan-jeritan mereka terdengar sungguh menyayat hati dan bising, lebih berisik dari knalpot kaleng.
“Siapa orang yang membunuhi rakyatku?!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggelegar keras, bisa menandingi tingginya nada jeritan para prajurit Siluman Ikan. (RH)
***********
__ADS_1
Alihkan dukungan kalian ke Chat Story Author yang berjudul "Alur Cinta Si Om Genit" dengan vote, like, komen dan gift-mu, karena chat story Om sedang ikut lomba hingga Januari 2022. Biar Om Rudi senang dan tambah semangat untuk berkarya.