
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
“Awas kepalamu!” teriak Anjengan sambil menyambar kepala Geranda dan menekannya ke bawah, bersama ia yang juga merunduk.
Wuut!
Sebatang kaki Layang Putu yang bersinar kuning menyala berkelebat di atas bungkukan sepasang pemuda itu.
“Awas!” Gantian Geranda yang berteriak sambil menarik belakang baju Anjengan agar mundur menjauh, sebab kaki Layang Putu yang lain terlalu cepat menyusul.
Bukannya mundur, keduanya malah terjatuh sendiri dan terjengkang bersama. Kondisi keduanya jelas akan menjadi sasaran empuk murid dari Galah Larut.
“Mati kita!” pekik Anjengan panik.
“Matilah kalian!” seru Layang Putu yang tidak mau membuang kesempatan. Ia melompat bersalto cepat dengan satu kaki diluruskan dan mengapak ke arah perut gendut Anjengan.
“Aakk!” jerit Anjengan lebih dulu.
Dak! Set!
“Akhr!” jerit Layang Putuh sambil cepat melempar tubuhnya menjauh dari kedua lawannya.
Sedetik sebelumnya, kapakan tungkai kaki Layang Putuh yang sangat panas membuat Anjengan menjerit ngeri. Namun, pemasangan pedang di atas badan membuat kaki Layang Putu tertahan oleh Pedang Macan Setan yang bersarung hijau gelap. Ternyata pedang itu kuat menahan kaki maut Layang Putu.
Pada saat itu, Geranda yang masih terbaring satu tanah, bukan satu ranjang, dengan Anjengan, melesatkan satu senjata barunya berupa koin kepeng. Jarak yang begitu dekat membuat Layang Putu tidak bisa menghindar.
Kepeng itu menancap masuk ke dada kiri Layang Putu yang membuatnya menjerit dan melempar tubuhnya menjauhi kedua lawannya.
Buru-buru Geranda bangun berdiri. Ia cepat membantu Anjengan bangun dengan menarik tangan agar sudi berdiri. Di sisi lain, Layang Putu segera bangun pula. Kini ada darah yang mengalir dari dadanya yang berlubang. Masih untung, kepeng Geranda tidak masuk mengetuk jantung murid tertua Galah Larut itu.
“Cabut pedangmu, Anjeng!” kata Geranda agak berteriak kepada Anjengan.
“Aku belum percaya diri memainkan pedang ini!” kilah Anjengan dengan berteriak pula. Lalu tiba-tiba dia berteriak, “Awas!”
Buk! Sess!
Konyolnya dua orang itu. Saking paniknya, Anjengan berlari ke kanan, sementara Geranda berlari ke kiri. Tanpa sepakat, keduanya bertabrakan badan depan. Gendutnya Anjengan membuat mereka berdua saling memantul berpisah lalu kembali saling terjengkang. Seiring itu, sinar merah berekor melesat melintas di antara kedua tubuh mereka yang baru saja bertabrakan. Sinar merah panas itu benar-benar lewat di depan wajah mereka berdua, membuatnya warna wajah mereka memerah seperti udang rebus matang.
Sess! Srass!
Kembali satu sinar merah berekor melesat dari tendangan jarak jauh Layang Putu kepada Anjengan. Kondisi yang seperti kecoa terbalik, membuat Anjengan kembali memasang sarung pedangnya guna menangkis.
Hasilnya, tubuh berlemak Anjengan terlempar dan bergulingan di tanah.
Sess! Bluss! Blarr!
“Aak!” jerit Geranda, ketika sinar merah berekor juga menyerangnya dalam kondisi barada di tanah. Ia tangkal sinar merah itu dengan tangan yang menggenggam sinar kuning berwujud bunga teratai.
__ADS_1
Ternyata ilmu Teratai Hati Emas tidak sanggup melawan kesaktian Layang Putu. Ledakan tenaga sakti yang tercipta membuat Geranda terpental lalu jatuh berdebam. Lagi-lagi tidak mau jauh-jauh dari Anjengan.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Geranda yang mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.
“Geranda, apakah kau tewas?” tanya Anjengan panik sambil beringsut meraih tangan pemuda hartawan itu.
“Kalau aku mati, aku tidak akan batuk!” sentak Geranda sambil menahan sesak yang parah pada dadanya. Lalu teriaknya, “Dia datang lagi!”
“Tenang, aku akan melindungimu!” seru Anjengan sambil cepat bangkit.
Baru saja Layang Putu hendak melakukan agresi terhadap Anjengan yang belum siap kuda-kudanya, tiba-tiba ….
Buk!
Tiba-tiba dari arah samping berkelebat seorang pemuda yang menerjang Layang Putu. Pemuda itu tidak lain adalah Arung Seto. Terjangan si pemuda tampan itu mengejutkan Layang Putu, membuatnya refleks menangkis dengan tangan kirinya, tetapi tetap membuatnya terdorong jatuh.
“Waaah! Arung Seto, mimpi apa aku nanti malam, sampai-sampai kau datang sebagai pahlawanku! Hihihi!” pekik Anjengan.
“Anjeng, jangan tergoda oleh pesonanya, dia itu kekasih si burung galak!” seru Geranda kepada Anjengan.
