Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 7: Menghukum Iwak Ngasin


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kondisi Iwak Ngasin yang kotor, si gadis desa yang kotor sambil memegangi celananya yang sudah dinaikkan secara lengkap, dan si nenek yang dengan gagah menghunuskan pedangnya.


“Diam kau, Perempuan Ompong!” bentak si nenek marah kepada Alma Fatara.


“Hahahak …!” tawa terbahak rekan-rekan Alma Fatara karena Alma langsung disebut “Perempuan Ompong”.


“Hahaha!” tawa Alma akhirnya setelah sempat diam tercekat.


“Tidak akan aku biarkan kalian menghancurkan desa ini!” seru si nenek.


Sambil tersenyum, Alma turun dari kudanya. Ia melangkah menghampiri si nenek tanpa khawatir dengan pedang yang terhunus tajam.


“Nenek Sayang, kami tidak jahat. Lelaki itu saja yang jahat,” kata Alma sambil menunjuk Iwak Ngasin.


“Jangan mendekat!” bentak si nenek lagi sambil memajukan ujung pedangnya ke tubuh depan Alma.


“Eit, Nenek Sayang!” kelit Alma pelan sambil mundur setindak, menghindarkan kain bajunya dari ketajaman pedang. Lalu katanya lagi dengan lembut, “Kami hanya sekedar lewat. Karena kondisi desa sepi, jadi kami memeriksa.”


“Kalian tidak boleh lewat sebelum lelaki pemerkosa itu aku hukum!” tegas si nenek dengan ekspresi mantap.


Meski si nenek tidak mungkin bisa menghalangi jika rombongan Alma punya keinginan, tetapi Alma mencoba mengikuti mau si nenek.


“Nenek mau memberi hukuman apa?” tanya Alma.


“Memotong buntutnya!” jawab si nenek tegas.


“Tangkap Iwak Ngasin!” teriak Alma tiba-tiba.


“Siap, Gusti Ratu!” teriak Mbah Hitam, Juling Jitu dan Anjengan bersamaan, lalu kompak melompat turun dari kuda.


“Si-si-siap, Gusti Ratu!” teriak Gagap Ayu tertinggal, lalu buru-buru ikut turun dari kuda.


“Almaaa!” teriak Iwak Ngasin panik sambil berlari kencang meninggalkan tempat itu.


“Tangkap pemerkosa ituuu! Hahaha!” teriak Juling Jitu paling semangat, pasalnya dia akan kehilangan saingan jika sampai Iwak Ngasin kenapa-kenapa.


“Jangan biarkan tidur nyenyaaak!” teriak Anjengan pula.


“Hahahak …!” Alma malah tertawa terbahak-bahak melihat Iwak Ngasin lari terbirit-birit.


Cucum Mili dan Riring Belanga hanya tidak habis pikir dengan kerusuhan yang dibuat Alma dan The Gang. Kembang Bulan hanya tersenyum canggung, bingung menyikapi hal itu.


Sementara si nenek dan cucunya jadi terlihat cemas. Kegarangan dan ketegasannya mendadak sirna dari wajah dan sikapnya. Pedangnya sudah ia turunkan.


“Hahaha! Nenek Sayang tidak perlu risau, sebentar lagi teman nakalku itu akan dibawa ke mari dan Nenek bisa hukum,” kata Alma tanpa peduli dengan perubahan sikap si nenek.


Tiba-tiba si nenek turun berlutut dan melepas pedangnya jatuh ke tanah. Hal itu mengejutkan Alma Fatara dan ketiga rekannya di atas kuda.

__ADS_1


“Ayo cepat berlutut, Rarami!” kata si nenek kepada cucunya di belakang.


Gadis berkulit putih itu buru-buru ikut berlutut.


“Sembah ampun kami, Gusti Ratu!” ucap si nenek sambil menghormat dalam cukup rendah, tangannya yang bertemu di depan dahi nyaris menyentuh tanah.


“Apa yang Nenek Sayang lakukan?” kata Alma cepat sambil meraih kedua lengan si nenek dan menuntunnya berdiri. “Aku memang seorang ratu, tapi bukan ratu manusia.”


“Hah!” pekik si nenek lebih terkejut. Pikirnya, jika bukan ratu manusia, berarti ratu setan atau ratu siluman.


“Nenek Sayang tidak usah takut,” kata Alma.


Tiba-tiba ….


“Hukum pemerkosa! Hukum pemerkosa!”


“Pe-pe-pemerkosa! Pe-pe-pemerkosa!”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan tiga orang, salah satunya terdengar gagap.


Mereka semua segera alihkan perhatian ke arah belakang rombongan Alma. Mereka melihat seekor ular besar warna hitam merayap cepat dengan tubuh belakangnya, sementara tubuh atasnya melilit dua kali tubuh Iwak Ngasin yang diangkat ke udara.


Di belakang ular Mbah Hitam, Juling Jitu, Anjengan dan Gagap Ayu berteriak-teriak penus semangat, seperti anak-anak yang sedang mengikuti pengamen banci kaleng.


“Almaaa! Tolooong! Aku tidak mau dihukum!” teriak Iwak Ngasin sambil menangis buaya dan kedua kaki meronta-ronta di udara.


