Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 35: Pertarungan Rasa Bunga-Bunga


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Bluk!


Tubuh bajak laut yang diterkam oleh Mbah Hitam dilempar dan jatuh tepat di hadapan Landak Becek, Gulung Dadar, Kutu Pasir, dan Duri Tiram.


“Patok Mungil!” pekik para bajak laut itu kompak, mengungkap nama bajak laut yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.


Mereka yang sedang membelakangi dinding mayat berapi, dibuat semakin panik melihat kematian temannya. Lawan kali ini lebih gawat dibandingkan ratusan prajurit. Terlebih mereka sudah kehabisan racun pada pertempuran pertama, mesin panah di dalam sungai membeku tidak berfungsi, senjata tersembunyi pun sudah kehabisan amunisi. Untuk mundur pun rasa-rasanya mereka sudah kehabisan tiket.


Sementara itu, dari sisi bawah, dari sungai es, berkelebat sosok Arung Seto dengan pedang berdarah di tangan. Ia berdiri di antara ramainya anak panah yang bertancapan di tanah, agak jauh dari ular besar, tetapi menghadap ke arah keempat bajak laut yang masih tersisa.


“Jangan panaaah!” teriak Arung Seto kencang. Suaranya sampai terdengar ke seberang dinding mayat, di mana ada banyak prajurit Kerajaan Singayam sedang menumpuk.


“Tahan panah!” teriak Pangeran Derajat Jiwa yang mengenali suara Arung Seto.


“Woi woi woi! Hidup sebagai bajak laut, mati pun sebagai bajak laut! Seraaang!” teriak Landak Becek tiba-tiba penuh emosional. Ia berharap teriakannya bisa menggugah selera ketiga rekannya untuk bisa segagah pada pertempuran pertama, ketika menghadapi Pasukan Pertama pimpinan Arung Seto.


“Woi woi woi! Hancurkan atau dihancurkan!” teriak Duri Tiram sambil mengangkat tinggi-tinggi pedang panjangnya seperti di dalam lagu “Seorang Kapiten”.


Sezz! Bdagk!


Namun, sebelum para bajak laut itu bergerak menyerang karena sudah terlanjur tersudut, ular hitam yang bernama Mbah Hitam sudah lebih dulu melesat sambil mendesis keras.


Tiga orang bajak laut berhasil dengan cepat melompat menghindari hantaman tubuh Mbah Hitam, tetapi Duri Tiram dengan telak tubuhnya dihantam oleh badan ular, membuatnya tertekan keras ke dinding mayat.


Jika hanya tubuh Duri Tiram yang menghantam dinding mayat, mungkin dinding itu tidak akan hancur dan semakin tumbang. Masalahnya, tubuh besar Mbah Hitam turut menghantam keras dinding mayat berapi itu.


Bdluk!


“Akk!” jerit Duri Tiram saat tubuhnya yang mendobrak dinding mendapat runtuhan mayat-mayat yang terbakar di sisi atas.


Mau tidak mau, Duri Tiram ikut terbakar. Timbunan mayat-mayat hangus pada dirinya membuat Duri Tiram kesulitan untuk bangkit.


Sejumlah kobaran api juga sempat menyala di tubuh Mbah Hitam karena tertimpa runtuhan mayat berapi, tetapi itu hal yang tidak berarti.


Semakin runtuh dinding mayat berapi, membuat dinding itu semakin rendah dan api yang membakar semakin melebar dan rendah.


Pasukan Kerajaan Singayam sudah bisa melihat keberadaan musuh yang sedang bertarung melawan Arung Seto.


Seiring itu, Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu sudah naik ke atas dan membantu Arung Seto menghadapi tiga bajak laut yang tersisa.


Ternyata, sejumlah prajurit turun ke air sungai yang dingin. Mereka bekerja menyelupkan tameng-tameng kayu ke dalam air, lalu dilemparkan kembali ke atas kepada para prajurit.


Karena dinding mayat berapi sudah merendah, pemimpin prajurit pun memberi perintah.


“Seraaang!”


“Seraaang!” teriak para prajurit beramai-ramai kian bersemangat karena mereka siap menaklukkan dinding mayat berapi.


Para prajurit barisan depan kemudian maju dan meletakkan perisai basah mereka di atas tumpukan mayat yang masih berapi. Cara itu membuat api mengecil dan tertahan oleh kayu keras yang basah. Barisan prajurit berikutnya berlari maju melompat naik, menjadikan tameng basah sebagai pijakan untuk melompat melewati kobaran api yang semakin menyusut.