“Anjeng, cabut pedangmu!” seru Arung Seto sambil bergerak mundur, karena Layang Putu sudah melompat dan langsung menyerangnya dengan sengit.
Arung Seto yang bersenjata pedang harus terkejut ketika dia menantang kaki Layang Putu dengan tebasan pedang biasanya. Ia menebas pergelangan kaki kanan Layang Putu yang bersinar kuning membara. Namun, pedang Arung Seto harus patah.
“Aku tidak bisa bermain pedang!” sahut Anjengan.
“Pedang itu tergantung tenaga saktimu, Anjeng!” teriak Geranda pula.
Wuss! Ctar!
Sing!
Akhirnya, Anjengan meloloskan Pedang Macan Setan.
“Hiaaat!” teriak Anjengan. Sambil berlari dia menebas-nebaskan pedangnya menyerang Layang Putu seperti sedang memangkas semak belukar di hutan.
Ternyata, Layang Putu tidak berani mengadukan tendangannya dengan pedang Anjengan.
“Pegang pedang dengan lebih santai, Anjeng!” teriak Arung Seto mengarahkan. “Langkahmu jangan seperti babi menyeruduk, menarilah seperti burung bangau!”
“Iya iya iya!” sahut Anjengan sambil terus berusaha mengejar Layang Putu yang untuk sementara memilih terus mengelak. “Waw!”
Saat Pedang Macan Setan berusaha menjangkau tubuh Layang Putu, tiba-tiba bilah pedang yang merah gelap milik Anjengan mengeluarkan kilatan listrik warna hijau.
“Hahaha! Pedangku mulai marah!” teriak Anjengan girang.
Wuss! Ctar!
Tiba-tiba Arung Seto berkelebat melintas sambil melesatkan sinar biru berpendar. Sambil menghindari serangan pedang Anjengan, Layang Putu mengadu tangan bersinar hijaunya dengan serangan Arung Seto.
__ADS_1
Ledakan tenaga sakti terjadi. Arung Seto yang melintas di udara jadi terdorong keras ke lain arah, membuatnya mendarat sempoyongan. Sementara Layang Putu tersentak dan hanya mundur setindak.
Set! Tseb!
“Akh!” jerit tertahan Layang Putu dengan tubuh langsung jatuh terlutut satu kaki. Hal itu terjadi karena satu koin kepeng melesat menembus paha kanannya.
Serangan dari Geranda itu membuat Layang Putu berada di ambang kematian, karena di dekatnya ada algojo Pasukan Genggam Jagad yang sedang memegang pedang.
Melihat peluang itu, buru-buru Anjengan mengayunkan pedang pusakanya. Namun, Layang Putu menolakkan kaki kirinya dengan kuat, membuat tubuhnya terlempar mundur. Sementara pedang Anjengan menebas angin belaka.
“Tidak akan aku biarkan kau pergi berbulan madu!” teriak Anjengan sambil melompat naik ke udara.
Set! Tseb! Zerzz!
“Aaakh!”
Saat melompat itu, Anjengan melempar pedangnya ke arah Layang Putu. Namun, lelaki ganteng agak tua itu, masih bisa berguling menghindar.
Namun lagi, saat pedang itu menancap di tanah, dari pusat tancapan menjalar cepat aliran sinar merah gelap ke segala arah. Aliran sinar itu menjangkau tubuh Layang Putu dan menyengatnya.
Layang Putu pun menjerit dengan tubuh mengejang sadis, kejangannya seolah di luar kontrol.
Kondisi itu membuat Layang Putu seperti tidak bisa menguasai keadaan. Makanya, dia tidak tahu ketika Anjengan mendarat di dekatnya dan menghentakkan tangannya.
Dari kedua tangan Anjengan berlesatan bola-bola kecil sinar hijau bening yang banyak.
Pluk pluk pluk …!
Ctar ctar ctar …!
Sinar-sinar hijau seperti gelembungan sabun itu berlesatan hinggap di sekujur tubuh Layang Putu. Kejap berikutnya, sinar-sinar dari ilmu Ubur-Ubur Hijau itu berledakan kecil merusak kulit dan daging tubuh Layang Putu.
“Akk akk akk …!” Layang Putu berjeritan setiap ledakan kecil merusak bagian-bagian tubuhnya.
Akhirnya, Layang Putu berhenti berteriak, meski ledakan pada tubuhnya masih ada yang tersisa. Itu menunjukkan bahwa Layang Putu telah menyusul gurunya ke alam kematian.
“Hahahak!” tawa Anjengan sambil pergi menghampiri Arung Suto.
“Aaak!” jerit Geranda tiba-tiba sambil jatuh tergeletak di tanah dan memegangi perutnya.
Anjengan terkejut melihat Geranda.
“Geranda, apakah kau sudah mati?” tanya Anjengan cemas sambil tergopoh-gopoh menghampiri Geranda dan meninggalkan Arung Seto.
“Jika aku mati, aku tidak akan menjerit!” sentak Geranda merengut, lalu bangkit berdiri tanpa meringis atau merasa kesaktian lagi.
Hal itu membuat Anjengan hanya melongo tidak mengerti apa maksud Geranda. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.