“Hukum pemerkosa! Hukum pemerkosa!” teriak Juling Jitu dan Anjengan.


“Hahahak …! tawa Alma sambil memegangi perutnya.


Melihat kemunculan Mbah Hitam dalam wujud mengerikan, semakin pucat si nenek dan cucunya yang bernama Rarami.


“Nenek Sayang dan Kakak Rarami tidak perlu takut, ular itu pengawalku,” kata Alma menenangkan.


“Oh, rupanya ular itu pengawal Alma,” ucap Riring Belanga kepada Cucum Mili.


“Kau tidak tahu, Panglima?” tanya Cucum Mili. “Lelaki tampan yang selalu diam bersama kita itu adalah ular itu.”


“Oh,” desah Riring Belanga tanda mengerti.


Mbah Hitam akhirnya berhenti tidak jauh dari Alma.


“Silakan Nenek Sayang jika ingin memotong buntut Iwak Ngasin,” kata Alma sambil menahan tawanya.


“Alma! Kenapa kau begitu tega melakukan ini?! Aku ini sahabat terbaikmu sejak kecil. Kenapa harus berakhir dengan kekejaman?!” teriak Iwak Ngasin kencang, seperti anak kecil yang berontak tidak mau disunat.


“Ti-ti-tidak usah, Gusti Ratu. Hamba yang lancang. Hamba tidak mau menghukum pemerkosa itu,” kata si nenek dengan sikap yang sangat melunak.


“Baiklah, Nenek Sayang. Berarti kau memaafkan sahabat nakalku ini?” tanya Alma lagi.

__ADS_1


“Iya,” jawab si nenek terpaksa karena tidak mau ambil risiko.


Alma lalu menghadap kepada Iwak Ngasin yang kakinya masih belum menyentuh tanah karena masih diangkat oleh lilitan Mbah Hitam.


“Iwak Ngasin, ini harus menjadi pelajaran bagimu untuk tidak sembarangan menyergap seorang wanita!” kata Alma serius.


“Aku kira dia dedemit desa, Alma,” kilah Iwak Ngasin yang kedua tangannya juga masuk dalam kuncian lilitan Mbah Hitam.


“Kau selalu berangan-angan ingin menangkap dedemit perempuan, supaya dedemit itu memelas dilepaskan, kemudian kau mau membebaskannya dengan syarat menikahinya!” sahut Juling Jitu bercerita dengan lancar.


“Kau jangan memfitnahku, Jitu!” hardik Iwak Ngasin.


“Kau sendiri yang beberapa kali bercerita kepadaku!” balas Juling Jitu.


“Jitu, sebenarnya kau sahabatku atau musuhku?” tanya Iwak Ngasin kesal.


“Aku adalah sainganmu!” sahut Juling Jitu.


“Awas kau nanti!” ancam Iwak Ngasin.


“Kakak Rarami, aku ikhlas melepas sahabatku ini jika kau bersedia menikah dengannya?” tanya Alma kepada Rarami.


Terkejut Rarami mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu.


“Ti-tidak, Gusti Ratu,” ucap Rarami dengan wajah mengerenyit seperti orang yang mules dadanya.


“Baiklah,” ucap Alma lalu kembali beralih kepada Iwak Ngasin. “Iwak, jika kau ingin menikah dengan dedemit, seharusnya kau katakan ketika kita berada di Telaga Emas. Aku sebagai ratu di sana, bisa dengan mudah menikahkanmu dengan wanita siluman ikan.”


“Jika dengan wanita siluman ikan aku tidak mau,” kata Iwak Ngasin.


“Oh, jadi kau benar-benar mau menikah dengan wanita dedemit atau wanita siluman? Hahaha!” kata Alma lalu tertawa sendiri. Lalu katanya kepada Juling Jitu, “Jitu, Kembang Bulan berada di bawah tanggung jawabmu seorang diri sekarang!”


“Siap! Terima kasih, Alma Cantik! Hahaha!” sahut Juling Jitu lalu tertawa girang.


“Eh, kenapa seperti itu, Alma?” protes Iwak Ngasin terkejut.


“Jika kau masih mau bersama di dalam kumpulan, kau harus patuh!” tandas Alma. Lalu katanya kepada si ular, “Mbah Hitam, jika kau melihat ada dedemit atau siluman perempuan, beri tahu aku. Aku akan menjodohkannya dengan Iwak Ngasin.”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam dengan suara tuanya.


Jawaban Mbah Hitam itu mengejutkan orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendengar suara manusia Mbah Hitam.


“Iwak Ngasin, sebagai hukuman atas ketidaksopananmu, kau harus mandi lebih dulu, lalu layani Nenek Sayang dan Kakak Rarami dengan masakanmu yang paling enak!” perintah Alma Fatara.


“Baiklah, Alma,” ucap Iwak Ngasin pasrah.


“Tidak boleh terpaksa, harus menanggung risiko sebagai pendekar. Sebab jika kau memasak dengan terpaksa, rasa masakanmu nanti bisa seperti air parit,” kata Alma.


“Baik, Gusti Ratu!” seru Iwak Ngasin berusaha berjiwa ksatria.

__ADS_1


“Bagus. Lepaskan dia, Mbah Hitam!” kata Alma. (RH)


__ADS_2