Press! Bluar!


Melihat kedatangan sejumlah prajurit yang berhasil melewati dinding mayat berapi, Gulung Dadar langsung menghentakkan sepasang lengan besarnya.


Dua sinar biru kecil melesat menghantam tanah depan kaki pasukan yang datang. Seperti terkena peluru meriam, tanah yang dipijak para prajurit itu meledak hebat, mementalkan para prajurit dalam berbagai kondisi yang menyakitkan, termasuk menyakitkan hati dan perasaan.


“Hahaha!”


Bdak!

__ADS_1


Sambil tertawa seperti dedemit sungai, tubuh berlemak Anjengan terlalu cepat melesat menabrak Gulung Dadar dari samping, tidak memberi kesempatan bagi lelaki tua itu untuk “say hello”.


Kali ini, Anjengan benar-benar bergulat penuh totalitas, tidak seperti ketika dia bergulat dengan Gagap Ayu.


“Kubuat kau tidak bisa bersuara lagi!” desis Anjengan sambil menindih tubuh Gulung Dadar.


Krekh!


“Hekrr!” erang Gulung Dadar tertahan tapi sangat tersiksa, saat lutut Anjengan menghantam dan menekan dengan kuat kantong menyannya.


Hantaman satu titik itu cukup untuk membuat Gulung Dadar lumpuh total, karena sakitnya menyebar rata ke seluruh pelosok syaraf energi.


Dengan cara itu, Anjengan dengan mudah melakukan pelumpuhan. Lengan kanannya ia gunakan untuk menindih tangan kiri musuhnya dan tangan kanan mencekik leher. Tangan kiri ia gunakan memegangi pergelangan tangan kanan Gulung Dadar.


Meski sebenarnya Gulung Dadar bertenaga lebih besar, tetapi pemecahan kantong menyannya membuat baterainya lowbat.


Krek!


Hingga akhirnya, Anjengan berhasil meremukkan tulang leher Gulung Dadar dengan cengkeram bertenaga dalam tinggi.


“Hahaha! Dewi Laut dilawan!” tawa Anjengan jumawa lalu memuji dirinya sendiri.


Namun kemudian, tiba-tiba dia berhenti tertawa karena melihat Gagap Ayu dengan mesranya bertarung membantu Arung Seto melawan Landak Becek.


“Cuih! Gagap Ayu menikung dalam pertarungan!” rutuk Anjengan.


Ternyata, Landak Becek sebagai salah seorang yang dekat dengan ring satu, bukan lawan ecek-ecek. Terbukti, meski dia dikeroyok oleh Arung Seto dan Gagap Ayu, dia bisa di atas angin.


Buk buk buk!


Gagap Ayu sudah berulang kali melepaskan Tinju Karang Baja, tetapi dengan gesit Landak Becek menangkis semua tinju jarak jauh itu dengan penahanan telapak tangan.


“Hi-hi-hiaaat!” pekik Gagap Ayu yang mengganti serangannya dengan lompatan menerjang.


“Aaa!” jerit Gagap Ayu yang tubuhnya diayun berputar lalu dilepas oleh Landak Becek.


Entah sengaja atau tidak oleh Landak Becek, tubuh Gagap Ayu dilempar kepada Arung Seto yang tampan.


Arung Seto yang terkejut, sigap menangkap rangkul tubuh Gagap Ayu. Namun, daya dorongnya membuat Arung Seto tidak kuat bertahan, berujung keterjengkangan dan Gagap Ayu jatuh indah di atas dada sang pemuda.


“Hah! Mereka berpelukaaan!” ucap Anjengan dengan ekspresi wajah ingin menangis melihat kisah sejarah Gagap Ayu dengan Arung Seto.


Serss! Blar!


Ketika Arung Seto dan Gagap Ayu jatuh bersama, Landak Becek tidak berhenti. Dia melesatkan sinar hijau bergelombang seperti ular kadut. Arung Seto refleks membawa tubuh Gagap Ayu berguling berputar menghindari maut. Tanah yang mereka tinggalkan hancur berapi.


Pada saat itu, Gagap Ayu seperti hanya merasakan satu rasa. Rasa-rasa yang lain seolah sirna pada saat yang bersamaan.


Berbunga-bunga. Itulah satu-satunya rasa yang Gagap Ayu “derita” saat itu.


“Seraaang!”


Sejumlah prajurit telah datang menyerbu Landak Becek.


Landak Becek yang tidak memiliki kesempatan untuk kabur, mengamuk dengan senjata dua pisau di tangannya. Tubuhnya yang mungil begitu gesit menghindari serangan para prajurit yang mengeroyoknya, lalu balas melumpuhkan dengan sayatan dan tusukan pisau yang brutal.


Satu demi satu prajurit dibuat jatuh meregang nyawa.


Namun, pengeroyokan para prajurit itu memberi waktu bagi Arung Seto dan Gagap Ayu untuk bangun. Keduanya masih sempat saling tersenyum malu.


“Kita lanjutkan pertarungan kita!” ajak Arung Seto.


Gagap Ayu hanya menjawab dengan anggukan dan senyum semanis garam. Dia tidak mau menjawab dengan kata-kata, khawatir gagapnya justru akan membuat nuansa pelangi cintanya tercoreng hitam saat itu juga.

__ADS_1


Secara bersamaan, Arung Seto dan Gagap Ayu maju kembali mengeroyok Landak Becek. Kali ini keduanya mengerahkan upaya terbaik mereka.


Arung Seto telah mengeluarkan ilmu Tangan Penyengat.


Pak! Zerzz!


“Akk!” jerit Landak Becek terkejut dengan tubuh sekejap kejang, saat tangannya yang memegang pisau ditangkis oleh Arung Seto.


Buk!


Setruman itu memberi kesempatan Tinju Karang Baja masuk ke dada Landak Becek, membuat lelaki kecil itu terjengkang dan bergulingan ke pinggir sungai.


Buru-buru Arung Seto mengejar Landak Becek dengan tendangan bertenaga dalam tinggi. Gesit Landak Becek bergerak mengelak sambil mengelebatkan tangannya ke kaki Arung Seto yang lain.


Bset!


“Ak!” pekik tertahan Arung Seto saat betisnya mendapat sayatan pisau.


Dua orang prajurit datang ikut campur menyerang Landak Becek. Lelaki mungil yang sudah mendapat posisi sempurna itu, cepat melompat bersalto menghindari serangan pedang kedua prajurit.


Buk!


Saat bersalto itu, Landak Becek mendorong punggung kedua prajurit dengan sepakan kuda. Kedua prajurit itu jatuh terjun ke medan es di sungai.


Zerzz!


“Aaak!”


Belum lagi Landak Becek mendarat dari saltonya, Arung Seto menerkam dengan cepat menangkap kedua pergelangan kaki lawannya.


Landak Becek benar-benar tersetrum dalam posisi berdiri dan Arung Seto tengkurap di depannya memegangi kakinya.


Sambil menahan sengatan dari kedua tangan Arung Seto, Landak Becek berusaha menahan sengatan itu sambil kedua tangannya siap menghujamkan pisau ke punggung Arung Seto.


Buk buk buk!


Namun, Landak Becek lupa bahwa di sisi lain masih ada Gagap Ayu yang selalu mengandalkan tinju jarak jauh.


Tiga tinju jarak jauh mengguncang keras tubuh Landak Becek yang membuatnya menyemburkan darah lewat mulut.


Akhirnya Landak Becek tumbang ke belakang.


“Aku yang mengakhiri!” teriak Anjengan.


Anjengan yang ingin menyumbang jasa di depan Arung Seto, melompat tinggi di saat Landak Becek tumbang ke belakang. Tubuh besar berlemaknya menimpa tubuh Landak Becek seperti kerbau menimpa anak kambing.


Bduk!


“Aaak!” jerit Anjengan panjang sambil buru-buru menggulingkan tubuhnya meninggalkan atas tubuh Landak Becek.


Landak Becek memang tewas dengan napas yang tersumbat oleh himpitan berat tubuh Anjengan, tapi wanita gemuk itu harus terkena setruman pula karena tangan Arung Seto masih memegangi kaki Landak Becek.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma yang menonton dari bawah bersama Mbah Hitam yang antisenyum.


Sementara itu, anggota bajak laut bernama Kutu Pasir sudah lebih dulu tewas oleh keroyokan Iwak Ngasin dan Juling Jitu. Ditambah serbuan sekelompok prajurit Singayam yang membantu.


Maka mutlak kemenangan diraih oleh Pasukan Pamungkas pimpinan Pangeran Derajat Jiwa dan Alma Fatara dkk. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!

__ADS_1



__ADS_2